Tampilkan postingan dengan label al-Ushul ats-Tsalatsah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al-Ushul ats-Tsalatsah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Belajar Aqidah Shahihah Dari Kitab Al Ushul Ats Tsalatsah (05)

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH

Pelajaran Kelima

قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:
"أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلُّمُ أَرْبَعِ مَسَائِلَ"

Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:
"Sesungguhnya wajib atas kita untuk mempelajari empat perkara:..."
➖➖➖➖➖➖➖

Penjelasan:

Empat perkara yang akan disebutkan oleh Penulis adalah perkara yang wajib setiap pribadi muslim mempelajarinya. Barangsiapa yang enggan mempelajarinya maka pada hari kiamat, Allah akan mengumpulkannya bersama golongan orang-orang yang jahil (bodoh) yang enggan mempelajari perkara-perkara yang pokok dalam agamanya.

Ketahuilah, bahwa di Akherat nanti, Allah Ta'ala menjadikan mayoritas penduduk Neraka dari golongan orang-orang yang jahil, golongan orang-orang yang tidak memiliki semangat mempelajari ilmu yang dibawa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, padahal Allah Ta'ala telah memberikan kepada mereka kemudahan mendapatkannya dan telah membukakan untuk mereka segala bentuk jalan-jalan untuk memperoleh ilmu dengan tanpa adanya kesulitan. Namun meraka enggan, berpaling, sombong dan mendustakan apa yang dibawa Nabi  Shallallahu 'alaihi wasallam, wallahul musta'an.

Allah Ta'ala berfirman tentang keadaan mereka kelak di Akherat:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ (11).

"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. [QS. Al Mulk: 10-11]

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman:

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). [QS. Al An'am: 27]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ.

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. [QS. Al An'Am: 93]

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126).

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." [QS. Thaahaa: 124-126]

Lihatlah penyesalan mereka, tatkala mereka telah mendapatkan akibat dari perbuatan mereka sendiri. Akibat dari sebuah kesombongan; enggan dan berpaling dari Al Qur'an dan Sunnah.

Mereka menyesal, kenapa dahulu tidak mau mendengarkan nasehat dan ilmu yang diberikan oleh para da'i-da'i Ahlussunnah yang mengajak kepada kebenaran?!
Kenapa dahulu enggan untuk merenungi peringatan-peringatan yang disampaikan?! Sehingga kebodohan inilah yang menyeret mereka kedalam siksaan Neraka yang pedih.

Namun apalah arti sebuah penyesalan, tatkala sudah tidak diterima lagi sebuah penyesalan. Allah Ta'ala berfirman:

{وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ}

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." (Allah berfirman) "Dan bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. [QS. Faathir: 37]

Wahai kaum muslimin!
Wajib bagi setiap pribadi muslim untuk bersungguh-sungguh mempelajari perkara-perkara yang penting dan pokok yang harus dia ketahui, baik permasalahan aqidah ataupun yang lainnya dari perkara-perkara yang mana seorang muslim tidak boleh bodoh padanya. Karena sesungguhnya ilmu Al Qur'an dan Sunnah yang dia pelajari, akan menerangi kehidupannya dan membimbingnya kepada jalan-jalan yang diridhai Allah Ta'ala.

{وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.. [QS. Asy Syuura: 52]

Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan kepada kita semua taufiq dan hidayah-Nya dan menambahkan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat.
Aamin Ya Mujibas Saailin…

Wallahul muwaffiq ilash Shawab.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 21 Rabi'uts Tsani 1435/ 21 Pebruari 2014]
-----------------------

FORUM KIS

Belajar Aqidah Shahihah Dari Kitab Al Ushul Ats Tsalatsah (04)

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH

PELAJARAN KEEMPAT

قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:

"رَحِمَكَ الله"ُ

Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:
"Semoga Allah merahmatimu"
--------------------------

Penjelasan:

Perkataan Penulis_rahimahullah:

[رَحِمَكَ اللهُ]

Memberikan kepada kita beberapa faedah, diantaranya:

1. Mengingatkan bahwa ilmu syariat ini merupakan bentuk rahmat dan kasih sayang dari Allah Ta'ala untuk hamba-hamba-Nya tatkala mereka mau menerima dan mengamalkan ilmunya. Allah Ta'ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ}

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". [QS. Al Anbiya: 107]

2. Ilmu syar'i ini akan membawa pemiliknya untuk saling menyayangi diantara mereka. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ}

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka". [QS. Al Fath: 29]

3. Ilmu ini tidak diberikan dan tidak bermanfaat melainkan untuk orang-orang yang ramah dan sayang kepada manusia. Semakin bertambah sifat ramah dan sayangnya kepada manusia, maka semakin bertambah pula pula ilmu pada dirinya. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ، لَا يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ»

"Siapa yang tidak menyayangi manusia maka tidak disayangi Allah 'azza wajalla." [Muttafqun 'alaihi, dari shahabat Jarir bin Abdillah]

Oleh karena itu, apabila ada seorang yang berilmu meremehkan perkara ini, maka hal ini menunjukan dangkalnya ilmunya. Karena pada hakekatnya, ilmu syar'i akan membentuk pemiliknya bersifat lemah lembut, kasih sayang dan ramah kepada manusia. Allah Ta'ala berfirman kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ}

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka". [QS. Ali 'Imran: 159]

Dan salah satu bentuk rahmat dan kasih sayangnya seorang yang berilmu adalah dia mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan yang munkar. Membimbing manusia kepada jalan yang diridhai Allah Ta'ala dan mengingatkan serta memperingatkan dari jalan-jalan yang akan menyimpangkan mereka dari Ash Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus).

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…" [QS. Ali 'Imran:110]

Maka perkataan Penulis:

رَحِمَكَ اللهُ

"Semoga Allah merahmatimu"

Menunjukan betapa sayangnya beliau kepada umat, terkhusus kepada para penuntut ilmu. Beliau dalam kitab ini mengajari manusia tiga perkara yang agung yang akan menentukan seorang hamba selamat atau tidaknya dia dari siksa Allah.

Berkata Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh_rahimahullah: "Sering Penulis menggabungkan dalam kitabnya antara doa untuk para penuntut ilmu dan bimbingan yang beliau sampaikan dan terangkan (dalam tulisannya). Ini merupakan metode (pengajaran) yang baik, kasih sayangnya, rahmatnya kepada kaum muslimin".

Oleh karena itu, sepantasnya bagi para da'i dan juga para penuntut ilmu, ketika dia menyampaikan ilmu dalam majelis taklim atau muhadharah untuk memperhatikan dua hal:
1. Niat yang baik, yaitu ikhlas karena Allah Ta'ala, yang mana dia niatkan dakwahnya agar manusia  selamat dari adzab Allah. Bukan karena mengharap harta manusia atau banyak pengikutnya.
Lihatlah apa yang telah dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik_radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ»

"Ada seorang anak kecil Yahudi yang bekerja membantu Nabi Shallallahu'alaihiwasallam menderita sakit. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjenguknya dan Beliau duduk di sisi kepalanya lalu bersabda: "Masuklah Islam". Anak kecil itu memandang kepada bapaknya yang berada di dekatnya, lalu bapaknya berkata,: "Ta'atilah Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wasallam". Maka anak kecil itu masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam keluar sambil bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak itu dari neraka". [HR. Al Bukhari]

2. Penggunaan bahasa yang baik, dengan disertai doa untuk para pendengarnya agar Allah merahmati dan memberkahi mereka.
Lihatlah apa yang telah dicontohkan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, ketika beliau mengajari ilmu kepada Mu'adz bin Jabal_radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda sambil menggandeng tangan Mu'adz:

«يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»، فَقَالَ: " أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ».

"Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu, demi Allah, aku mencintaimu" Kemudian beliau berkata: "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan, "ALLAAHUMMA A'INNII 'ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI 'IBAADATIK" (Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik). [HR. Abu Dawud, dishahihkan Syaikh Al Albany dan Syaikh Muqbil]

Allah Akbar!!!
Betapa indahnya metode dakwah yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya. Sungguh benar-benar apa yang Allah firmankan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [QS. Al Ahzab: 21]

Ini merupakan metode dakwah yang sangat bagus, yang sepantasnya seorang da'i dan juga para penuntut ilmu untuk berhias dan beramal dengannya. Barangsiapa berdakwah dengan mengikuti metode dan manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam berdakwah, maka pasti dia akan memperoleh kesuksesan sebagaimana suksesnya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dalam membimbing umatnya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah_rahimahullah: "Para Imam Ahlus Sunnah dan Jama'ah dan para ahli ilmu dan iman, pada diri mereka: Ilmu, kasih sayang dan sifat adil".

CATATAN:
Disebutkan pula oleh sebagian para ulama bahwa pada kalimat (رَحِمَكَ اللهُ) terkandung didalamnya makna: "Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, dan menjagamu dari perbuatan dosa dimasa mendatang. Karena sesungguhnya kalimat Rahmat apabila bersendirian maka terkandung padanya permohonan pengampunan dosa yang telah lalu."

Dan juga diantara kandungan perkataan Penulis (رَحِمَكَ اللهُ) adalah:
"Aku memohon kepada Allah, untuk menurunkan rahmat-Nya kepadamu, sehingga dengan rahmat tersebut kamu dapat mencapai apa yang kamu cita-citakan, dan kamu selamat dari apa yang tidak kamu sukai."

Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua, sehingga dengannya kita dapat mencapai apa yang kita cita-citakan, yaitu mendapatkan keridhaan dan Jannah-Nya dan melindungi kita semua dari segala bentuk perbuatan dosa.

Wallahul muwaffiq ilash Shawab.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 8 Rabi'uts Tsani 1435/ 8 Pebruari 2014]
------------------------

FORUM KIS

Belajar Aqidah Shahihah Dari Kitab Al Ushul Ats Tsalatsah (03)

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH

PELAJARAN KETIGA

قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:

"اعْلمْ!"
Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:
"Ketahuilah! …"
------------------------

Penjelasan:

Perkataan Penulis_rahimahullah:

[ اعلمْ ]

Kalimat (اعْلمْ) berasal dari kalimat (الْعِلْمُ).

Hal ini menunjukan bahwa agama Islam dan syariat-syariatnya adalah ilmu dengan hujjah dan bayan (penjelasan), bukan dengan dugaan dan bukan pula dengan perasaan atau akal-akalan.

Demikian pula apa yang akan disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab_rahimahullah dalam kitab ini berupa ilmu Aqidah Shahihah dengan hujjah dan bayan yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah, bukan berasal dari rekaan, akal atau perasaan beliau.

Berkata Syaikh Hafizh Hakamy: "Kalimat ini (اعْلمْ) didatangkan (diawal pembicaraan) untuk menggugah perhatian dan (memberikan) motivasi untuk menghayati apa yang (disampaikan) setelahnya."

Oleh karena itu Allah Ta'ala dalam Al Quran memulai dengan kalimat ini dalam perkara-perkara yang agung dan perkara-perkara yang penting, agar hamba-hambaNya memperhatikan daan menghayati ayat-ayat tersebut, diantaranya:

{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ}

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.." [QS. Muhammad: 19]

{اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ}

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." [QS. Al Hadid: 20]

Oleh karena itu, sepantasnya seorang da'i dan juga para pelajar ketika akan berbicara suatu perkara yang penting untuk memulai diawal pembicaraannya dengan menggunakan ibarat-ibarat yang dapat menggugah perhatian manusia yang diajak bicara, agar mereka konsentrasi dan menghayati apa yang disampaikan. Karena pendengar butuh ibarat-ibarat yang dapat menggerakan konsentrasinya sehingga menjadi benar-benar perhatian dalam mendengarkan pembicaraan.

Hal ini juga telah dicontohkan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, ketika berkata dengan para shahabat_radhiyallahu 'anhum, diantaranya:

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟»

"Maukah kalian untuk aku beritahukan tentang dosa-dosa terbesar?" [Muttafaqun 'Alaihi, dari shahabat Anas]

«أَتَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟»

"Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?" [HR. Al Bukhary-Muslim, dari shahabat Zaid bin Khalid Al Juhany ]

«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟»

"Tahukah kamu, apakah ghibah itu?" [HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah]

Sekali lagi, maksud dari ini semua adalah adalah agar para pendengar bersiap-siap untuk memperhatikan apa yang akan disampaikan dan menghayatinya, sehingga tidak melamun pikirannya kepada perkara yang lain.
Ini semua termasuk dalam bab memimilih kalimat-kalimat yang tepat ketika mengawali suatu pembicaraan.

Wallahu a'lam bish shawab!

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 29 Rabi'ul Awwal 1435/ 30 Januari 2014]
-------------------------------

FORUM KIS

Kamis, 26 Mei 2016

Belajar Aqidah Shahihah Dari Kitab Al Ushul Ats Tsalatsah (2)


BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH

PELAJARAN KEDUA

قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:

"Bismillahirrohmanirrohim" (dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang)

-----------------------

Penjelasan:

Dasar isi dari kitab ini adalah apa yang ditunjukan dalam hadits Al Bara' bin 'Azib_radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk melihat jenazah seorang laki-laki Anshar, kami pun tiba di pemakaman. Ketika lubang lahad telah dibuat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk, lalu kami ikut duduk di sisinya. Kami diam, seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Saat itu beliau memegang sebatang kayu yang ditancapkan ke dalam tanah, beliau lalu mengangkat kepalanya dan bersabda: "Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur." Beliau ucapkan kalimat itu hingga dua atau tiga kali. Demikanlah tambahan dalam hadits Jarir. Beliau melanjutkan: "Sungguh, mayat itu akan mendengar derap sandal mereka saat berlalau pulang; yakni ketika ditanyakan kepadanya, 'Wahai kamu, siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu? ' -Hannad menyebutkan; Beliau bersabda: - "lalu ada dua malaikat mendatanginya seranya mendudukkannya. Malaikat itu bertanya, "Siapa Rabbmu?" ia menjawab, "Rabbku adalah Allah." Malaikat itu bertanya lagi, "Apa agamamu?" ia menjawab, "Agamaku adalah Islam." Malaikat itu bertanya lagi, "Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? ' ia menjawab, "Dia adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." malaikat itu bertanya lagi, "Apa yang kamu ketahui?" ia menjawab, "Aku membaca Kitabullah, aku mengimaninya dan membenarkannya." Dalam hadits Jarir ditambahkan, "Maka inilah makna firman Allah: '(Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman…) ' hingga akhir ayat. -Qs. Ibrahim: 27- kemudian kedua perawi sepakat pada lafadz, "Beliau bersabda: "Kemudian ada suara dari langit yang menyeru, "Benarlah apa yang dikatakan oleh hamba-Ku, hamparkanlah permadani untuknya di surga, bukakan baginya pintu-pintu surga dan berikan kepadanya pakaian surga." beliau melanjutkan: "Kemudian didatangkan kepadanya wewangian surga, lalu kuburnya diluaskan sejauh mata memandang." Beliau melanjutkan: "Jika yang meninggal adalah orang kafir, maka ruhnya akan dikembalikan kepada jasadnya. Saat itu datanglah dua malaikat serya mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya, "Siapa Rabbmu?" ia menjawab, "Hah, hah, hah. Aku tidak tahu." Malaikat itu bertanya, "Apa agamamu?" ia menjawab, "Hah, hah. Aku tidak tahu." Malaikat itu bertanya lagi, "Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? ' ia menjawab, "Hah, hah. Aku tidak tahu." Setelah itu terdengar suara dari langit: "Ia telah berdusta. Berilah ia hamparan permadani dari neraka, berikan pakaian dari neraka, dan bukakanlah pintu-pintu neraka untuknya." Beliau melanjutkan: "Kemudian didatangkan kepadanya panas dan baunya neraka. Lalu kuburnya disempitkan hingga tulangnya saling berhimpitan." Dalam hadits Jarir ditambahkan, "Beliau bersabda: "Lalu ia dibelenggu dalam keadaan buta dan bisu. Dan baginya disediakan sebuah pemukul dari besi, sekiranya pemukul itu dipukulkan pada sebuah gunung niscaya akan menjadi debu." Beliau melanjutkan: "Laki-laki kafir itu kemudian dipukul dengan pemukul tersebut hingga suaranya dapat didengar oleh semua makhluk; dari ujung timur hingga ujung barat -kecuali jin dan manusia- hingga menjadi debu." Beliau meneruskan ceritanya: "Setelah itu, ruhnya dikembalikan lagi." [HR. Abu Dawud, dishahihkan Syaikh Al Albany, riwayat Ibnu Abi Syaebah dishahihkan Syaikh Muqbil. Riwayat ini lebih lengkap dari riwayat Al Bukhary – Muslim dari shahabat Anas]

Perkataan Penulis_Rahimahullah:

"Bismillahirrohmanirrohim" (dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang)

Beliau memulai kitab ini dengan Basmalah, hai ini dikarenakan beberapa hal:

1. Mencontoh Kitabullah (Al Quran), yang mana Al Qur'an dimulai dengan bacaan Basmalah.

2. Meneladani dan mengamalkan sunnahnya para Nabi, yang mana mereka menulis diawal risalah dakwah mereka kepada para raja-raja dari kalangan orang-orang kafir dengan Basmalah;

a. Nabi Sulaiman 'alaihissalam menulis risalah kepada penguasa Saba' dengan Basmalah:

{إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}

"Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." [An Naml: 30]

b. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika menulis risalah kepada Hiraklius raja Ramawi, beliau membuka risalahnya dengan Basmallah:

«بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ»

"BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM (dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang), dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Hiraklius raja Ramawi." [HR. Al Bukhary - Muslim]

c. Demikian pula dalan perdamaian Hudaibiyah, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya dari shahabat Abdullah bin Mughaffal, dishahihkan Syaikh Muqbil dalam Ash Shahihul Musnad no 887.

3. Mengikuti jejak para Shahabat_radhiyallahu 'anhum, yang mana Abu Bakr Ash Shiddiq_radhiyallahu 'anhu ketika menulis risalahnya kepada Anas bin Malik_ radhiyallahu 'anhu diawali dengan Basmalah, sebagaimana yang dikabar Anas bin Malik_radhiyallahu 'anhu:

«أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، كَتَبَ لَهُ هَذَا الكِتَابَ لَمَّا وَجَّهَهُ إِلَى البَحْرَيْنِ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى المُسْلِمِينَ، وَالَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا رَسُولَهُ... » الحديث

"Bahwa Abu Bakar radliallahu 'anhu telah menulis surat ini kepadanya (tentang aturtan zakat) ketika Abu Bakr mengutusnya ke negeri Bahrain: "Bismillahirrahmaanirrahiim. Inilah kewajiban zakat yang telah diwajibkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam terhadap kaum Muslimin dan seperti yang diperintahkan oleh Allah dan rasulNya tentangnya… [HR. Al Bukhary]

4. Hal ini sudah menjadi kebiasan para ulama dalam mengawali setiap risalah atau kitab-kitabnya.
Berkata Ibnu Abdil Bar_rahimahullah: Disunnahkan bagi setiap yang akan memulai sebuah tulisan empat perkara: Basmalah, Hamdalah, Shlawat 'alan Nabi, dan Tasyahhud.
Berkata Ibnu Hajar_rahimahullah: telah tetap menjadi kebiasaan para penulis untuk mengawali basmalah dalam kitab-kitab ilmu.

⛔ Peringatan:

Adapun hadits Abu Hurairah_radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«كُلُّ أَمرٍ ذِي بَالٍ لَمْ يُبْدَأ فِيهِ باسْمِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَر»

"Semua perkara penting yang tidak dimulai dengan Basmalah adalah sia-sia." [HR. Al Khathib dan As Subky, berkata Syakh Albany dalam kitab Al Irwa': 1/29: Hadits ini lemah sekali]

Demikian pula hadits Abu Hurairah:

«كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِالْحَمْدِ أَقْطَعُ »

"Semua perkara penting yang tidak dimulai dengan hamdalah adalah sia-sia."[HR. Ibnu Majah, didha'ifkan Syaikh Al Albany]

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 22 Rabi'ul Awwal 1435/ 23 Januari 2014]

WA. FORUM KIS

Minggu, 22 Mei 2016

Belajar Aqidah Shahihah Dari Kitab Al Ushul Ats Tsalatsah

Forum KIS:
بسم الله الرحمن الرحيم

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH

MUQODDIMAH ✒️

Segala puji dan syukur bagi Allah Ta'ala yang telah memberikan dan menganugerahkan kenikmatan yang paling agung dari kenikmatan-kenikmatan yang diberikan-Nya kepada kita, yaitu kenikmatan Islam. Islam adalah agama yang hak dan tidak ada agama yang diridhai disisi Allah kecuali agama Islam. Allah Ta'ala berfirman:

{إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ}

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam." [QS. Alu 'Imran: 19]

Dan Allah Ta'ala berfirman pula:

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." [QS. Alu 'Imran: 85]

Perkara yang paling penting yang wajib diketahui oleh seorang muslim dalam agamanya adalah dia mengenal Sang Penciptanya dan mengenal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diutus Allah kepada kita dengan sebenar-benarnya serta mengenal hakekat agama islam yang dipeluknya. Tiga perkara inilah yang akan ditanyakan kepada manusia di alam kuburnya nanti. Barangsiapa yang mengilmuinya dengan keimanan dan keyakinan yang benar, dan disertai dengan amalan shalih di dunia maka Allah akan kuatkan dan mudahkan lisannya untuk menjawab tiga pertanyaan tersebut di alam kuburnya.

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." [QS. Ibrahim: 27]

Wahai saudaraku!

Kelihatannya dalam pandanganmu sangat ringan menjawab tiga pertanyaan tersebut; Siapa Rabbmu? Allah, apa agamamu? Islam, siapa laki-laki yang diutus Allah kepadamu? Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sampai-sampai para pengekor hawa nafsu dan pengikut kebatilan mengejek sambil berkata: "Untuk apa belajar tiga perkara ini, anak TK saja kalau ditanya masalah ini bisa menjawabnya!"

Tidak wahai saudaraku!

⛔ Kenyataan di alam kubur nanti tidak seringan yang kita bayangkan, karena semua itu tergantung dengan iman dan amalan shalih dia di dunia.

Barangsiapa yang bagus amalannya di dunia, maka malaikat yang datang kepadanya nanti adalah malaikat yang bagus rupanya dan sejuk mata memandangnya serta lembut perkataannya. Namun barangsiapa yang buruk amalannya di dunia, maka malaikat yang datang kepadanya adalah malaikat yang buruk mukanya dan seram mata memandangnya serta bengis perkataannya, sebagaimana dikisahkan dalam hadits Al Bara' yang diriwayatkan Abu Bakr bin Abi Syaibah, dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Ash Shahihul Musnad no 141.

Iman seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, dan keyakinannya dengan agamanya akan menjadi kuat disaat dia betul-betul mengilmui tiga perkara penting ini dan mengamalkannya. Karena tidaklah akan tumbuh keimanan pada hati seseorang kecuali dibangun diatas ilmu tentang apa yang dia imani.

Maka barangsiapa yang telah mengenal Allah dan Rasul-Nya maka pasti dia akan terdorong untuk segera menjalankan segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan meninggalkan segala larangannya. Demikian pula barangsiapa yang telah mengenal hakikat agama islam dan keutamaannya serta syariatnya, maka dia tidak akan melirik kepada agama selain islam dan tidak akan goyah dalam menghadapi segala bentuk fitnah, baik fitnah syubhat maupun fitnah syahwat.
Allah Ta'ala berfirman:

{يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

"Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. [QS. Al Maidah: 16]

Dan Allah Ta'ala berfirman pula:

{فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى}

"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." [Thaahaa: 123]

Berkata Ibnu 'Abbas_radhiyallahu 'anhuma: "dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di Akherat nanti." [Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 hal 322]

Oleh karena itu, maka saya ingin mengajak saudaraku sekalian pada kesempatan ini, untuk kita mengkaji bersama-sama sebuah kitab yang agung yang ditulis oleh pembaharu umat ini: "Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman Abu Abdillah At Tamimi_rahimahullah". Sebuah kitab yang membahas tiga landasan pokok yang sangat penting untuk seorang muslim mengilmuinya, kitab tersebut diberi nama "Al Ushul Ats Tsalaatsah". Sungguh apabila kita mempelajari kitab ini dengan baik, maka akan memperkuat iman dan amalan kita.

Kita memohon kepada Allah Ta'ala untuk menjadikan kajian kitab ini membawa keberkahan dan manfaat bagi kita khushusnya dan kaum muslimin pada umumnya.

Segala kebenaran dalam kajian kita ini adalah semata-mata datangnya dari Allah Ta'ala, dan adapun segala kesalahan dan kekurangan yang ada pada kajian kita ini, semua datangnya dari setan dan kebodohan saya yang masih harus banyak belajar.

Semoga Allah mengampuni segala kesalahan saya dan juga kaum muslimin dan semoga Allah senantiasa memberikan kita taufiq dan hidayah-Nya untuk selalu berjalan diatas Al haq sampai kita menghadap-Nya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 6 Rabi'ul Awwal 1435/ 7 Januari 2013_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah ]
------------------------------

WA. FORUM KIS