Senin, 08 Desember 2014

Batasan Malu yang Terpuji dan Malu yang Tercela

"Ana malu kalau datang taklim..."

______________
Ucapan itu kadang kita dapati pada sebagian teman kita.

Atau, mungkin kita sendiri yang mengucapkan!
Bisa jadi karena beberapa faktor.

Mungkin karena belum pernah menghadiri majelis taklim sebelumnya, alias baru kenal ngaji.
Atau sudah pernah taklim, tapi karena kesibukkan, akhirnya jarang hadir di majelis ilmu.
Sampai akhirnya dia meninggalkan taklim sekian lama, yang semuanya berujung kepada penurunan tingkat ke-PeDe-an dia untuk menghadiri kembali majelis ilmu.

Atau adanya faktor-faktor yang lain yang beragam. Wallahu 'alam

Akhirnya..

Kata 'malu' pun menjadi pamungkas dalam mengajukan alasan.

☝Padahal 'malu' pada permasalahan ilmu merupakan tindakan yang tidak patut. Perhatikan ucapan Imam Mujahid rahimahullah berikut ini:

"Tidaklah akan mendapatkan ilmu seorang yang 'malu' dan sombong".

(HR. Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq. Sanadnya shahih muttasil dibawakan Abu Nu'aim dalam Hilyatul Aulia)

Ikhwatii fillah,
Seyogyanya bagi kita agar membuang jauh perasaan 'malu' pada perkara ilmu.

Karena tindakan yang demikian merupakan tindakan yang terpuji, sebagaimana hal ini pernah diikrarkan oleh 'Aisyah radhiallahu'anha.
Beliau berkata:

"Sebaik-baik wanita adalah wanita dari kalangan Anshar. Mereka tidak malu untuk bertafaqquh fiddin".
(HR. Bukhari dalam Shahihnya secara mu'allaq. Sanadnya shahih muttasil dibawakan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya).

Lalu, apa batasan malu yang terpuji dan malu yang tercela?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memberikan batasan antara malu yang tercela dan malu yang terpuji.

Berkata rahimahullah:

"... Apabila perasaan malu akan menghalangimu dari penunaian perkara yang wajib atau menghalangimu dari meninggalkan yang haram, maka malu yang seperti ini adalah malu yang tercela.

Adapun jika perasaan malu tersebut akan menghantarkan engkau kepada akhlak yang utama dan adab yang mulia, maka malu yang seperti ini adalah malu yang merupakan bagian dari iman".

(Syarah Shahih Bukhari karya Syaikh Ibnu Utsaimin, jil. 1 hal. 260, cet. Maktabah ath Thabari, th. 2007).

Semoga bermanfaat.
Wallahu 'alam.

________________________
     مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد

WA Forum Berbagi Faidah. Dikutip dari WA Sedikit Faidah Saja (SFS)

Kisah Sepotong Baju dan Tiga Butir Kurma

KISAH MENGHARUKAN

ﻗﺼـــﺔ ﻳﺴﻮﻗﻬــﺎ ﺍﻟﺸﻴــﺦ ﺑــﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴـﻦ ﺭﺣﻤـــﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓــﻲ ﺷـــﺮﺡ
ﻋﻘﻴـــﺪﺓ ﺃﻫــﻞ ﺍﻟﺴﻨـــﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋـــﺔ :
] … ﻭﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ : ” ﻛﻞ ﺍﻣﺮﺉ ﻓﻲ ﻇﻞ ﺻﺪﻗﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ” .
ﻭﺣﺪﺛﻨﻲ ﻣﻦ ﺃﺛﻖ ﺑﻪ ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻛﺎﻥ ﻳﻤﻨﻊ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺃﻥ ﺗﺘﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﺃﻱ
ﻣﺴﻜﻴﻦ ﻳﻄﺮﻕ ﺍﻟﺒﺎﺏ !
ﻓﻄﺮﻕ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻣﺴﻜﻴﻦ ﺫﺍﺕ ﻳﻮﻡ ، ﻭﻗﺎﻝ : ﺇﻧﻪ ﻋﺎﺭٍ ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺛﻴﺎﺏ ،
ﺗﻘﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺮﺩ ، ﻓﺮﻗﺖ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻟﺤﺎﻟﻪ ، - ﻛﻤﺎ ﺭﻕ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ - ،
ﻭﺃﻋﻄﺘﻪ ﻛﺴﺎﺀ ﻭﺛﻼﺙ ﺗﻤﺮﺍﺕ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻧﺎﺋﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ،
ﻓﺮﺃﻯ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻗﺪ ﻗﺎﻣﺖ ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﻣﻮﺝ ﻋﻈﻴﻢ ، ﻭﺣﺮ
ﺷﺪﻳﺪ ، ﻭﺷﻤﺲ ﻣﺤﺮﻗﺔ ، ﻭﺇﺫﺍ ﺑﻜﺴﺎﺀ ﻳﻌﻠﻮ ﺭﺃﺳﻪ ، ﻭﻓﻴﻪ ﺛﻼﺛﺔ
ﺧﺮﻭﻕ ، ﻓﺮﺃﻯ ﺛﻼﺙ ﺗﻤﺮﺍﺕ ﺟﺎﺀﺕ ﻭﺳﺪﺕ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺨﺮﻭﻕ ، ﻓﺘﻌﺠﺐ ﻭﺍﻧﺘﺒﻪ
ﻣﻦ ﻧﻮﻣﻪ ﻣﺬﻋﻮﺭﺍ ! ،
ﻭﻗﺺ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ، ﻓﻔﻬﻤﺖ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ﺳﺒﺐ
ﺍﻟﻜﺴﺎﺀ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺼﺪﻗﺖ ﺑﻪ ﻭﺍﻟﺘﻤﺮﺍﺕ ،
ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ : ﺣﺪﺙ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ،
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ : ﻻ ﺗﺮﺩﻱ ﻣﺴﻜﻴﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻴﻮﻡ ،
ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻧﺒﻬﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺼﺪﺍﻕ ﻟﺤﺪﻳﺚ : ” ﻛﻞ ﺍﻣﺮﺉ
ﻓﻲ ﻇﻞ ﺻﺪﻗﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ” [
ﺍﻟﻤﺮﺟـــﻊ/ ﺇﺗﺤﺎﻑ ﺍﻟﺨﻼﻥ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺑﻔﻮﺍﺋﺪ ﺷﺮﺡ ﻋﻘﻴﺪﺓ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻟﻠﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
              

(Kisah ini dikisahkan oleh syaikh utsaimin dalam penjelasan Aqidah Ahlissunah wal Jama'ah):
"Datang sebuah hadits : Setiap hamba berada dalam NAUNGAN shodaqohnya pada hari Qiyamat " .

Syaikh berkata : "Telah menceritakan kepadaku orang yang aku percaya.

Ada seseorang yang melarang istrinya untuk bersedekah kepada kaum fakir miskin yang mengetuk pintunya ...

Datanglah suatu hari si MISKIN mengetuk pintu rumahnya dalam keadaan telanjang tak berbaju yang menahannya dari hawa dingin .

Maka istrinya merasa terharu dengan keadaan si MISKIN ini sebagaimana terharunya ABU HUROIROH .

Maka sang ISTRI memberinya pakaian dan tiga buah kurma.

Saat itu suaminya sedang istirahat di masjid tertidur, maka dia melihat dalam mimpinya: " Hari qiyamat telah tiba, sementara manusia sedang berada di tengah ombak yang besar, dan panas yang terik matahari yang membakar ...

Tiba² ada sebuah baju yang menaungi di atas kepalanya padanya ada tiga lobang maka ia melihat ada tiga buah korma datang menutup tiga lobang itu" .

Maka terheran² lah lelaki itu dengan mimpinya dan terjaga dari tidurnya.

Maka ia kisahkan mimpinya ini kepada istrinya, istrinya memahami mimpi suaminya ...

Mimpi suaminya ini adalah sebab pakaian yang ia shodaqohkan dan tiga buah kurma itu.

Maka sang istri berkata: "Telah terjadi begini begitu (menceritakan kisah sedekahnya pada si MISKIN) ...".

SANG SUAMI BERKATA: "Setelah hari ini jangan kau tolak untuk bersedekah pada orang miskin ..."

Lelaki ini Alloh ingatkan dan ini adalah kebenaran dari hadits "Setiap hamba berada dalam naungan shodaqohnya pada hari qiyamat" .

Sumber:
ITihaful Kholan wal jama'ah bifawaaidi syarh aqidah Ahli Sunah wal jama'ah Syaikh Ibnu Utsaimin.

Alih bahasa :
Abul Hasan Al Wonogiri .
.WA TIC (tholibul ilmi cikarang)
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (1)


Ensiklopedia Fiqh Islam

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (Bag I)

✅Nabi dan Para Sahabat adalah Manusia yang Paling Amanah dalam Mengambil Ilmu, Menerapkan, dan Mengajarkannya

Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling bersemangat untuk menyampaikan kebaikan kepada umatnya.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian, yang berat dirasakan olehnya hal-hal yang menyengsarakan kalian, dan ia sangat bersemangat (untuk kebaikan) kalian, yang ia memiliki sifat pengasih dan penyayang kepada orang-orang yang beriman (Q.S atTaubah:128)

Semua kebaikan yang datang dari Allah terkait ibadah dan keselamatan di akhirat, telah beliau jelaskan kepada umat, melalui murid langsung beliau: para Sahabat Nabi ridhwanullahi alaihim ajmain.

Para Sahabat Nabi adalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk menjadi murid Nabi, yang mengambil ilmu langsung dari Nabi kemudian menyebarkan kepada manusia yang lain setelahnya. Para Sahabat Nabi adalah orang-orang pilihan untuk menemani Nabi dalam berjuang menegakkan agama Allah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu beliau berkata: Sesungguhnya Allah melihat pada hati hamba-hambaNya. Ia dapati hati Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah sebaik-baik hati seorang hamba. Maka Ia memilihnya untuk Dirinya dan mengutusnya dengan membawa risalahNya. Kemudian Allah melihat pada hati hamba-hamba yang lain setelah hati Muhammad shollallahu alaihi wasallam, maka Ia dapati hati para Sahabatnya adalah sebaik-baik hati hamba. Maka ia jadikan mereka sebagai penolong NabiNya yang berperang di atas Diennya (riwayat Ahmad)

Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah guru terbaik yang paling amanah. Sedangkan para Sahabat Nabi adalah murid terbaik yang paling amanah. Semua kebaikan yang diwahyukan Allah disampaikan oleh Nabi kepada Sahabat. Segala kebaikan yang disampaikan Nabi diserap dengan baik oleh para Sahabatnya. Kalaupun ada Sahabat yang tidak mendengar suatu ilmu, Sahabat lain akan meriwayatkan hadits itu hingga sampai ke kita saat ini.

Untuk amal ibadah yang sangat menentukan, yaitu sholat, tidak ada sesuatupun yang tak tersampaikan ilmunya. Setiap bacaan atau gerakan yang dilakukan Nabi pasti tersampaikan atau terpantau dan didengar lafadznya oleh para Sahabat Nabi. Baik itu bacaan yang biasanya dibaca lirih (sirr) yang tidak didengar kecuali oleh pembaca, apalagi yang dibaca keras (jahr), semuanya tersampaikan dan diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih.
Jika Nabi membaca lirih suatu bacaan dalam sholat, Sahabat Nabi akan tanggap bertanya apa yang beliau baca. Tidak ada yang luput dalam pantauan, sebagai murid yang sangat bersemangat menimba ilmu. Sebagaimana saat Nabi membaca dengan pelan bacaan istiftah, Abu Hurairah radhiyallahu anhu segera bertanya: Apa yang anda baca antara takbir dengan alFatihah. Nabipun akan menjelaskan bacaan yang beliau baca.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلاَةِ سَكَتَ هُنَيْة قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوْتكَ بَيْنَ التَّكْبِيْرِ وَاْلقِرَاءَةِ مَا تَقُوْلُ قَالَ أَقُوْلُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِاْلمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبَرَدِ
“ Dari Abu Hurairah beliau berkata : adalah Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam setelah bertakbir dalam sholat diam sejenak sebelum membaca (AlFatihah) maka aku bertanya : ‘Wahai Rasulullah, aku tebus dengan ayah dan ibuku, apa yang anda baca pada saat diam anda antara takbiratul ihram dengan membaca (AlFatihah)? Rasul menjawab : ‘Aku membaca : Allaahumma baa’id baynii wa bayna khothoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghribi Allaahumma naqqinii min khotooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minad danas Allaahummaghsilnii min khotooyaaya bil maa’i wats tsalji wal barodi”(H.R Bukhari-Muslim)

Adakalanya Nabi mengeraskan dan memperdengarkan suatu bacaan dalam sholat dalam rangka mengajarkan kepada para Sahabatnya apa yang dibaca dalam suatu gerakan sholat. Padahal nantinya secara normal bacaan itu akan selalu dibaca lirih (sirr).

Sebagai contoh, bacaan sujud dalam sholat, normalnya dibaca lirih tidak dikeraskan. Namun, suatu ketika saat sholat malam, Nabi mengeraskannya dan terdengar oleh Aisyah radhiyallahu anha hingga sang istri Nabi yang mulya ini kemudian meriwayatkan hadits, menyampaikan ilmunya pada umat tentang salah satu bacaan sujud.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha beliau berkata: suatu malam aku kehilangan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dari tempat tidur. Kemudian aku mencari-cari (dengan tanganku) hingga tanganku mengenai bagian bawah telapak kaki beliau yang sedang ditegakkan (karena sujud). Pada saat itu beliau mengucapkan: Allaahumma audzu bi ridhooka min sakhotika wa bi muafaatika min uquubatika wa audzu bika minka laa uhshii tsanaa-an alaika anta kamaa atsnayta alaa nafsika (H.R Muslim no 751)

Demikian juga saat Sahabat Nabi Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu sholat bersama Nabi dalam sholat malam, beliau meriwayatkan kepada kita hadits tentang bacaan istiftah, ruku’, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud, yang semuanya secara asal akan dipraktekkan selalu dibaca lirih, namun dalam rangka pengajaran, Nabi mengeraskannya hingga bisa didengar oleh Hudzaifah bin al-Yaman sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim no 1291 dan Abu Dawud no 740.

Semua itu menunjukkan bahwa kalau seandainya bacaan niat sebelum sholat itu disyariatkan, pasti akan terpantau dan terdengar Sahabat Nabi dan kemudian mereka (paling tidak satu orang dari mereka) akan meriwayatkannya dalam hadits-hadits kepada kita. Karena sekalipun bacaan niat itu akan dibaca lirih dalam setiap sebelum sholat, pasti diajarkan Nabi dan diteruskan ilmu itu oleh para Sahabatnya.

Jangankan sesuatu yang berada di dalam sholat, dzikir setelah selesai sholatpun semuanya ternukil dengan jelas dan disampaikan dalam riwayat-riwayat hadits. Dzikir yang secara asal akan dibaca dengan lirih, namun dalam rangka pengajaran, Nabi mengeraskan bacaan itu agar para Sahabat mendengar, mengamalkan, dan mengajarkan kepada yang lain.
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Dari Tsauban –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika selesai dari sholatnya beliau beristighfar 3 kali dan berkata: Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta dzal jalaali wal ikroom (H.R Muslim)
Bagaimana Sahabat Tsauban mengetahui bacaan dzikir selesai sholat itu ? karena Nabi memperdengarkannya dalam rangka pengajaran.
Karena demikian detail dan amanahnya Nabi dan para Sahabat menyebarkan ilmu kepada orang-orang setelahnya, maka umat Islam setelahnya tidak boleh melakukan suatu ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya.

Sahabat Nabi Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu menyatakan:
كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا ؛ فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالاً ؛ فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para pembaca al-Qur’an (orang-orang alim dan yang suka beribadah) dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah).

✅Petunjuk Nabi dalam Hadits-Haditsnya Tidak Ada Perintah untuk Mengucapkan Niat

Hadits-hadits shahih yang ada menunjukkan bahwa permulaan ucapan dalam sholat adalah Takbirotul Ihram.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memulai sholat dengan takbir dan bacaan Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin (H.R Muslim )
Ada seseorang yang sholat tapi selesai sholat disuruh mengulang lagi karena sholatnya tidak sah, hingga berlangsung 3 kali. Kemudian Nabi mengajarkan kepada orang itu cara sholat yang benar. Dalam penjelasan itu sama sekali Nabi tidak menyinggung tentang melafadzkan niat, padahal orang tersebut sangat membutuhkan penjelasan tentang sholat yang benar dan sah. Kalaulah melafadzkan niat adalah disyariatkan, minimal sunnah, maka beliau akan menjelaskan saat itu. Silakan disimak hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا...

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam masuk masjid kemudian masuklah seorang laki-laki kemudian sholat. Kemudian dia mengucapkan salam kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam dan Nabi shollallahu alaihi wasallam menjawab salamnya. Kemudian Nabi bersabda: Kembalilah sholat karena engkau belum sholat. Maka ia kemudian sholat. Setelah selesai, ia datang mengucapkan salam kepada Nabi shollallaahu alaihi wasallam, Nabi mengucapkan: kembalilah engkau sholat karena engkau belum sholat. Itu berlangsung 3 kali. Kemudian beliau bersabda: Demi Yang mengutusmu dengan al-haq, aku tidak bisa lagi memperbaiki sholatku selain ini maka ajarkanlah kepadaku. Kemudian Nabi bersabda: Jika engkau bangkit menuju sholat maka bertakbirlah. Kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al-Quran. Kemudian rukuklah hingga thuma’ninah dalam ruku’….(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Silakan disimak hadits-hadits shahih yang lain berikut ini yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebutan ucapan pertama kali dalam sholat kecuali takbirotul ihram:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَكَبَّرَ وَكَبَّرُوا مَعَهُ...

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam berdiri dan manusia (para Sahabat) berdiri bersama beliau. Kemudian beliau bertakbir dan mereka pun bertakbir bersama beliau…(H.R al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَعُدِّلَتْ الصُّفُوفُ قِيَامًا فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَامَ فِي مُصَلَّاهُ ذَكَرَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَقَالَ لَنَا مَكَانَكُمْ ثُمَّ رَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْنَا وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ فَكَبَّرَ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata: Sholat akan ditegakkan dan shof-shof sudah diluruskan dalam keadaan berdiri. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam keluar kepada kami. Ketika beliau sudah berdiri di tempat sholatnya beliau baru ingat bahwa beliau junub. Kemudian beliau bersabda: Tetaplah di tempat kalian. Kemudian beliau kembali (ke rumahnya) mandi kemudian keluar kepada kami dalam keadaan kepalanya meneteskan air. Kemudian beliau bertakbir maka kami sholat bersama beliau….(H.R al-Bukhari)

Demikian juga yang dilakukan Sahabat Nabi Abu Bakr saat menggantikan Nabi sebagai Imam karena pada saat itu beliau belum datang, tidak disebutkan dalam riwayat-riwayat hadits bahwa beliau memulai sholatnya dengan melafadzkan niat. Yang ada adalah penyebutan bertakbir sebagai permualaan sholat:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ بِقُبَاءٍ كَانَ بَيْنَهُمْ شَيْءٌ فَخَرَجَ يُصْلِحُ بَيْنَهُمْ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَحُبِسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَانَتْ الصَّلَاةُ فَجَاءَ بِلَالٌ إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ حُبِسَ وَقَدْ حَانَتْ الصَّلَاةُ فَهَلْ لَكَ أَنْ تَؤُمَّ النَّاسَ قَالَ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ فَأَقَامَ بِلَالٌ الصَّلَاةَ وَتَقَدَّمَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكَبَّرَ لِلنَّاسِ

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu beliau berkata: Sampai berita kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bahwa Bani Amr bin Auf di Quba’ ada perselisihan di antara mereka. Maka beliau keluar untuk mendamaikan mereka bersama beberapa Sahabatnya. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tertahan (tidak segera kembali) sedangkan waktu sholat sudah masuk. Maka datanglah Bilal kepada Abu Bakr radhiyallahu anhuma kemudian berkata: Wahai Abu Bakr sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tertahan sedangkan waktu sholat telah masuk. Maukah engkau mengimami manusia? Abu Bakr menjawab: Ya, jika engkau mau yang demikian. Kemudian Bilal mengumandangkan iqomat, Abu Bakr radhiyallahu anhu maju kemudian bertakbir untuk (sholat bersama) manusia… (H.R al-Bukhari)

Jika itu adalah contoh-contoh dalam sholat wajib, maka dalam sholat sunnah juga demikian. Hadits-hadits shahih yang ada menunjukkan bahwa Imam di masa Nabi dan para Sahabatnya memulai ucapan dalam sholat dengan takbir. Silakan disimak beberapa contoh hadits berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّاسُ إِنَّمَا انْكَسَفَتْ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ بَدَأَ فَكَبَّرَ ثُمَّ قَرَأَ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ

Dari Jabir radhiyallahu anhu beliau berkata: Matahari mengalami gerhana di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam saat kematian Ibrahim putra Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemudian orang-orang berkata: terjadinya gerhana matahari karena kematian Ibrahim. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam sholat bersama manusia 6 rokaat dengan 4 sujud beliau mulai dengan bertakbir kemudian beliau membaca ayat dan memperpanjang bacaan… (H.R Muslim)

Silakan disimak juga saat Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjadi Imam dalam sholat jenazah, ucapan yang pertama kali dilakukan dalam sholat adalah takbiratul ihram bukan melafadzkan niat:

عَنِ الْمُطَّلِبِ ، قَالَ : قَامَ ابْنُ عَبَّاسٍ - رضي الله عنهما - يُصَلِّي فِي جِنَازَةٍ ، فَكَبَّرَ ثُمَّ افْتَتَحَ أُمَّ القُرْآنِ رَافِعًا بِهَا صَوْتَهُ ، ثُمَّ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم...

Dari al-Muththolib beliau berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma sholat jenazah, kemudian beliau bertakbir kemudian membuka dengan Ummul Qur’an (al-Fatihah) dengan mengeraskan suaranya…(H.R Ahmad bin Mani’, dan secara ringkas juga disebutkan dalam Shahih al-Bukhari)

Masih banyak lagi hadits-hadits shahih lainnya yang menunjukkan bahwa permulaan bacaan dalam sholat Nabi dan para Sahabat adalah takbiratul Ihram, bukan melafadzkan niat.

<<Bersambung InsyaAllah ke bagian ke-2…>>

Abu Utsman Kharisman
alI'tishom Probolinggo | WIP | 1436
Forum KHAS
----------------------
إتباع السنة

♨ Ittibaus-sunnah.net

Baca juga:
NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (2)