Minggu, 17 Desember 2017

APA YANG HARUS DILAKUKAN SAAT MUSIBAH DAN BENCANA MELANDA?

::
*🚇 APA YANG HARUS DILAKUKAN SAAT MUSIBAH DAN BENCANA MELANDA?*

[Petikan dari Nasihat terkait Gempa]

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Baaz –rahimahullah- berkata:

“...maka yang WAJIB ketika terjadi gempa dan yang lainnya dari ayat-ayat Allah - gerhana, angin kencang, dan badai- untuk BERSEGERA dalam:

▪Bertaubat kepada Allah Yang Maha Suci,
▪Memperbanyak berdzikir dan istighfar,

Sebagaimana sabda Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- ketika terjadi gerhana:

فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله ودعائه واستغفاره

_Sehingga jika kalian melihat peristiwa itu maka bersegerelah berdzikir, berdoa, istighfar (memohon ampunan kepada Allah._

▪Dan mustahab pula untuk mengasihi orang-orang fakir dan miskin dengan bersedekah kepada mereka. Sebab Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

ارحموا ترحموا

_Berbuat pengasihlah maka kalian akan dirahmati (oleh Allah)!_

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

_Orang yang berwelas asih akan dirahmati oleh Yang Maha Pengasih, berbelas kasihlah kalian kepada yang di muka bumi akan merahmati kalian Dzat yang ada di atas Langit._

Dan sabda Beliau –shalallahu ‘alaihi wasallam-:

من لا يرحم لا يرحم

_Siapa yang tidak merahmati tidak akan dirahmati (oleh-Nya)._

Dan diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul ‘Aziz –rahimahullah-  bahwa ketika terjadi gempa beliau menulis surat kepada istrinya agar mereka(keluarganya) bersedekah...”

📡 https://www.binbaz.org.sa/article/483
📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net

Sabtu, 16 Desember 2017

MATAN DAN TERJEMAHAN AL-USHULUS SITTAH (03-04)

💐📝 *MATAN DAN TERJEMAHAN AL-USHULUS SITTAH (Bag. ke-3)*

الأصول الستة للشيخ محمد بن عبد الوهاب

✅ *LANDASAN KEDUA: BERSATU DALAM DIEN DAN LARANGAN DARI BERPECAH BELAH*

الأصل الثاني

أمر الله بالاجتماع في الدين ونهى عن التفرق فيه، فبين الله هذا بياناً شافياً تفهمه العوام ، ونهانا أن نكون كالذين تفرقوا واختلفوا قبلنا فهلكوا، وذكر أنه أمر المسلمين بالاجتماع في الدين ونهاهم عن التفرق فيه ، ويزيده وضوحاً ما وردت به السنة من العجب العجاب في ذلك، ثم صار الأمر إلى أن الافتراق في أصول الدين وفروعه هو العلم والفقه في الدين ، وصار الاجتماع في الدين لا يقوله إلا زنديق أو مجنون

Landasan yang kedua: Allah memerintahkan untuk bersatu dalam Dien dan melarang dari berpecah belah padanya. Allah menjelaskan hal itu dengan penjelasan yang gamblang yang bisa dipahami orang awam (masyarakat umum). Allah melarang kita menjadi seperti orang-orang sebelum kita yang berpecah belah dan berselisih sehingga mereka binasa. Dan Allah menyebutkan bahwa Dia memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dalam Dien dan melarang mereka dari berpecah belah di dalamnya. Penjelasan itu semakin terang dengan khabar dari Sunnah (Nabi) yang sangat menakjubkan dalam hal itu. Kemudian ternyata keadaannya (menjadi terbalik), perpecahan dalam prinsip-prinsip Dien dan cabang-cabangnya dianggap sebagai ilmu dan sikap faham terhadap Dien, dan bersatu dalam Dien (dianggap) sebagai sesuatu yang tidak diucapkan kecuali oleh zindiq atau orang gila.

*Penerjemah:* Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman  حفظه الله تعالى

💡💡📝📝💡💡
*WA al I'tishom*

💐📝 *MATAN DAN TERJEMAHAN AL-USHULUS SITTAH (Bag. ke-4)*

الأصول الستة للشيخ محمد بن عبد الوهاب

✅ *LANDASAN KETIGA: BERSIKAP MENDENGAR DAN TAAT KEPADA WALIYYUL AMR (PEMERINTAH MUSLIM)*

الأصل الثالث

أن من تمام الاجتماع السمع والطاعة لمن تأمر علينا ولو كان عبداً حبشياً ، فبين الله هذا بياناً شائعاً كافياً بوجوه من أنواع البيان شرعاً وقدراً ، ثم صار هذا الأصل لا يعرف عند أكثر من يدعي العلم فكيف العمل به.

Landasan yang ketiga: Bahwasanya di antara kesempurnaan bersatu (dalam Dien) adalah bersikap mendengar dan taat kepada pemimpin kita meskipun dia adalah budak dari Habasyah (Etiopia). Allah menjelaskan ini dengan penjelasan yang terang dan mencukupi dengan berbagai bentuk penjelasan secara syar’i maupun qodari. Kemudian (yang terjadi justru) landasan ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku berilmu. (Kalau diketahui saja tidak), maka bagaimana mau beramal?

*Penerjemah:* Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman  حفظه الله تعالى

💡💡📝📝💡💡
*WA al I'tishom*

MATAN DAN TERJEMAHAN AL-USHULUS SITTAH (01-02)

💐📝 *MATAN DAN TERJEMAHAN AL-USHULUS SITTAH (Bag. ke-1)*

الأصول الستة للشيخ محمد بن عبد الوهاب

✅ *MUKADDIMAH (PENDAHULUAN)*

بسم الله الرحمن الرحيم

من أعجب العجاب ، وأكبر الآيات الدالة على قدرة الملك الغلاب ستة أصول بينها الله تعالى بياناً واضحاً للعوام فوق ما يظن الظانون ، ثم بعد هذا غلط فيها كثير من أذكياء العالم وعقلاء بني آدم إلا أقل القليل

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Termasuk di antara hal yang paling mengherankan dan di antara tanda kekuasaan Allah Sang Penguasa Yang Maha Mengalahkan (segala sesuatu) adalah 6 landasan yang telah Allah jelaskan dengan penjelasan yang gamblang bagi orang awam (masyarakat umum) lebih dari yang diperkirakan oleh orang-orang yang bisa mengira, tapi kemudian setelah itu kebanyakan orang cerdas dan orang berakal dari kalangan Bani Adam salah (dalam memahami) kecuali sedikit (dari mereka)

*Penerjemah:* Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman  حفظه الله تعالى

💡💡📝📝💡💡
*WA al I'tishom*

💐📝 *MATAN DAN TERJEMAHAN AL-USHULUS SITTAH (Bag. ke-2)*

الأصول الستة للشيخ محمد بن عبد الوهاب

✅ *LANDASAN PERTAMA: MENGIKHLASKAN AGAMA HANYA UNTUK ALLAH*

الأصل الأول

إخلاص الدين لله تعالى وحده لا شريك له ، وبيان ضده الذي هو الشرك بالله، وكون أكثر القرآن في بيان هذا الأصل من وجوه شتى بكلام يفهمه أبلد العامة، ثم لما صار على أكثر الأمة ما صار أظهر لهم الشيطان الإخلاص في صورة تنقص الصالحين والتقصير في حقوقهم، وأظهر لهم الشرك بالله في صورة محبة الصالحين وأتباعهم.

Landasan yang pertama: Mengikhlaskan agama (hanya) untuk Allah Ta’ala semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan penjelasan tentang lawan (dari keikhlasan) yaitu syirik kepada Allah. AlQuran telah menjelaskan landasan ini dalam bermacam-macam bentuk dengan ucapan yang bisa dipahami oleh orang awam yang paling sederhana pemikirannya. Tapi kemudian kebanyakan manusia melihat (hal yang berbeda). Syaithan menampakkan keikhlasan (tauhid) itu dalam bentuk merendahkan orang-orang sholih dan seakan-akan (tauhid) adalah mengurangi hak-hak mereka. Syaithan menampakkan kesyirikan kepada Allah dalam bentuk mencintai orang-orang sholih dan pengikut mereka.

*Penerjemah:* Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman  حفظه الله تعالى

💡💡📝📝💡💡
*WA al I'tishom*

Jumat, 15 Desember 2017

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL DAN HUKUM MENGHADIRI PERAYAANNYA : BAGAIMANA JIKA SEKEDAR UCAPAN FORMALITAS SAJA?

::
*🚇HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL DAN HUKUM MENGHADIRI PERAYAANNYA : BAGAIMANA JIKA SEKEDAR UCAPAN FORMALITAS SAJA?*

Pertanyaan:

*“Apakah boleh bagi seorang muslim untuk turut serta bersama orang-orang Kristen dalam hari-hari raya Kristen seperti hari Natal –yang jatuh pada akhir bulan Desember- ataukah tidak? Di lingkungan kami terdapat orang-orang yang dianggap alim ulama akan tetapi mereka menghadiri acara orang-orang Kristen yaitu pada hari raya Kristen dan mereka berpendapat bolehnya untuk menghadiri acara tersebut. Apakah pendapat yang demikian benar atau tidak? Apakah mereka memiliki landasan syar’i atas bolehnya atau tidak?*

Jawab:

“Tidak boleh turut serta bersama orang-orang Kristen dalam hari-hari raya mereka, walaupun yang turut serta di dalamnya adalah orang-orang yang dianggap alim ulama. Karena dalam perbuatan yang demikian akan memperbanyak jumlah mereka dan merupakan bentuk tolong-menolong dalam dosa.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan jangan bertolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2) (al-Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta 2/ 76, No. 8848)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang:

▪hukum memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir (Kristen) pada hari Natal?
▪Bagaimana kita membalas ucapan mereka apabila mereka mengucapkannya kepada kita?
▪Apakah boleh untuk menghadiri perayaan-perayaan mereka?
▪Apakah seorang muslim berdosa apabila menghadirinya dengan tanpa maksud tertentu? Hanya saja alasan menghadirinya bisa karena sekedar FORMALITAS, malu, terpaksa (instruksi dari instansi) atau alasan lainnya (demi toleransi beragama)?
▪Apakah boleh menyerupai mereka dalam hal ini?

Beliau rahimahullah menjawab:

“Memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir (Kristen) pada hari Natal atau selainnya dari hari-hari raya keagamaan mereka hukumnya adalah HARAM MENURUT KESEPAKATAN PARA ULAMA. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya ‘Ahkan Ahli Dzimmah’:

“Adapun memberi ucapan selamat terhadap syi’ar-syi’ar kekafiran yang menjadi cirri khasnya maka hukumnya adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari raya dan puasa dengan mengucapkan, ‘Hari raya yang penuh keberkahan untukmu’ atau engkau memberi ucapan selamat dengan hari raya tersebutdan yang semacamnya.

👉🏽Maka yang demikian ini, apabila si pengucapnya selamat dari kekufuran, minimalnya perbuatan tersebut adalah haram. Ibaratnya dia mengucapkan slamat atas sujudnya yang demikian lebih besar dosanya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala dan sangat dibenci daripada mengucapkan selamat kepada mereka karena mereka meminum minuman keras, membunuh orang lain, berzina dan semacamnya. Kebanyakan orang-orang yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perbuatan ini dan tidak mengetahui keburukan perbuatannya.

Maka barangsiapa yang memberi ucapan selamat kepada orang yang melakukan kemaksiatan, kebid’ahan atau kekafiran berarti ia telah menyerahkan dirinya untuk menerima kebencian dan kemurkaan Allah.”

(Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata), Haramnya memberi ucapan selamat kepada orang-orang kafir pada hari-hari raya keagamaan mreka, dan sebagaimana pula yang diucapkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah, karena yang demikian berarti menyetujui kekafiran mereka dan ridho dengannya.

Walaupun ia tidak ridha, kekafiran tersebut mengenai dirinya namun diharamkan bagi setiap muslim untuk meridhai kekafiran atau memberi ucapan selamat dengannya pada diri orang lain.

Karena Allah Subhanahu wa ta’ala tidak meridhai yang demikian sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak membutuhkan (ilmu)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (az-Zumar: 7).

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Memberi ucapan selamat kepada mereka hukumnya HARAM, sama saja apakah terhadap mereka (orang kafir) yang punya hubungan BISNIS dengan seorang muslim ataukah tidak.

Apabila mereka memberi ucapan selamat kepada kita pada hari-hari raya mereka maka kita tidak boleh membalasnya karena itu bukan hari raya kita. Dan hari raya mereka tidak diridhai Allah Subhanahu wa ta’ala.

Karena hari-hari raya mereka bisa jadi sesuatu yang diada-adakan atau disyariatkan dalam agama mereka akan tetapi itu semua telah dihapus oleh Islam dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada seluruh makhluk.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Barangsiapa mencari agama selain islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali-Imran: 85).

Haram hukumnya bagi setiap muslim untuk memenuhi undangan hari raya mereka. Karena perbuatan yang demikian lebih buruk dari pada memberi ucapan selamat kepada mereka dikarenakan dia telah turut serta di dalamnya.

Demikian pula diharamkan bagi setiap muslim untuk menyerupai orang-orang kafir dengan mengadakan pesta, tukar-menukar hadiah, membagi-bagi permen, menyediakan makanan, libur kerja dan semisalnya pada saat hari raya mereka. Karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dar mereka.” (HR. Ahmad 2/ 50, 92)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  rahimahullah mengatakan dalam kitabnya ‘Iqtidha Shirathal Mustaqim’: 

“Menyerupai orang-orang kafir pada sebagian hari-hari raya-nya akan menanamkan rasa senang dalam hati mereka terhadap kebatilan yang ada pada diri mereka. Yang demikian bisa jadi akan memberi semangat bagi mereka untuk mengambil kesempatan (menjalankan misi) dan merendahkan orang-orang yang lemah.”

(Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata),

“Dan barangsiapa yang melakukan demikian maka ia berdosa baik melakukannya karena sekedar formalitas, rasa suka, malu atau sebab lainnya. Karena yang demikian berarti telah melakukan penipuan terhadap agama dan menjadi sebab semakin menguatnya jiwa orang-orang kafir dan membuat mereka semakin bangga terhadap agama mereka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail al-‘Utsaimin 3/ 44 – 4, fatwa no. 404).

••••
📋 Judul asli : "Bimbingan Ulama menyikapi Natal dan Tahun Baru" | Penyusun: Al-Ustadz Muhammad Rifqi hafidzahullah | Sumber : Buletin Jum’at Al-Ilmu Edisi 08/II/XII/1435H

➰Link URL www.darussalaf.or.id/aqidah/bimbingan-ulama-menyikapi-natal-tahun-baru/?replytocom=2275&fdx_switcher=true

HUKUM MENJAMAK SHALAT JUM'AT DAN SHALAT ASHAR

::
*🚇 HUKUM MENJAMAK SHALAT JUM'AT DAN SHALAT ASHAR*

Apakah sah untuk menjamak antara shalat Jum’at dan shalat ‘Ashar ketika mukim atau safar?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – semoga Allah merahmatinya – menjawab:

✅ Gambaran hal ini ketika mukim:
Seorang yang sakit menghadiri shalat Jum’at dan menyulitkannya untuk shalat ‘Ashar pada waktunya, kemudian ia menjamak (keduanya).

✅ Dan bentuknya ketika safar:
Apabila seorang musafir melewati suatu negeri yang sedang ditegakkan shalat Jum’at di dalamnya dan ia ikut shalat Jum’at bersama mereka.

👉🏻 Adapun ketika safar, maka tidak ada shalat Jum’at di dalamnya, karena Nabi – shalallahu ‘alaihi wasallam – ketika safar tidak menegakkan shalat Jum’at.

Sampai-sampai ketika di Arafah, Beliau – shalallahu ‘alaihi wasallam – mendapati hari Jum’at, bersamaan dengan itu tidak menegakkan shalat Jum’at. Bahkan, Beliau – shalallahu ‘alaihi wasallam – melaksanakan shalat Zhuhur dan menjamaknya dengan shalat ‘Ashar.

☝🏻Akan tetapi, TIDAK SAH UNTUK MENJAMAK SHALAT ‘ASHAR DENGAN SHALAT JUM'AT. Karena (yang datang dalam) sunnah hanya menyebutkan shalat ‘Ashar dijamak dengan shalat Zhuhur.

▪Dan shalat Jum’at bukan shalat zhuhur, sebagaimana yang diketahui, bahkan berbeda dari shalat zhuhur lebih dari dua puluh bentuk.

▪Jika demikian halnya maka ia(shalat Jum’at) dianggap shalat tersendiri seperti shalat Shubuh, tidak dijamak dengan shalat yang lainnya.

✍🏻 Sehingga TIDAK BOLEH untuk seseorang menjamak shalat Ashar dengan shalat Jum’at, walaupun ia termasuk seorang yang dibolehkan baginya untuk menjamak (misal: musafir atau orang sakit, pent.).”

📊 Sumber:
Liqaa’atul Baabil Maftuh, Syaikh al-Utsaimin, jilid 2 hal. 451 – 452.

📑 Alih Bahasa:
Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net

Kamis, 14 Desember 2017

HATI-HATI, JANGAN BANGGA DIRI

💥💥🔥🔥 *_HATI-HATI, JANGAN BANGGA DIRI!_*

• - قال الإمام الفضيل بن عياض - رحمه الله تبارك و تعالى - :

• - يَا مِسْكِيْنُ ! أَنْتَ مُسِيءٌ ، وَتَرَى أَنَّكَ مُحْسِنٌ ، وَأَنْتَ جَاهِلٌ ، وَتَرَى أَنَّكَ عَالِمٌ ، وَتَبْخَلُ ، وَترَى أَنَّكَ كَرِيْمٌ ، وَأَحْمَقُ ، وَتَرَى أَنَّك عَاقِلٌ ، أَجَلُكَ قَصِيْرٌ، وَأَمَلُكَ طَوِيْلٌ .

• - قال الإمام الحافظ شمس الدين الذهبي
• - رحمه الله تبارك و تعالى - مُعلقاً - :
• - قُلْتُ : إِي وَاللهِ ، صَدَقَ ، وَأَنْتَ ظَالِمٌ وَترَى أَنَّك مَظْلُوْمٌ ، وَآكِلٌ لِلْحَرَامِ وَترَى أَنَّك مُتَوَرِّعٌ ، وَفَاسِقٌ وَتَعتَقِدُ أَنَّكَ عَدْلٌ ، وَطَالِبُ العِلْم لِلدُّنْيَا ، وَتَرَى أَنَّك تَطْلُبُهُ للهِ

📜 سير أعلام النبلاء (٤٤٠/٨)

يوميات طالب علم📘📘
@yawmiattalab

🌅 Al Imam Al Fudhail bin 'Iyadh _rahimahullahu tabaaroka wata'ala_ berkata,

💥 "Wahai orang yang miskin,

👉🏻 Engkau adalah orang yang berbuat kesalahan, namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang berbuat kebaikan.

👉🏻 Engkau adalah orang yang bodoh, namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang berilmu.

👉🏻 Engkau adalah orang yang bakhil (pelit), namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang dermawan.

👉🏻 Engkau adalah orang yang dungu, namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang berakal.

💥 Ajalmu sangat pendek, namun angan-anganmu sangat panjang."

🌅 Al Imam Al Hafidz Syamsuddin Adz Dzahabi _rahimahullahu tabaaroka wata'ala_ berkata dalam rangka memberikan tanggapan atas ucapan Al Fudhail bin 'Iyadh _rahimahullah_ di atas,

✅ "Iya, demi Allah, beliau _rahimahullah_ telah berkata benar,

👉🏻 Engkau adalah orang yang dzolim, namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang didzolimi.

👉🏻 Engkau adalah orang yang memakan sesuatu yang haram, namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang wara' (berhati-hati).

👉🏻 Engkau adalah orang yang fasik, namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang adil.

👉🏻 Engkau adalah orang yang menuntut ilmu karena tujuan dunia, namun engkau merasa bahwa engkau adalah orang yang mencari ilmu karena Allah."

*_Siyar a'lamin nubala: 8/440._*
*_Telegram: Yaumiyat thalibul 'ilmi._*

_Wallahu ta'ala a'lam._

📮Rabu, 24 Robiul awwal 1439/ 13 Desember 2017

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🛑 *WA Salafy Cirebon*
http://www.salafycirebon.com
📲 *Join Channel*
http://bit.ly/salafycirebon

Rabu, 13 Desember 2017

Bagaimana semestinya sikap Muslim yang tepat menyikapi hari raya Natal/Tahun Baru/Non Muslim lainnya ?

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*📚 RIYADHUSSALAFIYYIN 📚*
《 _Taman-taman salafiyyin_ 》
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

⛔📜 *Bagaimana semestinya sikap Muslim yang tepat menyikapi hari raya Natal/Tahun Baru/Non Muslim lainnya ?*

🇸🇦 _Berikut nasihat dari Komisi Tetap Saudi Arabia_

“Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus.
Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memberitahukan bahwa yang dimaksud *jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhadaa dan sholihin*
(Qs. An Nisaa :69).

✔ Jika diperhatikan dengan teliti, maka kita dapati bahwa musuh-musuh Islam sangat gigih berusaha memadamkan cahaya Islam, menjauhkan dan menyimpangkan ummat Islam dari jalan yang lurus, sehingga tidak lagi istiqomah. Hal ini diberitahukan sendiri oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya, diantaranya, yang artinya:

_“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”_
(QS. Al-Baqarah:109)

▪Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang lain, artinya:

_Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan._
(QS. Ali Imran:99)

▪Firman Allah (yang artinya) :

_“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”._
(QS. Ali Imran:149)

📌 Salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agama (jalan yang lurus) yakni dengan menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-oleh hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja. Oleh karena itu, Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi telah memberikan fatwa berkenaan dengan sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim terhadap hari-hari besar orang kafir.

📚🇸🇦 *Secara garis besar fatwa yang dimaksud adalah* :

✔ Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperangatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka dan tak perlu menghiraukannya.

✔ Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebatilan semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar’i seperti: Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbul-simbul keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasnya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara dan siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, sehingga akhirnya merasa asing dengan agamanya sendiri.

💡Telah jelas sekali dalil-dalil dari Al Quran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah :

▪ *Ied atau hari besar mereka.*
Ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan.

▪ *Keseluruhan waktu dan tempat* yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya.

▪ *Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir*
selain karena adanya dalil yang jelas juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, antara lain :

✔ Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan.
Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa.

⚠ Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan. Ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, (yang artinya) :

_“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”._
(QS. Al-Ma'idah:51)

✅ Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut. Karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah. Dia telah melarang kita untuk tolong-menolong di dalam dosa dan pelanggaran, sebagaimana firman Allah, (yang artinya) :

_“Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”_
(QS. Al-Ma'idah:2)

⚠ Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti :

Iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis; memberi keistimewaan seperti hadiah/diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun(yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.

⚠ Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah (hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah, memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain.
🚫 Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan ke-istimewaan di atas hari-hari yang lain.

⚠ Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka.

💡 Berkaitan dengan ini _Ibnul Qayim rahimahullah pernah berkata,_

▪“Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati kaharamannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan,

_“Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjeru-mus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamar, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid’ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah”._ Demikian ucapan beliau rahimahullah!

✔ Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhu, sebisa mungkin kita pertahan kan penggunaanya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang (sudah 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mangadakan perayaan-perayaan tertentu.

✔ Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknat-Nya.

✔ Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong.

📚🇸🇦 (Dinukil dari Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000.)

📝 Tertanda :
Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh
Anggota: Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Ghadyan, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syakh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

📚🇮🇩 (Dikutip dari terjemah Kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy, Edisi Indonesia, Kitab Tauhid, Penulis Dr Shalih bin Fauzan)

🌐 Sumber : http://salafy.or.id/blog/2003/12/11/hukum-menyambut-hari-natalnon-muslim-tahun-baru/

➖ ➖ ➖ ➖ ➖
🕌 _“Tetaplah hadir di majelis ilmu syar'i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan barokah lebih banyak dan lebih besar, insyaAllah.”_

📲 _*Join Channel Telegram*_ :

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Fawaaid, Info Khatib Jum'at & Kajian (Dauroh) di BARLINGMASCAKEB dan Sekitarnya* :
📚 https://telegram.me/Riyadhussalafiyyin

*Unduh Video Fawaid, Audio Kajian/Dauroh* :
📥 https://telegram.me/AKSI_AudioKajianSalafyIndonesia

Minggu, 10 Desember 2017

PESAN FADHILAH AS SYAIKH PROF. DR. SULAYMAN AR RUHAYLI - HAFIZHOHULLOH - TENTANG KEADAAN YANG BERKAITAN DENGAN MASJID AL AQSHO

📋 PESAN FADHILAH AS SYAIKH PROF. DR. SULAYMAN AR RUHAYLI - HAFIZHOHULLOH - TENTANG KEADAAN YANG BERKAITAN DENGAN MASJID AL AQSHO

✍ ¬ Bukan yang baru dalam hal pendudukan masjid Al Aqsho, tidak ada yang berubah sedikit pun, tidak ada yang kuasa seorang pun untuk memberikan satu butir pun dari pasirnya kepada seseorang pun, karena Al Qudus adalah milik kita, dan dia dirampas dan apa yang tengah terjadi maka bukan sesuatu yang aneh dan bukan sesuatu yang baru, memberikan apa yang tidak dia miliki dan berbuat terhadap sesuatu yang tidak dia miliki; sehingga tidak ada tolak ukurnya atas penetapannya selamanya dan tidak ada nilainya serta tidak ada yang baru.

▪️ Yang wajib atas kita semua ialah agar kita memperhatikan bahwa yang wajib atas kita di hadapan agama kita dan umat kita:

▫️ Agar kita mengamalkan apa yang dapat membuatnya menjadi mulia dan menguatkannya, dan tidak akan dapat menguatkannya kecuali kita beramal dengan amalan yang benar yang dibangun di atas keikhlasan dan mengikuti nabi, mewujudkan tawhid, mengangkat kedudukan tawhid, berdakwah kepada tawhid dan kita menunaikan sholat bersama jama-'ah,

▪️ Dan apabila kita melakukan ini maka kita menjadi kuat, dan kita menjadi orang yang berhak untuk mendapatkan pertolongan ALLOH, dan menjadikan musuh kita takut kepada kita, maka yang wajib atas kita ialah kita harus waspada kepada perkara ini.

▫️ Dan tidak akan datang pertolongan kepada agama ALLOH dengan orientalisme, tidak pula dengan liberalisme, tidak juga dengan Syi-'ah Rofidhoh, dan tidak dari para musuh Sunnah. **Akan tetapi pertolongan yang sebenarnya hanya akan datang dari Ahlis Sunnah jika mereka mewujudkan tawhid dan mendakwahkan kepada tawhid.

▪️ Dan mereka jadikan tujuan mereka yang terbesar ialah untuk mengesakan ALLOH, dan rasa sakit mereka yang terbesar adalah perbuatan syirik kepada ALLOH 'Azza wa Jalla.

▫️ Dan jika mereka melakukan hal itu: maka hendaknya mereka bergembira dengan (akan datangnya) kebaikan, hendaknya mereka bergembira dengan (akan datangnya) kekuatan, dan hendaknya mereka bergembira dengan (akan datangnya) kemuliaan.

▫️ Dan yang wajib bagi para pemimpin Muslimin agar mereka berbuat untuk mengembalikan masjid Al Aqsho dengan akal, hikmah, tekad kuat, dan musyawarah diantara mereka.

▪️ Dan yang wajib atas kita untuk kita kembalikan setiap perkara kepada ahlinya, untuk kita tinggalkan politik kepada ahlinya bersamaan dengan doa kebaikan kita untuk mereka akan hidayah-Nya.

▫️ Dan agar kita berbuat dengan apa yang kita mampu, bukanlah mengembalikan Al Aqsho dengan melemahkan negara-negara Muslimin. Sebagaimana yang dilakukan oleh ahli bathil dari kalangan Syi-'ah Rofidhoh dan sekutunya.

▪️ Dan kelompok-kelompok hizbiyyah yang tidak diharapkan oleh pikiran manapun selama negara-negara Islam tegak di atas kakinya dan bukan dalam genggamannya. Maka yang wajib atas kita ialah untuk kita memperingatkan karena kejadian-kejadian yang menyakitkan diambil keuntungannya oleh para musuh Muslimin dan para musuh Sunnah untuk membenturkan kepercayaan Ahlus Sunnah dengan sebagian mereka, melemahkan negara-negara Islam, memperbanyak para penyebar fitnah dan memperbanyak para pendusta...

▫️ Mereka tidaklah menolong Al Qudus tidak dengan ucapan dan tidak juga dengan perbuatan!! Bahkan menolong Al Qudus menurut mereka adalah melemahkan dan membenturkan Ahlus Sunnah! Istana Al Qudus! Yaitu membunuh Muslimin di Suriah dan Irak.

▪️ Mereka membunuh Muslimin di Yaman dalam keadaan mereka berteriak kematian bagi Israel (baca Yahudi)! Mereka pendusta lagi pembual yang mereka memanfaatkan perasaan dan kebodohan.

▫️ Maka yang wajib atas kita ialah kita peringatkan dan perbanyak doa untuk keluarga kita di Palestina, untuk saudara-saudara kita, untuk Al Qudus kita dan untuk diri-diri kita agar ALLOH jadikan kita sebagai orang yang berhak untuk sholat di Al Qudus, dan kita bersungguh-sungguh dalam hal ini, kita tidak boleh terbawa oleh perasaan, tidak boleh berjalan dengan menyebarkan fitnah, kedustaan-kedustaan, berita-berita dusta; dan inilah yang dinamakan hikmah dan ilmu.

▪️ Maka kita memohon kepada ALLOH 'Azza wa Jalla agar memberikan hidayah kepada semua pihak kepada jalan yang lurus, dan agar membantu kita semua untuk dapat menegakkan kewajiban atas kami. ¬

✍ Disampaikan oleh beliau di Masjid Nabawi (dari pertanyaan majelis - Syarh Dalil At Tholib - di waktu 'Ashr hari Kamis 19-3-1439 H.
-----------------
▪كـلمـة لـفضيلـة الـشيـخ
أ.د. سـليمان الـرحيلي -حـفظـه الله-.

▪〖 عـن الأحـوال الـمتعلقـة بالـمسجـد الأقـصـى 〗

《 لا جديـد فـي الـمسجـد الأقـصى الـمسجـد الأقصى مـحتـل مـا تغيـر شـيء ولا يـملك أحـد أن يـعطـي ذرةً مـن تـرابـه لأحـد ، والـقدس لـنا ، وهـي مـغتصبـة ومـن أصـدر قـراراً فليس بغريب عليه ولـم يـأتي بجديد وأعـطـى ما لا يـملـك وتـصـرف فـيما لا يـملـك ؛ فـلا وزن لـقراره أبـداً ولا قـيمـة ولا جـديـد.

والـواجـب عـلينـا جـميعـاً أن نـتنبـه إلـى أن الـواجـب عـلينـا تـجـاه ديـننـا وأمـتنـا:

أن نـعمـل عـلى مـا يـعزهـا ويـقويهـا ، ولـن يـقويهـا إلا أن نـتديـن تـدينـاً صـحيحـاً مـبنيـاً عـلى الإخـلاص والـمتابعـة وعـلى تـحقيـق الـتوحيـد وأن نـعلـي مـن شـأن الـتوحيـد وأن نـدعـوا إلـى الـتوحيـد وأن نـصلـي مـع الـجماعـات ،

فـإذا فـعلنـا هـذا قَـوِينَـا وكـنا أهـلاً لأن يـنصرنـا الله وأن يُـرهب عـدونـا منـا ، فـالواجـب عـلينـا أن نـنتبـه إلـى هـذا الأمـر.

ولـن تـأتـي نـصـرةُ ديـن الله بـالـعلمنـة ولا بـاللِـبراليـة ولا مـن الـروافـض ولا مـن أعـداء الـسنـن .  وإنـما الـنصـرة الـصادقـة تـأتـي مـن أهـل الـسنة إن حـققـوا الـتوحيـد ودعـوا إلـيـه.

وجـعلـوا هـمهـم الأكـبر أن يُـوحَّـد الله ،
وأَلـمَهُم الأعـظـم أن يُـشـركَ بـالله- عز وجل- .

فـإنـهم إن فـعلـوا ذلـك: فـليبشـروا بـالخيـر ولـيبشـروا بـالقـوة ولـيبشـروا بـالـعـزة.

والـواجـب عـلى قـادة الـمسلميـن أن يـعملـوا عـلى اسـتعـادة الـمسجـد الأقـصى بـالعقـل والـحكمـة والـحـزم والـتشـاور فـيما بـينهـم.

والـواجـب عـلـينا أن نـرد كُـلَّ أمـرٍ إلـى أهـلـه ، وأن نـترك الـسياسـة إلـى أهـلهـا مـع دعـائنا لـهم بالـتوفيـق.

وأن نـعمـل نـحن فـيما نـستطيـع ، ولـيسـت اسـتعادة الأقـصـى قـائمـة عـلى إضـعـاف دول الـمسلميـن.

كـما يـفعـل أهـل الـباطـل مـن الـروافـض وأذنـابهـم ، والـجماعـات الـحزبيـة الـتي لا يـهنـأ لـها بـال مـادامـت الـدول الإسـلاميـة قـائمـة عـلى سـوقهـا وهـي لـيست فـي قـبضتهـا.

فالـواجـب عـلينـا أن نـحـذر فـإن الأحـداث الـمريـرة يـستغلهـا أعـداء الـمسلميـن وأعـداء الـسنـة لـضرب ثـقـة أهـل الـسنـة بـبعضهـم وإضـعـاف الـدول الأسـلاميـة ويـكثـر الـمرجفـون ويـكثـر الـكذابـون…

وهـم لا يـنصـرون الـقدس لا قـولا ولا عـملا!!  بـل نـصرة الـقدس عـندهـم هـي إضـعـاف وضـرب أهـل الـسنـة! سـرايـا الـقدس! وهـي تـقتـل الـمسلميـن فـي سـوريـا وفـي العراق. ويـقتلـون الـمسلميـن فـي الـيمن ويـنادون الـموت لإسـرائيـل! كـذابـون أفـاكـون يـستغلـون الـعواطـف والـجهل.

فـيجـب عـلينـا أن نـحـذر وأن نـكثـر مـن الـدعـاء لأهـلنـا فـي فـلسطيـن ولإخواننـا ولقدسنـا ولأنـفسنـا أن يـجعلنـا الله أهـلاً لأن نـصلـيَ فـي الـقدس ، ونـجتهـد فـي هـذا وأن لا نتجارى مـع الـعواطـف ولا مـع والأراجـيـف والأكـاذيب والإشـاعـات ؛ وهـذه هـي الـحكمـة والـعلـم.

فـنسـأل الله عـز وجـل أن يـهـدي الـجميـع سـواء الـسبيـل وأن يـعيننـا جـميعـا عـلى الـقيـام بالـواجـب عـلينـا . 》

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

|[ ألقاه في المسجد النبوي ( من أسئلة مجلس - شرح دليل الطالب - عصر الخميس ١٩-٣-١٤٣٩ ) ]|

#taushiyyah
Channel Telegram
http://bit.ly/salafycirebon

Kamis, 07 Desember 2017

Apakah Seseorang Harus Bertaubat dari Kesalahan yang Dilakukan di atas Kejahilan?

::
```🚇 Apakah Seseorang Harus Bertaubat dari Kesalahan yang Dilakukan di atas Kejahilan?```

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Dan apabila seseorang diperintah untuk menuntut ilmu yang ia butuhkan sebisa mungkin –dan ia jika tidak mendapati ilmu yang yakin ia mengetahui bahwa ia belum mendapatkan ilmu- maka ia diperintah pula untuk mencari dan bersungguh-sungguh(mempelajari ilmu yang ia butuh untuk diamalkan). Sehingga jika ia meninggalkan apa yang diperintah kepadanya ini maka ia berhak untuk dicela dan dihukum atasnya.

Lalu, apabila telah jelas baginya al-haq dan ia mengamalkannya –dan ia juga mengetahui bahwa ia dahulu jahil terhadap kebenaran dan meyakini yang sebaliknya- maka ia pun bertaubat. Dalam makna ia rujuk dari kebatilan menuju al-haq. Dan walaupun Allah telah memaafkannya dari sesuatu yang ia tidak mampu di saat itu (yaitu beramal di atas kejahilan) maka ia juga bertaubat dari apa yang terjadi ketika melakukannya:

▪Yang Pertama: dalam hal bermudah-mudahan dari  mencari al-haq.

Karena mayoritas kesalahan Bani Adam bermula dari meremehkan mempelajari al-haq, bukan karena tidak mampu sama sekali.

▪(Yang Kedua:) Dia juga bertaubat –pertama sekali -dari mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.

Sebab kebanyakan yang menyeret seseorang untuk mengikuti persangkaan yang keliru(ilmu yang tidak yakin) adalah hawa nafsunya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ﴿٢٣﴾

_"Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka."_  [Q.S. An-Najm: 023].

📖 Kitab At-Taubah, Ibnu Taimiyah, hal 36.
_📑 Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah_

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net

TAHUKAH ANDA BAHAWA PETIR ADALAH MALAIKAT ALLAH

TAHUKAH ANDA BAHAWA PETIR ADALAH MALAIKAT ALLAH

MALAIKAT YANG MEMBAWA CAMBUK DARI API

📝 Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan, “Bahwasanya orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata,

🔴 “Wahai Abul Qosim (yakni Nabi Muhammad), kabarkan kepada kami apa itu ar-ro’du (petir)?

📡 maka beliau shallallahu ‘alaihi wasalam menjawab,

مَلَكٌ مِنَ المَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالُوا: فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي نَسْمَعُ؟ قَالَ: «زَجْرَةٌ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أُمِرَ» قَالُوا: صَدَقْتَ

✅ “Petir adalah malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang ditugasi (mengurus) awan. Bersamanya ada alat (cambuk) dari api untuk menggiring awan ke tempat yang Allah kehendaki.”

🔴 Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Lalu suara apa yang kita dengar (dari petir) ini?”

🔥 Beliau menjawab, “Bentakan malaikat ketika menggiring awan, jika ia membentaknya, sampai berhenti ke tempat yang diperintahkan kepadanya.” (HR. Tirmidzi no.3117)

Dalam riwayat Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Ausath, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang petir,

هو ملك بيده مخراق، إذا رفع برق، وإذا زجر رعدت، وإذا ضرب صعقت

“Petir adalah malaikat, ditangannya ada alat (cambuk dari api). Apabila malaikat mengangkat alat itu maka akan memancarkan kilat, apabila malaikat membentak maka akan memancarkan petir, dan apabila malaikat memukulkannya (ke awan) maka akan memunculkan suara gemuruh.”

🌍 Lihat Ash-Shahihah (no.1872)

📝 Diterjemahkan Oleh: Tim Warisan Salaf

🍉 @warisansalaf

💻 Sumber: http://www.warisansalaf.com

◎◎◎◎※🌹※◎◎◎◎
Sedikit Pengeditan Bagi Kesesuaian Bahasa.
🚇Group WA & Telegram  :
🌴@InginKenalSunnah
📮Klik "JOIN" https://goo.gl/Op9xa4

Menyalami dan Menjabat Tangan Ahlul Bid'ah Bukan Hal yang Remeh di Sisi Salaf

INI FAKTA BUKAN FITNAH:
🔥🔥Menyalami dan Menjabat Tangan Ahlul Bid'ah Bukan Hal yang Remeh di Sisi Salaf

Said ibn Amir rahimahullah berkata,

"مَرِضَ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ فَبَكَى فِي مَرَضِهِ بُكَاءً شَدِيدًا ،
فَقِيلَ لَهُ : مَا يُبْكِيكَ أَتَجْزَعُ مِنَ الْمَوْتِ ؟
قَالَ : " لا ، وَلَكِنْ مَرَرْتُ عَلَى قَدَرِيٍّ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ، فَأَخَافُ أَنْ يُحَاسِبَنِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ " 

Artinya:
"Suatu hari Sulaiman at Taimi terjatuh sakit, di dalam sakitnya beliau menangis dengan sangat, maka beliau ditanya, "Mengapa engkau menangis? Apakah engkau takut dengan al maut?". Beliau menjawab, "Tidak, akan tetapi aku pernah melewati seorang qadari (orang yang berpemahanan qadariyah), aku pun menyalaminya, maka aku takut kalau Rabb-ku akan menghisabku karenanya."

Sufyan ats Tsauri rahimahullahu berkata,

"من سمع مبتدع، لم ينفعه الله بما سمع، ومن صفحه فقد نقص الاسلام عروة عروة"

Artinya:
"Barang siapa yang mendengar dari seorang mubtadi (ahlul bid'ah) niscaya Allah tidak akan memberikan manfaat dengan apa yang dia dengar. Barang siapa yang menjabat tangannya, maka sesungguhnya dia telah melemahkan (tali) islam seutas demi seutas.".

(Atsar dinukil dari Talbis Iblis-Ibnul Jauzi [tahqiq Syaikh Zaid al Madkhali], hal. 33-34, cet. Darul Wasitiyyah 2015)
➖➖➖
💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)
➖➖➖
💾 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram @SedikitFaidahSaja

#manhaj

Rabu, 06 Desember 2017

DOAKAN SAUDARAMU DENGAN KEBAIKAN


🍃📮 DOAKAN SAUDARAMU DENGAN KEBAIKAN 📮
Niscaya malaikat akan mendoakanmu dengan semisalnya.
—-------------

🔰 Dari Shofwan bin Abdillah bin Shofwan -rohimahullah- (Menantu Abu Darda` rodhiyallahu ‘anhu, pen.) ; beliau pernah mengatakan:

🔻 “Ketika saya sampai di Syam, saya berusaha bertemu Abu Darda` di rumahnya; namun saya tidak menjumpainya. Yang saya jumpai adalah Ummu Darda`.
🔻 Ummu Darda` mengatakan: Apakah engkau ingin menunaikan Haji tahun ini?
🔻 Aku katakan: Ya
🔻 Kemudian beliau mengatakan: Berdoalah untuk kami dengan kebaikan . Karena Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ "

”Doa seorang muslim untuk saudara (seiman) saat  ia tak ada di hadapannya; mustajab (dikabulkan).”
”Di atas kepalanya ada satu malaikat yang ditugaskan bersamanya.
"Setiap kali orang itu berdoa kebaikan untuk saudaranya.  Malaikat yang ditugaskan bersamanya mengatakan:
”Aamiin” (kabulkanlah) , ”Semoga engkau mendapatkan semisalnya.”

📚 [ HR. Muslim no. 2733-(88) ]  , 🔘 Derajat Hadits: Shohih.
〰〰〰〰
Hadits ini juga diriwayatkan dari Shahabat Abu Darda` -rodhiyallahu ‘anhu- dalam “Shohih Muslim” no.2732-(86).
〰〰〰〰
🌷 Berkata Al-Imam An-Nawawi rohimahullah:
“Dahulu sebagian Salaf (pendahulu kita yang sholih,pen.) apabila ingin berdoa meminta kebaikan untuk dirinya, ia berdoa untuk saudaranya yang muslim dengan doa semisal. Karena doa tersebut dikabulkan, (akhirnya) ia  mendapatkan semisal yang diminta.”
[ Lihat Syarah Shohih Muslim (17/49) ]
➖➖➖
Wallahul Muwaffiq. (AH)

#Doa #Mustajab #DoaKebaikan
〰〰➰〰〰
🔰  YOOK NGAJI YANG ILMIAH
🔻(Memfasilitasi Kajian Islam secara Ilmiah)
🌐🔻 Situs Blog: https://Yookngaji.Com
🚀🌐🔻 Gabung Saluran Telegram: https://t.me/yookngaji

Kamis, 30 November 2017

HUKUM SURAT MENYURAT DENGAN PRIA ASING [BACA: BUKAN MAHRAM] VIA INTERNET

🔖 HUKUM SURAT MENYURAT DENGAN PRIA ASING [BACA: BUKAN MAHRAM] VIA INTERNET.
----------------
🎓 As-Syaikh Ali Furkus حفظه الله تعالى.

✒️__ PERTANYAAN:

Apakah boleh surat menyurat dengan pria asing (yang bukan mahromnya) melalui internet untuk proses perkenalan (ta'aruf) dan pernikahan?

✍ JAWABAN:

❝ Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, sholawat dan salam terlimpahkan bagi yang telah Allah utus sebagai rahmat bagi alam semesta, dan bagi keluarganya dan para sahabatnya serta saudaranya hingga hari pembalasan, selanjutnya:

☝️ Berkirim surat dengan wanita asing dan berbicara dengannya sekalipun dengan tujuan untuk ta'aruf atau alasan pernikahan adalah tidak boleh secara syariat, sama saja apakah dengan media-media biasa ataupun melalui internet karena hal itu

▪️ akan membuka pintu fitnah,
▪️ dan melahirkan dorongan-dorongan kuat yang akan membangkitkan di dalam jiwa keinginan mencari-cari jalan pertemuan dan komunikasi
▪️ dan hal-hal yang akan mengakibatkan berbagai bahaya yang tidak akan dapat dijaga padanya kehormatan dan tidak dapat terjaga dengannya agama, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

«مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ»
"Tidaklah aku tinggalkan sepeninggal aku sebuah fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum pria dari para wanita." ¹)

Dan sabda beliau ﷺ :

«فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»
"Maka takutlah kalian dari dunia dan takutlah kalian dari para wanita karena awal fitnah bani Israel pada para wanita."²)

Yang demikian itu dikarenakan bagaimanapun dia terjaga dari syaitan dan permusuhannya kepadanya di tempat kerusakan maka sejatinya dia terjatuh ke dalam bahaya dengan terikatnya dia si wanita dan lelaki, Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾ [فاطر: 6]
"Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya syaitan hanyalah menyeru kepada golongannya agar mereka menjadi penghuni api neraka yang menyala-nyala." [Qs. Faathir: 6]

Dan Allah berfirman:

﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً﴾ [الكهف: 50].

"Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim." [Qs. Al-Kahfi: 50]

Demikianlah, dan hukum asalnya ialah menjauhi kerusakan fitnah dan pemicunya, dan mencegah kerusakan lebih didahulukan dari kemaslahatan ta'aruf dan pernikahan sebagai bentuk mengamalkan kaidah:

«دَرْءُ المَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ المَصَالِحِ».

"Mencegah kerusakan lebih utama dari mengambil kemanfaatan."

Dan ilmu (kebenaran) ada di sisi Allah Ta'ala, dan akhir seruan kami adalah alhamdulillah robbil 'aalamin, sholawat dan salam terlimpahkan bagi Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya serta saudaranya hingga hari pembalasan. ❞

Aljazair, 14 Dzulqaedah 1427 H
Bertepatan: 5 Desember 2006 M.

Web resmi Syaikh Furkus hafizhohulloh.
____________
¹) HR. Bukhari di dalam An-Nikah (4706), dan Muslim di dalam Ar-Roqoq (7121), dan Tirmidzi di dalam Al-Adab (3007), dan Ibnu Majah di dalam Al-Fitan (4133), dan Ahmad (22463), dan Al-Humaidi di dalam Musnadnya (574), dan Baihaqi (13905) dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhu.

²) HR. Muslim di dalam Ad-Dzikr wa Ad-Du'aa (694), dan Tirmidzi di dalam Al-Fitan (2191), dan Ibnu Majah (3221), dan Ahmad (10785), dan Baihaqi (6746), dari hadits Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu.
——————————————————
هذه فتوى للشيخ فركوس حفظه الله

حكم مراسلة الاجنبيات عبر الانترنت

السؤال: هل يجوز مراسلة الأجنبيات عن طريق الإنترنت للتعرُّف والزواج؟

الجواب: الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:

فالمراسلة مع المرأة الأجنبية والمكالمة معها ولو بحجّة التعرّف أو دعوى الزواج غير جائزة شرعًا سواء بالوسائل العادية أو عبر الإنترنت لما في ذلك من فتح باب الفتنة، وتول

يد دوافعَ غريزيةٍ تبعث في النفس حُبَّ الْتِمَاسِ سُبُلِ اللقاءِ والاتصال وما يترتّب على ذلك من محاذيرَ لا يُصان فيها العِرض ولا يحفظ بها الدِّين، لقوله صلى الله عليه وآله وسلّم: «مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ»(١- أخرجه البخاري في «النكاح» (4706)، ومسلم في «الرقاق» (7121)، والترمذي في «الأدب» (3007)، وابن ماجه في «الفتن» (4133)، وأحمد (22463)، والحميدي في «مسنده» (574)، والبيهقي (13905)، من حديث أسامة بن زيد رضي الله عنهما)، وقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»(٢- أخرجه مسلم في «الذكر والدعاء» (694، والترمذي في «الفتن» (2191)، وابن حبان (3221)، وأحمد (10785)، والبيهقي (6746)، من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه)، ذلك لأنه مهما احترز من الشيطان وعداوته له في موضع المفسدة فإنه يُوقعه في المحظور بإغرائه بها وإغرائها به، قال تعالى: ﴿إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾ [فاطر: 6]، وقال تعالى: ﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً﴾ [الكهف: 50].

هذا، والأصل وجوبُ إبعادِ مفسدةِ الفتنةِ والإثارةِ، ودرؤُها مقدّمٌ على مصلحة التعرّف والزواج عملاً بقاعدة: «دَرْءُ المَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ المَصَالِحِ».

والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.

الجزائر في: 14 من ذي القعدة 1427ﻫ
الموافق ﻟ: 5 ديسمبر 2006م
موقع الشيخ فركوس حفظه الله 
--------------------------------------------------
١- أخرجه البخاري في «النكاح» (4706)، ومسلم في «الرقاق» (7121)، والترمذي في «الأدب» (3007)، وابن ماجه في «الفتن» (4133)، وأحمد (22463)، والحميدي في «مسنده» (574)، والبيهقي (13905)، من حديث أسامة بن زيد رضي الله عنهما.

٢- أخرجه مسلم في «الذكر والدعاء» (694، والترمذي في «الفتن» (2191)، وابن حبان (3221)، وأحمد (10785)، والبيهقي (6746)، من حديث أبي سعيد الخدري
----------------
💐 © An_Nikaah.

💻 https://telegram.me/An_Nikaah
📝WA. Majmu'ah Al Lu'luu WalMarjaan📝