Kamis, 27 Oktober 2016

Taqwa Kunci Segala Kebaikan


🌺📬 TAQWA KUNCI SEGALA KEBAIKAN

☄ asy-Syaikh al-Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

📔 "Engkau wahai hamba Allah, apabila engkau membaca Kitabullah dari awal hingga akhirnya, akan engkau dapatkan bahwa taqwa merupakan yang paling utama dari segala kebaikan, kunci segala kebaikan, dan sebab segala kebaikan di dunia dan akhirat.
🌩🌪 Datang berbagai musibah, bencana, cobaan, dan hukuman tidak lain karena meremehkan Taqwa, terdapat cacat padanya, atau menyia-nyiakannya atau menyia-nyiakan salah satu bagian darinya.

🌅 TAQWA merupakan sebab kebahagian dan keselamatan. Jalan keluar dari berbagai kesulitan. Sebab kemuliaan dan pertolongan di dunia maupun di akhirat."

 فأنت يا عبد الله إذا قرأت كتاب ربك من أوله إلى آخره تجد التقوى رأس كل خير، ومفتاح كل خير، وسبب كل خير في الدنيا والآخرة، وإنما تأتي المصائب والبلايا والمحن والعقوبات بسبب الإهمال أو الإخلال بالتقوى وإضاعتها، أو إضاعة جزء منها، فالتقوى هي سبب السعادة والنجاة، وتفريج الكروب، والعز والنصر في الدنيا والآخرة،

🌎 http://www.binbaz.org.sa/article/361

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🏅🎗 TAQWA ... DEMI MERAIH KEMULIAAN DI DUNIA DAN NIKMAT DI AKHIRAT

☄ asy-Syaikh al-Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

📌 "Manusia membutuhkan rizki yang halal dan baik di dunia ini. Juga membutuhkan kenikmatan yang kekal di akhirat. Itu merupakan nikmat terbaik terbesar, tidak ada kenikmatan di atasnya.
Tidak ada cara dan tidak ada jalan untuk meraihnya kecuali dengan TAQWA.
☀ Maka barangsiapa yang menginginkan kemuliaan di dunia dan rizki yang halal padanya, serta nikmat di akhirat, maka hendaknya dia berpegang kepada TAQWA."

والإنسان محتاج أيضاً إلى الرزق الحلال الطيب في هذه الدار، وإلى النعيم المقيم في الآخرة، وهو أحسن نعيم وأعظم النعيم ولا نعيم فوقه، ولا طريق إلى ذلك ولا سبيل إلا بالتقوى، فمن أراد عز الدنيا والرزق الحلال فيها، والنعيم في الآخرة، فعليه بالتقوى.

🌎 http://www.binbaz.org.sa/article/361

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🛍💐 TAQWA DAN ILMU

☄ asy-Syaikh al-Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

🌷 "Manusia membutuhkan ilmu, bashirah, dan hidayah. Tidak ada cara untuk mencapai itu kecuali dengan TAQWA.
🔅 Sebagaimana Firman Allah 'Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
"Wahai orang-orang beriman apabila kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan untuk kalian Furqan." [ al-Anfal : 29 ]

📌 makna al-Furqan sebagaimana dijelaskan oleh para 'ulama adalah : cahaya yang dengannya bisa dibedakan antara al-Haq (kebenaran) dan kebatilan, antara hidayah dan kesesatan.

⛵ Tak tersembunyi bagi barangsiapa yang mau merenungkan, bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu dan tafaqquh (mempelajari/mendalami) agama TERMASUK KETAQWAAN. Dengan itu bisa diperoleh cahaya dan hidayah, yang keduanya itulah AL-FURQAN."

والإنسان محتاج إلى العلم والبصيرة والهدى، ولا سبيل إلى ذلك إلا بالتقوى، كما قال عز وجل: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا، والفرقان كما قال أهل العلم: هو النور الذي يفصل به بين الحق والباطل، وبين الهدى والضلال.

ولا يخفى على من تأمل أن الاجتهاد في طلب العلم والتفقه في الدين من جملة التقوى، وبذلك يحصل النور والهدى، وهما الفرقان.

🌎 http://www.binbaz.org.sa/article/361

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

📔🏵 TAQWA ... KUNCI KEMENANGAN

☄ asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

🏅 "Mereka mencapai kepemimpinan umat, disebut-sebut dengan kebaikan, kemenangan demi kemenangan terhadap berbagai negeri, tidak lain oleh sebab KETAQWAAN mereka kepada Allah, melaksanakan perintah-perintah-Nya, membela agama-Nya, dan mereka bersatu di atas Tauhid dan ketaatan kepada-Nya."

🌎 http://www.binbaz.org.sa/article/361

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

💐🌿 TAQWA SEBAB KELAPANGAN DAN KEMUDAHAN

☄ asy-Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

🛤 "Seseorang apabila telah sempit kondisi yang ada di hadapannya, pintu-pintu sebagian kebutuhannya juga tertutup di hadapannya, maka taqwa merupakan KUNCI PEMBUKA BERBAGAI KESEMPITAN tersebut.
⛵ TAQWA MERUPAKAN SEBAB KEMUDAHAN dari berbagai kesempitan. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala :
 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan untuknya kemudahan dari urusannya." [ ath-Thalaq : 4 ]

و الإنسان قد تضيق أمامه الدروب، وتسد في وجهه الأبواب في بعض حاجاته، فالتقوى هي المفتاح لهذه المضائق وهي سبب التيسير لها، كما قال عز وجل:
 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا،

🌎 http://www.binbaz.org.sa/article/361

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

🏵💐🗺 TAQWA DAN SABAR

☄ asy-Syaikh al-Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah,

🎗 "Sabar merupakan salah satu cabang taqwa yang paling besar. Allah gabungkan penyebutan taqwa dan sabar dalam firman-Nya

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا
"Apabila kalian BERSABAR dan BERTAQWA." [ Ali 'Imran : 125 ]

Ini adalah mengiringkan suatu yang umum pada suatu yang khusus.

🌅 Harus ada kesabaran dalam berjihad menghadapi musuh-musuh, sabar dalam berjaga di fron terdepan, sabar dalam mempersiapkan kemampuan berupa perbekalan dan fisik yang kuat terlatih. Sebagaimana pula harus sabar dalam mempersiapkan persenjataan yang mampu dilakukan, yaitu senjata yang sebanding dengan persenjataan musuh atau di atasnya sesuai kemampuan.
⛵ Bersama kesabaran tersebut, harus disertai pula dengan KETAQWAAN kepada Allah dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Berhenti pada batas-batas-Nya, tunduk di hadapan-Nya. Beriman bahwa Dia adalah penolong, dan bahwa pertolongan/kemenangan itu hanyalah datang dari sisi-Nya, bukan karena banyaknya tentara bukan pula karena banyaknya persenjataan, tidak pula karena sebab-sebab lainnya.
🌠 Pertolongan/kemenangan semata-mata dari Allah. Adapun sebab-sebab itu dijadikan untuk menentramkan hati dan membuatnya gembira dengan adanya sebab-sebab kemenangan."

والصبر من أعظم شعب التقوى، وعطفها عليه في قوله سبحانه: ( وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا ) من عطف العام على الخاص، فلابد من صبر في جهاد الأعداء، ولابد من صبر في الرباط في الثغور، ولابد من صبر في إعداد المستطاع من الزاد والبدن القوي المدرب، كما أنه لابد من الصبر في إعداد الأسلحة المستطاعة التي تماثل سلاح العدو أو تفوقه حسب الإمكان، ومع هذا الصبر لابد من تقوى الله في أداء فرائضه وترك محارمه، والوقوف عند حدوده، والانكسار بين يديه، والإيمان بأنه الناصر، وأن النصر من عنده لا بكثرة الجنود ولا بكثرة العدة، ولا بغير ذلك من أنواع الأسباب، وإنما النصر من عنده سبحانه، وإنما جعل الأسباب لتطمين القلوب وتبشيرها بأسباب النصر

🌎 http://www.binbaz.org.sa/article/361

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Selasa, 25 Oktober 2016

Faidah-Faidah Fiqhiyah dari Kitab Umdatul Ahkam (11)


📚 FAEDAH-FAEDAH FIQHIYAH DARI KITAB ‘UMDATUL AHKAM 📚

💧BAB ADAB MASUK WC
DAN BUANG HAJAT🏡

🌹HADITS KESEBELAS🌹

🔊 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه -: أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إذَا دَخَلَ الْخَلاءَ قَالَ: «اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ».

🔊 Dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk kedalam tempat buang hajat, maka beliau selalu berdo'a: ALLAHUMMAA INNII A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABAA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan)." [HR. al-Bukhary – Muslim]
—------------------------------------------------------------------------------------—

📬 Faedah yang terdapat dalam hadits:
📎 1. Disunnahkan membaca doa ini ketika akan buang hajat, baik buang air besar maupun buang air kecil.
Al-Imam an-Nawawy rahimahullah berkata: "Doa ini adalah doa yang telah disepakati kesunnahannya."
📎 2. Doa ini dibaca ketika akan masuk WC, bukan setelah masuk WC baru berdoa, sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam riwayat al-Imam al-Bukhary dalam kitab Adabul Mufrad.
📎 3. Jumhur ulama berpendapat bahwa doa ini disyariatkan pula ketika buang hajat di padang pasir atau yang semisalnya. Dzikir ini bukan khusus ketika mau masuk WC saja, tetapi di semua tempat ketika dia akan buang hajat.

🔐 Masalah: Kapan doa ini dibaca apabila buang hajatnya di padang pasir atau yang semisalnya?
🔑 Pendapat yang dipilih oleh kebanyakan para ulama adalah dibaca ketika akan menurunkan pakaiannya (membuka auratnya) untuk buang hajat.

⚠️ Peringatan:
Dalam riwayat Sa'id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah dari hadits Anas bin Malik terdapat tambahan lafazh "BISMILAH" sebelum membaca doa diatas. Namun riwayat ini telah dilemahkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab 'Ilalnya. Dalam riwayat tersebut ada perawi yang bernama Abu Mi'syar Najih bin Abdurrahman as-Sindi, dia adalah perawi yang dha'if (lemah) dan ia telah menyelisihi 11 perawi yang lain, yang mana mereka tidak meriwayatkan dengan tambahan basmalah, sehingga riwayat haditsnya dikatakan "munkar".

🔐 Masalah: Apa yang kita baca disaat keluar dari WC setelah buang hajat?
🔑 Diriwayatkan oleh al-Bukhary dalam kitab Adabul Mufrad dan Ashhabus Sunan dari hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam disaat keluar dari WC beliau mengucapkan:
"غُفْرَانَكَ"
"GHUFRAANAKA (Aku mohon ampunan-Mu)."

🔊 Berkata Syaikh al-Albani: "Sanad hadits ini shahih. Dan telah dishahihkan oleh Abu Hatim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnul Jaarud, al-Hakim, an-Nawawy dan adz-Dzahaby [Shahih Abu Dawud 1/59]

⚠️ Adapun hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي»

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jika keluar dari tempat buang hajat selalu mengucapkan: "ALHAMDULILLAAHILLADZII ADZHABA 'ANNIL ADZAA WA 'AAFAANII (Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku rasa sakit dan menjaga kesehatanku)." [HR. Ibnu Majah, dilemahkan Syaikh al-Albani]

Hadits ini adalah hadits yang lemah, karena dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ismail bin Muslim. Berkata Ibnu Hajar tentang perawi ini dalam kitab At Taqrib: "lemah dalam periwayatan hadits" dan dalam kitab Zawaid beliau berkata: "telah disepakati kelemahan haditsnya" [lihat kitab Al Irwa karya Syaikh al-Albani no. 53]
📎 4. Wajib bagi seseorang yang ingin buang hajat untuk menjauh diri dari pandangan manusia, hal ini dalam rangka menjaga auratnya dan juga tidak menzhalimi manusia disaat buang hajat dengan baunya.
📎 5. Hadits ini menunjukkan bahwa berdzikir kepada Allah merupakan sebab terjaganya diri dari gangguan setan. Sebagaimana pula yang ditunjukkan dalam hadits-hadist yang lain, seperti;

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ قَالَ - يَعْنِي - إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيتَ، وَوُقِيتَ، وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ "

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang ketika keluar dari rumahnya mengucapkan; BISMILLAAH, TAWAKKALTU 'ALALLAHI, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (dengan nama Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan dengan pertolongan Allah) maka dikatakan baginya, engkau telah mendapatkan kecukupan, telah mendapat pertolongan dan setan menjauh darimu." [HR. at-Tirmidzy, dishahihkan Syaikh al-Albany]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ، يَوْمَهُ ذَلِكَ، حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ. الحديث

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha ilIallaahu wahdah, Iaa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir' (Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki alam semesta dan segala puji hanya bagi-Nya. Allah adalah Maha Kuasa atas segaIa sesuatu) dalam sehari seratus kali, maka orang tersebut akan mendapat pahala sama seperti orang yang memerdekakan sepuluh orang budak, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus keburukan untuknya. Pada hari itu ia akan terjaga dari godaan setan sampai sore hari dan tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya, kecuali orang yang membaca lebih banyak dan itu." [HR. Muslim]

🚪 Wallahu a’lam wal muwaffiq ila ash shawab.

=========================================
✒️ ditulis oleh Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawi
📚 FORUM KIS 📚
📡 https://telegram.me/FORUMKISFIQIH

Silisilah/Serial yang lain dari artikel FAEDAH-FAEDAH FIQHIYAH DARI KITAB ‘UMDATUL AHKAM dàpat dibaca disini

Rabu, 19 Oktober 2016

Faidah-Faidah Fiqhiyah dari Kitab Umdatul Ahkam (10)


📚 FAEDAH-FAEDAH FIQHIYAH DARI KITAB ‘UMDATUL AHKAM 📚

🌹HADITS KESEPULUH🌹

🔊 عَنْ نُعَيْمِ الْمُجْمِرِ عَنْ أبيِ هريرة رَضِيَ الله عَنْهُ عَنِ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم أنَهُ قَالَ: «إنَّ أمتي يُدْعَون يومَ القيَامةِ غُرُّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثارِ الْوُضُوءِ، فَمن استطَاَعَ مِنْكُمْ أن يُطِيلَ غرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ».
🔊 وفي لفظ آخر: رَأيْتُ أبَا هُريرةَ يتوضأ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيهِ حَتى كَادَ يَبْلُغُ المَنْكِبَينِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَى رَفَعَ إلَى السَّاقَيْن، ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إن أمتي يُدْعَوْنَ يَوْم القِيَامَةِ غرا مُحَجلِين من آثار الوُضُوءِ، فمَنِ اسْتَطَاَعَ مِنْكُمْ أنْ يُطِيل غرته وَتَحْجيلَهُ فَلْيَفْعَل».
🔊 وفي لفظ لمسلم: سَمِعْتُ خليلي صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: « تبلغ الحِلْيَةُ من الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ».

Dari Nu'aim al-Mujmir, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudhu, barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan." [HR. al-Bukhary – Muslim]
dalam lafal yang lain: "aku melihat Abu Hurairah berwudhu, lalu membasuh wajahnya dan kedua tangannya hingga hampir mencapai lengan, kemudian membasuh kedua kakinya hingga meninggi sampai pada kedua betisnya, kemudian dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya umatku datang pada hari kiamat dalam keadaan putih bercahaya disebabkan bekas wudhu. Maka barangsiapa di antara kalian mampu untuk memanjangkan putih pada wajahnya maka hendaklah dia melakukannya'." [HR. Muslim]
dalam lafal Muslim: "Perhiasan seorang mukmin adalah sejauh mana air wudhunya membasuh."
—-------------------------------------------------------------------------

📬 Faedah yang terdapat dalam Hadits:
📎 1. Keutamaan berwudhu, yang mana bekas wudhu menjadi sebab dia mendapatkan cahaya putih berkilau nan indah pada muka, tangan dan kakinya.
📎 2. Sebagian ulama berdalil dengan hadits ini, bahwa wudhu merupakan khushushiyah (syariat yang khusus) untuk umat Islam. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Mereka juga berdalil dengan hadits:

«لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنْ الْأُمَمِ»

"Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat-umat yang lainnya." [HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]

Namun jumhur ulama berpendapat bahwa wudhu juga merupakan syariat umat-umat terdahulu. Dengan dalil-dali sebagai berikut:
🔸a. Kisah Sarah istri Nabi Ibrahim 'alaihissalam bersama seorang raja yang zhalim. Tatkala sang raja berhasrat kepada Sarah dan ingin merusak kehormatannya, maka Sarah berkata: "Ijinkan saya berwudhu dan menunaikan shalat." Kemudian dia pergi berwudhu dan shalat. [HR. al-Bukhary, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
🔸b. Kisah Juraij, seorang ahli ibadah ketika dituduh berzina dengan seorang perempuan, dalam hadits tersebut dia juga meminta ijin untuk berwudhu dan kemudian shalat.
Dua hadits ini menunjukkan bahwa wudhu juga merupakan syariat umat sebelum kita.

📋 Kesimpulan:
Dari dalil-dalil yang dipaparkan oleh kedua pendapat diatas, menunjukkan bahwa pendapat yang kuat dan terpilih adalah pendapat jumhur ulama, bahwa wudhu juga merupakan syariat umat sebelum kita. Adapun yang menjadi kekhususan umat ini adalah tanda putih yang bercahaya pada wajah, kedua tangan dan kaki disebabkan bekas wudhu. Pendapat ini dipilih Ibnu Hajar.
📎 3. Para ulama berbeda pendapat dalam hukum memanjangkan basuhan pada kedua tangan hingga hampir mencapai lengan, dan juga membasuh kedua kaki hingga meninggi sampai pada kedua betisnya. Pendapat yang kuat dan terpilih adalah hal tersebut bukan hal yang disunnahkan. Ini adalah pendapat Imam Malik, Ahli Madinah dan Ahmad dalam salah satu riwayatnya. Diantara dalil mereka adalah sebagai berikut:
📌- Pengklaiman bahwa disunnahkan memanjangkan basuhan pada kedua tangan hingga hampir mencapai lengan, dan juga membasuh kedua kaki hingga meninggi sampai pada kedua betisnya adalah ibadah, maka membutuhkan dalil yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
📌- Para shahabat yang meriwayatkan sifat-sifat wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hanya menyebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, dan membasuh kedua kaki sampai mata kaki saja, tidak lebih dari itu. Demikian pula yang ditunjukan dalam ayat wudhu, yang mana ayat tersebut termasuk diantara ayat yang terkahir diturunkan.
📌- Adapun hadits Abu Hurairah, dengan lafal;

«فَمن استطَاَعَ مِنْكُمْ أن يُطِيلَ غرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ»

"barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan"

⚠️ Lafal ini adalah mudraj, yaitu bukan dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan dari perkataan Abu Hurairah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar, Syaikhul Islam dalam Majmu Fatawa [1/279-280], Ibnul Qayyim dalam kitab I'lam Al Muwaqi'in [6/316], dan juga Syaikh Al Albany dal kitab Adh Dha'ifah [3/106].

Hal ini diperkuat juga dengan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, yang mana padanya Nu'aim al-Mujmir -perawi dari Abu Hurairah- ragu dalam meriwayatkan lafal tersebut:

فَقَالَ نُعَيْمٌ: "لَا أَدْرِي قَوْلُهُ مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ مِنْ قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مِنْ قَوْلِ أَبِي هُرَيْرَةَ"

"Nu'aim berkata; Aku tidak tahu apakah perkataan "barangsiapa dari kalian mampu memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan" sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atau perkataan Abu Hurairah?" [HR. Ahmad]
📌- Demikian pula perbuatan Abu Hurairah tersebut telah diingkari oleh para shahabatnya, ini hanyalah ijtihad dari beliau radhiyallahu 'anhu, terbukti dia melakukan hal ini dengan secara sembunyi-sembunyi karena kuatir diingkari, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim;

عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ فَكَانَ يَمُدُّ يَدَهُ حَتَّى تَبْلُغَ إِبْطَهُ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا هَذَا الْوُضُوءُ فَقَالَ يَا بَنِي فَرُّوخَ أَنْتُمْ هَاهُنَا لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكُمْ هَاهُنَا مَا تَوَضَّأْتُ هَذَا الْوُضُوءَ سَمِعْتُ خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ

"dari Abu Hazim dia berkata, "Saya dibelakang Abu Hurairah saat dia sedang berwudhu untuk shalat. Dia memanjangkan tangannya hingga mencapai ketiaknya, maka saya berkata kepadanya, 'Wahai Abu Hurairah, wudhu apaan ini?' Dia menjawab, 'Wahai bani Farrukh, kalian di sini?! kalau saya tahu kalian di sini, niscaya aku tidak akan berwudhu dengan (cara) wudhu ini. Saya mendengar kekasihku shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perhiasan seorang mukmin adalah sejauh mana air wudhunya membasuh." [HR. Muslim]

💍 Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhamad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh As Sa'di, Syaikh Bin baz, Syaikh al-Albani, Syaikh al-'Utsaimin, Syaikh Muqbil dan ulama yang lainnya.

Wallahu a’lam wal muwaffiq ila ash shawab.

=========================================
✒️ ditulis oleh Abu Ubaidah bin Damiri al-Jawi
📚 FORUM KIS 📚
📡 https://telegram.me/FORUMKISFIQIH

Silisilah/Serial yang lain dari artikel FAEDAH-FAEDAH FIQHIYAH DARI KITAB ‘UMDATUL AHKAM dàpat dibaca disini