Jumat, 25 Juli 2014

SEPUTAR PUASA WANITA HAMIL DAN MENYUSUI

FATAWA RINGKAS
SEPUTAR PUASA

Bersama: Syaikhuna Abdurahman Al 'Adeni --hafizhahullah--

bagian ketigapuluh satu/terakhir

SEPUTAR PUASA WANITA HAMIL DAN MENYUSUI

93. Bagaimanakah hukum wanita hamil dan menyusui?

Jawab: Ada beberapa keadaan;

Pertama: Apabila keduanya kuatir madarat atas dirinya jika berpuasa.

Boleh bagi keduanya untuk tidak berpuasa, namun wajib bagi keduanya mengqadha, tanpa harus membayar fidyah. Para ulama sepakat dalam masalah ini. Ijma' ini dinukilkan oleh Ibnu Qudamah, An Nawawi dan yang lainnya.

Kedua: Apabila keduanya kuatir madarat atas dirinya dan juga atas anaknya atau kuatir atas anaknya saja jika berpuasa.

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang terpilih adalah wajib bagi keduanya mengqadha saja, tanpa harus membayar fidyah. Ini adalah pendapat 'Athaa, 'Ikrimah, Al Hasan, Adh Dhahak, An Nakha'i, Az Zuhri, Rabii'ah, Al Auza'i, Abu Hanifah, Ats Tsauri, Abu 'Ubaid, Abu Tsaur, Ibnul Mundzir, Al hasan bin Hay, Asy Syafi'i dalam salah satu pendapatnya. Pendapat ini telah diriwayatkan oleh Abdurrazaq dengan sanad yang shahih dari Ibnu 'Abbas. Dinisbahkan pula (pendapat ini) kepada Ali bin Abi Thalib. Pendapat ini dipilih oleh Al Imam Al Bukhari.

Dalil pendapat ini hadits Anas bin Malik Al Ka'bi radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ شَطْرَ الصَّلَاةِ أَوْ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ عَنْ الْمُسَافِرِ وَعَنْ الْمُرْضِعِ أَوْ الْحُبْلَى»

"Sesungguhnya Allah ta'ala telah menggugurkan setengah shalat serta puasa dari seorang musafir, wanita yang menyusui dan wanita yang hamil." [HR. Ahmad dan Ashab As Sunan, dishahihkan Syaikh Al Albani dan Syaikh Muqbil]

Sisi pendalilan dari hadits ini bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengkabarkan bahwa Allah menggugurkan puasanya wanita hamil dan menyusui (boleh baginya tidak berpuasa-pent) sebagaimana musafir. Telah diketahui bahwa hukum musafir adalah wajib mengqadha, tanpa harus membayar fidyah, maka demikian pula wanita hamil dan menyusui.

WALLOHU A'LAM BISH SHOWAAB

Ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 18 Ramadhan 1435/ 15 juli 2014_di Darul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah.

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
WA. Thullaab Al Fiyusy
WA Salafy Lintas Negara

Bagaimana Memperbaiki Hati?

Bagaimana Memperbaiki Hati?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Asy-Syaikh          Muhammad bin Hadi al-Madkhali

Pertanyaan : Bagaimana aku memperbaiki hatiku?

Jawab : Engkau telah bertanya tentang perkara besar, yang merupakan kunci segala urusan dan kebaikan. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits terkenal yang kalian sudah mengetahuinya, beliau bersabda di akhir hadits,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketauhilah, sesungguhnya dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka akan baik pulalah seluruh jasad, apabila rusak maka akan rusak pulalah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.

Hati adalah raja bagi seluruh anggota badan.

Hati bisa menjadi baik, dilakukan dengan cara :

1. Pertama, muraqabah (senantiasa merasa diawasi) oleh Allah – Jalla wa ‘Ala – baik dalam kondisi tersembunyi (sendiri/tidak diketahui orang/dalam hati) maupun dalam kondisi tampak (di hadapan orang lain).

2.  Kedua, membaca al-Qur`an. Sehingga dia melewati ayat-ayat yang berisi ancaman dan janji. Janji Allah untuk hamba-hamba-Nya kaum mukminin, dan ancaman untuk orang-orang yang menentang. Serta apa yang Allah siapkan untuk mukminin dan untuk orang-orang yang menentang. Sesungguhnya membaca Al-Qur’an akan melembutkan hati, membuatnya takut, dan meluruskannya.

3. Ketiga, membaca sirah (sejarah perjalanan hidup) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

4. Keempat, kemudian membaca sirah (sejarah perjalanan hidup) orang-orang shalihin, kemudian membaca kitab-kitab yang berisi nasehat.

5. Kelima, berteman orang-orang yang baik dan shalih.

6. Keenam, menjauhi sebab-sebab kejelekan, kerusakan, dan fitnah-fitnah.

Kemudian di samping enam hal di atas, seseorang hendaknya memperbanyak rajin berdo’a kepada Allah memohon perbaikan hati dan menjadikannya lurus di atas al-Haq dan hidayah, serta senantiasa mengokohkan hatinya di atas al-Haq tersebut setelah Allah beri hidayah, juga memohon agar tidak terfitnah, dan tidak menghadapkannya kepada fitnah. Sesungguhnya do’a merupakan pintu yang sangat agung, yang banyak dilupakan orang. Hendaknya seseorang berdo’a, khususnya pada sepertiga malam terakhir. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Barangsiapa berdoa kepada-Ku niscaya Ku-penuhi untuknya.”

Hal-hal yang telah kita sebutkan di atas, kita ulangi lagi:

Pertama, Membaca al-Qur`an

Kedua, Membaca sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sirah beliau ‘alahish shalatu wa as-Salam

Ketiga, membaca sejarah para shahabat dan sirah orang-orang shalih.

Keempat, Membaca kitab-kitab nasehat. Kitab-kitab nasehat yang mengingatkan manusia, laksana cambuk. Membangunkan manusia, menghunjam di hati, sehingga ia pun tersadar.

Kelima, bergaul dengan orang-orang shalih

Keenam, menjauh dari berteman dengan orang-orang jelek, pengekor hawa nafsu, pengusung kebid’ahan, orang-orang fasiq, dan orang-orang fajir.

Ketujuh, hendaknya dia senantiasa berdo’a.

Dalam pembagian di atas, kami menjadikan berteman dengan orang-orang shalih dan menjauh dari berteman dengan orang-orang jelek menjadi dua poin terpisah. Sebelumnya kita menyebutkan satu. Jika kalian menjadikan dua poin, maka semuanya ada tujuh poin.  Namun jika kalian jadikan satu, maka semuanya ada enam poin saja.

Maka enam hal ini, merupakan sebab-sebab perbaikan hati dengan izin Allah Tabaraka wa Ta’ala

Kami memohon untuk diri kami dan saudara kami serta kaum muslimin kebaikan hati.

Sumber: http://ar.miraath.net/fatwah/7742 dengan sedikit perubahan dari penerjemah

Sumber : http://miratsul-anbiya.net/2014/03/13/2576/

WhatsApp Ittiba'us Sunnah

Kamis, 24 Juli 2014

Malam 27 Ramadhan Bertepatan dengan Malam Jum'at

Malam 27 Ramadhan Bertepatan dengan Malam Jum'at

~~~~~~~~~~~

يقول شيخ الإسلام ابن تيمية :
إذا وافقت ليلة الجمعة احدى ليالي الوتر من العشر الأواخر فهي أخرى أن تكون ليلة القدر.
غداً ليلة ٢٧ وليلة جمعة
‏لأول مرة ٥٣ سنة.
الجمعه + آخر ساعة استجابة + دعوة الفطور + ليلة ٢٧ رمضان = لا تضيع هذا اليوم ❤

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
"Apabila malam jumat bertepatan dg salah satu malam ganjil dari sepuluh hari terakhir ramadhan maka kemungkinan besar malam lailatul qadar jatuh pada malam itu."

Nanti malam adalah tgl 27 Ramadhan dan bertepatan dg malam Jum'at, untuk pertama kalinya setelah 53 tahun.
Hari Jum'at + waktu mustajab di sore harinya + doa menjelang berbuka puasa +malam ganjil 27 ramadhan.

Jangan sia-siakan kesempatan ini...

RALAT
~~~~~

‏قال ابن هبيرة الحنبلي رحمه الله:
وإن وقع في ليلة من أوتار العشر ليلة جمعة، فهي أرجى من غيرها.
لطائف المعارف ص ٣٦٧

�� Faidah dari asy-Syaikh Arafat
Berkata Ibnu Hubairoh rohimahullah
" kalau terdapat pada malam ganjil romadhon hari jumat
Maka dia lebih mendekati terjadinya malam lailatul qodar"

~~~~~~~~~~
WhatsApp Forum Berbagj Faidah