๐ท ๐ โ๏ธ 7โฃ
ใฐใฐใฐใฐใฐ
๐ ๐ Silsilah Kajian MENGENAL AL-ASMA'UL HUSNA
ใฐใฐใฐใฐใฐ
๐ฐ Al-Bashir ๐ฐ
๐ Al-Bashir (ุงููุจูุตููุฑู) adalah salah satu Al-Asma`ul Husna. Allah subhanahu wa ta'ala menyebut nama-Nya ini dalam beberapa ayat, di antaranya dalam surat An-Nisa` ayat 58:
ุฅูููู ุงููููู ููุงูู ุณูู ููุนูุง ุจูุตููุฑูุง
โSesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.โ
Juga dalam Asy-Syura ayat 11:
ููููุณู ููู ูุซููููู ุดูููุกู ูููููู ุงูุณููู ููุนู ุงูุจูุตููุฑู
โTidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.โ
Dalam hadits Abu Musa Al-Asyโari radhiyallahu 'anhu, juga disebutkan:
ูููููุง ู ูุนู ุงููููุจูููู ููู ุณูููุฑู ูููููููุง ุฅูุฐูุง ุนูููููููุง ููุจููุฑูููุงุ ููููุงูู ุงููููุจูููู : ุฃููููููุง ุงููููุงุณูุ ุงุฑูุจูุนููุง ุนูููู ุฃูููููุณูููู ูุ ููุฅููููููู ู ููุง ุชูุฏูุนูููู ุฃูุตูู ูู ููููุง ุบูุงุฆูุจูุง ูููููููู ุชูุฏูุนูููู ุณูู ููุนูุง ุจูุตููุฑูุง. ุซูู ูู ุฃูุชูู ุนูููููู ููุฃูููุง ุฃูููููู ููู ููููุณูู: ููุง ุญููููู ููููุง ูููููุฉู ุฅููููุง ุจูุงูููู. ููููุงูู: ููุง ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ููููุณูุ ูููู ููุง ุญููููู ููููุง ูููููุฉู ุฅููููุง ุจูุงูููู ููุฅููููููุง ููููุฒู ู ููู ูููููุฒู ุงููุฌููููุฉู -ุฃููู ููุงูู- ุฃูููุง ุฃูุฏูููููู ุนูููู ููููู ูุฉู ูููู ููููุฒู ู ููู ูููููุฒู ุงููุฌููููุฉูุ ููุง ุญููููู ููููุง ูููููุฉู ุฅููููุง ุจูุงูููู
โKami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bila kami menaiki dataran tinggi, maka kami mengucapkan takbir.[1] Maka beliau mengatakan: โWahai manusia kasihilah diri kalian, karena kalian tidaklah menyeru Dzat yang tuli atau jauh, akan tetapi Ia Maha Mendengar dan Maha Melihat.โ
Lalu beliau mendatangiku, sementara aku sedang mengucapkan dalam diriku: โLa haula wala quwwata illa billah.โ Lalu beliau mengatakan: โWahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa), ucapkan La haula wala quwwata illa billah. Sesungguhnya itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga.โ Atau beliau mengatakan: โTidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta kekayaan di surga? La haula wala quwwata illa billahโ.โ (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5905, 7386)
Dengan demikian, maka kita mengimani bahwa salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Bashir (ุงูุจูุตููุฑ), artinya Yang Maha Melihat. Dan dengan demikian, berarti salah satu sifat Allah subhanahu wa ta'ala adalah Al-Bashar (ุงูุจูุตูุฑ) yakni melihat.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Saโdi rahimahullah mengatakan: โAl-Bashir maknanya adalah Yang melihat segala sesuatu walaupun lembut dan kecil. Maka, Ia melihat langkah semut kecil yang hitam di malam yang kelam di atas batu yang keras. Ia juga melihat apa yang di bawah tujuh bumi sebagaimana melihat apa yang di atas langit yang tujuh. Ia juga mendengar dan melihat siapa saja yang berhak mendapatkan balasan-Nya sesuai hikmah-Nya. Dan makna yang terakhir ini kembali kepada hikmah-Nya.โ (Tafsir As-Saโdi)
Dalam ayat dan hadits yang lain, Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan sifat melihat dengan sebutan ru`yah (ููุฑูู-ุฑูุฃูููุฉู), sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan dalam surat Thaha ayat 46:
ููุงูู ููุง ุชูุฎูุงููุง ุฅููููููู ู ูุนูููู ูุง ุฃูุณูู ูุนู ููุฃูุฑูู
โAllah berkata: Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.โ
Dan dalam surat Al-โAlaq ayat 14:
ุฃูููู ู ููุนูููู ู ุจูุฃูููู ุงูููููู ููุฑูู
โTidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?โ
Dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam disebutkan:
ููุงูู: ููุฃูุฎูุจูุฑูููู ุนููู ุงููุฅูุญูุณูุงูู. ููุงูู: ุฃููู ุชูุนูุจูุฏู ุงูููู ููุฃูููููู ุชูุฑูุงููุ ููุฅููู ููู ู ุชููููู ุชูุฑูุงูู ููุฅูููููู ููุฑูุงูู
โMalaikat Jibril mengatakan kepada Nabi: โApakah ihsan itu?โ Beliau menjawab: โYaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmuโ.โ (Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim)
Qiwamussunnah Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan: โMaka, penglihatan Sang Pencipta tidak seperti penglihatan makhluk, dan pendengaran Sang Pencipta tidak seperti pendengaran makhlukโฆ Sehingga Allah k melihat apa yang di bawah tanah dan apa yang di bawah bumi yang ketujuh, serta apa yang di langit-langit yang tinggi. Tidak ada sesuatupun yang luput atau tersembunyi dari pandangan-Nya. Ia melihat apa yang berada di dalam lautan berikut kegelapannya, sebagaimana ia melihat apa yang di langit. Sementara manusia hanya melihat apa yang dekat dengan pandangannya, adapun yang jauh tidak mampu mereka lihat. Dan manusia tidak mampu melihat sesuatu yang tertutupi antara dia dengannyaโฆ
Terkadang nama itu sama, akan tetapi maknanya berbeda.โ (Al-Hujjah, 1/181)
Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan pula dalam Al-Qur`an sifat An-Nazhar (ุงูููุธูุฑ) yang artinya juga melihat. Firman-Nya:
ูููุงู ูููุธูุฑู ุฅูููููููู ู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู
โDan Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat.โ (Ali โImran: 77)
Sifat ini juga disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata:
ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููู : ุฅูููู ุงูููู ููุง ููููุธูุฑู ุฅูููู ุตูููุฑูููู ู ููุฃูู ูููุงููููู ู ูููููููู ููููุธูุฑู ุฅูููู ูููููุจูููู ู ููุฃูุนูู ูุงููููู ู
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: โSesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan harta benda kalian, akan tetapi melihat kepada kalbu dan amal kalian.โ (Shahih, HR. Muslim)
Dalam ayat dan hadits yang lain juga disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memiliki mata. Dan ini adalah sifat Allah subhanahu wa ta'ala yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Tentunya mata Allah subhanahu wa ta'ala sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan mata makhluk yang identik dengan kelemahan dan kekurangan. Nama bisa sama, akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
ููููุณู ููู ูุซููููู ุดูููุกู ูููููู ุงูุณููู ููุนู ุงูุจูุตููุฑู
โTidaklah ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.โ (Asy-Syura: 11)
Tentang sifat ini, telah Allah subhanahu wa ta'ala sebutkan dalam beberapa ayat:
ููุงุตูููุนู ุงูููููููู ุจูุฃูุนูููููููุง ููููุญูููููุง
โDan buatlah bahtera itu dengan penglihatan mata Kami dan petunjuk Kami.โ (Hud: 37)
ููุฃูููููููุชู ุนููููููู ู ูุญูุจููุฉู ู ูููููู ููููุชูุตูููุนู ุนูููู ุนูููููู
โDan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan mata-Ku.โ (Thaha: 39)
ููุงุตูุจูุฑู ููุญูููู ู ุฑูุจูููู ููุฅูููููู ุจูุฃูุนูููููููุง
โDan bersabarlah dalam menunggu ketetapan dari Rabbmu, maka sesungguhnya kamu dalam penglihatan mata Kami.โ (Ath-Thur: 48)
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu disebutkan:
โNabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat ini (artinya): โSesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Melihat.โ Lalu beliau meletakkan jari telunjuknya pada kedua matanya dan ibu jarinya pada pada dua telinganya.โ (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dalam Kitabut Tauhid hal. 43, Ad-Darimi dalam Radd โalal Marisi hal. 47, Ibnu Hibban no. 265, Al-Baihaqi dalam Al-Asma` wash Shifat no. 390. Dan lafadz hadits di atas adalah lafadz Ad-Darimi rahimahullah. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Al-Harras rahimahullah berkata: โMakna hadits ini adalah Allah subhanahu wa ta'ala mendengar dengan pendengaran dan melihat dengan mata. Sehingga hadits ini merupakan bantahan terhadap Muโtazilah dan sebagian Asyโariyyah yang berpendapat bahwa pendengaran-Nya artinya pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat didengar, dan penglihatan-Nya adalah pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat dilihat. Tanpa diragukan lagi, ini adalah tafsir yang salah. Karena pendengaran dan penglihatan itu maknanya lebih dari sekadar pengetahuan, karena pengetahuan terkadang dapat diperoleh tanpanya.โ (Syarh Nuniyyah, 2/72-73)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
ุฅูููู ุงูููู ููุง ููุฎูููู ุนูููููููู ู ุฅูููู ุงูููู ููููุณู ุจูุฃูุนูููุฑู -ููุฃูุดูุงุฑู ุจูููุฏููู ุฅูููู ุนููููููู- ููุฅูููู ุงูููู ูุณููุญู ุงูุฏููุฌููุงูู ุฃูุนูููุฑู ุงููุนููููู ุงููููู ูููู ููุฃูููู ุนููููููู ุนูููุจูุฉู ุทูุงููููุฉู
โSesungguhnya Allah tidak tersamarkan pada kalian. Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah (dan beliau mengisyaratkan kepada matanya). Dan sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal mata sebelah kanannya cacat, seolah matanya sebiji anggur yang menonjol.โ (HR. Al-Bukhari no. 4707 dari Ibnu โUmar radhiyallahu 'anhuma)
Ibnu Khuzaimah rahimahullah mengatakan: โMaka wajib atas setiap mukmin untuk menetapkan bagi Penciptanya, Pembentuk rupanya, apa yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta dan Pembentuk rupa untuk diri-Nya, yaitu mata. Adapun selain mukmin, dia menolak dan meniadakan dari Allah subhanahu wa ta'ala apa yang Allah subhanahu wa ta'ala tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur`an, dengan keterangan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang Allah subhanahu wa ta'ala angkat sebagai penjelas apa yang datang dari-Nya.
ููุฃููุฒูููููุง ุฅููููููู ุงูุฐููููุฑู ููุชูุจูููููู ููููููุงุณู ู ูุง ููุฒูููู ุฅูููููููู ู
โDan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an agar kamu terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.โ (An-Nahl: 44)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memiliki dua mata, maka keterangan beliau sesuai dengan keterangan Al-Qur`anโฆ.โ
Beliau juga mengatakan: โDan kami mengatakan: โRabb kami, Sang Pencipta, memiliki dua mata. Dengan keduanya, Ia melihat apa yang berada di bawah tanah dan bahkan di bawah bumi yang ketujuh dan apa yang berada pada langit-langit yang tinggi.โ
Demikian pula hal ini diterangkan oleh Al-Lalaka`i rahimahullah dalam Ushulul Iโtiqad.
Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: โAhlus Sunnah bersepakat bahwa mata Allah subhanahu wa ta'ala ada dua. Yang mendukung ijmaโ (kesepakatan) ini adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Dajjal: โSesungguhnya ia buta sebelah, dan Rabb kalian tidak buta sebelahโ.โ (โAqidah Ahlus Sunnah wal Jamaโah)
๐ Buah Mengimani Nama Al-Bashir
Tentu buah mengimani nama ini sangat jelas, yaitu akan menumbuhkan sikap muraqabah pada diri orang yang mengimaninya. Yakni, dia senantiasa merasa diawasi Allah subhanahu wa ta'ala. Sehingga ia selalu mawas diri dan mempertimbangkan segala langkah yang akan ia tempuh dalam gerak-geriknya.
๐ Sumber Bacaan:
- Shifatullah Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah
- Tafsir As-Saโdi
- Syarh Nuniyyah, dll.
--------------------------
Footnote:
[1] Dalam sebagian lafadz: โSampai kami keraskan suara kami.โ (HR. Al-Bukhari, no. 2770)
โ๏ธ ๐บDitulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc ุญูุธู ุงููู ุชุนุงูู dan dikutip dari http://asysyariah.com/al-bashir/
ใฐใฐใฐใฐใฐใฐใฐ
๐ WA Salafy Kendari ๐ก
Tidak ada komentar:
Posting Komentar