Tampilkan postingan dengan label Mutiara Salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Salaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2015

Silsilah Semangat dan Kesabaran Salaf dalam Menuntut Ilmu

SILSILAH SEMANGAT DAN KESABARAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU

Bagian Pertama

Berkata Abu Mas’ud Abdurrahim al-Haaji; Aku mendengar Ibnu Thahir rahimahullah berkata:

“Aku pernah kencing darah dua kali ketika mencari hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah. Aku pernah berjalan tanpa alas kaki di bawah teriknya matahari dan tidak pernah menaiki kendaraan sama sekali dalam mencari hadits. Aku memikul kitab-kitabku dengan punggungku dan aku tidak pernah meminta-minta kepada seorang pun dalam menuntut ilmu. Aku hidup apa adanya.”

Sumber: Siyar A’lamun Nubala 19/363.

Berkata Abdurrahman bin Abi Hatim rahimahullah:

“Dulu kami pernah berada di Mesir selama tujuh bulan dalam keadaan kami tidak pernah makan daging. Yang demikian ini karena siang hari kami terbagi untuk menghadiri majelis para masyaikh, sedangkan malamnya kami gunakan untuk menyalin dan mencocokan apa yang kami tulis (dengan tulisan teman). Pada suatu hari aku dan temanku mendatangi majelis seorang syaikh, namun kata mereka dia sedang sakit. Maka setelah itu kami pun pulang dan dalam perjalanan kami mendapatkan seekor ikan segar yang menggiurkan kami, lalu kami pun membelinya. Setelah kami sampai di rumah ternyata tiba waktu belajar, sehingga kami tidak punya kesempatan untuk mengolah ikan tersebut. Akhirnya kami pergi ke majelis para ulama dan kami tidak pulang ke rumah kecuali setelah tiga hari lamanya, sedangkan ikan (yang kami beli) hampir saja membusuk. Kami makan ikan tersebut dalam keadaan mentah-mentah, karena kami tidak punya waktu luang untuk mencari orang yang bisa memanggangnya.”

Kemudian beliau berkata: “Tidaklah ilmu bisa dicapai dengan memanjakan badan (bersantai-santai)”.

Sumber: Tadzkiratul Hufazh:3/830

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Alih bahasa: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 16 Dzul Qa’dah 1436/ 31 Agustus 2015_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
---------------------------

WA. FORUM KIS
SILSILAH KESABARAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU:

Bagian Kedua

Al-‘Allaamah an-Nahwi Muhammad bin Ahmad Abu Bakr al-Khayyath al-Baghdadi rahimahullah:

“Dia senantiasa menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, sampai sambil berjalan pun beliau menyibukkan diri dengan belajar, hingga terkadang beliau jatuh terperosok ke dalam lubang atau tertabrak hewan ketika berjalan.”

Sumber: Al-Musyawwiq ilal qiraah wa thalibil ilmi hal. 62.

Dawud ath-Thaai rahimahullah:

“Beliau senang minum kuah yang dicampur dengan roti. Ia tidak pernah makan roti secara terpisah. Beliau ditanya kenapa melakukan yang demikian, maka ia menjawab: “Yang demikian itu karena perbedaan waktu antara menguyah roti dan minum kuah yang bercampur roti selama bacaan 50 ayat.”

Sumber: al-Mujalasah wajawahir al-ilmi 1/346

Berkata al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah:

“Syu’bah rahimahullah bermajelis dihadapan al-Hakam bin ‘Utaibah selama 18 bulan –yakni belajar ilmu hadits- sampai-sampai beliau menjual tiang rumahnya untuk belajar.”

Sumber: al-Ilal wa ma’rifatur rijal 2/342

Berkata Ibnu ‘Uyainah rahimahullah:

“Aku mendengar Syu’bah rahimahullah berkata: ‘Barangsiapa mencari hadits (menuntut ilmu) maka akan bangkrut (siap mengorbankan hartanya untuk belajar). Aku menjual bejana ibuku seharga 7 dinar.”

Sumber: Siyar a’laamun nubala 7/220

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Alih bahasa: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 21 Dzul Qa’dah 1436/ 5 September 2015_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
---------------------------

FORUM KIS
SILSILAH SEMANGAT DAN KESABARAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU:

Bagian Ketiga

Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata:

“Aku mendengar ayahku berkata: “Aku tinggal di Bashrah pada tahun 214 lebih 8 bulan. Pada waktu itu aku kira akan tinggal disana cuma setahun saja, sampai akhirnya perbekalanku habis. Maka aku pun menjual bajuku satu demi satu hingga akhirnya aku tidak punya bekal apapun. Aku berkeliling bersama salah satu temanku ke para masyaikh untuk mendengarkan (hadits) dari mereka hingga sore hari, kemudian temanku pulang. Ketika aku sampai rumah di rumah kosong. Aku pun minum air karena lapar.

Pada keesokan harinya, temanku datang kapadaku, kemudian aku bersamanya kembali berkeliling (kepada para masyaikh) untuk mendengarkan hadits dalam keadaan lapar sekali. Temanku pulang dan aku pun pulang dalam keadaan lapar. Pada keesokan harinya temanku datang kembali kepadaku seraya berkata, ‘ayo kita pergi ke para masyaikh!’ Aku berkata: ‘aku lemas, aku tidak mampu lagi berjalan.’ Dia berkata: ‘kenapa kamu lemas?’ Aku menjawab: ‘aku akan berterus terang tentang keadaanku. Sungguh dua hari berlalu, sedangkan aku belum makan sesuatu apapun.’ Dia berkata: ‘Aku masih punya satu dinar, aku berikan kepadamu setengahnya, adapun setengahnya kita gunakan untuk menyewa. Akhirnya kami keluar dari Bashrah dan aku pegang setengah sisa dinarnya.”

Sumber: Al-Jahr wat Ta’dil hal.363-364

Berkata Ja’far bin Durustuwaih rahimahullah:

“Pada hari ini selepas asar kami mulai mencari tempat duduk untuk bermajelis di majelis Ali bin al-Madini yang akan diadakan esok hari. Kami duduk sepanjang malam karena takut tempat duduk kami akan diambil orang jika kami bangkit pergi buang air kecil, sehingga esoknya tidak mendapatkan tempat duduk untuk mendengar (hadist). Aku melihat seorang syaikh berada dalam majelis buang airc kecil di Thailasan (pakaian rajut yang dipakai mengelilingi tubuh). Dia menutup tubuhnya dengan itu hingga selesai dari hajatnya, dia lakukan karena takut diambil tempat duduknya jika bangkit untuk buang air kecil.

Sumber: al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabus Sami’ 2/138

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Alih bahasa: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 9 Dzulhijjah 1436/ 23 September 2015_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
---------------------------

WA. FORUM KIS

SILSILAH SEMANGAT DAN KESABARAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU:

Bagian Keempat

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Sungguh al-Imam al-Bukhari rahimahullah jika bangun malam, dia menyalakan lampu lentera untuk menulis faedah yang dia hafal. Setelah itu dia matikan lampunya. Kemudian dia bangun lagi untuk ke sekian kalinya (untuk melakukan hal yang sama), hingga terbilang semuanya hampir 20 kali.”

Sumber: Al-Bidayah wan Nihayah 31/11.

Abu Ahmad Nahr bin Ahmad al-‘Iyadhi al-Faqih as-Samarqandi rahimahullah berkata:

“Ilmu tidaklah bisa diraih kecuali dengan menelantarkan tokonya, kebunnya (yakni tidak tersibukkan dengan dunia) dan menjauhi saudara-saudaranya (menyendiri) dan dia mati dalam keadaan saudaranya yang paling dekat dengannya tidak menyaksikan jenazahnya (karena dia pergi rihlah ke negeri jauh)”.

Sumber: al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabus Sami’ 2/174

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Alih bahasa: Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 9 Dzulhijjah 1436/ 23 September 2015_di kota Ambon Manise.

Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
---------------------------

WA. FORUM KIS

Kamis, 09 April 2015

QOLBU, JIKA DIA DISIBUKKAN ...

Hui❌ القلب اذا انشغل بالباطل ❌
لم يبق للحق فيه محل

كما أنه إذا انشغل بالحق
لم يبق فيه للباطل محل

ابن عثيمين
شرح بلوغ المرام 
〰〰〰〰〰〰〰

7⃣ PERMATA SALAF

✅Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin:

       QOLBU

❌Apabila disibukkan dengan kebatilan ❌
Tidak akan tersisa padanya tempat untuk kebenaran
✨ Sebagaimana apabila Qolbu itu disibukkan dengan kebenaran
Tidak akan tersisa padanya tempat untuk kebatilan

Syarah Bulughul Maram

Mujahid Al Muharam

WA KaPuAs KalBar
Via WA Al-Manshuroh

Jumat, 03 April 2015

JADILAH ENGKAU SEORANG HAMBA YANG TERKUAT

〰✊⭕ JADILAH ENGKAU SEORANG HAMBA YANG TERKUAT

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

✋" Memohon pertolongan kepada Allah, bertawakkal, bergegas menghadap kepadanya, dan berdoa hanya kepada Allah. Itu merupakan sebab yang mengantarkan seorang hamba menjadi kuat. Serta akan menjadi mudah segala urusannya. Oleh karena itu, sebagian Salaf mengajarkan, " Barangsiapa yang berharap menjadi seorang hamba yang terkuat, hendaknya dia bertawakkal kepada Allah".

Al Fatawa (10/32)

كن أقوى الناس

▪قال شيخ الإسلام ابن تيمية :

الاستعانة بالله والتوكل عليه واللجوء إليه والدعاء له هي التي تقوي العبد وتيسر عليه أموره ولهذا قال بعض السلف: من سره أن يكون أقوى الناس فليتوكل على الله.

▪الفتاوى (10/32)

WhatsApp Salafy Indonesia || http://forumsalafy.net
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Senin, 08 Desember 2014

Kumpulan Mutiara Salaf (34)

Mutiara Salaf

قال العلامة صالح الفوزان :

" الباطل لو كان مكشوفا ما قبله أحد، لكن إذا غطي بشيء من الحق، فأنه يقبله كثير من الناس "

[ شرح كشف الشبهات ٥٦ ]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

✏ Berkata Al-Alamah (Syaikh) Shalih Al-Fauzan حفظه الله :

"Kebatilan jika terlihat atau nampak, tidak ada yang menerimanya seorangpun, akan tetapi jika ditutupi/dipoles dengan sesuatu dari al-haq/kebenaran, maka menerimalah/terjatuhlah kebanyakan dari manusia."

[ Syarah Kasyfu Syubhat 56 ]

Alih bahasa :
Akhukum fillah,
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia.

إتباع السنة

♨ Ittiba'us Sunnah

-----------------------
Mutiara Salaf

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى :

" إذا استثقلت السنة فاعلم أن في قلبك مرض "

{ شرح حلية طالب العلم }

••••••••••••○○○○●○○○○•••••••••••

Berkata Syaikh ibnu Utsaimin رحمه الله تعالى :

"Jika engkau menganggap berat/sulit sunnah, maka ketahuilah bahwa didalam qolbumu terdapat penyakit."

Syarah hilyah tholibil ilmi
✏ Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
-------------------------
إتبع السة

♨ Ittiba'us Sunnah

------------------------------
Silsilah Mutiara Hikmah
------------------------------
♨ LARANGAN MENDAHULUKAN PENDAPAT KITA DI ATAS KETETAPAN NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM.
------------------------------
Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh.

Alloh Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ) [سورة الحجرات : 2]
" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari." [Qs. Al-Hujurot: 2]

Jika suara mereka yang dikeraskan melebihi suara Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam menjadi sebab gugurnya amalan-amalan mereka maka bagaimana jika mendahulukan pendapat-pendapat mereka, akal pikiran mereka, perasaan-perasaan mereka, siasat-siasat mereka dan pengetahuan-pengetahuan mereka di atas apa yang dibawa oleh nya (shollallohu 'alaihi wa sallam) dan mengangkatnya di atas apa yang dibawanya (shollallohu 'alaihi wa sallam)?

Bukankah ini lebih pantas untuk menjadi penggugur amalan-amalan mereka?

I'lamul muwaqqi'in (juz 1 hal. 41 - Maktabah Syamilah)

__✏ Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu Abduh.
------------------------------
قال الإمام ابن القيِّم -رحمه الله-:

"وقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ}.

فإذا كان رَفْعُ أصواتِهِم فوقَ صوتِه سببًا لحبوطِ أعمالِهِم فكيف تقديمُ آرائِهِم وعقولِهِم وأذواقِهم وسياسَتِهم ومعارِفِهم على ما جاء بِه ورَفْعُها عليه؟

ألَيْسَ هذا أَوْلَى أنْ يكونَ مُحبِطًًا لأعمالهم؟".

[إعلام الموقِّعِين ج1 ص41 م الشاملة]
------------------------------
WA Ahlus Sunnah Karawang.

إتبع السة

♨ Ittiba'us Sunnah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
❤ Ensiklopedia Salaf

4 - وقال اﻹمام يحيى بن يحيى النيسابوري:

" الذب عن السنة أفضل من الجهاد "*

*) نقد المنطق ص (12).

                *➰➰➰*
Imam Yahya bin Yahya An-Naisaburi رحمه الله berkata:

" Membela sunnah lebih utama daripada jihad "

*) "Naqdul Mantiq" Halaman 12

               **
Dinukil dari kitab :

" منهج أهل السنة والجماعة في نقد الرجال والكتب والطوائف "

✏ Karya :

" فضيلة الشيخ ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله ورعاه "

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ensiklopedia Salaf

14 - وقال الشاطبي أيضاً -رحمه الله-*: "حين تكون الفرقة تدعو إلى ضلالتها وتزينها في قلوب العوام، ومن لا علم عنده، فإن ضرر هؤلاء على المسلمين كضرر إبليس، وهم من الشياطين الإنس، فلابد من التصريح بأنهم من أهل البدع والضلالة، ونسبتهم إلى الفرق إذا قامت له الشهود على أنهم منهم.
فمثل هؤلاء لابد من ذكرهم والتشريد بهم؛ ﻷن ما يعود على المسلمين من ضررهم -إذا تركوا- أعظم من الضرر الحاصل بذكرهم والتنفير عنهم
إذا كان سبب ترك التعيين الخوف من التفرق والعداوة، ولا شك أن التفرق بين المسلمين وبين الداعين للبدعة وحدهم إذا أقيم عليهم أسهل من التفرق بين المسلمين وبين الداعين ومن شايعهم واتبعهم، وإذا تعارض الضرران؛ فالمرتكب أخفهما وأسهلهما، وبعض الشر أهون من جميعه، كقطع اليد المتآكلة، إتلافها أسهل من إتلاف النفس، وهذا شأن الشرع أبداً، يطرح حكم اﻷخف وقاية من اﻷثقل.

*) الاعتصام: (2/228-229)

                **

✏ Dan Syatibi berkata juga -رحمه الله-:
"Ketika suatu kelompok menyeru kepada kesesatan mereka dan menghiasinya/memperindahnya kedalam hati-hati/jiwa-jiwa orang-orang awam serta kepada yang tidak memiliki ilmu, maka bahaya mereka terhadap kaum muslimin seperti bahayanya iblis, dan mereka adalah setan-setan yang yang berbentuk manusia/dari golongan manusia.
Maka harus dijelaskan bahwa mereka adalah ahli bid’ah dan sesat.
Dan penisbahan mereka terhadap golongan/kelompok (ahli bid’ah tersebut) itu bisa dibuktikan dengan adanya saksi-saksi/persaksian yang menunjukkan bahwa mereka termasuk bagian dari mereka.
Maka mereka ini (--penyeru bid’ah & kesesatan tadi) harus diterangkan keadaan mereka dan dibongkar aib-aib  mereka, dikarenakan akaibat/apa yang kembali kepada kaum muslimin dari bahaya mereka -jika dibiarkan- lebih besar dari bahaya dalam membongkar kesesatan serta menjauhi mereka.
Jika sebab membiarkan atau tidak membongkar kesesatan tersebut dikarenakan takut akan perpecahan dan permusuhan, maka tidak diragukan lagi bahwa perpecahan antara kaum muslimin dengan da'i penyeru bid’ah itu sendiri yang dibongkar kesesatannya tadi itu lebih ringan daripada perpecahan antara kaum muslimin dengan da'i dan pembela serta pengikut mereka.
Dan jika terdapat dua mudharat yang saling berbenturan, maka diambil mudharat yang paling ringan dan yang paling mudah dari/diantara keduanya.
Dan sebagian kejelekan itu lebih ringan daripada seluruhnya.
Seperti memotong tangan yang terkena penyakit yang menggerogoti tubuh/jika dibiarkan maka akan merembet/menjadi lebih besar (bahayanya), maka memotongnya ini lebih ringan (mudharat/masfadah/kerusakannya) daripada membunuh jiwa (manusia).
Dan ini adalah perkara syar'i yang berlaku untuk selamanya, mengambil/menetapkan hukum yang lebih ringan untuk menghindari atau sebagai perlindungan dari hukum yang lebih berat."

*) Al I'tisham: ( 2/228-229 ).

              **
Dinukil dari kitab  :

" منهج أهل السنة والجماعة في نقد الرجال والكتب والطوائف "

✏ Karya :

" فضيلة الشيخ ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله ورعاه "

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net


Ensiklopedia Salaf

اﻹمام أحمد بن حنبل :

" رحم الله عبدا قال بالحق و اتبع اﻷثر و تمسك بالسنة و اقتدى بالصالحين و جانب أهل البدع و ترك مجالستهم احتسابا و طلبا للقربت من الله."

{ طبقات الحنابلة ١\٣٦ }

✏ Al-Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله (berkata):

"Mudah-mudahan Allah merahmati seorang hamba yang berkata dengan kebenaran dan mengikuti atsar dan berpegang teguh dengan sunnah dan mengikuti jejak orang-orang yang shalih dan menjauhi ahli bid'ah dan meninggalkan untuk duduk-duduk atau bermajelis dengan mereka hanya mengharapkan ridho Allah سبحانه وتعالى dan untuk mencari pendekatan diri kepada-Nya."

{Thabaqatul Hanabilah 1/36}

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

Ensiklopedia Salaf

" إذا رأيت الرجل يسب علماء السنة فاعلم أنه مفتون وأن الحزبية متغلغلة في قلبه وإن تظاهر بأنه سني. "

العلامة مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله
من شريط أسئلة من بريطانيا عن الجهاد (١-١٠\١٧٠)
 
"Jika engkau melihat seseorang mencela/mencaci maki ulama sunnah, ketahuilah bahwa dia adalah orang yang terfitnah, dan hizbiyyah telah merasuk kedalam qolbunya, walaupun dia menampakkan bahwa dia adalah seorang sunni."

✏ Al-Alamah Muqbil bin Hady Al-Wadi'iy  رحمه الله

Dari kaset pertanyaan dari Britania (Inggris) tentang jihad (1-10/170)

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

Ensiklopedia Salaf

قال الإمام البخاري :

" أفضل المسلمين : رجل أحيا السنة من سنن الرسول صلى الله عليه وسلم قد أميتت، فاصبروا يا أصحاب السنن رحمكم الله
فإنكم أقل الناس. "

{ الجامع لأخلاق الراوي للخطيب البغدادي }

✏ Berkata Imam Al-Bukhori رحمه الله :

"Kaum muslimin yang paling afdhol/utama adalah orang yang menghidupkan sunnah dari sunnah-sunnah Rasul صلى الله عليه وسلم  yang telah mati/ditinggalkan.
Maka bersabarlah wahai para pengikut sunnah رحمكم الله ...!!!
Karena sesungguhnya engkau adalah manusia yang paling sedikit. "

{"Al-Jami' Li Akhlaqir-Rowi (wa Adabis-Sami')" Khotib Al-Baghdhady}

Alih bahasa :
Abdullah Waqii' Al-Jawy,
Saudi Arabia
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

Jumat, 03 Oktober 2014

Kumpulan Mutiara Salaf (30)

Hakekat Kedzaliman Penguasa

Sulaiman bin ‘Ali Ar-Rab’i rahimahullah meriwayatkan:
“Tatkala terjadi fitnah Ibnul Asy’ats, yang memberontak kepada Al-Hajjaj bin Yusuf, maka ‘Uqbah bin Abdul Ghafir, Abul Jauza` dan Abdullah bin Ghalib dari kalangan orang-orang yang seperti mereka (yakni kaum Khawarij), mendatangi Al-Hasan –yakni Al-Bashri–. 

Mereka berkata: ‘Wahai Abu Sa’id (yakni Al-Hasan)! Apa pendapatmu terhadap perbuatan memerangi orang yang melampaui batas ini (yaitu Al-Hajjaj), yang telah menumpahkan darah yang haram dan mengambil harta yang haram, meninggalkan shalat, dan berbuat ini dan itu…?’ Mereka lalu menyebutkan perbuatan-perbuatan Al-Hajjaj (1).

Al-Hasan Al-Bashri menjawab: ‘Aku berpendapat bahwa kalian tidak boleh memberontak kepadanya. Karena, bila ini adalah hukuman dari Allah maka kalian tidak akan bisa menolak hukuman Allah dengan pedang-pedang kalian. Dan bila ini merupakan ujian, hendaknya kalian bersabar sampai Allah menentukan hukumnya, dan Allah adalah Hakim yang terbaik.’
Mereka pun pergi dari sisi Al-Hasan dan mengatakan: ‘Apakah kita akan menaati al-’ilj (2) ini?’ Sedangkan mereka adalah orang Arab. Akhirnya mereka ikut memberontak bersama Ibnul Asy’ats, dan mereka semua terbunuh.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqat 7/163-164, Ad-Dulabi dalam Al-Kuna 2/121, dengan sanad yang shahih. Diringkas dari Fatawal ‘Ulama Al-Akabir, hal. 36-37)
---------------------------------

✏-Catatan Kaki:

1). Hisyam bin Hassan berkata: “Mereka menghitung yang dibunuh Al-Hajjaj dengan cara shabran (yaitu seseorang diikat lalu dibiarkan sampai mati, red) mencapai jumlah 120.000 orang!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2220) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih As-Sunan. Dinukil dari Fatawa Al-’Ulama Al-Akabir hal. 36)

2). Al-’Ilj adalah sebutan untuk seorang lelaki kafir dari kalangan ajam (non Arab) atau lainnya, sebagaimana disebutkan dalam An-Nihayah karya Ibnul Atsir (3/286). Maksudnya, ketika Al-Hasan Al-Bashri menyelisihi hawa nafsu orang-orang Khawarij ini dan mereka tidak mempunyai hujjah untuk membantahnya, fanatik kesukuan Arab mereka menyebabkan mereka mencela nasab beliau. Dan memang ayah dan ibu beliau t adalah hamba sahaya. (Dinukil dari Fatawa Al-’Ulama Al-Akabir hal. 37)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/laxkp2c

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

AKU BELAJAR SABAR DARI SEORANG ANAK KECIL

Fudhail bin Iyyadh rahimahullah berkata:
“Aku belajar sabar dari seorang anak kecil. Suatu kali ketika aku pergi ke masjid, aku menjumpai seorang ibu memukul anak laki-lakinya di dalam rumahnya. Maka anaknya tersebut berteriak lalu membuka pintu dan lari. Lalu ibunya tadi menutup pintu rumah. Ketika aku pulang dari masjid, aku jumpai anak tadi setelah menangis sebentar dia tertidur bersandar pada daun pintu dengan tujuan mengarapkan belas kasihan ibunya. Maka hati ibunya pun terenyuh dan membukakan pintu untuk anaknya tersebut.”

Lalu Fudhail menangis hingga jenggotnya basah dan beliau berkata: “Subhanallah, seandainya seorang hamba bersabar di depan pintu Allah Azza wa Jalla, pasti Allah akan membukakan pintu untuknya.”

Abud Darda' radhiyallahu anhu berkata: ”Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena sesungguhnya siapa yang banyak mengetuk pintu maka tidak lama lagi akan dibukakan pintu itu untuknya.”

Sumber artikel:
http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=53743

✏-Alih Bahasa: Abu Almass
Kamis, 8 Dzulhijjah 1435 H

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

KEJELEKAN-KEJELEKAN HARTA

✔Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: ‘Isa bin Maryam  bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada harta terdapat penyakit yang sangat banyak.”
Beliau ditanya: “Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?”
Beliau menjawab: “Tidak ditunaikan haknya.”
Mereka menukas: “Jika haknya sudah ditunaikan?”
Beliau menjawab: “Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya.”
Mereka menimpali:  “Jika selamat dari bangga dan sombong?”
Beliau menjawab:  “Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah (mengingat Allah l).” (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

Beliau rahimahullah berkata:  “Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah subhanahu wa ta'ala pada hari kiamat.”
Beliau ditanya:  “Apa yang dimaksud dengan kelebihan dunia?”
Beliau menjawab: “Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang; dan engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki. (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 76)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/oy5g95u

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MENUNTUT ILMU

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Apabila seseorang menuntut ilmu, maka hal itu akan terlihat pada khusyu’nya, pandangannya, lisannya, tangannya, shalatnya, dan zuhudnya.
Apabila seseorang meraih salah satu bab ilmu lalu dia amalkan, hal itu lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.”

Sahnun bin Sa’id rahimahullah berkata:
“Orang yang paling berani berfatwa adalah yang paling sedikit ilmunya. (Yakni) seseorang memiliki ilmu satu bab saja, lalu dia menyangka bahwa seluruh kebenaran ada pada dirinya.”

Az-Zuhri rahimahullah berkata kepada Yunus bin Yazid:
“Janganlah engkau merasa sombong terhadap ilmu, karena ilmu adalah lembah-lembah. Yang manapun engkau tempuh, dia akan mengalahkanmu sebelum engkau mencapainya. Akan tetapi ambillah ilmu itu bersamaan dengan perjalanan siang dan malam. Dan janganlah engkau mengambil ilmu sekaligus, karena barangsiapa yang mengambil ilmu sekaligus, akan hilang pula sekaligus. Akan tetapi ambillah ilmu sedikit demi sedikit, bersamaan dengan perjalanan siang dan malam.” (Diambil dari ‘Awa`iq Ath-Thalab, hal. 54-55, karya Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/qzjmfmw

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MENJAUHI KECINTAAN TERHADAP KEKUASAAN

✏- Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menulis surat kepada ‘Abbad bin ‘Abbad Al-Khawwash: Amma ba’du. Sesungguhnya engkau hidup di zaman yang para shahabat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berlindung agar tidak menemui zaman itu. Padahal mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki dan mereka memiliki kekokohan yang tidak kita miliki.

Maka bagaimana ketika kita mendapati zaman ini dengan sedikitnya ilmu kita, sedikitnya kesabaran kita, sedikitnya penolong dalam kebaikan, rusaknya manusia, dan kotoran dunia?

Oleh karena itu, hendaknya engkau berpegang pada generasi awal, dan peganglah erat-erat. Hendaknya engkau mempunyai sifat khumul (tidak ingin disebut dan dikenal), karena sesungguhnya sekarang adalah zaman khumul. Hendaknya engkau ber-uzlah dan sedikit bergaul dengan manusia. Karena dahulu bila manusia bertemu, mereka saling mengambil manfaat.

Adapun hari ini, yang seperti itu sudah hilang. Dan keselamatan adalah dengan meninggalkan mereka, menurut pendapat kami. Jauhilah umara, janganlah mendekati mereka dan bergaul dengan mereka sedikit pun. Hati-hatilah, jangan sampai engkau terpedaya, sehingga dikatakan kepadamu: “Engkau bisa memberi pembelaan, dan menghindari atau menolak kedzaliman.”

Sesungguhnya itu adalah tipu daya Iblis. Yang seperti ini hanyalah dipakai oleh qurra (ulama) yang jahat sebagai tangga. Dahulu dikatakan: “Takutlah kalian dari fitnah ahli ibadah yang bodoh dan fitnah alim yang jahat, karena fitnah keduanya merupakan fitnah bagi setiap orang.”

Adapun masalah dan fatwa yang engkau dapatkan, ambillah dan janganlah melampaui mereka dalam hal itu. Dan berhati-hatilah engkau agar tidak seperti seseorang yang suka bila perkataannya diamalkan, disebarkan, atau didengarkan; yang bila hal itu semua tidak didapatnya, akan diketahui apa yang ada dalam dirinya.

Dan jauhilah kecintaan terhadap kekuasaan, karena sesungguhnya ada seseorang yang lebih cinta kekuasaan daripada emas dan perak. Padahal cinta kekuasaan merupakan pintu yang rumit, yang tidak bisa diketahui kecuali oleh ulama yang benar-benar ahli. Maka periksalah dirimu dan beramallah dengan niat. Ketahuilah, sesungguhnya sudah dekat kepada manusia suatu perkara, di mana seseorang lebih menginginkan kematian (daripada menemui perkara itu). Wassalam.
(diambil dari Min Washaya As-Salaf, halaman.19-25)

Sumber, Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/q2kqtqp

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kamis, 02 Oktober 2014

Kumpulan Mutiara Salaf (29)

Cinta Dunia Merupakan Dosa Besar

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Tidaklah aku merasa heran terhadap sesuatu seperti keherananku atas orang yang tidak menganggap cinta dunia sebagai bagian dari dosa besar.

Demi Allah! Sungguh, mencintainya benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya?”
(Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 138)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
“Telah sampai kepadaku bahwasanya akan datang satu masa kepada umat manusia di mana pada masa itu hati-hati manusia dipenuhi oleh kecintaan terhadap dunia, sehingga hati-hati tersebut tidak dapat dimasuki rasa takut terhadap Allah subhanahu wa ta'ala.
Dan itu dapat engkau ketahui apabila engkau memenuhi sebuah kantong kulit dengan sesuatu hingga penuh, kemudian engkau bermaksud memasukkan barang lain ke dalamnya namun engkau tidak mendapati tempat untuknya.”

Beliau -rahimahullah-berkata pula:
“Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari (cara) penghormatannya kepada ahli dunia. (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, halaman. 120)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/nds4895

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

CIRI-CIRI AHLUSSUNNAH

Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah mengatakan:
“Barangsiapa yang tidak mempersaksikan terhadap orang yang dipersaksikan masuk surga oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam maka dia adalah pengikut bid’ah dan kesesatan. Dia telah ragu terhadap apa yang diucapkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam.

Al-Imam Malik bin Anas berkata: ‘Barangsiapa yang berpegang teguh dengan As-Sunnah, dan para shahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam selamat dari (cercaan)nya, lalu dia meninggal, maka dia bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih, meskipun sedikit amalnya.’

Bisyr bin Al-Harits berkata: ‘As-Sunnah adalah Islam, dan Islam adalah As-Sunnah.’

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: ‘Bila engkau melihat seorang Ahlus Sunnah, seakan-akan engkau melihat salah seorang shahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Dan bila engkau melihat seorang ahli bid’ah, seakan-akan engkau melihat salah seorang kaum munafik.’

Yunus bin ‘Ubaid berkata: ‘Adalah mengagumkan ada seseorang pada hari ini yang mendakwahkan As-Sunnah. Dan lebih mengagumkan lagi adalah orang yang menerima dakwah As-Sunnah’.” (Diambil dari Irsyadus Sari fi Syarhis Sunnah lil Barbahari, hal. 248)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/kvkskv4

WhatsApp Salafy Indoonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

TAKUTLAH KEPADA ALLAH

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu:
Kalian dalam perjalanan malam dan siang, umur-umur berkurang, amal-amal tercatat, serta kematian datang dengan tiba-tiba. Siapa yang menanam kebaikan akan segera menuai kesenangan dan siapa yang menanam kejelekan akan segera menuai penyesalan. Setiap penanam mendapatkan apa yang ditanam. Yang telah menjadi bagiannya tidak akan meleset darinya, dan ketamakan tidak akan meraih apa yang tidak ditakdirkan. Siapa yang memberi kebaikan maka Allah subhanahu wa ta'ala akan memberinya kebaikan dan siapa yang menjaga diri dari kejelekan maka Allah subhanahu wa ta'ala akan menjaganya. Orang-orang bertakwa adalah pemimpin, ahli fiqih adalah penuntun, dan duduk bersama mereka adalah tambahan (ilmu). (Siyar A’lamin Nubala, 1/497)

Abu ‘Ubaidah rahimahullah:
Ketahuilah, berapa banyak orang memutihkan baju tetapi mengotori agama. Ketahuilah berapa banyak manusia memuliakan diri sendiri padahal ia hina. Gantilah amal-amal jelek yang telah lewat dengan amal-amal baik sekarang! (Siyar A’lamin Nubala, 1/18)

Qubaishah bin Qais al-’Anbari rahimahullah berkata: Adalah adh-Dhahhak bin Muzahim, bila datang waktu sore selalu menangis. Lalu ia ditanya, “Mengapa kamu menangis?” Ia menjawab, “Aku tidak tahu apakah amalku naik (diterima di sisi Allah subhanahu wa ta'ala) pada hari ini.” (Shifatush Shafwah, 4/150)

Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata: Kami pernah bepergian bersama Ibnul Mubarak dan banyak pertanyaan yang terlintas di benakku terhadap dirinya, apa yang menyebabkan lelaki ini dihormati hingga ia sangat populer di kalangan manusia? Jika ia shalat, puasa, jihad dan haji; kami juga shalat, puasa, jihad dan haji. Pada suatu perjalanan menuju Syam pada malam hari, kami makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu mati. Seseorang berdiri mengambil lampu dan menyalakannya. Sejenak ia diam kemudian lampu menyala. Sesaat kemudian aku melihat wajah Ibnul Mubarak dan janggutnya basah dengan air mata. Batinku berkata, “Karena rasa takut itulah lelaki ini dihormati melebihi kami, barangkali ketika lampu dibawa, ia berjalan menuju kegelapan dan mengingat hari kiamat lalu menangis.” (Shifatush Shafwah, 4/140)

Ibnu Syaudzab rahimahullah:
Ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu wafat, dia (Ibnu Syaudzab  t) menangis. Ia ditanya mengapa menangis, ia menjawab, “Jauhnya perjalanan akhirat, sedikitnya bekal, dan perjalanan menanjak. Orang yang jatuh ke dalamnya bisa jadi jatuh ke dalam surga atau ke dalam neraka.” (Siyar A’lamin Nubala, 1/694)

(Dipetik dari Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hlm. 17—18)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/k5xgjp5

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

KEUTAMAAN ILMU

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah berkata: “Para ulama di muka bumi seperti bintang-bintang di langit. Bila bintang-bintang itu tampak, maka orang-orang mengambil petunjuk dengan bintang-bintang itu. Dan bila bintang-bintang itu tidak terlihat oleh mereka, mereka menjadi bingung.”

Abul Aswad Ad-Duali rahimahullah berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia dari ilmu. Para raja adalah hakim atas manusia sedangkan para ulama adalah hakim atas raja-raja.”

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata:  “Akan lahir dari ilmu: kemuliaan walaupun orangnya hina, kekuatan walaupun orangnya lemah, kedekatan walaupun orangnya jauh, kekayaan walaupun orangnya fakir, dan kewibawaan walaupun orangnya tawadhu’.”

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta'ala adalah orang yang kedudukannya berada di antara Allah dan hamba-hamba-Nya. Mereka adalah para Nabi dan para ulama.”

Diambil dari Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim fi Adabil ‘Alim wal Muta’allim, Ibnu Jamaah Al-Kinani.

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/mrkv3yz

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Selasa, 30 September 2014

Kumpulan Mutiara Salaf (27)

Apakah Sedekah Yang Paling Mulia?

Berkata Abu Darda - semoga Allah meridhai beliau- :

" Tidaklah seseorang itu bersedekah  dengan yang lebih mulia dibandingkan nasihat yang dia sampaikan kepada sekelompok orang, lalu sekelompok orang itu membubarkan diri. Dan Allah telah memberikan manfaat pada mereka dengan nasihatnya."

[Fatawa Ibnu Taimiyah, 14/212]

Alih bahasa: Abu Muhammad Hasan

افضل الصدقة، ماهي؟

قال أبو الدرداء رضي الله عنه :

"ما تصدق رجل بصدقة
أفضل من موعظة يعظ بها جماعة فيتفرقون وقد نفعهم الله بها"

[ فتاوى ابن تيمية (٢١٢/١٤) ]

WA Salafy Lintas Negara
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

HAYATUS SALAF

MEMERANGI HAWA NAFSU

قيل لجعفر المرتعش :
إن فلانا يمشي علی الماء . فقال: إن من مكنه الله من مخالفة هواه فهو أعظم من المشي علی الماء

Telah dikatakan kepada Ja'far al Murta'isy:
"Sesungguhnya Si fulan memiliki kemampuan untuk bisa berjalan di atas air."

Maka beliau berkata:
"Sesungguhnya barangsiapa yang diberikan oleh Allah kemampuan untuk menyelisihi hawa nafsunya maka itu lebih mena'jubkan daripada berjalan di atas air"

------------
Sumber,
Kitab Hayãtus Salaf bainal Qowli wal 'Amal
Penyusun: Ahmad bin Nashir at Thiyar
Pustaka: Dar Ibnil Jauziy

http://ktibat.com/showsubject-حياة_السلف_بين_القول_والعمل-1405.html
----------

Alih bahasa: Abu Dawud al Pasimiy

WA Salafy Lintas Negara
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Berkata al-Fudhail bin ‘Iyadh –rahimahullah—

مَنْ أَحَبَّ صَاحِبَ بِدْعَةٍ، أَحبَطَ اللهُ عَمَلَهُ، وَأَخْرَجَ نُوْرَ الإِسْلاَمِ مِنْ قَلْبِهِ، لاَ يَرْتَفِعُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ إِلَى اللهِ عَمَلٌ، نَظَرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجلُو القَلْبَ، وَنَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ يُورِثُ العَمَى، مَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ لَمْ يُعْطَ الحِكْمَةَ

Barangsiapa yang mencintai ahli bid’ah, niscaya Allah gugurkan amalannya dan Allah keluarkan cahaya Islam dari dalam kalbunya. Sungguh tidak ada amalan ahli bid’ah yang naik menuju Allah. Perhatian seorang mukmin kepada mukmin lainnya membuat kalbu menjadi tinggi. Dan perhatian seseorang kepada ahli bid’ah mewariskan kebutaan. Siapa yang bermajlis dengan ahli bid’ah, tidak akan dikaruniai hikmah

Siyar A’laamin Nubala’

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MUKMIN CINTA AL-HAK (KEBENARAN)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahmatullah ‘alaihi berkata, "Seorang mukmin, kalimat al-hak (kebenaran) membuatnya ridha baik mendukung maupun menggugatnya sementara kalimat batil membuatnya benci baik mendukung maupun menggugatnya karena Allah Tabaraka wa Ta'ala mencintai al-hak dan kejujuran serta membenci kedustaan dan kezhaliman.

Jika dikatakan kepadanya, ‘Al-Hak, kejujuran, dan keadilan yang Allah Ta'ala cintai, ia pun mencintainya walaupun menyelisihi hawa nafsunya. Karena hawanya (keinginannya) benar-benar mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa'ala alihi wasallam.

Jika dikatakan kepadanya, ‘Kezhaliman dan kebatilan, Allah membencinya, dia pun membencinya walaupun sesuai dengan hawa nafsunya." [Majmu' Fatawa 10/600]

وَالْمُؤْمِنُ تُرْضِيهِ كَلِمَةُ الْحَقِّ لَهُ وَعَلَيْهِ، وَتُغْضِبُهُ كَلِمَةُ الْبَاطِلِ لَهُ وَعَلَيْهِ؛ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ الْحَقَّ وَالصِّدْقَ وَالْعَدْلَ وَيُبْغِضُ الْكَذِبَ وَالظُّلْمَ. فَإِذَا قِيلَ: الْحَقُّ وَالصِّدْقُ وَالْعَدْلُ الَّذِي يُحِبُّهُ اللَّهُ أُحِبُّهُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ مُخَالَفَةُ هَوَاهُ. لِأَنَّ هَوَاهُ قَدْ صَارَ تَبَعًا لِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ. وَإِذَا قِيلَ: الظُّلْمُ وَالْكَذِبُ فَاَللَّهُ يُبْغِضُهُ وَالْمُؤْمِنُ يُبْغِضُهُ وَلَوْ وَافَقَ هَوَاهُ.
مجموع الفتاوى:
(10/600)

Faedah dari : abu bakr jombang

WA thullab fyusy & SLN
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

قال الفضيل بن عياض رحمه الله :

إن لله عبادا
تحيا بهم البلاد
وهم أصحاب السنة .

[ الإبانة لابن بطة (١٧٥/١) ]

Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata

Sesungguhnya Allah memiliki para hamba, sebuah negri akan makmur dengan sebab mereka. Merekalah ahlussunnah.

(Al-Ibanah karya Ibnu Battah:1/175)

قال علي رضي الله عنه :

الناس ثلاثة :
● عالم رباني
● ومتعلم على سبيل نجاة
○ وهمج رعاع غوغاء
أتباع كل ناعق
يميلون مع كل ريح .

[ الفقيه والمتفقه (1/94) ]

Ali bin Abi Thalib berkata

Manusia itu ada tiga
•Alim Rabbani
•Seorang yang mempelajari agama di atas jalan keselamatan.
•Seorang yang liar, rendahan, jelata, pengikut semua...., yang condong bersama setiap angin yang berhembus.

(Al-Faqih wal Mutafaqqih:1/94)

قال الخطيب البغدادي رحمه الله :

وكثرة المزاح والضحك :

■ تضع من القدر
■ وتزيل المروءة .

[ الجامع لأخلاق الراوي (1/156) ]

Al-Khatib al-Baghdadi --rahimahullah-- berkata

Banyak bercanda dan tertawa akan
•Merendahkan kedudukan
•dan menghilangkan kewibawaan.

(Al-Jami' Li Akhlaqir Rawi:1/156)

قال أبو الدرداء رضي الله عنه :

● كن عالما
● أو متعلما
● أو محبا
● أو متبعا

○ ولا تكن الخامس فتهلك .

قال الحسن :
الخامس المبتدع .

[ سنن البيهقي (277) ]

Abud Darda' --radhiyallahu 'anhu-- berkata

•Jadilah seorang alim
•Atau thalibul ilmi
•Atau yang mencintai ilmu, alim, dan thalibul ilmi
•Atau yang mengikuti mereka.
Dan janganlah menjadi yang kelima, karena engkau akan binasa.

Al-Hasan berkata, "Yang kelima adalah ahli bid'ah.
(Sunan al-Baihaqi:277)

قال عبد الله بن مسعود رضي الله عنه :

ليس العلم بكثرة الرواية

ولكن العلم :
الخشية .

[ صفة الصفوة (1/190) ]

Abdullah bin Mas'ud --radhiyallahu 'anhu-- berkata,

Bukanlah ilmu dengan banyaknya riwayat. Yang namanya ilmu adalah rasa takut kepada Allah.

(Sifatush Shafwah:1/190)

قال عمر بن عبد العزيز رحمه الله :

من عمل بغير علم :
كان ما يفسد
أكثر مما يصلح .

[ الزهد للإمام أحمد (506) ]

Umar bin Abdil Aziz berkata,

Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu, niscaya yang ia rusak akan lebih banyak ketimbang yang diperbaiki.

(Az-Zuhd karya Imam Ahmad:506)

قال الله تعالى :

{ اتقوا الله حق تقاته }

قال ابن مسعود رضي الله عنه :

■ أن يطاع فلا يعصى
■ وأن يشكر فلا يُكفر
■ وأن يذكر فلا ينسى .

[ الرقاق لابن المبارك (273) ]

Allah berfirman
اتقوا الله حق تقاته
Bertakwalah kalian dengan sebenar-benarnya takwa

Ibnu Mas'ud --radhiyallahu 'anhu-- menafsirkan,

•Agar ditaati, bukan dimaksiati
•Agar disyukuri, bukan dikufuri
•Agar dingat-ingat, bukan dilupakan

(Ar-Riqaq karya Abdullah bin Mubarak:273)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

[Ibnu Syihab --rahimahullah-- berkata,

الزهد في الدنيا أن لا يغلب الحرام صبرك، ولا الحلال شكرك

Zuhud terhadap dunia adalah agar sebuah keharaman tidak mengalahkan kesabaranmu dan sebuah kehalalan tidak mengalahkan rasa syukurmu

Jami' Bayanil 'Ilmi Wa Fadhlihi 1/584.

WA Salafy Lintas Negara

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sabtu, 27 September 2014

Kumpulan Mutiara Salaf (25)

TERCELANYA TAKLID

Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.”

Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Sebab, sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”
 
Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka dari itu, perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya, tinggalkanlah.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Akan tetapi, ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

Sumber:  Majalah Asy Syariah || http://2.ly/zftw

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PERMATA SALAF

Utbah bin Ghazwan mengatakan, “Sesungguhnya, dunia telah mengumumkan kepergian dan keterputusannya. Dia berbalik dengan cepat. Tidak ada yang tersisa selain seukuran air yang tertinggal di dasar gelas yang akan diminum oleh pemiliknya. Sesungguhnya kalian akan berpindah ke satu negeri yang abadi. Berpindahlah dengan membawa barang terbaik yang kalian miliki sekarang. Sungguh telah disebutkan kepada kami bahwa sebuah batu dilempar dari bibir Jahannam lalu melayang jatuh selama tujuh puluh tahun tanpa menyentuh dasarnya.”
(Min Washaya as-Salaf halaman. 37—38)

Sumber: Majalah Asy Syariah: || http://goo.gl/vLhfpc

WhatsApp Salafy Indonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PINTU-PINTU KERUSAKAN

Dzun Nun Al-Mishri rahimahullah ( seorang ulama setelah masa tabi’ut tabi’in) berkata:
“Bukti seseorang cinta kepada Allah subhanahu wa ta'ala adalah cinta kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, juga cinta kepada akhlaknya, amalan-amalannya, perintah-perintahnya serta Sunnah-sunnahnya (ajaran beliau).”

Beliau juga berkata:
“Sesungguhnya kerusakan itu menyusupi hamba Allah subhanahu wa ta'ala pada enam perkara:

1. Lemahnya niat akan amalan akhirat.
2. Mereka menjadikan tubuh mereka sebagai jaminan (sarana) untuk (melampiaskan) syahwat mereka.
3. Panjangnya angan-angan mengalahkan harapan.
4. Lebih mendahulukan keridhaan manusia daripada keridhaan Allah subhanahu wa ta'ala
5. Mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan Sunnah (ajaran) Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam
6. Menjadikan ketergelinciran (kekeliruan) Ulama Salaf sebagai dalil baginya, lalu menyembunyikan keutamaan mereka.”

Sumber: Majalah Asy Syariah: || http://2.ly/zhZg

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEWASPADAI SIKAP SOMBONG KARENA ILMU

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu dapat membuat sombong sebagaimana harta.”

Masruq rahimahullah berkata, “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ilmu tersebut membuahkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Sebaliknya, cukuplah seseorang dianggap bodoh tatkala membanggakan diri dengan ilmunya.”

Abu Wahb al-Marwazi rahimahullah berkata, “Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang kesombongan. Beliau menjawab, ‘(Kesombongan) adalah engkau meremehkan dan merendahkan manusia.’ Kemudian aku bertanya kepadanya mengenai ujub (bangga diri). Beliau pun menjawab, ‘(Ujub) adalah engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu yang tidak ada pada selainmu’.”

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Di antara adab seorang alim yang paling utama adalah bersikap rendah hati (tawadhu’) dan tidak ujub, yakni merasa sombong, bangga, dan terkagum-kagum terhadap ilmu yang dimilikinya. Adab berikutnya, ia berusaha menjauhi kecintaan akan kepemimpinan dengan sebab ilmunya.”

Al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, fondasi dari suatu kedudukan adalah senang tersebarnya reputasi, cinta ketenaran, dan kemasyhuran, padahal itu merupakan bahaya yang sangat besar. Adapun keselamatan itu terdapat pada lawannya, yakni menjauhi ketenaran.”

Para ulama tidak bertujuan mencari kemasyhuran. Tidak pula mereka menampakkan dan menawarkan diri untuk tujuan tersebut. Mereka juga tidak menempuh sebab-sebab yang menyampaikan ke arah sana. Apabila ternyata kemasyhuran tersebut datang dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala, mereka berusaha melarikan diri darinya. Mereka lebih mengutamakan ketidaktenaran.
(an-Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi halaman. 185—186)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://2.ly/zh4N

WhatsApp Salafy Indonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

HAKIKAT KEINDAHAN

Suatu hari, seseorang bertanya kepada al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, pakaian apakah yang paling Anda sukai?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Yang paling tebal, paling kasar, dan yang paling rendah di mata manusia.”

Si penanya berkata, “Bukankah ada riwayat bahwasanya ‘Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan’?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku telah menganut tidak hanya satu mazhab. Seandainya keindahan di sisi Allah subhanahu wa ta'ala adalah pakaian, niscaya orang-orang fajir (jahat) lebih memiliki kedudukan di sisi-Nya daripada orang-orang yang baik. Hanya saja, keindahan itu adalah mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan melaksanakan amalan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti yang baik. Seperti itu pula hadits sahih yang diriwayatkan dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”

(Mawa’izh lil Imam al-Hasan al-Bashri halaman. 83)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://2.ly/zh3C

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wajib Menolak Kemungkaran Dengan Hati Apapun Kondisinya

Diriwayatkan dari Abu Juhaifah rahimahullah beliau mengatakan:
Ali radhiyallahu 'anhu berkata:

“Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diharuskan atas kalian dari urusan jihad adalah berjihad dengan tangan-tangan kalian, kemudian berjihad dengan lisan-lisan kalian, kemudian berjihad dengan hati-hati kalian. Maka barangsiapa yang hatinya tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar, hati itu akan terbalik. Bagian atasnya menjadi bagian bawahnya.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu mendengar seseorang berkata: “Binasalah orang yang tidak memerintahkan yang ma’ruf dan tidak mencegah yang mungkar.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu  menimpali: “Binasalah siapa saja yang hatinya tidak dapat mengenali mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar.”

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan: “Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu  mengisyaratkan bahwa mengetahui perkara yang ma’ruf dan yang mungkar dengan hati merupakan perkara yang wajib. Tidak gugur kewajiban tersebut dari seorangpun. Maka barangsiapa yang tidak dapat mengenalinya, dia akan binasa. Adapun mengingkari kemungkaran dengan lisan dan tangan, kewajiban tersebut hanyalah disesuaikan dengan kemampuan."

Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu juga mengatakan: ‘Hampir-hampir saja orang yang hidup di antara kalian akan menyaksikan kemungkaran yang tidak mampu untuk diingkarinya, hanya saja Allah mengetahui dari hati orang tersebut bahwa dia sangat membenci kemungkaran itu’.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 258-259)

Sumber Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/pybmus5

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

KAIDAH MEMPERLAKUKAN ORANG LAIN

Al-Hakim rahimahullah berkata, “Ketulusan dalam hal bergaul dengan makhluk adalah engkau senang apabila mereka memperlakukanmu sebagaimana engkau memperlakukan mereka.”

Abu Bakr bin ‘Ayyasy rahimahullah mengatakan, “Raihlah keutamaan dengan cara engkau mengutamakan orang lain. Sesungguhnya, manusia memperlakukan dirimu sebagaimana engkau memperlakukan mereka.”

Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, “Ada tiga hal yang akan membuat kecintaan saudaramu kepadamu menjadi tulus: engkau mengucapkan salam ketika bertemu dengannya, melapangkan majelis untuknya, dan memanggilnya dengan nama yang paling disenanginya.”
(Adabul ‘Isyrah wa Dzikru ash-Shuhbah wal Ukhuwwah, Abul Barakat al-Ghazzi)

Sumber Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/lw4xgju

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MERAIH MANISNYA IMAN

Abdullah bin al-Abbas bin Abdil Muththalib  berkata,

مَنْ أَحَبَّ فِي اللهِ وَأَبْغَضَ فِي اللهِ وَوَالَى فِي اللهِ وَعَادَى فِي اللهِ، فَإِنَّمَا تَنَالُ وِلَايَةَ اللهُ بِذَلِكَ، وَلَنْ يَجِدَ عَبْدٌ طَعْمَ الْإِيْمَانِ-وَإِنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ وَصَوْمُهُ-حَتَّى يَكُونَ كَذَلِكَ، وَقَدْ صَارَتْ عَامَّةُ مُؤَاخَاةِ النَّاسِ عَلَى أَمْرِ الدُّنْيَا، وَذَلِكَ لاَ يُجْدِي عَلَى أَهْلِهِ شَيْئًا

“Barang siapa mencintai karena Allah subhanahu wa ta'ala, membenci karena Allah subhanahu wa ta'ala, membela karena Allah subhanahu wa ta'ala dan memusuhi karena Allah subhanahu wa ta'ala, dengan itu ia peroleh kecintaan Allah subhanahu wa ta'ala.

Seorang hamba juga tidak akan mendapatkan manisnya iman meskipun banyak shalat dan puasanya hingga ia memiliki sifat-sifat itu.

Sungguh, kebanyakan persaudaraan manusia adalah karena urusan dunia (bukan lagi karena Allah subhanahu wa ta'ala), dan yang seperti itu tidaklah memberi manfaat sedikit pun pada dirinya.”
(Riwayat Abu Dawud, “Kitab as-Sunnah” no. 4681, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 380)

Sumber Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/obutams

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MENJAUHI PERDEBATAN DALAM HAL AGAMA

Ma’n bin Isa berkata, “Suatu hari, (al-Imam) Malik bin Anas rahimahullah keluar dari masjid dalam keadaan bersandar pada tanganku. Ada seorang lelaki -yang dipanggil Abul Huriyah, yang tertuduh berpemahaman Murji’ah- menyusulnya dan mengatakan, “Wahai hamba Allah, dengarkanlah sesuatu yang akan aku sampaikan kepadamu. Aku akan beradu hujah denganmu dan memberitahumu tentang pemikiranku.”

Al-Imam Malik rahimahullah bertanya, “Bagaimana jika engkau mengalahkanku (dalam perdebatan)?”

Dia menjawab, “Kalau aku mengalahkanmu, engkau harus mengikuti pemikiranku.”

Al-Imam Malik rahimahullah bertanya lagi, “Kalau ada orang lain yang kemudian mendebat lantas mengalahkan kita?”

Dia menjawab, “Kita ikuti dia.”

Al-Imam Malik rahimahullah menukas,

يَا عَبْدَ اللهِ، بَعَثَ اللهُ مُحَمَّدًا بِدِيْنٍ وَاحِدٍ، وَأَرَاكَ تَنْتَقِلُ مِنْ دِيْنٍ إِلَى دِينٍ

“Wahai hamba Allah, Allah Subhanahu wata’ala mengutus Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan satu agama. Namun, aku lihat engkau berpindah dari satu agama ke agama yang lain.”
(asy-Syari’ah, al-Ajurri, hlm. 62). (Catatan kaki al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilatil Manahij al-Jadidah hlm. 78, cet. Maktabah al-Huda al-Muhammadi)

Soumber: Majalah Asy Syariah ||  http://tinyurl.com/q6ksu75

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

HAFALKAN AL-QUR'AN TERLEBIH DAHULU

Abu Umar bin Abdil Barr rahimahullah berkata:

“Menuntut ilmu itu ada tahapan-tahapannya. Ada marhalah-marhalah dan tingkatan-tingkatannya. Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk melanggar/melampaui urutan-urutan tersebut. Barangsiapa secara sekaligus melanggarnya, berarti telah melanggar jalan yang telah ditempuh oleh as-salafus shalih rahimahumullah. Dan barangsiapa melanggar jalan yang mereka tempuh secara sengaja, maka dia telah salah jalan, dan siapa saja yang melanggarnya karena sebab ijtihad maka dia telah tergelincir.

Ilmu yang pertama kali dipelajari adalah menghafal Kitabullah serta berusaha memahaminya. Segala hal yang dapat membantu dalam memahaminya juga merupakan suatu kewajiban untuk dipelajari bersamaan dengannya. Saya tidak mengatakan bahwa wajib untuk menghafal keseluruhannya. Namun saya katakan bahwasanya hal itu adalah kewajiban yang mesti bagi orang yang ingin untuk menjadi seorang yang alim, dan bukan termasuk dari bab kewajiban yang diharuskan.”

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah berkata: “Semestinya seorang penuntut ilmu memulai dengan menghafal Kitabullah, di mana itu merupakan ilmu yang paling mulia dan yang paling utama untuk didahulukan dan dikedepankan.”

Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang pertama kali dimulai adalah menghafal Al-Qur’an yang mulia, di mana itu adalah ilmu yang terpenting di antara ilmu-ilmu yang ada. Adalah para salaf dahulu tidak mengajarkan ilmu-ilmu hadits dan fiqih kecuali kepada orang yang telah menghafal Al-Qur’an. Apabila telah menghafalnya, hendaklah waspada dari menyibukkan diri dengan ilmu hadits dan fiqih serta selain keduanya dengan kesibukan yang dapat menyebabkan lupa terhadap sesuatu dari Al-Qur’an tersebut, atau waspadalah dari hal-hal yang dapat menyeret pada kelalaian terhadapnya (Al-Qur’an). (An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi hal. 60-61)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/khf4xdl

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

WASIAT QAIS BIN ‘ASHIM KEPADA PUTRA-PUTRANYA

Beliau berkata:
“Bertakwalah kalian kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan jadikanlah orang tertua di antara kalian sebagai pemimpin. Sungguh apabila suatu kaum mengangkat orang tertua mereka sebagai pemimpin niscaya pemimpin tersebut akan menggantikan peran orang tua mereka dalam memberikan/melakukan yang terbaik bagi mereka. Jikalau orang termudanya yang dijadikan sebagai pemimpin yang ditaati tentu akan menyebabkan berkurangnya penghormatan terhadap orang-orang tuanya, berakibat pada pembodohan mereka, peremehan, serta sikap tidak merasa butuh terhadap orang-orang tua tersebut.

Hendaklah kalian memiliki harta dan mengembangkannya melalui pekerjaan/usaha yang baik, karena hal itu akan menjadikan kalian memiliki kemuliaan serta kedudukan yang tinggi serta mencukupkan kalian dari meminta-minta. Hati-hatilah kalian, jangan sampai mengemis-ngemis kepada manusia, karena hal itu merupakan batasan terakhir dari usaha seseorang. Jika aku mati, janganlah kalian melakukan niyahah (meratap), sebab Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam  tidaklah diniyahahi. Jika aku mati, kuburkanlah di tanah yang tidak diketahui oleh Bani Bakr bin Wail, karena di masa jahiliah dulu, aku pernah menyerang mereka secara tiba-tiba pada saat mereka lengah.”. (Syarh Shahih Al-Adabul Mufrad hal. 475)

Sumber Majalah Asy Syariah ||  http://tinyurl.com/ovcm76k

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

POKOK HIKMAH ADALAH DIAM

Muhammad bin ‘Ajlan rahimahullah mengatakan,

“Ucapan manusia ada empat macam: (1) berzikir mengingat Allah subhanahu wa ta'ala, (2) membaca al-Qur’an, (3) bertanya tentang sebuah ilmu lalu ia diberi tahu, dan (4) berkata tentang urusan dunia yang diperlukan.

Seseorang berkata kepada Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu ‘Berilah aku wasiat!’
Salman mengatakan, ‘Engkau jangan berbicara.’
Lelaki itu menjawab, ‘Orang yang hidup di tengah-tengah manusia tidak mungkin tidak berbicara.’
Salman menukas, ‘Jika demikian, kalau engkau berbicara, bicaralah yang benar. Kalau tidak, diamlah.’

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu mengatakan, ‘Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama selain lisan.’

Wahb bin Munabbih rahimahullah mengatakan, ‘Para ahli hikmah bersepakat bahwa pokok hikmah adalah diam’.” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam halaman 178)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/ltpmq7o

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

URGENSI HARTA DAN KESEHATAN DALAM MEMBENTENGI AGAMA

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Harta pada zaman dahulu adalah sesuatu yang dibenci. Adapun pada hari ini, harta adalah perisai seorang mukmin. Kalau saja bukan karena dinar-dinar ini, niscaya para penguasa menjadikan kita sebagai sapu tangan-sapu tangan mereka.”

Beliau juga berkata, “Siapa saja yang memiliki harta benda, hendaklah ia mengembangkannya dengan baik karena ini adalah suatu masa yang apabila seseorang didera oleh kebutuhan, sesuatu yang pertama kali dia korbankan adalah agamanya.”

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, badan yang sehat merupakan pendukung aktivitas peribadatan. Oleh karena itu, kesehatan adalah harta berlimpah yang tiada taranya. Adapun si sakit adalah orang yang lemah. Sementara itu, umur yang diberikan akan menguatkan. Kesehatan bersama kefakiran lebih baik daripada kekayaan bersama kelemahan. Orang yang lemah itu ibarat mayat.”

Beliau juga mengatakan, “Kekayaan tanpa ketakwaan adalah kebinasaan karena seseorang akan mengumpulkannya bukan dari jalan yang benar dan akan menahan atau memberikannya bukan pada sasaran yang benar.” (Syarah Shahih al-Adabil Mufrad lil Imam al-Bukhari, 1/394–395)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/mwchcz9

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

HAKIKAT CINTA KEPADA ALLAH

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Ketahuilah, engkau tidak dianggap mencintai Rabbmu hingga engkau mencintai ketaatan kepada-Nya.”

Dzun Nun rahimahullah ditanya, “Kapankah aku dikatakan mencintai Rabbku?” Beliau menjawab, “Seseorang dianggap mencintai Allah apabila ia bersabar terhadap hal-hal yang dibenci-Nya.”

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Orang yang mengaku mencintai Allah subhanahu wa ta'ala, tetapi tidak menjaga batasan-batasan-Nya, bukanlah orang yang jujur.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, halaman 104, cet. Darul ‘Aqidah)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/oupnyxj

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

DUNIA AKAN BERLALU AKHIRAT AKAN MENYONGSONG

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata dalam salah satu khutbahnya, “Sesungguhnya, dunia bukanlah negeri keabadian kalian. Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan kefanaannya. Dia  juga menetapkan bahwa penghuninya akan meninggalkannya. Betapa banyak tempat yang makmur dan dicatat oleh sejarah, hancur dalam waktu sekejap. Betapa banyak orang yang tinggal dalam keadaan senang, tiba-tiba harus beranjak pergi. Karena itu, siapkanlah sarana terbaik yang ada pada kalian sekarang —semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati kalian— untuk menempuh perjalanan (kelak). Siapkanlah bekal, dan bekal terbaik adalah takwa.”

Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Aku heran terhadap manusia yang akan ditinggalkan oleh dunia dan akan disongsong oleh akhirat—, ia justru sibuk dengan hal yang akan meninggalkannya dan lalai dari sesuatu yang akan menyongsongnya. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam halaman. 516)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/n57lqx8

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Faedah 'Ilmiyyah :

قال ابن القيم رحمه الله‎ ‎في كتابه‎ ‎الصوائق المرسلة (2/516) : فمن هداه الله - سبحانه - إلى الأخذ بالحق حيث كان ومع من كان، ولو كان مع من يبغضه ويعاديه، ورد الباطل مع من كان ولو كان مع من يحبه ويواليه، فهو ممن هدى الله لما اختُلف فيه من الحق.

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullahu dalam kitabnya Ash Shawaiqul Mursalah (2/516) :

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah untuk mengambil kebenaran di manapun dia berada dan bersama dengan siapapun al-haq itu, walaupun al-haq bersama yang dia benci/musuhi dia ambil al-haq itu.

Dan barangsiapa yang menolak/membantah kebatilan bersama dengan siapapun al-batil itu, walaupun al-batil itu bersama orang yang dia cintai/wala' padanya dia bantah.

Maka orang semacam ini adalah orang yang mendapat hidayah dari Allah pada perkara-perkara yang diikhtilafkan.

¤¤ Faedah dari Ustadzuna Abu Abdillah Muhammad Afifuddin hafidzahullahu dalam muhadharah SALAFY MUDAH MENERIMA NASIHAT DAN KEMBALI PADA AL HAQ  (Solo 26 Oktober 2013M)

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

LAKUKANLAH HAL YANG BERMANFAAT

Umar bin Abdul ‘Aziz Radhiallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya)
menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

‘Umar bin Qais Al-Mula’i Radhiallahu ‘anhu berkata: Seseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman:“Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?”
Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan
itu?”
Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana
yang aku lihat ini?”
Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah ‘anhu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”

Sahl At-Tusturi Rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”

Ma’ruf Rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah (untuknya).”
(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/290-294)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/nyfkg3c

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

SIKAP BAIK DALAM BERBICARA

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu berkata: “Teman dudukku mempunyai tiga hak atasku: aku mengarahkan pandanganku kepadanya bila dia menghadap, aku memberikan tempat yang luas baginya di majelis bila dia duduk, dan aku memerhatikan dia bila dia berbicara.” (‘Uyunul Akhbar, 1/307)

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban rahimahullah dengan sanadnya sampai Mu’adz bin Sa’id Al-A’war rahimahullah, dia berkata: “Aku pernah duduk di sisi ‘Atha` bin Abi Rabah rahimahullah. Seorang lelaki kemudian menyampaikan sebuah hadits, lalu ada seorang dari kaum itu yang ikut mengucapkannya.”

Mu’adz berkata: “’Atha` pun marah. Dia berkata: ‘Sikap macam apa ini? Sungguh aku benar-benar mendengarkan hadits itu dari orang ini, padahal aku lebih tahu tentang hadits itu. Namun aku tampakkan kepadanya seakan-akan aku tidak tahu apa-apa.’

Dia berkata juga: ‘Sesungguhnya seorang pemuda menyampaikan sebuah hadits lalu aku mendengarkannya seakan-akan aku belum mengetahuinya. Padahal aku benar-benar telah mendengar hadits itu sebelum dia dilahirkan’.” (Raudhatul ‘Uqala`, hal. 72, Tadzkiratus Sami’, hal. 105)

Al-Hasan rahimahullah berkata:  “Bila engkau duduk, maka hendaknya engkau lebih semangat untuk mendengarkan daripada berbicara. Pelajarilah cara mendengarkan yang baik sebagaimana engkau mempelajari cara berbicara yang baik. Dan janganlah engkau memotong pembicaraan seseorang.” (Tadzkiratus Sami’, hal. 105).

(Diambil dari At-Tajul Mafqud, karya Faishal bin Abduh Qa`id Al-Hasyidi, hal. 70-72)

Sumber: Majalah Asy Syariah || http://tinyurl.com/pm7y8n4

WhatsApp Salafy Indonesia
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~