Minggu, 24 Juli 2016

Prinsip Ahlus Sunnah Terkait Dengan Ketaatan Kepada Ulil Amri (Pemerintah Muslim)

PRINSIP AHLUS SUNNAH TERKAIT DENGAN KETAATAN KEPADA ULIL AMRI (Pemerintah Islam)

1⃣ Ahlus Sunnah berkeyakinan wajibnya mentaati ulil amri.  Berdasarkan :

Firman Allah Ta’ala :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم} [النساء: 59]

“Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian.” (An-Nisa’ : 59)

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

«اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ»

“Dengar dan taatilah (ulil amri), meskipun yang diangkat adalah seorang budak habasyi seakan-akan kepalanya adalah biji anggur.” (HR. Al-Bukhari693)

«أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا»

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, dan mendengar dan taat (kepada ulil amri), meskipun (yang menjadi ulil amri) adalah seorang budak habasyi.” (HR. Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676)

2⃣ Ketaatan Kepada ulil amri tersebut wajib, baik dalam perkara yang kita sukai ataupun dalam perkara yang kita benci, selama ulil amri tersebut masih muslim

«أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ»

“Kami berbaiat (kepada Rasulullah) untuk mendengar dan mentaati (ulil amri), baik dalam kondisi kami senang atau benci, baik dalam kondisi lapang maupun sulit, dan walaupun mereka menghalangi hak-hak kami. Dan kami berbaiat untuk tidak mencabut kepemimpinan tersebut dari orang yang memegangnya, kecuali jika kalian melihat (mendapati) kekufuran yang nyata (pada ulil amri tersebut) yang kalian memiliki bukti dari Allah tentang kekufurannya.” (Al-Bukhari 7056, Muslim 1079)

3⃣ Ketaatan kepada ulil amri tersebut wajib, baik ulil amri itu adil maupun zhalim/banyak melakukan kemungkaran

Rasulullah — shallallahu 'alaihi wa sallam — bersabda :

«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا» قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ، وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ»

“Sesungguhnya kalian akan melihat sepeninggalku atsarah (yakni korup) dan berbagai perkara yang kalian mengingkarinya.” Wahai Rasulullah kalau begitu apa yang engkau perintahkan kepada kami? Rasulullah menjawab,“Tunaikanlah kepada mereka (ulil amri) hak mereka (yakni taatilah mereka), dan mintalah kepada Allah hak kalian.” (Al-Bukhari 7052, Muslim 1843).

Menjelaskan hadits di atas, an-Nawawi rahimahullah mengatakan,
“berita ini merupakan salah satu mukjizat kenabian. Berita ini telah terjadi berulang-ulang, dan peristiwa tersebut didapati berkali-kali. Pada hadits tersebut terdapat dorongan untuk tetap mendengar dan mentaati (ulil amri) meskipun ulil amri-nya adalah seorang yang zhalim dan sangat lalim. Maka ulil amri tersebut tetap wajib ditunaikan haknya, yaitu ketaatan kepadanya, tidak memberontak terhadapnya dan tidak melepaskan (ketaatan) kepadanya. Namun (yang semestinya dilakukan adalah) memohon kepada Allah dalam menghilangkan gangguannya (kezhalimannya), mencegah kejelekannya, dan memperbaikinya.”
(lihat Syarh Muslim no. 1843)

Lebih tegas lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menggambarkan kezhaliman ulil amri, namun demikian tetap wajib mentaatinya, yaitu dalam hadits berikut,

«يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ» ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ»

 “Akan ada sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengambil sunnahku. Dan akan muncul di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia.” Aku bertanya, “Apa yang harus aku perbuat apabila aku mendapati itu?”Rasulullah menjawab, “Tetaplah engkau mendengar dan mentaati pimpinan meskipun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat!!” (Muslim 1847)

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,
“Pada hadits ini terdapat dalil untuk senantiasa konsisten bersama pemerintah muslimin dan pimpinannya, serta kewajiban mentaati mereka meskipun mereka berbuat fasik dan melakukan kemaksiatan berupa merampas harta dan yang lainnya. Maka wajib mentaati mereka dalam perkara selain maksiat.”
(lihat Syarh Muslim no. 1847)

4⃣ Tidak Boleh Taat kepada ulil amri ketika diperintah kepada Kemaksiatan

«السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»

“Wajib untuk mendengar dan mentaati (ulil amri) atas seorang muslim, baik dalam perkara yang ia sukai atau ia benci, selama ia tidak diperintah dengan kemaksiatan. Apabila diperintah untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.” (Al-Bukhari 7144).

✅ Yakni tidak mentaati perintah berbuat maksiat tersebut.
Bukan berarti kemudian keluar dari ketaatan kepada ulil amri secara total, atau menentang dan memberontak kepadanya. Tidak demikian. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan,

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَكَرِهَهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الجَمَاعَةَ شِبْرًا فَيَمُوتُ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

“Barangsiapa mendapat pada pimpinannya sesuatu (kemungkaran/kemungkaran) sehingga diapun membencinya, maka hendaknya dia bersabar (yakni tidak keluar dari ketaatan). Karena tidaklah seorangpun berpisah dari jama’ah (kaum muslimin) walaupun sejengkal saja, kemudian dia mati, kecuali matinya adalah kematian jahiliyyah.” (al-Bukhari 7143)

5⃣ Apabila terjadi kemungkaran pada ulil amri, maka rakyat menasehatinya secara rahasia. Bukan menentangnya, atau memprotesnya di atas mimbar, atau berdemo, atau bahkan memberontaknya.

Hal ini sebagaimana bimbingan baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“مَنْ أَرَاَد أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَّةً، وَلَكِن يَأْخُذُ بِيَدِهِ، فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَلِكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيهِ”

“Barangsiapa yang hendak menasehati seorang yang memiliki kekuasaan, maka janganlah menyampaikannya secara terang-terangan. Namun hendaknya dia mengambil tangannya, dan menyendiri dengannya. Apabila ia (penguasa tersebut) mau menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan). Apabila tidak, maka dia telah melaksanakan kewajibannya (untuk menasehati penguasa).”  (Ibnu Abi ‘Ashim hal. 508).

•••••••••••••••••••••
Majmu'ah Manhajul Anbiya
▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Waspadai Penyakit Hasad (Dengki)

⚠WASPADAI PENYAKIT HASAD (DENGKI) ‼

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

Hasad adalah salah satu penyakit jiwa. Inilah penyakit keumuman manusia.
Tidak ada yang bisa selamat darinya melainkan sedikit sekali. Oleh karena itu ada ulama yang mengatakan:```

“Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari penyakit hasad (dengki). Namun orang yang hina akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya.”

Pernah ditanyakan kepada Al Hasan Al Bashri, :

“Apakah seorang mukmin itu bisa hasad (dengki)?”

Beliaupun menjawab:

“Tidakkah engkau ingat bagaimana kisah saudara saudaranya Yusuf?"
Tidak bisa dihindari (oleh seorang mukmin sekalipun).

❗Namun sembunyikan hasad itu dalam dadamu.
☝Selama hasad itu tidak dilampiaskan dengan tangan dan lisan, maka penyakit itu tidak akan membahayakanmu.

⛔ Barangsiapa yang mendapati pada dirinya penyakit hasad terhadap orang lain, maka hadapilah dengan  takwa dan kesabaran. Hendaklah ia membenci sifat hasad tersebut pada dirinya.

Sumber : Amrodhul qalb wa syifauha karya  Ibnu Taimiyah 21

~~~~~~~~~~~~

إياكم و الحسد ...

«الْحَسَد مرضٌ من أمراض النَّفس وَهُوَ مرضٌ غَالبٌ فَلا يخلص مِنْهُ إِلَّا الْقَلِيل من النَّاس، وَلِهَذَا يُقَال مَا خلا جَسَدٌ من حسدٍ، لَكِنَّ اللَّئِيم يبديه والكريم يخفيه، وَقد قيل لِلْحسنِ الْبَصْرِيِّ: أيحسد الْمُؤمن فَقَالَ مَا أنساك إخوة يُوسُف لا أَبَا لَك وَلَكِنْ عَمِّه فِي صدرك فَإِنَّهُ لَا يَضرُّك مَا لم تَعْدُ بِهِ يدًا وَلِسَانًا، فَمن وجد فِي نَفسه حسدا لغيره فَعَلَيهِ أَن يسْتَعْمل مَعَه التَّقْوَى وَالصَّبْر فَيكْرَهَ ذَلِك من نَفسه،

[«أمراض القلب وشفاؤها» لابن تيمية (٢١)]

*******************************

[ ] WA KITASATU

``` Ayo ajak keluarga dan teman gabung di chanel berikut ini...```
[ ] Channel: Https://tlgrm.me/KajianIslamTemanggung

Sabtu, 23 Juli 2016

Ziyaroh Kubur Syar'iyyah, Bid'iyyah dan Syirkiyyah


ZIYAROH KUBUR SYAR'IYYAH, BID'IYYAH DAN SYIRKIYYAH

⚪️Berkata syaikh Muhammad Bin Hadi Al Madkholy حفظه اللّٰه :

Ziaroh kubur syar'iyyah adalah apa yang dibimbingkan oleh nabi صلى اللّٰه عليه وسلم dalam sabdanya :

(( Aku dahulu melarang kalian dari ziaroh kubur, maka sekarang ziarohilah kuburan dikarenakan hal itu mengingatkan kalian kepada akhirat )). Inilah ziaroh kubur syar'iyyah.

Dikarenakan apabila engkau melihat mereka di kuburan maka engkau akan mengetahui bahwa engkau sebentar lagi akan seperti mereka sehingga engkau berpaling dari dunia ini dan engkau berusaha memperbaiki negeri (akhirat) yang akan engkau singgahi, engkau mengingat akhirat dan mendoakan kebaikan kepada mereka (penghuni kubur):
((السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، وإنا إن شاء اللّٰه بكم لاحقون، نسأل اللّٰه لنا ولكم العافية)).

Adapun menyengaja melakukan safar untuk menziarohi kuburan maka ini bid'ah munkaroh.

Adapun menziarohi kuburan dan meminta tolong kepada penghuni kuburan tersebut,meminta agar ditunaikan hajatnya, dihilangkan kesulitannya serta dikabulkan doanya maka ini syirik akbar terhadap Allah tabaroka wa ta'ala.

Kita meminta kepada Allah 'afiyah dan keselamatan.

Sumber artikel : [http://miraath.net/articles.php?cat=11&id=582]

*زيارة القبور شرعيَّة، وبدعيَّة، وشركيَّة*.

▪قَــالَ الشَّـيخ العلّامــة مُحَمَّد بنُ هَادِي المَدْخَلِي -حَـفِظَهُ الله-:

• ”الشَّرعية:  ((كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ))، هذه الشَّرعية، تذكرك أنت أيُّها الزَّائر بالآخرة، فيقل

○ لأنَّك إذا رأيت هؤلاء في القبور علمت أنَّك قريبًا ستكون مثلهم، فتعرض عن هذه الدُّنيا، وتقبل على إصلاح هذه الدَّار الَّتي ستنزلها، تذكر الآخرة، وتدعو لهؤلاء: ((السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ))،

• وأمَّا شدِّ الرَّحل إليها؛ هذه بدعةٌ منكرةٌ.

• وأمَّا زيارتها وطلب الغوث منها والمدد منها؛ وقضاء الحاجات، وتفريج الكربات، واستجابة الدَّعوات، فهذا شركٌ أكبر باللهِ - تَبَارَكَ وَتَعَالَى -؛ -نسألُ اللهَ العافية والسَّلامة-“.
ــــ
المصــدَرُ :
[http://miraath.net/articles.php?cat=11&id=582]
ــــــ ✵✵ ــــــ ✵✵ــــــ
tlgrm.me/dinulqoyyim

Dipublikasikan oleh:
http://bit.ly/telegramTIC
http://bit.ly/websiteTIC

WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
Jum'at 17 Syawwal 1437 H / 22 Juli 2016 M

http://bit.ly/telegramTIC

⚪️APAKAH KETIKA MENZIAROHI KUBURAN NABI صلى اللّٰه عليه وسلم KITA MENGANGKAT TANGAN-TANGAN KITA UNTUK MENGUCAPKAN SALAM KEPADA BELIAU ?

⚪️Syaikh Muhammad Bin Hadi Al madkholy حفظه اللّٰه menjawab :

Tidak, namun kita hanya mengucapkan :

السلام عليك أيها النبي ورحمة اللّٰه وبركاته

sebagaimana Abdullah Bin Umar melakukan demikian ketika mengucapkan salam kepada nabi صلى اللّٰه عليه وسلم .

Link suara : http://miraath.net/quesdownload.php?id=752

هل عندما نزور قبر النبي صلى الله عليه وسلم نرفع أيدينا للسلام عليه؟

▪سُئل الشَّـيخ العلّامــة مُحَمَّد بنُ هَادِي المَدْخَلِي -حَـفِظَهُ الله-:

❪❫ السُّــــ☟ـــؤَالُ:
• وهذا يسأل يقول: هل عندما نزور قبر النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نرفع أيدينا للسلام عليه؟

❪❫ الجَـــ☟ـــوَابُ:
”لا، وإنما تقولُ بالكلام السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ، كما كانَ عبدالله بن عمر -رَّضِيَ اللهُ عَنْهُما- يفعل هكذا في السلام عليهِ- صلوات الله وسلامهُ عليه“.
ــــ
رابـط الصوتيــة :
[http://miraath.net/quesdownload.php?id=752]
ــــــ ✵✵ ــــــ ✵✵ــــــ
tlgrm.me/dinulqoyyim

Dipublikasikan oleh:
http://bit.ly/telegramTIC
http://bit.ly/websiteTIC

WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________
Jum'at 17 Syawwal 1437 H / 22 Juli 2016 M