Tampilkan postingan dengan label WhatsApp Ittiba'us Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WhatsApp Ittiba'us Sunnah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Januari 2015

Sikap Tegas terhadap Orang yang Menyimpang


Sikap Tegas terhadap Orang yang Menyimpang

Terkait dengan sebagian mumayyi'in/ahli tamyi'/orang-orang yang manhajnya lembek/para penggembos terhadap da'wah salafiyyah, ketika mereka dinasihati agar jangan duduk/bermajelis dengan kelompok-kelompok seperti ikhwanul muslimin dan jama'ah tabligh, mereka (mumayyi'in tadi) menyanggah dengan mengatakan/beranggapan bahwa ini adalah manhajnya Syaikh ibn Baz, beliau duduk dengan semua manusia.

⚠ Apakah ini adalah manhaj Syaikh bin Baz رحمه الله ?
Maka Salah satu point jawaban Syaikh Ubaid Al-Jabiry حفظه الله ورعاه adalah sebagai berikut :

Perkara ketiga:
Siapa yang benar-benar lama duduk/bermajelis dengan Syaikh (bin Baz) رحمه الله dan mengetahui keadaan beliau, maka dia akan mengetahui bahwasanya BELIAU MENCELA/MENGKRITIK SEBAGIAN ORANG-ORANG YANG MENYIMPANG DENGAN MENYEBUT NAMA-NAMA MEREKA [1] BAHKAN DIHADAPAN KHALAYAK (BANYAK ORANG/JAMA'AH).
Dan sungguh telah sampai berita kepada kami perkataan/kritikan beliau kepada sebagian mereka :
(( "Ya fulan, diam kamu !!! Sesungguhnya kamu adalah tukang/pembuat fitnah!!!" )).
Dan juga beliau pernah berkata/membantah kepada sebagian ahli ilmu :
(( "Ini tidak benar, yang benar adalah ini" )).
Oleh karena itu, nampak bagi orang yang inshof ( adil ) bahwa Syaikh ( bin Baz ) رحمه الله  beliau tidaklah duduk dengan mereka tanpa adanya upaya nasihat dengan tegas dan keras.
Sebagaimana jika beliau duduk/bermajelis dengan sebagian manusia, akan tetapi beliau berbeda/terpisah/punya ciri khas dan menampakkan sunnah dan menda'wahkannya, nampak jelas dan nyata dalam sejarah/perjalanan beliau dan siasat/taktik beliau رحمه الله.

aOleh karena itu engkau mengetahui bahwa perkataan ini (ya'ni syubhat):
"ini adalah manhajnya Syaikh Abdul Aziz ( bin Baz ), beliau duduk dengan semua manusia",
bahwasanya perkataan tersebut tidaklah
Secara mutlak, atau saya ( Syaikh Ubaid حفظه الله ) tidak setuju jika beliau dimutlakkan duduk bersama semua manusia.

Dan Syaikh ( bin Baz ) رحمه الله beliau adalah imam yang diikuti/menjadi panutan semua orang, bukan hanya di Kerajaan Saudi Arabia saja yang merupakan negara beliau, bahkan sampai ke seluruh penjuru dunia.

⭐ Dan kaum muslimin semuanya mengikuti beliau dan menginginkan bermajelis dengan beliau.
Maka mengharuskan adanya siasat untuk mengobati orang-orang yang terjatuh ini.

Catatan kaki:
[1] = Yang demikian itu bahwasanya ( Syaikh ) bin Baz رحمه الله membantah orang-orang yang menyimpang, dan memperingatkan manusia dari bahaya mereka dan secara jelas dengan menyebutkan nama-nama mereka.
Contoh:
سعد الفقيه، محمد المسعري، أسامة بن لادن (Osama bin Laden)، عبد الله القصيمي، صدام حسين (Sadam Husain)، عبد الله الحبشي، رشاد خليفة، غلام أحمد برويز (Mirzan Ghulam Ahmad).
Lihat : Majmu Fatawa Imam bin Baz رحمه الله (9/100) (9/168) (18/250) (9/318) (2/400) (3/268).

========================
Dinukil dari kutaib:

¤ جناية التميع على المنهج السلفي ¤

✏ Karya :

¤ فضيلة الشيخ عبيد بن عبد الله الجابري حفظه الله ورعاه ¤

--------------------
Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
----------------------
إتباع السنة

♨ Ittiba'us Sunnah

Rabu, 17 Desember 2014

Hikmah Adanya Perselisihan


⭐ Ensiklopedia Adab
Hikmah Adanya Perselisihan
قوله تعالي ((ً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ.... )) من سورة هود :119
قال العلامة عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله تعالي:
اقتضت حكمته، أنه خلقهم، ليكون منهم السعداء والأشقياء، والمتفقون والمختلفون، والفريق الذين هدى الله, والفريق الذين حقت عليهم الضلالة، ليتبين للعباد، عدله وحكمته، وليظهر ما كمن في الطباع البشرية من الخير والشر، ولتقوم سوق الجهاد والعبادات التي لا تتم ولا تستقيم إلا بالامتحان والابتلاء.
مصدر:
http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=12510
Allah ta'ala berfirman:
"Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang- orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu."
[QS. Hud: 119]
Berkata Al-'Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullahu ta'ala:
"Hikmah Allah ta'ala menetapkan bahwa mereka diciptakan ( senantiasa berselisih)
agar ada dari sebagian dari mereka yang bahagia dan ada yang celaka.
Ada yang bersatu dan ada yang berselisih.
Ada golongan yang Allah ta'ala beri petunjuk dan ada golongan yang tersesat.
Demikian pula agar nampak keadilan dan hikmah-Nya bagi manusia.
Juga supaya nampak apa yang tersembunyi dari tabiat manusia berupa hal yang baik dan yang buruk,
serta tegaknya jihad dan ibadah yang mana keduanya tidak akan sempurna dan istiqamah, kecuali dengan melewati sebuah ujian dan cobaan.
Taisirul Karimir Rahman
أبو زلفي أنس
WhatsApp Al-Ukhuwwah
----------------------
إتباع الستة
♨ Ittiba'us Sunnah


Dengan apa engkau akan menolong agama Allah ini❓Lalu kapan❓

===================
Dengan apa engkau akan menolong agama Allah ini❓

Lalu kapan❓
====================

☝Allah berfirman dalam surat الصف:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﺃَﻧْﺼَﺎﺭَ ﺍﻟَّﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻋِﻴﺴَﻰ
ﺍﺑْﻦُ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻟِﻠْﺤَﻮَﺍﺭِﻳِّﻴﻦَ ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺼَﺎﺭِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﻪِ ۖﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺤَﻮَﺍﺭِﻳُّﻮﻥَ
ﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻧْﺼَﺎﺭُ ﺍﻟَّﻪِ ۖﻓَﺂﻣَﻨَﺖْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﻭَﻛَﻔَﺮَﺕْ
ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ۖﻓَﺄَﻳَّﺪْﻧَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺪُﻭِّﻫِﻢْ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤُﻮﺍ ﻇَﺎﻫِﺮِﻳﻦَ
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu
penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa
putra Maryam telah berkata kepada pengikut- pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan
segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan
kekuatan kepada orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

Rasul juga bersabda
احفظ الله يحفظك

"Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu".

✅ Dengan bentuk apa kita menolong agama Allah?

1. Semangat menegakkan syariat agama ini

2. Semangat mempelajari Alqur'an dan Sunnah

3. Melawan musuh-musuh Allah yang mereka menentang dan membangkang dengan islam

4  Mematahkan dalil-dalil orang yang membela kebatilan dan memberikan peringatan kepada manusia

5  Mengajak kepada kebaikan dan melarang dari tindakan kemungkaran

Para pembaca,,,

Tidak melulu kita harus angkat senjata,,

Tidak harus menunggu ada jihad,,,,

⌚ Waktu itu ada 3: dulu, sekarang dan yang akan datang

Adapun yang dulu telah berlalu dan tak akan kembali lagi

Esok?
siapa yang tau tentang esok? Yang ada hanya harapan dan keinginan saja

Tinggallah yang tersisa waktu sekarang, detik ini,, mulailah kita menolong Agama Allah dengan belajar, dan hal-hal yang tadi kita sebutkan diatas

Lalu apa keuntungan menolong agama allah?

Kemanfaatannya sangatlah besar.
Di akhirat?

☝Ada ampunan dari Allah,
ada syurga yang penuh dengan kenikmatan

Di dunia?

Pertolongan akan datang dari Allah.
dan yang terbesar adalah pertolongan Allah berupa mudahnya seorang hamba kembali dan bertaubat kepada Allah ketika melakukan kemaksiatan

Allah akan bukakan pintu rezeki

Allah akan berikan kemuliaan pada orang yang seperti ini.

Hartamu, jiwamu, badanmu adalah modalnya

Diakhir ayat Allah katakan:

✨''Maka kami berikan
kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.''

______________________

Dikutip dari tafsir As sa'di surat as shof ayat 14

Forum Ilmiyah Karanganyar
----------------------
إتباع السنة

♨ Ittiba'us Sunnah

TIGA GENERASI TERBAIK YANG MENJADI PANUTAN

TIGA GENERASI TERBAIK YANG MENJADI PANUTAN

Ada 3 generasi terbaik yang menjadi panutan bagi kaum muslimin. Tiga generasi itu adalah:

1. Para Sahabat Nabi  : murid Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam.
2. Tabiin : murid para Sahabat Nabi. Satu orang yang termasuk kelompok Tabiin disebut tabi’i.
3. Atbaaut Taabiin : murid para Tabiin. Satu orang yang termasuk kelompok atbaaut Tabiin disebut Tabiut Tabiin.

Sahabat Nabi adalah seorang yang pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Sedangkan Taabi’in adalah orang-orang yang pernah bertemu dengan paling tidak seorang Sahabat Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Para atbaaut Taabiin adalah orang-orang yang pernah bertemu dengan paling tidak satu orang Tabiin dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman.

Tentunya para Tabiin dan atbaut Tabiin yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti para Sahabat Nabi dengan baik. Bukannya orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan-kebid’ahan dan kesesatan.

✅PERIODE TIGA GENERASI TERSEBUT

Masa Nabi dan para Sahabatnya : sejak Nabi diutus hingga 110 Hijriyah. Sahabat Nabi yang terakhir meninggal dunia adalah Abut Thufail Aamir bin Waatsilah al-Laitsy (wafat 110 Hijriyah).
Masa Taabiin : hingga 181 H (wafatnya Taabiin terakhir: Kholf bin Kholiifah)

قال البلقيني أول التابعين موتا ابو زيد معمر بن زيد قتل بخراسان وقيل بأذربيجان سنة ثلاثين وآخرهم موتا خلف بن خليفة سنة ثمانين ومائة (تدريب الراوي (2-243)

al-Bulqiiniy menyatakan: Tabiin pertama yang meninggal dunia adalah Abu Zaid Ma’mar bin Zaid yang terbunuh di Khurosan, dan ada yang mengatakan: (meninggal) di Azerbaijan pada tahun 30 H. Sedangkan Taabiin yang paling akhir meninggal dunia adalah Kholf bin Kholiifah pada tahun 180 H (Tadriibur roowiy karya as-Suyuthiy (2/234)).

Masa atbaaut Taabi’iin : hingga 220 H.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany menyatakan:

واتفقوا على أن آخر من كان من أتباع التابعين ممن يقبل قوله من عاش إلى حدود العشرين ومئتين

Para Ulama sepakat bahwa akhir Atbaaut Tabiin yang bisa diterima ucapannya adalah yang masa kehidupannya hingga batasan tahun 220 (Hiriyah)(Fathul Baari karya Ibnu Hajar al-Asqolaany (7/6)).

Catatan: penjelasan di atas hanyalah tentang periode pada tiap generasi dengan menyebutkan akhir kematian orang-orang yang berada di generasi tersebut. Namun, untuk menentukan apakah seseorang yang hidup di masa itu masuk di generasi tertentu, harus dilihat apakah ia pernah bertemu dengan orang pada generasi tertentu.

Sebagai contoh, seorang yang hidup di masa Sahabat Nabi, belum tentu ia adalah Sahabat Nabi, jika sepanjang hidupnya ia belum pernah bertemu dengan Nabi. Seperti Uwais bin ‘Aamir al-Qoroniy yang tidak pernah bertemu dengan Nabi sepanjang hidupnya. Beliau hanya bertemu dengan beberapa Sahabat Nabi, di antaranya Umar bin al-Khotthob. Maka Uwais al-Qoroniy dimasukkan dalam kategori tabiin, sebagaimana Nabi dalam salah satu haditsnya menyatakan bahwa beliau adalah sebaik-baik Tabiin. Beliau dikabarkan hilang saat perang Shiffin ikut bersama pasukan Ali bin Abi Tholib, sekitar tahun 37 Hijriyah. Dari masa kehidupannya, beliau sebenarnya masuk dalam periode kehidupan para Sahabat Nabi, namun karena beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi shollalahu alaihi wasallam, maka beliau bukanlah Sahabat Nabi.

✅KEUTAMAAN TIGA GENERASI TERSEBUT

طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي وَطُوْبَى لِمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَلِمَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَأَمَنَ بِي طُوْبَى لَهُمْ وَحُسْنَ مَآبٍ

Beruntunglah bagi orang melihatku dan beriman kepadaku, dan beruntunglah bagi orang yang melihat orang yang melihatku dan orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku dan beriman kepadaku. Beruntung bagi mereka dan tempat kembali yang baik (H.R atThobarony dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’)

لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي

Kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihatku dan menjadi sahabatku. Demi Allah kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihat orang yang melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabatku. Demi Allah, kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabat para Sahabatku (H.R Ibnu Abi Syaibah dan al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan sanadnya hasan dalam Fathul Bari).

يَأْتِي زَمَانٌ يَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ عَلَيْهِ ثُمَّ يَأْتِي زَمَانٌ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ ثُمَّ يَأْتِي زَمَانٌ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ صَاحِبَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ

Akan datang suatu zaman ketika sekelompok manusia berperang. Dikatakan kepada mereka: Apakah ada di antara kalian yang merupakan Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam? Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan kepada mereka. Kemudian datang suatu zaman, yang ditanyakan: Apakah ada yang menjadi Sahabat bagi para Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam? Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan untuk mereka. Kemudian datang suatu zaman, dikatakan: Apakah ada di antara kalian orang menjadi Sahabat dari Sahabat bagi para Sahabat Nabi. Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan kepada mereka (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudry)

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi dan para Sahabatnya) kemudian yang setelahnya (tabiin) kemudian yang setelahnya (Atbaut Tabiin) kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya (orang-orang yang banyak berdusta dan tidak bisa dipercaya) (H.R al-Bukhari dan Muslim)

✅Contoh-contoh Manusia yang Termasuk Tiga Generasi Tersebut

Para Sahabat Nabi seperti: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdillah, Hudzaifah bin al-Yaman, Muadz bin Jabal, Abu Dzar al-Ghiffary, Abud Darda’, Anas bin Malik, Aisyah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq, Abu Hurairah, dan masih banyak lagi yang lain.

Para Tabiin, di antaranya: Uwais al-Qorony, Said bin al-Musayyib, Mujahid, Qotadah, al-Hasan al-Bashri, Abul ‘Aaliyah, Abu Qilabah, Said bin Jubair, dan masih banyak lagi yang lain.

Para atbaut Tabiin, di antaranya: Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsaury, Sufyan bin Uyainah, al-Auza’i, Abdullah bin al-Mubarok (Ibnul Mubarok) dan masih banyak lagi yang lain.

Ketiga generasi inilah sebagai teladan dan panutan bagi umat Islam setelahnya dalam menjalankan Dien ini. Mereka juga disebut sebagai para pendahulu yang sholih atau Salafus Sholih, atau kadang disebut juga dengan para Ulama Salaf. Mengikuti manhaj mereka dalam memahami dan mengamalkan Dien ini berarti mengikuti manhaj Salaf.

Abu Utsman Kharisman

WA alI'tishom - Probolinggo | WIP | 1436
WA Ittiba'us Sunnah

Selasa, 09 Desember 2014

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (2)


Ensiklopedia Fiqih

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (Bag ke-2)

Melafadzkan Niat dalam Sholat Tidak Pernah Dilakukan Sejak Masa Nabi dan Para Sahabatnya hingga Masa Ahli Fiqh 4 Madzhab

Para Ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa tidak pernah ternukil dari Nabi, para Sahabatnya, maupun Imam 4 madzhab tentang melafadzkan niat dalam sholat. Hal itu beliau sebutkan dalam beberapa kitabnya di antara Majmu’ al-Fataawa (18/263).

Siapakah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sehingga kita bisa mempercayai beliau jika beliau menyatakan bahwa hal itu sama sekali tidak ada dalam hadits maupun atsar Sahabat ataupun pendapat Imam 4 madzhab?

Cukuplah kita nukilkan ucapan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany –seorang Ulama bermadzhab Syafiiyyah- dalam kitabnya atTalkhiisul Habiir ketika membahas hadits: kefakiran adalah kebanggaanku dan dengannya aku berbangga. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany rahimahullah menyatakan:
وَهَذَا الْحَدِيثُ سُئِلَ عَنْهُ الْحَافِظُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فَقَالَ إنَّهُ كَذِبٌ لَا يُعْرَفُ فِي شَيْءٍ مِنْ كُتُبِ المسلمين المروية
Hadits ini ditanyakan kepada al-Hafidz Ibnu Taimiyah maka beliau berkata sesungguhnya itu adalah dusta, tidak dikenal dalam kitab-kitab riwayat kaum muslimin (atTalkhiisul Habiir (3/241)

Perhatikanlah, bagaimana al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany memberi gelar Ibnu Taimiyyah sebagai al-Hafidz dan menjadikannya sebagai rujukan ketika menyebut suatu kalimat bukanlah sebuah hadits, dan tidak dikenal dalam kitab-kitab riwayat. Artinya, jika Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa itu tidak ada dalam riwayat hadits atau atsar Sahabat, maka ucapan beliau ini bisa dijadikan rujukan.

Kalau kita pikirkan bahwa sejak Nabi dan para Sahabat hingga Imam 4 madzhab tidak pernah ada pelafadzan niat, berarti lebih dari dua abad tidak pernah ada nukilan dari kaum muslimin terdahulu yang mengamalkan pelafadzan niat dalam sholat. Kita ketahui bahwa Imam madzhab fiqh yang terakhir adalah Imam Ahmad yang beliau meninggal di tahun 241 Hijriah.

Itu menunjukkan bahwa pendapat pelafadzan niat itu baru muncul belakangan. Nanti akan dibahas insyaAllah bahwa hal itu bermula dari kesalahpahaman dalam menafsirkan ucapan al-Imam asy-Syafii rahimahullah.

✅Al-Imam asySyafii Tidak Pernah Memerintahkan untuk Melafadzkan Niat dalam Sholat

Anggapan sebagian Ulama yang bermadzhab asy-Syafii bahwa al-Imam asy-Syafii menganjurkan untuk melafadzkan niat dalam sholat dan mengqiyaskannya dengan Talbiyah Haji dan Umrah adalah keliru. Kekeliruan pemahaman ini diperjelas sendiri oleh Ulama Syafiiyyah yang lain, di antaranya al-Imam al-Mawardiy dan al-Imam anNawawy.

Al-Imam al-Mawardiy rahimahullah menyatakan:

وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ - مِنْ أَصْحَابِنَا - : لَا يُجْزِئُهُ حَتَّى يَتَلَفَّظَ بِلِسَانِهِ تَعَلُّقًا بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ فِي كِتَابِ " الْمَنَاسِكِ " : وَلَا يَلْزَمُهُ إِذَا أَحْرَمَ بِقَلْبِهِ أَنْ يَذْكُرَهُ بِلِسَانِهِ وَلَيْسَ كَالصَّلَاةِ الَّتِي لَا تَصِحُّ إِلَّا  بِالنُّطْقِ فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالتَّكْبِيرِ ، ثُمَّ مِمَّا يُوَضِّحُ فَسَادَ هَذَا الْقَوْلِ حِجَاجًا : أَنَّ النِّيَّةَ مِنْ أَعْمَالِ الْقَلْبِ فَلَمْ تَفْتَقِرْ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْجَوَارِحِ كَمَا أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَمَّا كَانَتْ مِنْ أَعْمَالِ اللِّسَانِ لَمْ تَفْتَقِرْ إِلَى غَيْرِهِ ، مِنَ الْجَوَارِحِ
Abu Abdillah az-Zubairiy yang termasuk sahabat kami berkata: Tidaklah mencukupi hingga melafadzkan (niat) dengan lisannya. Hal ini dilakukan dengan menggantungkan pada ucapan asySyafii dalam kitab al-Manasik: “Tidaklah mengharuskannya jika berihram dengan hatinya untuk mengucapkan dengan lisannya. Dan tidaklah seperti sholat yang tidaklah sah kecuali dengan mengucapkannya”. Kemudian az-Zubairy menakwilkan ucapan asy-Syafii itu tentang wajibnya mengucapkan niat. Ini adalah kerusakan (pemahaman). Padahal yang dimaksud asySyafii dengan wajib mengucapkan itu adalah takbir (takbiratul ihram). Hal lain yang memperjelas kesalahan pendapat (az-Zubairiy) ini adalah hujjah bahwa niat adalah termasuk perbuatan hati sehingga tidak butuh anggota tubuh yang lain. Sebagaimana bacaan adalah amalan lisan sehingga tidak butuh pada anggota tubuh yang lain (al-Haawiy fi Fiqhisy Syafii (2/92)).

Al-Imam anNawawiy rahimahullah salah seorang Ulama Syafiiyyah yang lain juga menyatakan:
قول ابى عبد الله الزبيري أنه لا يجزئه حتى يجمع بين نية القلب وتلفظ اللسان لان الشافعي رحمه الله قال في الحج إذا نوى حجا أو عمرة أجزأ وان لم يتلفظ وليس كالصلاة لا تصح الا بالنطق قال اصحابنا غلط هذا القائل وليس مراد الشافعي بالنطق في الصلاة هذا بل مراده التكبير: ولو تلفظ بلسانه ولم ينو بقلبه لم تنعقد صلاته بالاجماع فيه: ولو نوى بقلبه صلاة الظهر وجرى علي لسانه صلاة العصر انعقدت صلاة الظهر
Perkataan Abu Abdillah az-Zubairiy bahwasanya tidaklah mencukupi hingga menggabungkan antara niat hati dengan melafadzkan dengan lisan karena asy-Syafii rahimahullah berkata tentang haji: “Jika seseorang meniatkan haji atau Umroh maka itu sudah mencukupi meskipun tidak melafadzkannya. Tidaklah seperti sholat yang tidak sah kecuali dengan mengucapkan”. Sahabat kami menyatakan: Ucapan ini salah. Bukanlah maksud asy-Syafii mengucapkan dalam sholat itu adalah ini (mengucapkan niat), tapi maksudnya adalah takbir. Jika dia melafadzkan dengan lisannya tapi tidak meniatkan dengan hatinya, maka tidak sah sholatnya berdasarkan Ijma’. Jika ia berniat dengan hatinya sholat Dzhuhur sedangkan pada lisannya sholat Ashar, maka yang terjadi adalah sholat Dzhuhur (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).

Hal yang semakin memperjelas bahwa justru al-Imam asy-Syafii rahimahullah menganggap niat adalah amalan hati dan tidak perlu - bahkan tidak mungkin- diucapkan, adalah pernyataan beliau dalam Kitab al-Umm:
وَالنِّيَّةُ لَا تَقُومُ مَقَامَ التَّكْبِيرِ وَلَا تَجْزِيهِ النِّيَّةُ إلَّا أَنْ تَكُونَ مع التَّكْبِير لَا تَتَقَدَّمُ التَّكْبِيرَ وَلَا تَكُونُ بَعْدَهُ
Niat itu tidak bisa menggantikan takbir. Tidak sah niat kecuali dilakukan bersamaan dengan takbir. Tidak mendahului takbir, tidak pula setelah takbir (al-Umm (2/224)).

Dalam redaksi kalimat yang lain, al-Imam asy-Syafii rahimahullah menyatakan:
وإذا أحرم نوى صلاته في حال التكبير لا بعده ولا قبله
Jika takbiratul ihram, meniatkan sholat saat takbir. Bukan setelahnya, bukan pula sebelumnya (disebutkan dalam Mukhtashar, dinukil anNawawy dalam kitab al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab(3/277)).

Dalam redaksi kalimat lain yang dinukil al-Ghozaliy, al-Imam asy-Syafii rahimahullah menyatakan:
ينوى مع التكبير لا قبله ولا بعده
Berniat bersamaan dengan takbir. Tidak sebelumnya tidak juga setelahnya (disebutkan anNawawy dalam al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).

Al-Imam asy-Syafii dalam kalimat di atas menjelaskan bahwa niat semestinya bersamaan dengan takbir. Tidak bisa mendahului takbir dan tidak pula setelahnya. Jadi, niat dalam hati, bersamaan dengan mengucapkan takbir. Bagaimana bisa melafadzkan niat pada saat lisan sibuk dengan bertakbir?!

Namun, al-Imam anNawawy rahimahullah setelah menyebutkan perbedaan pendapat Ulama Syafiiyyah dalam masalah itu cenderung pada pendapat bahwa hal itu (apa yang diucapkan al-Imam asy-Syafii itu) tidaklah wajib. Yang penting niat bergandengan dengan takbir, apakah mendahului takbir atau tidak mendahului takbir, yang penting niat menyertai hingga berakhirnya ucapan takbir (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).

✅Kesalahan Mengqiyaskan Ibadah Sholat dengan Haji

Jika ada yang menyatakan bahwa melafadzkan niat dalam sholat adalah mengqiyaskan dengan mengucapkan talbiyyah dalam ibadah haji dan umroh, maka ini adalah sisi pendalilan qiyas yang tidak pada tempatnya. Qiyas memang adalah salah satu pendalilan dalam Fiqh. Namun, harus terpenuhi kaidah-kaidahnya dengan tepat.

Bagaimana bisa mengqiyaskan sholat dengan haji padahal perintah sholat datang terlebih dahulu sebelum perintah haji? Telah dipahami bahwa perintah sholat diturunkan pada saat Isra’ Mi’raj saat Nabi masih di Makkah dan itu sebelum hijrah ke Madinah (artinya sebelum tahun 1 hijriyah). Sedangkan perintah haji diturunkan pada akhir tahun 9 Hijriah. Nabi shollallahu alaihi wasallam baru bisa berhaji di tahun 10 Hijriah.

Lalu, kalau memang benar melafadzkan niat dalam sholat rujukannya adalah haji, berarti antara tahun 1 sampai 9 Hijriah apakah sholat Nabi dan para Sahabatnya tidak melafadzkan, sedangkan setelah turun perintah haji baru melafadzkan?! Suatu hal yang aneh.

Mestinya kalau mau diqiyaskan, haji diqiyaskan dengan sholat. Bukannya sholat diqiyaskan dengan haji. Karena perintah sholat turun terlebih dahulu dari perintah haji.

✅Keburukan-keburukan yang Timbul Jika Melafadzkan Niat

Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Apa yang beliau ajarkan adalah yang terbaik bagi umatnya. Sesuatu hal terkait ibadah yang tidak beliau kerjakan, padahal sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa beliau tanpa ada penghalang, maka meninggalkannya adalah kebaikan.

Maka setiap hal-hal yang diada-adakan dalam ibadah pasti mengandung mudharat. Di antara keburukan-keburukan yang bisa timbul akibat melafadzkan niat adalah:
1⃣Justru menambah was-was.
Jika dikatakan bahwa melafadzkan niat salah satu tujuannya adalah menghilangkan was-was, namun kenyataan yang terjadi adalah menambah was-was. Tidak sedikit orang yang ketika akan sholat, terus menerus mengulang ucapan niat kemudian bertakbir, mengulang niat lagi dan bertakbir lagi saat dirasa kurang mantap antara niat dengan takbirnya.
2⃣Semakin menyulitkan kaum muslimin. Ada orang yang terhalangi untuk mengerjakan sholat tertentu karena beralasan tidak tahu/ tidak hafal niatnya. Karena mereka menghafal setiap sholat ada niatnya sendiri-sendiri. Lebih sulit lagi bagi yang bahasa aslinya bukan berbahasa Arab.
3⃣Mengganggu sekitarnya.

Terdapat kisah yang terjadi di masa Ibnul Qoyyim, disebutkan oleh beliau dalam kitab Ighotsatul Lahaafaan. Bahwa seseorang yang akan sholat ada yang sering was-was. Ia terus mengulang lafadz niat dalam ucapannya sebelum takbir. Ia mengucapkan : Ushollii… Usholli…beberapa kali. Saat akan mengucapkan adaa-an, ia berupaya fasih-fasihkan hingga keliru menjadi terbaca adzaa-an. Sehingga, saat semestinya ia baca: Usholli sholaatan… adaa-an lillah yang artinya aku niat sholat… pada waktunya karena Allah menjadi terbaca: Ushollii sholaatan… adzaa-an lillaah yang artinya: Aku niat sholat… untuk ‘mengganggu/ menyakiti’ Allah.

Spontan, ketika mendengar itu satu orang di sampingnya menghentikan sholatnya dan segera berujar: Engkau tidak cukup hanya mengganggu Allah, bahkan juga Rasul, Malaikat, dan jamaah kaum muslimin (disarikan dari Ighotsatul Lahafaan (1/135)).   
4⃣Sesuatu hal yang percuma dan sia-sia, karena yang dinilai apakah yang di dalam hati. Kalau berbeda antara niat dalam hati dengan ucapan, maka yang ternilai adalah yang di dalam hati, sebagaimana penjelasan al-Imam anNawawiy di atas.
5⃣Terhambat tidak segera mutaabaah (mengikuti gerakan) Imam.

Jika seseorang mengucapkan niat, hal ini memperlambat gerakan takbiratul Ihram yang dilakukannya. Semestinya, saat Imam takbiratul Ihram, makmum bersegera mengikutinya. Saat Imam mengucapkan Allaahu Akbar, makmum segera mengikuti dengan mengucapkan Allaahu Akbar. Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا 
Seseorang dijadikan sebagai Imam untuk diikuti. Jika ia takbir maka bertakbirlah kalian (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Yang sering terjadi, saat Imam sudah bertakbir, makmum masih baru mulai membaca Usholli…Ini mengurangi kesempurnaan mutaba’ah.

Belum lagi jika ia datang saat Imam ruku’, kemudian ia masih mulai dengan usholli..sedangkan Imam hanya ruku’ dengan batas minimal thuma’ninah dan segera bangkit, maka ia telah melewatkan satu rokaat.

Demikian nasehat yang bisa disampaikan dalam tulisan ini. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayahNya kepada segenap kaum muslimin.

Abu Utsman Kharisman
alI'tishom - Probolinggo | WIP | 1436
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

Baca juga:
NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (1)

Senin, 08 Desember 2014

Kisah Sepotong Baju dan Tiga Butir Kurma

KISAH MENGHARUKAN

ﻗﺼـــﺔ ﻳﺴﻮﻗﻬــﺎ ﺍﻟﺸﻴــﺦ ﺑــﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴـﻦ ﺭﺣﻤـــﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓــﻲ ﺷـــﺮﺡ
ﻋﻘﻴـــﺪﺓ ﺃﻫــﻞ ﺍﻟﺴﻨـــﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋـــﺔ :
] … ﻭﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ : ” ﻛﻞ ﺍﻣﺮﺉ ﻓﻲ ﻇﻞ ﺻﺪﻗﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ” .
ﻭﺣﺪﺛﻨﻲ ﻣﻦ ﺃﺛﻖ ﺑﻪ ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻛﺎﻥ ﻳﻤﻨﻊ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﺃﻥ ﺗﺘﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﺃﻱ
ﻣﺴﻜﻴﻦ ﻳﻄﺮﻕ ﺍﻟﺒﺎﺏ !
ﻓﻄﺮﻕ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻣﺴﻜﻴﻦ ﺫﺍﺕ ﻳﻮﻡ ، ﻭﻗﺎﻝ : ﺇﻧﻪ ﻋﺎﺭٍ ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺛﻴﺎﺏ ،
ﺗﻘﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺮﺩ ، ﻓﺮﻗﺖ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﻟﺤﺎﻟﻪ ، - ﻛﻤﺎ ﺭﻕ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ - ،
ﻭﺃﻋﻄﺘﻪ ﻛﺴﺎﺀ ﻭﺛﻼﺙ ﺗﻤﺮﺍﺕ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻧﺎﺋﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ،
ﻓﺮﺃﻯ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻗﺪ ﻗﺎﻣﺖ ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﻣﻮﺝ ﻋﻈﻴﻢ ، ﻭﺣﺮ
ﺷﺪﻳﺪ ، ﻭﺷﻤﺲ ﻣﺤﺮﻗﺔ ، ﻭﺇﺫﺍ ﺑﻜﺴﺎﺀ ﻳﻌﻠﻮ ﺭﺃﺳﻪ ، ﻭﻓﻴﻪ ﺛﻼﺛﺔ
ﺧﺮﻭﻕ ، ﻓﺮﺃﻯ ﺛﻼﺙ ﺗﻤﺮﺍﺕ ﺟﺎﺀﺕ ﻭﺳﺪﺕ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺨﺮﻭﻕ ، ﻓﺘﻌﺠﺐ ﻭﺍﻧﺘﺒﻪ
ﻣﻦ ﻧﻮﻣﻪ ﻣﺬﻋﻮﺭﺍ ! ،
ﻭﻗﺺ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ، ﻓﻔﻬﻤﺖ ﺍﻟﺰﻭﺟﺔ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺅﻳﺎ ﺳﺒﺐ
ﺍﻟﻜﺴﺎﺀ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺼﺪﻗﺖ ﺑﻪ ﻭﺍﻟﺘﻤﺮﺍﺕ ،
ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ : ﺣﺪﺙ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ،
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ : ﻻ ﺗﺮﺩﻱ ﻣﺴﻜﻴﻨﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻴﻮﻡ ،
ﻓﻬﺬﺍ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻧﺒﻬﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺼﺪﺍﻕ ﻟﺤﺪﻳﺚ : ” ﻛﻞ ﺍﻣﺮﺉ
ﻓﻲ ﻇﻞ ﺻﺪﻗﺘﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ” [
ﺍﻟﻤﺮﺟـــﻊ/ ﺇﺗﺤﺎﻑ ﺍﻟﺨﻼﻥ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺑﻔﻮﺍﺋﺪ ﺷﺮﺡ ﻋﻘﻴﺪﺓ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻟﻠﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
              

(Kisah ini dikisahkan oleh syaikh utsaimin dalam penjelasan Aqidah Ahlissunah wal Jama'ah):
"Datang sebuah hadits : Setiap hamba berada dalam NAUNGAN shodaqohnya pada hari Qiyamat " .

Syaikh berkata : "Telah menceritakan kepadaku orang yang aku percaya.

Ada seseorang yang melarang istrinya untuk bersedekah kepada kaum fakir miskin yang mengetuk pintunya ...

Datanglah suatu hari si MISKIN mengetuk pintu rumahnya dalam keadaan telanjang tak berbaju yang menahannya dari hawa dingin .

Maka istrinya merasa terharu dengan keadaan si MISKIN ini sebagaimana terharunya ABU HUROIROH .

Maka sang ISTRI memberinya pakaian dan tiga buah kurma.

Saat itu suaminya sedang istirahat di masjid tertidur, maka dia melihat dalam mimpinya: " Hari qiyamat telah tiba, sementara manusia sedang berada di tengah ombak yang besar, dan panas yang terik matahari yang membakar ...

Tiba² ada sebuah baju yang menaungi di atas kepalanya padanya ada tiga lobang maka ia melihat ada tiga buah korma datang menutup tiga lobang itu" .

Maka terheran² lah lelaki itu dengan mimpinya dan terjaga dari tidurnya.

Maka ia kisahkan mimpinya ini kepada istrinya, istrinya memahami mimpi suaminya ...

Mimpi suaminya ini adalah sebab pakaian yang ia shodaqohkan dan tiga buah kurma itu.

Maka sang istri berkata: "Telah terjadi begini begitu (menceritakan kisah sedekahnya pada si MISKIN) ...".

SANG SUAMI BERKATA: "Setelah hari ini jangan kau tolak untuk bersedekah pada orang miskin ..."

Lelaki ini Alloh ingatkan dan ini adalah kebenaran dari hadits "Setiap hamba berada dalam naungan shodaqohnya pada hari qiyamat" .

Sumber:
ITihaful Kholan wal jama'ah bifawaaidi syarh aqidah Ahli Sunah wal jama'ah Syaikh Ibnu Utsaimin.

Alih bahasa :
Abul Hasan Al Wonogiri .
.WA TIC (tholibul ilmi cikarang)
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (1)


Ensiklopedia Fiqh Islam

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (Bag I)

✅Nabi dan Para Sahabat adalah Manusia yang Paling Amanah dalam Mengambil Ilmu, Menerapkan, dan Mengajarkannya

Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling bersemangat untuk menyampaikan kebaikan kepada umatnya.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari jenis kalian, yang berat dirasakan olehnya hal-hal yang menyengsarakan kalian, dan ia sangat bersemangat (untuk kebaikan) kalian, yang ia memiliki sifat pengasih dan penyayang kepada orang-orang yang beriman (Q.S atTaubah:128)

Semua kebaikan yang datang dari Allah terkait ibadah dan keselamatan di akhirat, telah beliau jelaskan kepada umat, melalui murid langsung beliau: para Sahabat Nabi ridhwanullahi alaihim ajmain.

Para Sahabat Nabi adalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk menjadi murid Nabi, yang mengambil ilmu langsung dari Nabi kemudian menyebarkan kepada manusia yang lain setelahnya. Para Sahabat Nabi adalah orang-orang pilihan untuk menemani Nabi dalam berjuang menegakkan agama Allah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu beliau berkata: Sesungguhnya Allah melihat pada hati hamba-hambaNya. Ia dapati hati Muhammad shollallahu alaihi wasallam adalah sebaik-baik hati seorang hamba. Maka Ia memilihnya untuk Dirinya dan mengutusnya dengan membawa risalahNya. Kemudian Allah melihat pada hati hamba-hamba yang lain setelah hati Muhammad shollallahu alaihi wasallam, maka Ia dapati hati para Sahabatnya adalah sebaik-baik hati hamba. Maka ia jadikan mereka sebagai penolong NabiNya yang berperang di atas Diennya (riwayat Ahmad)

Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah guru terbaik yang paling amanah. Sedangkan para Sahabat Nabi adalah murid terbaik yang paling amanah. Semua kebaikan yang diwahyukan Allah disampaikan oleh Nabi kepada Sahabat. Segala kebaikan yang disampaikan Nabi diserap dengan baik oleh para Sahabatnya. Kalaupun ada Sahabat yang tidak mendengar suatu ilmu, Sahabat lain akan meriwayatkan hadits itu hingga sampai ke kita saat ini.

Untuk amal ibadah yang sangat menentukan, yaitu sholat, tidak ada sesuatupun yang tak tersampaikan ilmunya. Setiap bacaan atau gerakan yang dilakukan Nabi pasti tersampaikan atau terpantau dan didengar lafadznya oleh para Sahabat Nabi. Baik itu bacaan yang biasanya dibaca lirih (sirr) yang tidak didengar kecuali oleh pembaca, apalagi yang dibaca keras (jahr), semuanya tersampaikan dan diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih.
Jika Nabi membaca lirih suatu bacaan dalam sholat, Sahabat Nabi akan tanggap bertanya apa yang beliau baca. Tidak ada yang luput dalam pantauan, sebagai murid yang sangat bersemangat menimba ilmu. Sebagaimana saat Nabi membaca dengan pelan bacaan istiftah, Abu Hurairah radhiyallahu anhu segera bertanya: Apa yang anda baca antara takbir dengan alFatihah. Nabipun akan menjelaskan bacaan yang beliau baca.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلاَةِ سَكَتَ هُنَيْة قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوْتكَ بَيْنَ التَّكْبِيْرِ وَاْلقِرَاءَةِ مَا تَقُوْلُ قَالَ أَقُوْلُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَاْلمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِاْلمَاءِ وَالثَّلْجِ وَاْلبَرَدِ
“ Dari Abu Hurairah beliau berkata : adalah Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam setelah bertakbir dalam sholat diam sejenak sebelum membaca (AlFatihah) maka aku bertanya : ‘Wahai Rasulullah, aku tebus dengan ayah dan ibuku, apa yang anda baca pada saat diam anda antara takbiratul ihram dengan membaca (AlFatihah)? Rasul menjawab : ‘Aku membaca : Allaahumma baa’id baynii wa bayna khothoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghribi Allaahumma naqqinii min khotooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minad danas Allaahummaghsilnii min khotooyaaya bil maa’i wats tsalji wal barodi”(H.R Bukhari-Muslim)

Adakalanya Nabi mengeraskan dan memperdengarkan suatu bacaan dalam sholat dalam rangka mengajarkan kepada para Sahabatnya apa yang dibaca dalam suatu gerakan sholat. Padahal nantinya secara normal bacaan itu akan selalu dibaca lirih (sirr).

Sebagai contoh, bacaan sujud dalam sholat, normalnya dibaca lirih tidak dikeraskan. Namun, suatu ketika saat sholat malam, Nabi mengeraskannya dan terdengar oleh Aisyah radhiyallahu anha hingga sang istri Nabi yang mulya ini kemudian meriwayatkan hadits, menyampaikan ilmunya pada umat tentang salah satu bacaan sujud.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha beliau berkata: suatu malam aku kehilangan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dari tempat tidur. Kemudian aku mencari-cari (dengan tanganku) hingga tanganku mengenai bagian bawah telapak kaki beliau yang sedang ditegakkan (karena sujud). Pada saat itu beliau mengucapkan: Allaahumma audzu bi ridhooka min sakhotika wa bi muafaatika min uquubatika wa audzu bika minka laa uhshii tsanaa-an alaika anta kamaa atsnayta alaa nafsika (H.R Muslim no 751)

Demikian juga saat Sahabat Nabi Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu sholat bersama Nabi dalam sholat malam, beliau meriwayatkan kepada kita hadits tentang bacaan istiftah, ruku’, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud, yang semuanya secara asal akan dipraktekkan selalu dibaca lirih, namun dalam rangka pengajaran, Nabi mengeraskannya hingga bisa didengar oleh Hudzaifah bin al-Yaman sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim no 1291 dan Abu Dawud no 740.

Semua itu menunjukkan bahwa kalau seandainya bacaan niat sebelum sholat itu disyariatkan, pasti akan terpantau dan terdengar Sahabat Nabi dan kemudian mereka (paling tidak satu orang dari mereka) akan meriwayatkannya dalam hadits-hadits kepada kita. Karena sekalipun bacaan niat itu akan dibaca lirih dalam setiap sebelum sholat, pasti diajarkan Nabi dan diteruskan ilmu itu oleh para Sahabatnya.

Jangankan sesuatu yang berada di dalam sholat, dzikir setelah selesai sholatpun semuanya ternukil dengan jelas dan disampaikan dalam riwayat-riwayat hadits. Dzikir yang secara asal akan dibaca dengan lirih, namun dalam rangka pengajaran, Nabi mengeraskan bacaan itu agar para Sahabat mendengar, mengamalkan, dan mengajarkan kepada yang lain.
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Dari Tsauban –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika selesai dari sholatnya beliau beristighfar 3 kali dan berkata: Allaahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta dzal jalaali wal ikroom (H.R Muslim)
Bagaimana Sahabat Tsauban mengetahui bacaan dzikir selesai sholat itu ? karena Nabi memperdengarkannya dalam rangka pengajaran.
Karena demikian detail dan amanahnya Nabi dan para Sahabat menyebarkan ilmu kepada orang-orang setelahnya, maka umat Islam setelahnya tidak boleh melakukan suatu ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya.

Sahabat Nabi Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu menyatakan:
كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا ؛ فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالاً ؛ فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para pembaca al-Qur’an (orang-orang alim dan yang suka beribadah) dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah).

✅Petunjuk Nabi dalam Hadits-Haditsnya Tidak Ada Perintah untuk Mengucapkan Niat

Hadits-hadits shahih yang ada menunjukkan bahwa permulaan ucapan dalam sholat adalah Takbirotul Ihram.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }
Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memulai sholat dengan takbir dan bacaan Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin (H.R Muslim )
Ada seseorang yang sholat tapi selesai sholat disuruh mengulang lagi karena sholatnya tidak sah, hingga berlangsung 3 kali. Kemudian Nabi mengajarkan kepada orang itu cara sholat yang benar. Dalam penjelasan itu sama sekali Nabi tidak menyinggung tentang melafadzkan niat, padahal orang tersebut sangat membutuhkan penjelasan tentang sholat yang benar dan sah. Kalaulah melafadzkan niat adalah disyariatkan, minimal sunnah, maka beliau akan menjelaskan saat itu. Silakan disimak hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا...

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam masuk masjid kemudian masuklah seorang laki-laki kemudian sholat. Kemudian dia mengucapkan salam kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam dan Nabi shollallahu alaihi wasallam menjawab salamnya. Kemudian Nabi bersabda: Kembalilah sholat karena engkau belum sholat. Maka ia kemudian sholat. Setelah selesai, ia datang mengucapkan salam kepada Nabi shollallaahu alaihi wasallam, Nabi mengucapkan: kembalilah engkau sholat karena engkau belum sholat. Itu berlangsung 3 kali. Kemudian beliau bersabda: Demi Yang mengutusmu dengan al-haq, aku tidak bisa lagi memperbaiki sholatku selain ini maka ajarkanlah kepadaku. Kemudian Nabi bersabda: Jika engkau bangkit menuju sholat maka bertakbirlah. Kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al-Quran. Kemudian rukuklah hingga thuma’ninah dalam ruku’….(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Silakan disimak hadits-hadits shahih yang lain berikut ini yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebutan ucapan pertama kali dalam sholat kecuali takbirotul ihram:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَكَبَّرَ وَكَبَّرُوا مَعَهُ...

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam berdiri dan manusia (para Sahabat) berdiri bersama beliau. Kemudian beliau bertakbir dan mereka pun bertakbir bersama beliau…(H.R al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَعُدِّلَتْ الصُّفُوفُ قِيَامًا فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَامَ فِي مُصَلَّاهُ ذَكَرَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَقَالَ لَنَا مَكَانَكُمْ ثُمَّ رَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْنَا وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ فَكَبَّرَ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata: Sholat akan ditegakkan dan shof-shof sudah diluruskan dalam keadaan berdiri. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam keluar kepada kami. Ketika beliau sudah berdiri di tempat sholatnya beliau baru ingat bahwa beliau junub. Kemudian beliau bersabda: Tetaplah di tempat kalian. Kemudian beliau kembali (ke rumahnya) mandi kemudian keluar kepada kami dalam keadaan kepalanya meneteskan air. Kemudian beliau bertakbir maka kami sholat bersama beliau….(H.R al-Bukhari)

Demikian juga yang dilakukan Sahabat Nabi Abu Bakr saat menggantikan Nabi sebagai Imam karena pada saat itu beliau belum datang, tidak disebutkan dalam riwayat-riwayat hadits bahwa beliau memulai sholatnya dengan melafadzkan niat. Yang ada adalah penyebutan bertakbir sebagai permualaan sholat:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ بِقُبَاءٍ كَانَ بَيْنَهُمْ شَيْءٌ فَخَرَجَ يُصْلِحُ بَيْنَهُمْ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَحُبِسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَانَتْ الصَّلَاةُ فَجَاءَ بِلَالٌ إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ حُبِسَ وَقَدْ حَانَتْ الصَّلَاةُ فَهَلْ لَكَ أَنْ تَؤُمَّ النَّاسَ قَالَ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ فَأَقَامَ بِلَالٌ الصَّلَاةَ وَتَقَدَّمَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكَبَّرَ لِلنَّاسِ

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu beliau berkata: Sampai berita kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bahwa Bani Amr bin Auf di Quba’ ada perselisihan di antara mereka. Maka beliau keluar untuk mendamaikan mereka bersama beberapa Sahabatnya. Kemudian Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tertahan (tidak segera kembali) sedangkan waktu sholat sudah masuk. Maka datanglah Bilal kepada Abu Bakr radhiyallahu anhuma kemudian berkata: Wahai Abu Bakr sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tertahan sedangkan waktu sholat telah masuk. Maukah engkau mengimami manusia? Abu Bakr menjawab: Ya, jika engkau mau yang demikian. Kemudian Bilal mengumandangkan iqomat, Abu Bakr radhiyallahu anhu maju kemudian bertakbir untuk (sholat bersama) manusia… (H.R al-Bukhari)

Jika itu adalah contoh-contoh dalam sholat wajib, maka dalam sholat sunnah juga demikian. Hadits-hadits shahih yang ada menunjukkan bahwa Imam di masa Nabi dan para Sahabatnya memulai ucapan dalam sholat dengan takbir. Silakan disimak beberapa contoh hadits berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ ابْنُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّاسُ إِنَّمَا انْكَسَفَتْ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ بَدَأَ فَكَبَّرَ ثُمَّ قَرَأَ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ

Dari Jabir radhiyallahu anhu beliau berkata: Matahari mengalami gerhana di masa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam saat kematian Ibrahim putra Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemudian orang-orang berkata: terjadinya gerhana matahari karena kematian Ibrahim. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam sholat bersama manusia 6 rokaat dengan 4 sujud beliau mulai dengan bertakbir kemudian beliau membaca ayat dan memperpanjang bacaan… (H.R Muslim)

Silakan disimak juga saat Sahabat Nabi Ibnu Abbas menjadi Imam dalam sholat jenazah, ucapan yang pertama kali dilakukan dalam sholat adalah takbiratul ihram bukan melafadzkan niat:

عَنِ الْمُطَّلِبِ ، قَالَ : قَامَ ابْنُ عَبَّاسٍ - رضي الله عنهما - يُصَلِّي فِي جِنَازَةٍ ، فَكَبَّرَ ثُمَّ افْتَتَحَ أُمَّ القُرْآنِ رَافِعًا بِهَا صَوْتَهُ ، ثُمَّ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم...

Dari al-Muththolib beliau berkata: Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma sholat jenazah, kemudian beliau bertakbir kemudian membuka dengan Ummul Qur’an (al-Fatihah) dengan mengeraskan suaranya…(H.R Ahmad bin Mani’, dan secara ringkas juga disebutkan dalam Shahih al-Bukhari)

Masih banyak lagi hadits-hadits shahih lainnya yang menunjukkan bahwa permulaan bacaan dalam sholat Nabi dan para Sahabat adalah takbiratul Ihram, bukan melafadzkan niat.

<<Bersambung InsyaAllah ke bagian ke-2…>>

Abu Utsman Kharisman
alI'tishom Probolinggo | WIP | 1436
Forum KHAS
----------------------
إتباع السنة

♨ Ittibaus-sunnah.net

Baca juga:
NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (2)

Kumpulan Mutiara Salaf (34)

Mutiara Salaf

قال العلامة صالح الفوزان :

" الباطل لو كان مكشوفا ما قبله أحد، لكن إذا غطي بشيء من الحق، فأنه يقبله كثير من الناس "

[ شرح كشف الشبهات ٥٦ ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

✏ Berkata Al-Alamah (Syaikh) Shalih Al-Fauzan حفظه الله :

"Kebatilan jika terlihat atau nampak, tidak ada yang menerimanya seorangpun, akan tetapi jika ditutupi/dipoles dengan sesuatu dari al-haq/kebenaran, maka menerimalah/terjatuhlah kebanyakan dari manusia."

[ Syarah Kasyfu Syubhat 56 ]

Alih bahasa :
Akhukum fillah,
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia.

إتباع السنة

♨ Ittiba'us Sunnah

-----------------------
Mutiara Salaf

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى :

" إذا استثقلت السنة فاعلم أن في قلبك مرض "

{ شرح حلية طالب العلم }

••••••••••••○○○○●○○○○•••••••••••

Berkata Syaikh ibnu Utsaimin رحمه الله تعالى :

"Jika engkau menganggap berat/sulit sunnah, maka ketahuilah bahwa didalam qolbumu terdapat penyakit."

Syarah hilyah tholibil ilmi
✏ Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
-------------------------
إتبع السة

♨ Ittiba'us Sunnah

------------------------------
Silsilah Mutiara Hikmah
------------------------------
♨ LARANGAN MENDAHULUKAN PENDAPAT KITA DI ATAS KETETAPAN NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM.
------------------------------
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh.

Alloh Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ) [سورة الحجرات : 2]
" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari." [Qs. Al-Hujurot: 2]

Jika suara mereka yang dikeraskan melebihi suara Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam menjadi sebab gugurnya amalan-amalan mereka maka bagaimana jika mendahulukan pendapat-pendapat mereka, akal pikiran mereka, perasaan-perasaan mereka, siasat-siasat mereka dan pengetahuan-pengetahuan mereka di atas apa yang dibawa oleh nya (shollallohu 'alaihi wa sallam) dan mengangkatnya di atas apa yang dibawanya (shollallohu 'alaihi wa sallam)?

Bukankah ini lebih pantas untuk menjadi penggugur amalan-amalan mereka?

I'lamul muwaqqi'in (juz 1 hal. 41 - Maktabah Syamilah)

__✏ Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu Abduh.
------------------------------
قال الإمام ابن القيِّم -رحمه الله-:

"وقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ}.

فإذا كان رَفْعُ أصواتِهِم فوقَ صوتِه سببًا لحبوطِ أعمالِهِم فكيف تقديمُ آرائِهِم وعقولِهِم وأذواقِهم وسياسَتِهم ومعارِفِهم على ما جاء بِه ورَفْعُها عليه؟

ألَيْسَ هذا أَوْلَى أنْ يكونَ مُحبِطًًا لأعمالهم؟".

[إعلام الموقِّعِين ج1 ص41 م الشاملة]
------------------------------
WA Ahlus Sunnah Karawang.

إتبع السة

♨ Ittiba'us Sunnah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
❤ Ensiklopedia Salaf

4 - وقال اﻹمام يحيى بن يحيى النيسابوري:

" الذب عن السنة أفضل من الجهاد "*

*) نقد المنطق ص (12).

                *➰➰➰*
Imam Yahya bin Yahya An-Naisaburi رحمه الله berkata:

" Membela sunnah lebih utama daripada jihad "

*) "Naqdul Mantiq" Halaman 12

               **
Dinukil dari kitab :

" منهج أهل السنة والجماعة في نقد الرجال والكتب والطوائف "

✏ Karya :

" فضيلة الشيخ ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله ورعاه "

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ensiklopedia Salaf

14 - وقال الشاطبي أيضاً -رحمه الله-*: "حين تكون الفرقة تدعو إلى ضلالتها وتزينها في قلوب العوام، ومن لا علم عنده، فإن ضرر هؤلاء على المسلمين كضرر إبليس، وهم من الشياطين الإنس، فلابد من التصريح بأنهم من أهل البدع والضلالة، ونسبتهم إلى الفرق إذا قامت له الشهود على أنهم منهم.
فمثل هؤلاء لابد من ذكرهم والتشريد بهم؛ ﻷن ما يعود على المسلمين من ضررهم -إذا تركوا- أعظم من الضرر الحاصل بذكرهم والتنفير عنهم
إذا كان سبب ترك التعيين الخوف من التفرق والعداوة، ولا شك أن التفرق بين المسلمين وبين الداعين للبدعة وحدهم إذا أقيم عليهم أسهل من التفرق بين المسلمين وبين الداعين ومن شايعهم واتبعهم، وإذا تعارض الضرران؛ فالمرتكب أخفهما وأسهلهما، وبعض الشر أهون من جميعه، كقطع اليد المتآكلة، إتلافها أسهل من إتلاف النفس، وهذا شأن الشرع أبداً، يطرح حكم اﻷخف وقاية من اﻷثقل.

*) الاعتصام: (2/228-229)

                **

✏ Dan Syatibi berkata juga -رحمه الله-:
"Ketika suatu kelompok menyeru kepada kesesatan mereka dan menghiasinya/memperindahnya kedalam hati-hati/jiwa-jiwa orang-orang awam serta kepada yang tidak memiliki ilmu, maka bahaya mereka terhadap kaum muslimin seperti bahayanya iblis, dan mereka adalah setan-setan yang yang berbentuk manusia/dari golongan manusia.
Maka harus dijelaskan bahwa mereka adalah ahli bid’ah dan sesat.
Dan penisbahan mereka terhadap golongan/kelompok (ahli bid’ah tersebut) itu bisa dibuktikan dengan adanya saksi-saksi/persaksian yang menunjukkan bahwa mereka termasuk bagian dari mereka.
Maka mereka ini (--penyeru bid’ah & kesesatan tadi) harus diterangkan keadaan mereka dan dibongkar aib-aib  mereka, dikarenakan akaibat/apa yang kembali kepada kaum muslimin dari bahaya mereka -jika dibiarkan- lebih besar dari bahaya dalam membongkar kesesatan serta menjauhi mereka.
Jika sebab membiarkan atau tidak membongkar kesesatan tersebut dikarenakan takut akan perpecahan dan permusuhan, maka tidak diragukan lagi bahwa perpecahan antara kaum muslimin dengan da'i penyeru bid’ah itu sendiri yang dibongkar kesesatannya tadi itu lebih ringan daripada perpecahan antara kaum muslimin dengan da'i dan pembela serta pengikut mereka.
Dan jika terdapat dua mudharat yang saling berbenturan, maka diambil mudharat yang paling ringan dan yang paling mudah dari/diantara keduanya.
Dan sebagian kejelekan itu lebih ringan daripada seluruhnya.
Seperti memotong tangan yang terkena penyakit yang menggerogoti tubuh/jika dibiarkan maka akan merembet/menjadi lebih besar (bahayanya), maka memotongnya ini lebih ringan (mudharat/masfadah/kerusakannya) daripada membunuh jiwa (manusia).
Dan ini adalah perkara syar'i yang berlaku untuk selamanya, mengambil/menetapkan hukum yang lebih ringan untuk menghindari atau sebagai perlindungan dari hukum yang lebih berat."

*) Al I'tisham: ( 2/228-229 ).

              **
Dinukil dari kitab  :

" منهج أهل السنة والجماعة في نقد الرجال والكتب والطوائف "

✏ Karya :

" فضيلة الشيخ ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله ورعاه "

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net


Ensiklopedia Salaf

اﻹمام أحمد بن حنبل :

" رحم الله عبدا قال بالحق و اتبع اﻷثر و تمسك بالسنة و اقتدى بالصالحين و جانب أهل البدع و ترك مجالستهم احتسابا و طلبا للقربت من الله."

{ طبقات الحنابلة ١\٣٦ }

✏ Al-Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله (berkata):

"Mudah-mudahan Allah merahmati seorang hamba yang berkata dengan kebenaran dan mengikuti atsar dan berpegang teguh dengan sunnah dan mengikuti jejak orang-orang yang shalih dan menjauhi ahli bid'ah dan meninggalkan untuk duduk-duduk atau bermajelis dengan mereka hanya mengharapkan ridho Allah سبحانه وتعالى dan untuk mencari pendekatan diri kepada-Nya."

{Thabaqatul Hanabilah 1/36}

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

Ensiklopedia Salaf

" إذا رأيت الرجل يسب علماء السنة فاعلم أنه مفتون وأن الحزبية متغلغلة في قلبه وإن تظاهر بأنه سني. "

العلامة مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
من شريط أسئلة من بريطانيا عن الجهاد (١-١٠\١٧٠)
 
"Jika engkau melihat seseorang mencela/mencaci maki ulama sunnah, ketahuilah bahwa dia adalah orang yang terfitnah, dan hizbiyyah telah merasuk kedalam qolbunya, walaupun dia menampakkan bahwa dia adalah seorang sunni."

✏ Al-Alamah Muqbil bin Hady Al-Wadi'iy  رحمه الله

Dari kaset pertanyaan dari Britania (Inggris) tentang jihad (1-10/170)

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

Ensiklopedia Salaf

قال الإمام البخاري :

" أفضل المسلمين : رجل أحيا السنة من سنن الرسول صلى الله عليه وسلم قد أميتت، فاصبروا يا أصحاب السنن رحمكم الله
فإنكم أقل الناس. "

{ الجامع لأخلاق الراوي للخطيب البغدادي }

✏ Berkata Imam Al-Bukhori رحمه الله :

"Kaum muslimin yang paling afdhol/utama adalah orang yang menghidupkan sunnah dari sunnah-sunnah Rasul صلى الله عليه وسلم  yang telah mati/ditinggalkan.
Maka bersabarlah wahai para pengikut sunnah رحمكم الله ...!!!
Karena sesungguhnya engkau adalah manusia yang paling sedikit. "

{"Al-Jami' Li Akhlaqir-Rowi (wa Adabis-Sami')" Khotib Al-Baghdhady}

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net