Sabtu, 19 Agustus 2017

SYUBHAT………SIBUKKAN DIRI DENGAN BELAJAR, JANGAN SIBUKAN DIRI DENGAN FITNAH

SYUBHAT………SIBUKKAN DIRI DENGAN BELAJAR, JANGAN SIBUKAN DIRI DENGAN FITNAH

Asy-Syaikh al-‘Allamah Zaid al-Madkhali رحمه الله pernah ditanya:

Seorang penanya dari Emirat mengatakan: Apa nasehat anda wahai syaikh teruntuk seorang pemula yang menyibukkan dirinya dengan berbagai bantahan dan ucapan para ‘ulama dalam kondisi ia belum mengetahui (berilmu) bahkan meskipun tentang fikih thaharah maupun yang lainnya?

Jawaban:

Nasehatku, hendaklah ia mempelajari agama ini baik dalam perkara akidah, syariat-ibadah, akhlak, maupun dalam perkara manhaj yang ia berjalan di atasnya. Dan diantaranya adalah kitab-kitab bantahan yang diletakkan oleh salafush shalih dan para pengikutnya guna membantah ahlu ahwa dan bid’ah. Betapa banyaknya kitab-kitab bantahan itu di setiap zaman dan tempat.

Maka tidak boleh bagi seorang pun menjadikan minimnya pengetahuan tentang fikih bersuci atau fikih shalat sebagai alasan untuk mengharamkan manusia dari mendengarkan kitab-kitab bantahan, karya-karya tulis tentangnya, mengambil faedah dari tulisan-tulisan tersebut, atau dari membacanya.

Sesungguhnya agama itu sempurna. Maka sebagaimana kita wajib mempelajari perkara-perkara akidah dan syariat-syariat ibadah, demikian juga kita wajib mempelajari manhaj yang realistis dan memahami sunnah supaya kita dapat mengamalkannya serta mengetahui lawannya agar kita dapat menjauhinya yaitu bid’ah. Inilah yang sudah seharusnya dilakukan.

Sehingga tidak boleh bagi seorangpun berkata kepada orang-orang “Tinggalkan bantahan-bantahan ini, tinggalkan ini dan itu, namun yang wajib bagi kalian adalah demikian dan demikian,” ini merupakan ucapan tanpa ilmu. Karena bila seorang itu tidak mengetahui keburukan, niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya. Dan bantahan-bantahan itu akan menjelaskan jalan kebaikan dari jalan-jalan kejelekan. Oleh karena itu, hendaknya ia mendengarkan rekaman, membaca kitab, dan mendengar dari seorang ‘alim tentang seluruh tingkatan agama: baik itu perkara akidah, syariat, sunnah, maupun manhaj.

Tidaklah para pelaku bid’ah itu diketahui, sejak zaman dahulu kala dari masa shahabat hingga hari kita ini kecuali melalui kitab-kitab bantahan atas mereka. Seandainya kitab-kitab bantahan itu tidak didapati di berbagai tempat dan zaman, niscaya manusia tidak akan mengetahui ahlu bid’ah dan tidak akan mampu memperingatkan umat dari para mubtadi’.
Namun wajib bagi para ahli bantahan itu menetapi janji kepada Allah untuk tidak berkata kecuali kebenaran, dan tidak menuduh seorang pun tanpa bukti dan pengetahuan, baik melalui tulisan-tulisan, catatan-catatan, rekaman, ataupun karya tulisnya.

Inilah metode bantahan. Dan tanpa itu, tidak boleh bagi seorang pun melemparkan bantahan hanya berdasarkan dugaan belaka dan tuduhan tanpa adanya bukti yang nyata. Na’am.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=134573#entry656621

* Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

سئل الشيخ العلامة زيد المدخلي رحمه الله:

سائل من الإمارات يقول: ما نصيحتكم يا شيخ لمن شغل نفسه من المبتدئين بما بين العلماء من الردود والأقوال ولا يعرف حتى فقه الطهارة وغيرها؟

الجواب: نصيحتي له أن يتفقَّه في الدين، في عقيدته وفي الشعائر التعبُّدية، وفي سلوكه وفي منهجه الذي يسير عليه، ومن ذلك كتب الردود التي رد بها السلف الصالح وأتباعهم على أهل الأهواء والبدع وما أكثرها في كل زمان ومكان. فلا يجوز لأحد أن يتذرَّع بقلة الفقه في الطهارة أو الصلاة يتذرع بذلك ليُحرِم الناس من سماع كتب الردود وكتابتها والاستفادة منها وقراءتها، وإنما الدين كامل فكما يجب أن نتفقه في العقيدة وفي الشعائر التعبدية نتفقَّه كذلك في المنهج العملي وفي السُّنة لنعمل بها ونتعرف على ضدها لنجتنبه وهي البدعة. فهذا هو الذي ينبغي أن يكون، فلا يجوز لأحد أن يقول للناس اتركوا هذه الردود واتركوا كذا وكذا وعليكم بكذا، هذا بدون علم يقول، لأنه إن لم يعرف الشر وقع فيه، والردود تبيِّن طريق الخير من طرق الشر، فيسمع الشريط ويقرأ الكتاب ويسمع من العالم في جميع مراتب الدين: عقيدة وشريعة، سُنَّة ومنهج. وما عُرف لنا أصحاب البدع من قديم الزمان من عهد الصحابة إلى يومنا هذا إلا بواسطة كتب الردود عليهم. فلو لم توجد كتب الردود في

Jumat, 04 Agustus 2017

KEUTAMAAN HARI JUM'AT


*🌅🌉KEUTAMAAN HARI JUM'AT*

📌Rasulullah shallahu-alaihi-wasallam bersabda :
إن الله يبعث الأيام يوم القيامة على هيئتها ويبعث الجمعة زهراء منيرة لأهلها فيحفون بها كالعروس تهدى إلى كريمها تضيء لهم يمشون في ضوئها
ألوانهم كالثلج بياضا
رياحهم تسطع كالمسك
يخوضون في جبال الكافور
ينظر إليهم الثقلان ما يطرقون تعجبا حتى يدخلوا الجنة لا يخالطهم أحد إلا المؤذنون المحتسبون

" Sesungguhnya Allah Ta'ala membangkitkan hari-hari pada hari kiamat sesuai bentuk-bentuknya, dan membangkitkan hari Jum'at dengan penuh sinar cerah, terang benderang bagi yang mengindahkannya. Lalu mereka bersinar dengannya seperti para pengantin, yang menunjukkan akan kemuliannya, yang menyinari mereka ketika mereka berjalan di bawah sinarannya.

🔹Warna kulit-kulit mereka seperti salju yang sangat putih,
Wangi aroma mereka semerbak seperti misik, mereka saling berbincang-bincang di gunung-gunung kaafura (campuran minuman penduduk al-Jannah).

🔸Jin dan manusia melihat mereka dan tidak mampu memulai pembicaran karena takjub, sampai mereka masuk al-Jannah. Tidak ada yang bercampur baur dengan mereka kecuali para muaddzin yang mengharapkan pahala dari Allah Ta'ala."

📚 Shahih al-Jami no 1872

✍🏻 Rasulullah shallahu-alaihi-wasallam bersabda :
أضل اللهُ عن الجمعة مَن كان قبلنا
فكان لليهود يوم السبت
وكان للنصارى يوم الأحد
فجاء الله بنا فهدانا الله ليوم الجمعة
فجعل الجمعة والسبت والأحد وكذلك هم تبع لنا يوم القيامة
نحن الآخرون من أهل الدنيا
والأولون يوم القيامة المقضي لهم قبل الخلائق

"Allah Ta'ala telah sesatkan dari hari Jum'at orang-orang sebelum kita. Maka untuk orang-orang Yahudi hari Sabtu, dan untuk orang-orang Nasrani hari Ahad.
☀ Lalu Allah datangkan kita (kaum muslimin), Allah tunjukkan kita kepada hari Jum'at.

🔑 Maka Allah menjadikan Jum'at, kemudian Sabtu, kemudian Ahad. Mereka juga kelak dibelakang kita pada hari kiamat.
Kita adalah generasi terakhir dari penduduk dunia, namun yang pertama yang diselesaikan urusannya sebelum seluruh makhluk."

📗HR. Muslim 856

🔅Rasulullah shallahu-alaihi-wasallam bersabda :

لا تطلعُ الشمسُ ولا تغربُ على يوم أفضلَ من يوم الجمعة
"Tidaklah Matahari terbit dan tidak pula terbenam pada suatu hari, yang lebih utama dari pada hari Jum'at".

📕Shahih al-Mawarid 459

👉🏻Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

يوم الجمعة يوم عبادة
وهو في الأيام كشهر رمضان في الشهور
وساعة الإجابة فيه كـ ليلة القدر في رمضان

"Hari Jum'at adalah hari ibadah. Kedudukan hari Jum'at di antara hari-hari lainnya seperti kedudukan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya.
Dan satu waktu yang dikabulkan doa padanya bagaikan malam Lailatul Qadr pada bulan Ramadhan."

📚Zaadu al-Ma'aad juz 1, hal 398

🔸Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
رسول الله ﷺ سيدُ الأنام
ويوم الجمعة سيد الأيام
فللصلاة عليه في هذا اليوم مزية ليست لغيره
Rasulullah shallahu-alaihi-wasallam adalah pemimpin makhluk. Sedangjan hari Jum'at adalah pemimpin hari-hari.
Maka bershalawat kepada beliau pada hari ini memiliki keistimewaan yang tidak ada pada selainnya."

📕Zaadu al-Ma'aad juz 1, hal 376

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu'ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MENUTUP MALAM DENGAN DO'A PERLINDUNGAN DARI ADZAB


🔥 🌻 MENUTUP MALAM DENGAN DO'A PERLINDUNGAN DARI ADZAB🌷

🍏 Dari Hafshah isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam apabila hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya (dalam riwayat lain, beliau menjadikan tangan kanannya sebagai bantal), kemudian beliau berdo'a,

اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ، عِبَادَكَ

📝 ALLOHUMMA QINI ADZABAKA YAUMA TAB'ATSU IBADAKA

👉🏻 "Ya Allah, lindungilah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu."

⛔️  Dalam beberapa riwayat terdapat tambahan "Diucapkan sebanyak 3 kali" akan tetapi Syaikh Al-Albani menegaskan bahwa tambahan tersebut adalah munkar syadz (yakni tambahan lemah).

🌏 HR. Abu Daud (no.5045) dan Tirmidzi (no.3398), Lihat Ash-Shahihah (no.2754) dan Ta'liq Adabul Mufrod (hal.470)
📝 Disajikan oleh Tim Warisan Salaf

〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Ikuti Channel kami di telegram https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com