Tampilkan postingan dengan label MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2019

SEMANGAT PEMUDA DALAM BERAMAL SHALEH

 MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:
HADITS KEDUA PULUH EMPAT
 SEMANGAT PEMUDA DALAM BERAMAL SHALEH 
 عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا رَأَى رُؤْيَا، قَصَّهَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَمَنَّيْتُ أَنْ أَرَى رُؤْيَا أَقُصُّهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: وَكُنْتُ غُلَامًا شَابًّا عَزَبًا، وَكُنْتُ أَنَامُ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَأَيْتُ فِي النَّوْمِ كَأَنَّ مَلَكَيْنِ أَخَذَانِي فَذَهَبَا بِي إِلَى النَّارِ، فَإِذَا هِيَ مَطْوِيَّةٌ كَطَيِّ الْبِئْرِ، وَإِذَا لَهَا قَرْنَانِ كَقَرْنَيِ الْبِئْرِ، وَإِذَا فِيهَا نَاسٌ قَدْ عَرَفْتُهُمْ، فَجَعَلْتُ أَقُولُ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ النَّارِ، قَالَ فَلَقِيَهُمَا مَلَكٌ فَقَالَ لِي: لَمْ تُرَعْ، فَقَصَصْتُهَا عَلَى حَفْصَةَ، فَقَصَّتْهَا حَفْصَةُ، عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ» قَالَ سَالِمٌ: فَكَانَ عَبْدُ اللهِ، بَعْدَ ذَلِكَ، لَا يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلًا.
 “Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata; 'Apabila ada seseorang yang bermimpi, pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia pun akan menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah, hingga saya juga ingin sekali bermimpi dan menceritakannya kepada beliau. Ketika remaja, pada masa Rasulullah, saya pernah tertidur di masjid. Dalam tidur itu saya bermimpi bahwa ada dua malaikat yang menangkap saya dan membawa saya ke neraka yang tepinya berdinding seperti sumur dengan dua tali seperti tali sumur. Ternyata di dalam sumur tersebut ada beberapa orang yang saya kenal dan segera saya ucapkan: 'Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka. Aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka.' Tak lama kemudian, kedua malaikat tersebut ditemui oleh satu malaikat lain dan ia berkata kepada saya; 'Kamu akan aman.' Lalu saya ceritakan mimpi saya itu kepada Hafshah dan Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda: 'Sebaik-baik orang adalah Abdullah, jika ia berkenan melaksanakan shalat di sebagian malam.' Salim berkata; 'Setelah itu Abdullah bin Umar tidak pernah tidur di malam hari kecuali sebentar.'.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
—------------------------—
 FAEDAH-FAEDAH HADITS:
Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;
 1. Semangatnya para shahabat dalam berbuat kebajikan, sampai-sampai mereka berangan-angan berbuat kebajikan sebagaimana yang diperbuat oleh saudarnya.
 2. Pujian yang tinggi dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Ibnu Umar, padahal dirinya saat itu masih kecil.
 3. Pujian yang baik akan memacu kepada kebaikan. Lihatlah pujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Ibnu Umar, begitu membekas sehingga membuahkan semangat yang tinggi pada diri Ibnu Umar dengan selalu menghidupkan malamnya dengan Qiyamul lail (shalat malam) dan tidak tidur malam kecuali hanya sebentar saja.
 4. Masa muda adalah masa-masa pertumbuhan, sehingga hendaknya bagi para orang tua pandai dalam mengarahkan anak-anaknya kepada kebaikan dan ketaqwaan. Lihatlah Ibnu Umar, pada masa kecilnya dan saat itu belum baligh, senang tinggal dan tidur di masjid agar lebih banyak berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;
«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: -منهم- وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ» الحديث
"Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. -diantaranya adalah-; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” [Muttafaqun ‘alaihi]
 5. Keutamaan shalat malam, dimana orang yang menunaikannya akan diselamatkan dari siksa api Neraka.
 6. Adab dan akhlak mulya Ibnu Umar kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
 7. Allah Ta’ala mengabulkan doa shahabat kecil Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni Ibnu Umar.
 8. Bolehnya mewakilkan kepada orang lain untuk mengkisahkan mimpinya. Hadits ini adalah bantahan atas para peramal mimpi yang berpendapat bahwa mimpi tidaklah sah dan tidak dapat ditafsirkan kecuali apabaila langsung didengar dari orang yang bermimpi.
 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.
======================================
✒️ Disusun oleh Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawi
 https://telegram.me/FORUMKISHADITS


Sabtu, 15 Juni 2019

BARAKAH AIR LUDAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

💎 MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

🌹HADITS KEDUA PULUH TIGA🌹

💦 BARAKAH AIR LUDAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM 🌨

🔊 عنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ، قَالَ: «عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ».

🔊 “Dari dari Mahmud bin ar-Rabbi' radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mengingat dari Nabi, saat Beliau melumuri air ludah Beliau di wajahku, saat itu aku baru berumur lima tahun.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

📬 FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

📌 1. Kasih sayang dan kelembutan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak. Inilah yang sepantasnya diteladani oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Selain kasih sayang dan kelembutan akan membuahkan timbal-balik anak kepada orang tuanya, juga akan membuahkan kasih sayang Allah kepada para orang tua.

📌 2. Ketawadhuan (sifat rendah hati) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

📌 3. Umur tamyiz terkadang dicapai saat anak berusia 5 tahun, meskipun mayoritasnya umur tamyiz terjadi pada usia 7 tahun.

📌 4. Bermain bersama anak-anak merupakan sarana yang baik guna membina keharmonisan antara orang tua dan anak-anaknya dan juga membina pertumbuhan mental dan jasmani mereka.

📌 5. Barakah air liur Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ini merupakan kekhususan bagi beliau saja. Adapun selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidak memiliki hal ini. Kalau seandainya selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki hal ini, tentulah para shahabat akan meminta air liur, air cucian tangan, atau air keringat dari Abu Bakr ash-Shiddiq atau Umar untuk mencari keberkahan darinya, karena mereka adalah manusia terbaik setelah para Nabi.

📌 6. Bantahan terhadap kelompok Shufiyah, Syiah dan yang semisal dengan mereka yang ghuluw (extrim) terhadap wali-wali atau tokoh-tokoh mereka, karena tidak ternukilkan dari satu shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mencari barakah dari air liur, air cucian tangan atau keringatnya para shahabat-shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulya, seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abu Thalib atau yang lainnya.

📌 7. Sucinya air ludah manusia.

📌 8. Sahnya periwayatan para shahabat-shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendapatkan dan mendengarkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disaat itu mereka masih kecil, namun sudah mumayyiz.

🚪 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

======================================
✒️ Disusun oleh Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawi
🌐 https://telegram.me/FORUMKISHADITS

FORUM KIS - HADITS
Forum Khusus Fawaid Hadits


Kamis, 13 Juni 2019

AKHLAK ANAK TERHADAP ORANG DEWASA

 MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:
HADITS KEDUA PULUH DUA
 AKHLAK ANAK TERHADAP ORANG DEWASA 
 عنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا، وَغُلَامٌ نَحْوِي، إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ، وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ».
 “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk WC, maka saya dan seorang pemuda sepertiku membawa satu ember berisi air dan kayu tombak, lalu beliau beristinja' dengan air.".” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
—------------------------------
 FAEDAH-FAEDAH HADITS:
 Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;
 1. Bentuk adab Islamy adalah anak kecil kecil membantu orang dewasa pada perkara-perkara yang dia mampui.
 2. Kemulyaan yang diperoleh anak kecil tersebut, sebab dia mendapatkan kesempatan membantu hajat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
 3. Tidak boleh bagi kita meremehkan kemampuan anak kecil, sebab terkadang anak kecil mampu melakukan sesutau yang tidak bisa dilakukan oleh orang dewasa. Melatih anak-anak untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka dapat membentuk karakter yang baik pada diri mereka, seperti bangga bahwa dirinya mendapat kepercayaan, mampu bekerja dan membantu orang lain.
 4. Boleh menjadikan anak kecil sebagai pembantu, namun tentunya dalam perkara-perkara yang mereka mampui.
 5. Adab ketika buang hajat, yakni menutup aurat dari pandangan manusia.
 6. Syariat beristinja’ dengan air, boleh juga dengan menggunakan batu atau sesuatu yang dapat meresap dan membersihkan, akan tetapi beristinja’ dengan air itu lebih utama, karena lebih membersihkan dan tidak meninggalkan bekas.
 7. Diantara adab ketika akan buang hajat adalah mempersiapkan air terlebih dahulu untuk beristinja’.
 8. Pentingnya ta’awun (tolong-menolong) dalam perkara-perkara kebaikan dan ketaqwaan.
 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.
======================================
✒️ Disusun oleh Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawi
 https://telegram.me/FORUMKISHADITS


Sabtu, 28 Oktober 2017

PENDIDIKAN TAUHID DAN AQIDAH YANG BENAR KEPADA ANAK-ANAK

💎 MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

🔖HADITS KEDUA PULUH SATU🔖

☝️PENDIDIKAN TAUHID DAN AQIDAH YANG BENAR KEPADA ANAK-ANAK 🌴

🔊 عنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ.

🔊 “Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai anak kecil, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah hanya kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” [HR. Ahmad dan at-Tirmidzi]
—------------------—

📚 FAEDAH-FAEDAH HADITS:

📒 Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

📎 1. Perhatian dan kelemah-lembutan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak kecil, dimana beliau memboncengkan Ibnu ‘Abbas dibelakang kendaraan beliau dengan sambil memberikan ilmu dan pendidikan nabawi kepadanya.

📎 2. Ketawadhuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

📎 3. Siapa saja yang menjaga Allah, yakni dengan bentuk menunaikan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka Allah pasti akan menjaganya baik di dunia maupun di Akherat.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [QS. Muhammad:7]

{وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ}

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [QS. Al-Hajj:40]

{فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ}

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” [QS. Al-Baqarah:152]

Dan sebaliknya siapa saja yang menelantarkan syariat-Nya, maka Allah akan menelentarkannya.

{وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” [QS. Al-Hasyr:19]

📎 4. Manfaat dan madarat berada di tangan Allah. Allah Ta’ala berfirman;

{أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ}

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” [QS. An-Naml:62]

📎 5. Pentingnya pendidikan tauhid dan aqidah yang benar. Pendidikan tauhid hendaknya sudah diberikan kepada anak-anak semenjak mereka masih kecil. Lihatlah para nabi ketika akan meninggal, wasiat tauhid yang mereka berikan kepada anak-anaknya;

{أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ}

“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". [QS. Al-Baqarah:133]

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan.” [QS. Al-Fatihah:5]

Kenalkan kepada anak-anak kita siapa Rabbnya, tanamkan pada diri mereka untuk menggantungkan harapan dan permintaan hanya kepada-Nya, bukan kepada makhluk-Nya, karena manfaat dan madarat hanya berada di tangan Allah semata.

📎 6. Anak-anak kita hari ini kecil, esok akan menjadi dewasa dan akan menjadi generasi umat. Oleh karena itu, hendaknya pendidikan iman dan taqwa harus ditanamkan sejak dini, agar kelak mereka menjadi generasi yang beriman dan bertaqwa, karena dengan inilah suatu umat atau bangsa akan menjadi kuat dan jaya.

📎 7. Dalam pengajaran hendaknya seorang guru atau orang tua menggunakan metode kelemah-lembutan dan kasih sayang kepada anak didiknya, karena dengan inilah suatu pengajaran akan mudah dan cepat diterima oleh mereka.

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ}

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [QS. Ali Imran:159]

📎 8. Ilmu diajarkan dengan cara bertahap, diberikan sedikit demi sedikit agar lebih kokoh dan menancap di hati anak-anak.

📎 9. Wajibnya beriman kepada taqdir/ketetapan Allah Ta’ala.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

======================================
✒️ Disusun oleh Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawi
🌐 https://telegram.me/FORUMKISHADITS

Rabu, 09 Maret 2016

Semangat Juang Yang Tinggi Dari Putra Putri Abu Bakr Ash-Shiddiq

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

HADITS KEDUA PULUH

SEMANGAT JUANG YANG TINGGI DARI PUTRA-PUTRI ABU BAKR ASH-SHIDDIQ

عَنْ عَائِشَةُ رضي الله عنها قَالَتْ: فَبَيْنَا نَحْنُ يَوْمًا جُلُوسٌ فِي بَيْتِنَا فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ، فَقَالَ قَائِلٌ لِأَبِي بَكْرٍ: هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْبِلًا مُتَقَنِّعًا، فِي سَاعَةٍ لَمْ يَكُنْ يَأْتِينَا فِيهَا، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فِدًا لَكَ أَبِي وَأُمِّي، وَاللَّهِ إِنْ جَاءَ بِهِ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ إِلَّا لِأَمْرٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَ فَأَذِنَ لَهُ فَدَخَلَ، فَقَالَ حِينَ دَخَلَ لِأَبِي بَكْرٍ: «أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ» قَالَ: إِنَّمَا هُمْ أَهْلُكَ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «فَإِنِّي قَدْ أُذِنَ لِي فِي الخُرُوجِ» قَالَ: فَالصُّحْبَةُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: فَخُذْ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَى رَاحِلَتَيَّ هَاتَيْنِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بِالثَّمَنِ» قَالَتْ: فَجَهَّزْنَاهُمَا أَحَثَّ الجِهَازِ، وَضَعْنَا لَهُمَا سُفْرَةً فِي جِرَابٍ، فَقَطَعَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ قِطْعَةً مِنْ نِطَاقِهَا، فَأَوْكَأَتْ بِهِ الجِرَابَ، وَلِذَلِكَ كَانَتْ تُسَمَّى ذَاتَ النِّطَاقِ. ثُمَّ لَحِقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ بِغَارٍ فِي جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ ثَوْرٌ، فَمَكُثَ فِيهِ ثَلاَثَ لَيَالٍ، يَبِيتُ عِنْدَهُمَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، وَهُوَ غُلاَمٌ شَابٌّ لَقِنٌ ثَقِفٌ، فَيَرْحَلُ مِنْ عِنْدِهِمَا سَحَرًا، فَيُصْبِحُ مَعَ قُرَيْشٍ بِمَكَّةَ كَبَائِتٍ، فَلاَ يَسْمَعُ أَمْرًا يُكَادَانِ بِهِ إِلَّا وَعَاهُ، حَتَّى يَأْتِيَهُمَا بِخَبَرِ ذَلِكَ حِينَ يَخْتَلِطُ الظَّلاَمُ، وَيَرْعَى عَلَيْهِمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ مِنْحَةً مِنْ غَنَمٍ، فَيُرِيحُهَا عَلَيْهِمَا حِينَ تَذْهَبُ سَاعَةٌ مِنَ العِشَاءِ، فَيَبِيتَانِ فِي رِسْلِهِمَا حَتَّى يَنْعِقَ بِهَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ بِغَلَسٍ، يَفْعَلُ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلاَثِ.

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata; "Di waktu menjelang siang, ketika kami sedang duduk-duduk di rumah, tiba-tiba seseorang berkata kepada Abu Bakr; "Ini Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ingin bertemu, dan beliau datang sambil menutupi sebagian kepala dan wajah beliau, dan beliau tidak pernah datang kepada kami di saat-saat seperti itu." Abu Bakr berkata; Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, tidaklah beliau datang di waktu-waktu seperti ini melainkan ada sesuatu yang sangat penting." Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam datang dan meminta izin, maka Abu Bakr pun mengizinkannya masuk. Ketika beliau masuk, beliau berkata kepada Abu Bakr; "Suruhlah orang-orang yang ada di sini untuk keluar." Abu Bakr menjawab; "Demi ayahmu wahai Rasulullah, mereka semua adalah keluarga anda." Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku telah diizinkan untuk keluar (hijrah)." Abu Bakr berkata; "Demi ayah dan ibuku, apakah aku yang menyertai engkau wahai Rasulullah?" beliau menjawab; "Ya." Abu Bakr berkata; "Kalau begitu, demi ayahku, ambillah salah satu tunggangan ini wahai Rasulullah." Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Yang terbaik." Aisyah melanjutkan; "Lalu kami mempersiapkan untuknya bekal dengan cepat dan sigap, kami membuatkan untuk keduanya Sufroh (tempat membawa makanan untuk musafir) dalam Jirab (bejana tempat menaruh perbekalan)." Kemudian Asma' binti Abu Bakr memotong ikat pinggangnya, dan mengikatkan ke bejana tersebut. Dari situlah ia dinamai dengan dzatunnithaq (yang memiliki ikat pinggang). Kemudian, Rasulullah Shallaallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakr berangkat menuju gua di salah satu pegunungan yang dikenal dengan nama Tsur, mereka tinggal di sana selama tiga malam. Sementara Abdullah bin Abu Bakr juga ikut menginap bersama keduanya, dia adalah seorang pemuda yang cerdas dan berwawasan tinggi, ketika menjelang waktu sahur dia keluar (dari gua) dan berbaur dengan orang-orang Quraisy Makkah di pagi harinya untuk mencari informasi, dan tidaklah seseorang mendengar perkara tersebut melainkan ia akan menyimpan rahasia tersebut
dan datang kepada keduanya untuk menyampaikan berita ketika malam telah gelap, sementara 'Amir bin Fuhairah bekas budak Abu Bakr sebagai penggembala domba untuk menghilangkan jejak, ia berangkat pada waktu Isya' dan bermalam di tempat penggembalaan sampai 'Amir bin Fuhairah datang membangunkannya di akhir malam (menjelang subuh), hal itu ia lakukan setiap malam hingga berlalu tiga malam.” [HR. Al-Bukhari]
-----------------------

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

1. Semangatnya putra dan putri Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum dalam membantu persiapan rihlah hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini menunjukkan tingginya derajat dan kehormatan keluarga Abu Bakr. Betapa indahnya jika semangat juang yang tinggi dari putra-putri Abu Bakr tersebut diteladani dan ditanamkan di dada-dada putra-putri kaum muslimin.

2. Wajib bagi para orang tua menanamkan pada diri anak-anaknya untuk cinta terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan semangat juang dalam membela Islam.

3. Tampak dengan jelas kecintaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Bakr dan kecintaan Abu Bakr kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Pujian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha terhadap saudaranya, yakni Abdullah bin Abu Bakr. Ia menyebutkan sifat saudaranya, ‘dia adalah seorang pemuda yang cerdas dan berwawasan tinggi’. Luar biasa tugas yang diembannya dan sangat berbahaya untuk anak seusia dirinya, dimana ia berbaur dengan orang-orang Quraisy Makkah di pagi harinya untuk mencari informasi, dan tidaklah seseorang mendengar perkara tersebut melainkan ia akan menyimpan rahasia tersebut dan datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ayahnya untuk menyampaikan berita ketika malam telah gelap.

5. Kecerdasan Aisyah yang luar biasa, yang mana dia menghafal kisah ini saat ia masih kecil dan menceritakan kisah tersebut dengan terperinci ketika telah dewasa. Hal ini sebagaimana dikatakan para Salaf kita, ‘Menghafal pada usia kecil bak mengukir diatas batu’, yakni lebih kokoh dan tidak mudah hilang.

6. Manusia yang terbaik setelah para Nabi adalah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum. Dia adalah sahabat yang dipilih oleh Allah sebagai sahabat yang terbaik bagi Nabi-Nya. Sejarah menjadi saksi atas tingginya perjuangan dan pembelaan Abu Bakr terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan agama Islam, tidak ada satupun dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dapat mengalahkannya dalam amalan maupun perjuangan.

7. Hadits ini menjadi bantahan bagi kelompok sesat Syiah yang mana mereka sangat membenci dan memusuhi keluarga Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum. Mereka mengkafirkan Abu Bakr dan keluarganya, menjuluki Abu Bakr sebagai Thaghut, menuduh Aisyah sebagai pezina dan tuduhan-tuduhan keji yang lainnya. Semoga Allah memusnahkan dan menghancurkan kelompok Syiah dengan sehancur-hancurnya, karena aqidah dan prinsip Syiah lebih kufur daripada Yahudi dan Nashara.

8. Mengambil sebab atau sarana tidaklah menafikan tawakal kepada Allah.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Disusun oleh: Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 6 Jumadal Ula 1437/ 15 Pebruari 2016_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com

Ikuti pula channel Forum kami di aplikasi TELEGRAM!
https://bit.ly/ForumKIS
-----------------------

WA.FORUM KIS

Selasa, 01 Maret 2016

Pendidikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Dalam Menghadapi Problematika Pemuda

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

HADITS KESEMBILANBELAS

PENDIDIKAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DALAM MENGHADAPI PROBLEMANTIKA PEMUDA

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: اقْتَتَلَ غُلَامَانِ غُلَامٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، وَغُلَامٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَنَادَى الْمُهَاجِرُ أَوِ الْمُهَاجِرُونَ، يَا لَلْمُهَاجِرِينَ وَنَادَى الْأَنْصَارِيُّ يَا لَلْأَنْصَارِ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ» قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللهِ إِلَّا أَنَّ غُلَامَيْنِ اقْتَتَلَا فَكَسَعَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، قَالَ: «فَلَا بَأْسَ وَلْيَنْصُرِ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا، إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ، فَإِنَّهُ لَهُ نَصْرٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ».

“Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata; "Pada suatu hari, ada dua anak muda sedang berkelahi, masing-masing dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Anak Muhajirin itu berteriak; 'Hai kaum Muhajirin, (berikanlah pembelaan untukku!)' Anak Anshar pun berseru; 'Hai kaum Anshar, (berikanlah pembelaan untukku!)' Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam keluar dan bertanya: 'Ada apa ini? Bukankah ini adalah seruan jahiliyah? ' Orang-orang menjawab; 'Tidak ya Rasulullah. Sebenarnya tadi ada dua anak muda berkelahi, yang satu mendorong yang lain.' Kemudian Rasulullah bersabda: 'Baiklah, hendaklah seseorang menolong saudaranya sesama muslim yang berbuat zhalim atau yang sedang dizhalimi. Apabila ia berbuat zhalim/aniaya, maka cegahlah ia untuk tidak berbuat kezhaliman dan itu berarti menolongnya. Dan apabila ia dizalimi/dianiaya, maka tolonglah ia!.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

1. Fanatisme golongan terlarang dalam Islam. Tidak boleh bagi kita fanatik terhadap kebatilan, baik kepada sukunya maaupun kepada bangsanya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al-Hujuraat:13]

2. Wajib bagi setiap muslim untuk selalu berjalan diatas kebenaran dan bersama orang-orang yang benar. Siapa pun orangnya, jika dia membawa kebenaran, maka wajib bagi kita tunduk kepada kebenaran tersebut.

3. Wajib bagi setiap muslim untuk menolong orang-orang yang terzhalimi, yakni dengan menyelamatkannya dari segala bentuk kezhaliman. Demikian pula wajib bagi kita menolong orang-orang yang berbuat zhalim dengan kita mencegahnya dari perbuatan zhalim, baik dia dari kaumnya maupun bukan, karena seorang muslim dengan yang lainnya bak satu tubuh dan satu bangunan.

4. Motivasi untuk semangat dalam berta’awun (saling tolong-menolong) dalam kebaikan.

5. Anak-anak muda memiliki kekuatan fisik, sehingga wajib bagi kita mengarahkannya kepada kebaikan, yakni mengarahkan untuk menggunakan kekuatan fisiknya kedalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi agama, bangsa dan negaranya.

6. Emosional anak-anak sangat cepat dan terkadang mendorong mereka berbuat yang macam-macam yang akibatnya berbahaya bagi mereka dan kaumnya. Hampir-hampir saja perkelahian dua anak muda tersebut mengakibatkan perang besar antara kaum Muhajirin dan Anshar.

7. Wajib kita untuk memperhatikan pendidikan adab dan akhlak anak-anak, sehingga kelak tumbuh menjadi pemuda yang penyabar dan pemaaf, terkhusus ketika menghadapi permasalahan dengan saudaranya.

8. Segala perkara apapun jika akan menimbulkan fitnah, maka hendaknya diselesaikan sesegera mungkin sebelum menjadi besar, jangan dibiarkan berlarut-larut.

9. Perhatian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap anak-anak dan bimbingannya dalam menghadapi problemantika anak-anak muda.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Disusun oleh: Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 30 Rabiuts Tsani 1437/ 9 Pebruari 2016_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com

Ikuti pula channel Forum kami di aplikasi TELEGRAM!
https://bit.ly/ForumKIS
-----------------------

WA. FORUM KIS

Budak Kecil Memulyakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

HADITS KEDELAPANBELAS

BUDAK KECIL MEMULYAKAN NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «كُنْتُ غُلاَمًا أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى غُلاَمٍ لَهُ خَيَّاطٍ، فَأَتَاهُ بِقَصْعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ وَعَلَيْهِ دُبَّاءٌ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ» قَالَ: «فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ جَعَلْتُ أَجْمَعُهُ بَيْنَ يَدَيْهِ» قَالَ: فَأَقْبَلَ الغُلاَمُ عَلَى عَمَلِهِ، قَالَ أَنَسٌ: لاَ أَزَالُ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ بَعْدَ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ مَا صَنَعَ.

“Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata; "Aku berjalan bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, padahal aku masih seorang bocah. Beliau lalu menemui budak kecilnya yang tukang jahit, budak itu kemudian menghidangkan kepada beliau makanan dalam sebuah bejana yang di antaranya adalah buah ad-Dubbaa (sejenis labu). Beliau lalu memilih-milih buah tersebut (untuk dimakan)." Anas berkata, "Ketika aku melihat beliau seperti itu, maka aku pun mengambil dan meletakkannya di hadapannya. Sementara budak tersebut kembali mengerjakan pekerjaannya." Anas berkata, "Maka aku sangat menyukai buah ad-Dubbaa (sejenis labu) semenjak aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan hal tersebut." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

1. Bolehnya makan makanan yang berada diposisi orang lain dalam satu nampan. Secara zhahir hadits ini bertentangan dengan hadits yang melarang hal tersebut. Namun para ulama menjawab persoalan ini dengan beberapa jawaban;
a. Boleh, jika diketahui bahwa orang lain tersebut ridha.
b. Boleh, jika makanan yang terdapat dalam satu nampan beraneka ragam.
c. Bisa jadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan tersebut karena makanan satu nampan tersebut diperuntukkan hanya untuk beliau saja.

2. Boleh bagi orang yang memiliki kedudukan yang tinggi makan makanan orang yang kedudukannya dibawahnya.

3. Ketawadhuan (sifat rendah hati) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau makan bersama pembantunya.

4. Baiknya muamalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pembantu dan budak kecilnya.

5. Boleh bagi tuan rumah meninggalkan tamunya makan sendiri tanpa menemaninya. Budak kecil tersebut tatkala telah menghidangkan makanan untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia kembali ke tempat pekerjaannya.

6. Keutamaan Anas radhiyallahu ‘anhu, dimana ia memiliki semangat yang tinggi dalam meneladani apa yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

7. Kemulyaan dan kebaikan yang ada budak kecil tersebut, dimana dia pandai menjamu dan berpengalaman dalam memulyakan orang yang lebih tua atau kedudukannya lebih tinggi darinya.

8. Orang yang bekerja bukanlah perkara yang tercela, akan tetapi yang tercela adalah dia mampu bekerja tetapi malas untuk bekerja.

9. Setiap orang memiliki nilai dimasyarakat tatkala dia mampu bekerja dan memberikan manfaat untuk masyarakat dari pekerjaannya.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 2 Rabiul Akhir 1437/ 12 Januari 2016_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com

Ikuti pula channel Forum kami di aplikasi TELEGRAM!
https://bit.ly/ForumKIS
---------------------------------

WA. FORUM KIS

Rabu, 17 Februari 2016

Mempekerjakan Anak Kecil Sebagai Pelayan

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

HADITS KETUJUHBELAS

MEMPEKERJAKAN ANAK KECIL SEBAGAI PELAYAN

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ: أَبُو شُعَيْبٍ، وَكَانَ لَهُ غُلَامٌ لَحَّامٌ، فَرَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَفَ فِي وَجْهِهِ الْجُوعَ، فَقَالَ لِغُلَامِهِ: وَيْحَكَ، اصْنَعْ لَنَا طَعَامًا لِخَمْسَةِ نَفَرٍ، فَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَدْعُوَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ، قَالَ: فَصَنَعَ، ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَاهُ خَامِسَ خَمْسَةٍ وَاتَّبَعَهُمْ رَجُلٌ، فَلَمَّا بَلَغَ الْبَابَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ هَذَا اتَّبَعَنَا، فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَأْذَنَ لَهُ، وَإِنْ شِئْتَ رَجَعَ»، قَالَ: لَا، بَلْ آذَنُ لَهُ يَا رَسُولَ اللهِ.

Dari Abu Mas'ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Ada seorang laki-laki Anshar bernama Abu Syu'aib, dia mempunyai pelayan anak kecil tukang daging. Pada suatu hari Abu Syu'aib melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dia tahu dari wajah beliau bahwa beliau sedang lapar. Maka Syu'aib berkata kepada pelayannya; "Kasihan! Siapkan hidangan untuk lima orang. Aku hendak mengundang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beserta empat orang lainnya." Setelah hidangan tersedia, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pun tiba beserta empat orang lainnya dan seorang lagi mengikuti mereka. Tatkala sampai di pintu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Kawan ini mengikuti kami. Jika engkau izinkan dia turut makan, silakan. Jika tidak, biarkan dia kembali.' Jawab Abu Syu'aib; 'Jangan, tentu aku izinkan, ya Rasulullah!." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
-------------------------------

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

1. Bolehnya berprofesi sebagai tukang jagal atau potong daging. Hal itu termasuk jenis mata pencaharian yang dihalalkan Islam.

2. Boleh mempekerjakan anak kecil sebagai pelayan, namun tentunya diberikan kepadanya pekerjaan-pekerjaan yang mampu dia lakukan.

3. Hadits ini menjelaskan bagaimana keadaan sempitnya hidup Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah hal yang menghinakan, karena mulya dan tingginya kedudukan seseorang disisi Allah bukanlah wajah maupun banyaknya harta, tetapi iman dan amalanlah yang menjadi penilaian.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungghunya Allah tidaklah melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” [HR. Muslim]

4. Besarnya kepedulian para shahabat terhadap keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan shahabat yang lainnya. Inilah sifat yang ada pada mereka, sebagaimana yang Allah firmankan;

{وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

“dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” [QS. al-Hasyr:9]

5. Disyariatkan untuk membuat makanan dan jamuan untuk tamu, lebih khusus lagi untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan.

6. Sudah sepantasnya pula bagi tuan rumah untuk menyiapkan hidangan atau jamuan tamu yang mencukupi jumlah tamu yang diundang, jangan sampai makanan dengan jumlah tamu tidak seimbang, sehingga menyempitkan dan menelantarkan tamu.

7. Syariat menjawab panggilan atau undangan jamuan makanan selama tidak ada kemungkaran padanya.

8. Ketawadhuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana beliau memakan hidangan yang dimasak dan dihidangkan oleh anak kecil.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.
----------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 26 Rabiul Awal 1437/ 6 Januari 2016_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com

Ikuti pula channel Forum kami di aplikasi TELEGRAM!
https://bit.ly/ForumKIS
---------------------------------

WA. FORUM KIS

Penanaman Adab Islami Sejak Usia Dini

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

HADITS KEENAMBELAS

PENANAMAN ADAB ISLAMI SEJAK USIA DINI

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ يَقُولُ: كُنْتُ غُلاَمًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ.

Dari Umar bin Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Waktu aku masih kecil dan berada di pangkuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tanganku berseliweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: ‘Wahai anak kecil, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada dihadapanmu.’ Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
-------------------

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

1. Masa kecil ada masa mudah-mudahnya anak untuk mendapatkan dan menerima pendidikan adab. Oleh karena itu, hendaklah para orang tua mulai menanamkan adab-adab Islami pada diri anak-anak, sebab jika sejak kecil anak telah tertanam dan terbiasa dengan adab yang benar, maka akan mudah penerapannya ketika telah menginjak dewasa dan tidak akan mudah terlupakan.

2. Semangat dan perhatian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap pendidikan orang-orang yang berada dalam tanggung-jawabnya.

3. Adab Islam yang harus sudah diajarkan kepada anak-anak sejak kecil, diantaranya; membaca Bismillah sebelum makan, makan dengan tangan kanan dan makan makanan yang berada dihadapannya.

4. Wajibnya membaca Bismillah ketika akan makan. Barangsiapa makan tanpa membaca Bismillah, maka setan akan ikut bergabung makan bersamanya. Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ»

“Sesungguhnya setan akan ikut makan makanan yang tidak disebut nama Allah.” [HR. Muslim]

5. Wajibnya makan dengan tangan kanan dan larangan makan dengan tangan kiri, karena ini adalah adabnya setan. Para setan jika makan, maka menggunakan tangan kiri, wajib bagi kita menyelisihinya. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

«إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ»

“Apabila salah seorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanan dan apabila minum, maka minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan jika makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.” [HR. Muslim]

6. Hendaknya seseorang ketika makan memulai dari apa yang ada dihadapannya. Tidak boleh mengambil bagian yang ada di tempat orang lain, karena ini adab yang jelek, kecuali apabila makanan yang ada di nampan bermacam-macam jenisnya, misalnya ada ayam atau daging, namun posisinya bukan berada dihadapannya, maka tidak mengapa dia mengambil jenis yang tidak ada di hadapannya.

7. Kedudukan yang mulya telah diraih oleh Umar bin Abu Salamah, dimana dia mendapatkan ilmu dari Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia amalkan sepanjang hayatnya. Inilah yang wajib bagi kita untuk meneladaninya. Hakekat ilmu dipelajari adalah untuk diamalkan, bukan sekedar menambah wawasan semata.

8. Pendidikan yang penuh dengan kelembutan, hikmah dan kasih sayang akan membuahkan hasil yang maksimal dan akan mudah tertancap pada diri anak didiknya.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

-----------------------
✒ Disusun oleh: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 12 Safar 1437/ 24 Nopember 2015_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com

Ikuti pula channel Forum kami di
https://telegram.me/ForumKIS
-----------------------

WA. FORUM KIS

Masa Kecil Adalah Masa Bermain-main

REVISI:

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

HADITS KELIMABELAS

MASA KECIL ADALAH MASA BERMAIN-MAIN

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي، «فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي»

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata; "Aku pernah bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku juga mempunyai teman-teman yang biasa bermain denganku, apabila Rasulullah Shallaallahu'alaihi wasallam masuk, mereka bersembunyi dari beliau. Sehingga beliau memanggil mereka supaya bermain bersamaku." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
----------------

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

1. Masa kecil ada masa penuh sukaria, bermain-main dan bercanda, karena memang belum ada beban tanggung-jawab pada diri mereka. Inilah yang kita dapatkan dari keumuman anak-anak.

2. Pada asalnya sifat malu adalah sifat yang terpuji, bahkan hal itu bagian daripada iman. Terkhusus pada diri wanita, hendaknya mereka berhias diri dengan sifat ini, karena jika telah hilang sifat ini pada diri wanita, maka akan menjatuhkan dirinya kepada kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman tentang seorang wanita Madyan yang datang kepada Musa;

{فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا}

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami." [QS. Al-Qashash:25]

Berkata as-Sa’di rahimahullah: “Hal ini menunjukkan mulyanya keluarganya dan baiknya akhlaknya. Sifat malu merupakan akhlak yang mulya , terkhusus pada diri wanita.” [Tafsir as-Sa’di hal.614]

3. Bolehnya menjual mainan dan memberikan mainan kepada anak-anak selama mainan tersebut tidak berbahaya bagi mereka dan tidak melanggar syariat.

4. Permainan merupakan bagian dari kehidupan anak-anak, sehingga salah jika ada orang tua melarang anak-anak bermain. Aturlah dengan baik jam bermainnya anak-anak tanpa ada padanya penekanan sehingga mereka merasa tertekan dan terzhalimi.

5. Baiknya pergaulan dan keharmonisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membina keluarga. Ini merupakan tauladan yang wajib kita tiru.

6. Seorang kepala keluarga bercanda dan bermain dengan anggota keluarganya merupakan sebab lahirnya keharmonisan suatu rumah tangga.

7. Kelembutan dan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap istri-istrinya.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

--------------------------
✒ Disusun oleh: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 6 Safar 1437/ 18 November 2015_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com

Ikuti pula channel Forum kami di
https://telegram.me/ForumKIS
------------------------

WA. FORUM KIS

Perintah Berbuat Adil Terhadap Anak-anak

MUTIARA HADITS KELEMBUTAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM KEPADA ANAK-ANAK:

HADITS KEEMPATBELAS

PERINTAH BERBUAT ADIL TERHADAP ANAK-ANAK

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، أَنَّ أُمَّهُ بِنْتَ رَوَاحَةَ، سَأَلَتْ أَبَاهُ بَعْضَ الْمَوْهِبَةِ مِنْ مَالِهِ لِابْنِهَا، فَالْتَوَى بِهَا سَنَةً ثُمَّ بَدَا لَهُ، فَقَالَتْ: لَا أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَا وَهَبْتَ لِابْنِي، فَأَخَذَ أَبِي بِيَدِي وَأَنَا يَوْمَئِذٍ غُلَامٌ، فَأَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمَّ هَذَا بِنْتَ رَوَاحَةَ أَعْجَبَهَا أَنْ أُشْهِدَكَ عَلَى الَّذِي وَهَبْتُ لِابْنِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا بَشِيرُ ‍ أَلَكَ وَلَدٌ سِوَى هَذَا؟» قَالَ: نَعَمْ، فَقَالَ: «أَكُلَّهُمْ وَهَبْتَ لَهُ مِثْلَ هَذَا؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَلَا تُشْهِدْنِي إِذًا، فَإِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ».

Dari an-Nu'man bin Basyir, bahwa ibunya, binti Rawahah, pernah meminta kepada ayahnya sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada anaknya, saat itu ayah menangguhkannya sampai setahun, sesudah itu barulah diberikan. Kata ibu, "Saya tidak suka sebelum pemberian itu disaksikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu ayah menggandeng tanganku dan mengajakku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sedangkan waktu itu saya masih kanak-kanak. Ayah berkata kepada beliau, "Ibu anak ini, binti Rawahah, memandang perlu untuk minta persaksian kepada anda atas pemberian yang saya berikan kepada anaknya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Wahai Basyir, apakah kamu memiliki anak selain anak ini?" Ayahku menjawab, "Ya." Beliau bersabda: "Apakah mereka semua kamu beri pemberian seperti itu?" Ayahku menjawab, "Tidak." Sabda beliau: "Kalau begitu, saya tidak mau menjadi saksi atas pemberian yang kurang adil (zhalim) ini.". [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
---------------------

FAEDAH-FAEDAH HADITS:

Hadits yang agung ini memberikan kepada kita faedah-faedah yang berharga, diantaranya;

1. Kewajiban memberikan keadilan terhadap anak-anak dalam pemberian hadiah. Tidak boleh mengistemewakan salah satu anak tanpa yang lainnya. Dalam riwayat al-Bukhari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ»

“Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah kalian diantara anak-anak kalian.”

Ini adalalah pendapat Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, ash-Shan’ani, asy-Syaukani, al-Lajnah ad-Daimah, asy-Saikh Bin Baz, asy-Saikh al-‘Utsaimin dan asy-Syaikh Muqbil.

2. Adil disini bermakna seperti dalam pembagian warisan, yakni anak laki-laki bagiannya dua kali lipat dari bagian anak perempuan. Allah Ta’ala berfirman:

{لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ}

“bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” [QS. an-NIsaa:11]

Ini adalah pendapat yang terpilih pada makna adil dalam pemberian terhadap anak-anak. Pendapat ini dipilih Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, asy-Syaukani, asy-Saikh Bin Baz dan asy-Syaikh al-‘Utsaimin.

Berkata asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah: “Dan barangsiapa mengatakan; ‘Sesungguhnya disana ada perbedaan antara (ketika masih) hidup dan (setelah) mati, maka hal ini butuh kepada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Kami katakan, mereka ketika masih hidup dan setelah mati (pembagiannya) sama saja.” [asy-Syarhul Mumthi’:11/80]

3. Sunnahnya memberikan hadiah, baik kepada anak istri ataupun kepada orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«تَهَادُوا تَحَابُّوا»

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah agar kalian saling mencintai”. [HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad, dihasankan al-Albani]

4. Disunnahkan pula mendatangkan seseorang untuk menyaksikan atas hadiah yang akan diberikan agar bisa menjadi saksi bahwa barang yang dia miliki telah dihadiahkan kepada orang lain.

5. Mengistimewakan salah satu anak tanpa yang lainnya bisa menimbulkan kedengkian dan permusuhan diantara anak-anak.

6. Suatu hal yang wajar jika ada anak yang paling dicintai dan disayangi orang tuanya, namun meskipun demikian tidak boleh baginya mengistimewakannya dengan hadiah tanpa memberikan kepada anak yang lainnya.

7. Apabila orang tua tidak adil dalam memberikan hadiah, maka hadiah tersebut dihukumi batil, tidak sah. Ini adalah pendapat ‘Urwah bin az-Zubair, Ishaq, Ahmad dalam salah satu riwayatnya, dan pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam, ash-Shan’ani, asy-Syaukani dan asy-Syaikh al-‘Utsaimin.

8. Boleh bagi orang tua mencabut pemberiannya yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Ini adalah pendapat Jumhur Ulama. Dalil yang menunjukan hal ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُعْطِيَ الْعَطِيَّةَ, ثُمَّ يَرْجِعَ فِيهَا; إِلَّا الْوَالِدُ فِيمَا يُعْطِي وَلَدَهُ»

"Tidak halal bagi seseorang untuk memberikan suatu pemberian kemudian memintanya kembali, kecuali bagi seorang ayah atas apa yang diberikan kepada anaknya.” [HR. Ahmad, at-Tirmidzy dan yang lainnya. Dishahihkan asy-Syaikh al-Albani dan asy-Syaikh Muqbil]

9. Mendengar dan taat kepada orang tua selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

-------------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 29 Muharam 1437/ 11 November 2015_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
https://bit.ly/ForumKIS
-----------------------------

WA. FORUM KIS