Kamis, 30 November 2017

HUKUM SURAT MENYURAT DENGAN PRIA ASING [BACA: BUKAN MAHRAM] VIA INTERNET

🔖 HUKUM SURAT MENYURAT DENGAN PRIA ASING [BACA: BUKAN MAHRAM] VIA INTERNET.
----------------
🎓 As-Syaikh Ali Furkus حفظه الله تعالى.

✒️__ PERTANYAAN:

Apakah boleh surat menyurat dengan pria asing (yang bukan mahromnya) melalui internet untuk proses perkenalan (ta'aruf) dan pernikahan?

✍ JAWABAN:

❝ Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, sholawat dan salam terlimpahkan bagi yang telah Allah utus sebagai rahmat bagi alam semesta, dan bagi keluarganya dan para sahabatnya serta saudaranya hingga hari pembalasan, selanjutnya:

☝️ Berkirim surat dengan wanita asing dan berbicara dengannya sekalipun dengan tujuan untuk ta'aruf atau alasan pernikahan adalah tidak boleh secara syariat, sama saja apakah dengan media-media biasa ataupun melalui internet karena hal itu

▪️ akan membuka pintu fitnah,
▪️ dan melahirkan dorongan-dorongan kuat yang akan membangkitkan di dalam jiwa keinginan mencari-cari jalan pertemuan dan komunikasi
▪️ dan hal-hal yang akan mengakibatkan berbagai bahaya yang tidak akan dapat dijaga padanya kehormatan dan tidak dapat terjaga dengannya agama, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

«مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ»
"Tidaklah aku tinggalkan sepeninggal aku sebuah fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum pria dari para wanita." ¹)

Dan sabda beliau ﷺ :

«فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»
"Maka takutlah kalian dari dunia dan takutlah kalian dari para wanita karena awal fitnah bani Israel pada para wanita."²)

Yang demikian itu dikarenakan bagaimanapun dia terjaga dari syaitan dan permusuhannya kepadanya di tempat kerusakan maka sejatinya dia terjatuh ke dalam bahaya dengan terikatnya dia si wanita dan lelaki, Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾ [فاطر: 6]
"Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya syaitan hanyalah menyeru kepada golongannya agar mereka menjadi penghuni api neraka yang menyala-nyala." [Qs. Faathir: 6]

Dan Allah berfirman:

﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً﴾ [الكهف: 50].

"Patutkah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim." [Qs. Al-Kahfi: 50]

Demikianlah, dan hukum asalnya ialah menjauhi kerusakan fitnah dan pemicunya, dan mencegah kerusakan lebih didahulukan dari kemaslahatan ta'aruf dan pernikahan sebagai bentuk mengamalkan kaidah:

«دَرْءُ المَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ المَصَالِحِ».

"Mencegah kerusakan lebih utama dari mengambil kemanfaatan."

Dan ilmu (kebenaran) ada di sisi Allah Ta'ala, dan akhir seruan kami adalah alhamdulillah robbil 'aalamin, sholawat dan salam terlimpahkan bagi Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya serta saudaranya hingga hari pembalasan. ❞

Aljazair, 14 Dzulqaedah 1427 H
Bertepatan: 5 Desember 2006 M.

Web resmi Syaikh Furkus hafizhohulloh.
____________
¹) HR. Bukhari di dalam An-Nikah (4706), dan Muslim di dalam Ar-Roqoq (7121), dan Tirmidzi di dalam Al-Adab (3007), dan Ibnu Majah di dalam Al-Fitan (4133), dan Ahmad (22463), dan Al-Humaidi di dalam Musnadnya (574), dan Baihaqi (13905) dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu 'anhu.

²) HR. Muslim di dalam Ad-Dzikr wa Ad-Du'aa (694), dan Tirmidzi di dalam Al-Fitan (2191), dan Ibnu Majah (3221), dan Ahmad (10785), dan Baihaqi (6746), dari hadits Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu.
——————————————————
هذه فتوى للشيخ فركوس حفظه الله

حكم مراسلة الاجنبيات عبر الانترنت

السؤال: هل يجوز مراسلة الأجنبيات عن طريق الإنترنت للتعرُّف والزواج؟

الجواب: الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:

فالمراسلة مع المرأة الأجنبية والمكالمة معها ولو بحجّة التعرّف أو دعوى الزواج غير جائزة شرعًا سواء بالوسائل العادية أو عبر الإنترنت لما في ذلك من فتح باب الفتنة، وتول

يد دوافعَ غريزيةٍ تبعث في النفس حُبَّ الْتِمَاسِ سُبُلِ اللقاءِ والاتصال وما يترتّب على ذلك من محاذيرَ لا يُصان فيها العِرض ولا يحفظ بها الدِّين، لقوله صلى الله عليه وآله وسلّم: «مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ»(١- أخرجه البخاري في «النكاح» (4706)، ومسلم في «الرقاق» (7121)، والترمذي في «الأدب» (3007)، وابن ماجه في «الفتن» (4133)، وأحمد (22463)، والحميدي في «مسنده» (574)، والبيهقي (13905)، من حديث أسامة بن زيد رضي الله عنهما)، وقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ»(٢- أخرجه مسلم في «الذكر والدعاء» (694، والترمذي في «الفتن» (2191)، وابن حبان (3221)، وأحمد (10785)، والبيهقي (6746)، من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه)، ذلك لأنه مهما احترز من الشيطان وعداوته له في موضع المفسدة فإنه يُوقعه في المحظور بإغرائه بها وإغرائها به، قال تعالى: ﴿إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾ [فاطر: 6]، وقال تعالى: ﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً﴾ [الكهف: 50].

هذا، والأصل وجوبُ إبعادِ مفسدةِ الفتنةِ والإثارةِ، ودرؤُها مقدّمٌ على مصلحة التعرّف والزواج عملاً بقاعدة: «دَرْءُ المَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ المَصَالِحِ».

والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.

الجزائر في: 14 من ذي القعدة 1427ﻫ
الموافق ﻟ: 5 ديسمبر 2006م
موقع الشيخ فركوس حفظه الله 
--------------------------------------------------
١- أخرجه البخاري في «النكاح» (4706)، ومسلم في «الرقاق» (7121)، والترمذي في «الأدب» (3007)، وابن ماجه في «الفتن» (4133)، وأحمد (22463)، والحميدي في «مسنده» (574)، والبيهقي (13905)، من حديث أسامة بن زيد رضي الله عنهما.

٢- أخرجه مسلم في «الذكر والدعاء» (694، والترمذي في «الفتن» (2191)، وابن حبان (3221)، وأحمد (10785)، والبيهقي (6746)، من حديث أبي سعيد الخدري
----------------
💐 © An_Nikaah.

💻 https://telegram.me/An_Nikaah
📝WA. Majmu'ah Al Lu'luu WalMarjaan📝

Senin, 27 November 2017

KIDS ZAMAN NOW


..
🚇 KIDS ZAMAN NOW

Istilah yang disematkan kepada anak-anak remaja (baca: ABG) kekinian yang tengah populer di media sosial.

Perilaku dan gaya kids zaman now yang tersebar di medsos, biasanya menampilkan kebiasaan dan kelakuan nyeleneh yang mungkin tidak dilakukan di era remaja sebelumnya.

Di antara trademark kids zaman now adalah bangganya mereka ketika bisa menampilkan selfi mesra bersama pasangannya (baca: pacar), padahal mereka masih seumuran anak sekolah dasar (SD), laa haula wala quwwata illa billah. Kadang tak sebatas itu, kita akan merasa geli tapi miris ketika kata-kata romantis bertabur di status-status medsos pasangan bau kencur ini, sekali lagi ini dilakukan oleh anak umuran SD, memanglah kids zaman now..!

Di status yang lain, kids zaman now kerap memposting selfinya dengan bangga ketika mereka bisa bergaya dengan rokok di mulutnya atau botol khamr di tangannya, pikirnya dia telah hebat dan pantas tuk menyandang kids zaman now!

Pembaca rahimakumullahu, tentunya kenyataan di atas adalah fenomena yang menyedihkan, lalu, salah siapakah? Mungkin kurang tepat jika kita kambing hitamkan kepada kids zaman now ini sepenuhnya, di samping kelabilan jiwa yang ada pada umuran mereka, kurangnya penanaman akidah tauhid sejak dini juga menjadi sebab mengapa kids zaman now melakukan aksi-aksi negatif di atas.

Pengajaran akidah dan tauhid sejatinya adalah pondasi kokoh dalam pembentukkan karakter positif seorang anak, dan ini merupakan tanggung jawab dan kewajiban kedua orang tua dan para pendidiknya.

Ketika seorang anak diajari akidah dan tauhid, niscaya dia akan mengetahui hakikat tujuan hidupnya, yakni beribadah hanya kepada Allah saja, dan ini adalah pondasi dan pokok dasar dalam akidah, yakni memahamkan kepada seorang anak tentang firman Allah taala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:

"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk mengibadahi-Ku". (QS. Adz Dzariyat: 56)

Jika kids zaman now telah memahami pondasi yang agung ini, maka harapan akan indah dan positifnya mereka dalam berperilaku akan bisa lebih kita harapkan sebagai penyejuk pandangan generasi old-nya sekarang, insya Allah.

➖➖➖
💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)
➖➖➖
💾 Arsip lama terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram @sedikitfaidahsaja

#hati_berbisik

Sabtu, 25 November 2017

CARA MEMBANTAH PARA SUFI EKSTRIM SEPUTAR SYUBHAT PERAYAAN MAULID NABI

⛔ *CARA MEMBANTAH PARA SUFI EKSTRIM SEPUTAR SYUBHAT PERAYAAN MAULID NABI* ❌

💺 Mufti: asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah

❓ Pertanyaan:"Bila kaum Sufi yang ekstrem dan yang sejenis dengan mereka mengklaim bahwasanya keutamaan hari Senin karena Nabi ﷺ memerintahkan untuk berpuasa di hari itu dan menjelaskan keutamaannya, maka memperingati maulid setiap tahunnya dalam rangka mengingat beliau tentunya lebih utama lagi (dilakukan). Lalu apa yang harus kami jawab terhadap mereka?"

📌 Syaikh:"Aku katakan, bila mereka ingin merayakannya terkait dengan hari Senin, maka seharusnya mereka memperingatinya setiap pekan. Kenapa harus ada pengkhususan?"

🗓 Penanya:"Karena keutamaan hari Senin. Sebab beliau ﷺ dilahirkan pada hari itu"

Syaikh:"Mungkin yang kau maksud perayaan maulud?"

Penanya:"Betul"

Syaikh:"Jelas begitu?"

Penanya:"Tidak ada keraguan lagi"

👉🏻 Syaikh:"Mereka mengatakan: sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:(itu adalah hari dimana aku dilahirkan). Hadits ini menunjukkan agungnya hari tersebut, bukan (keagungan) hari Senin. Sebab hari kelahiran Rasulullah ﷺ bukanlah hari Senin, tetapi 12 Rabi'ul Awal sebatas keyakinan mereka."

✅ Akan tetapi kita katakan:"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila kita menetapkan agungnya hari kelahiran beliau, dengan cara bagaimana beliau mengagungkannya? Dengan berpuasa. Apakah beliau mengagungkan hari itu dengan perayaan yang mungkar ini? Maka ini adalah bantahan terhadap mereka, bukan hujjah yang membela mereka.

👍🏻 Kita katakan:"Jika kalian jujur dalam berittiba' (mengikuti) Rasulullah ﷺ, maka agungkanlah hari itu dengan cara beliau mengagungkannya yakni dengan berpuasa. Kemudian tidak warid (datang riwayat) bahwasanya beliau mengagungkan hari kelahiran beliau. Akan tetapi yang beliau kehendaki, beliau hendak menjelaskan bahwasanya Allah Ta’ala telah menjadikan pada hari itu sesuatu yang sangat penting bagi Bani Adam, yaitu: bahwasanya beliau dilahirkan di hari tersebut, diutus (sebagai Rasul) di hari tersebut, dan diturunkan al-Qur'an di hari itu pula.

❌ Aku katakan pula pada mereka:"Jika demikian, seharusnya kalian juga mengadakan hari duka cita dan berkabung. Karena Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin."

🍋 Thuwailibul 'Ilmisy Syar'i (TwIS)

🖊 Penerjemah: Abu Abdillah Rahmat

🔎 Muraja'ah: Al-Ustadz Kharisman hafizhahullah

🗓 6 Rabi'ul Awwal 1439
      25 November 2017

🇸🇦 Arabic

اتباع السنة نجاة:
🔘 كيفية الرد على غلاة الصوفية في شبهة الاحتفال بالمولد 🔘

❍ لِلشَّــيْخ العَلّامـَـة ❍
مُحَمَّدٌ بنُ صَالِحُ العُثَيْمِين
     -رَحِــمَهُ الله- :

❪✵❫ السُّـــ↶ــؤَال:

【لو ادعى غلاة الصوفية وأشباههم بأن فضل يوم الإثنين أن النبي ﷺ أمر بصيامه وبيان فضله، وأن الاحتفال بذكراه سنويا من باب أولى، فماذا نرد عليهم؟】

الشّيْــــــخ :-
أقول إذا كانوا يريدون أن يحتفلوا بيوم الإثنين فالواجب أسبوعيا. لماذا يخصص

  السّـــــائل :-
لفضل يوم الإثنين لأنه ولد فيه.

الشّيْــــــخ :- لعلك تريد المولد؟

السـّــــائل :- نعم.

الشّيْــــــخ :- صرح به.

السـّــــائل :- لا هم.

❪✵❫ الجَــ↶ـــوَابُ:

❒ هم يقولون: إن الرسول ﷺ يقول: ذاك يوم ولدت فيه يدل على تعظيم اليوم الذي ولد فيه لا على يوم الإثنين؛ لأن مولد الرسول ﷺ ليس يوم الإثنين سيكون (12) ربيع على ما يعتقدون.

لكن نقول: إن الرسول ﷺ إذا قدرنا أنه عظم اليوم الذي ولد فيه، فبماذا عظمه؟ بالصيام، هل عظمه بهذا الاحتفال المنكر؟ فهذا حجة عليهم وليس حجة لهم.

نقول: إذا كنتم صادقين باتباع الرسول ﷺ فعظموه بما عظمه به وهو الصيام. ثم الرسول ﷺ لم يرد أن يعظم اليوم الذي ولد فيه، لكن أراد أن يبين أن الله تعالى جعل في هذا اليوم أشياء مهمة لبني آدم وهي: أنه ولد فيه، وبعث فيه، وأنزل عليه فيه.

وأقول لهم :- « إذاً أقيموا الحزن والمأتم لأن الرسول ﷺ مات يوم الإثنين. »

📚 سلسلة لقاءات الباب المفتوح لقاء الباب المفتوح (٨٦)

Jumat, 24 November 2017

SESUNGGUHNYA DIATAS AL HAQ ADA CAHAYA

🌤 *SESUNGGUHNYA DIATAS AL HAQ ADA CAHAYA*

✍🏻 Ditulis oleh
Al Ustadz Abu 'Abdillah Muhammad Afifuddin As Sidawy حفظه الله

Al hakim dalam Mustadrok nya meriwayatkan dr Mu'adz bin Jabal رضي الله عنه beliau berkata:

*فإنّ على الحق نورا*

Atsar diatas dishohihkan Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahaby. Al haq yg dibawa dan di ajarkan rosulullah صلى الله عليه و سلم telah sempurna, menyeluruh dan bercahaya, dapat dilihat dg jelas dan dikenali dg baik oleh setiap muslim yg punya iman, ilmu dan fithroh yg masih lurus lagi bersih.

Cahaya al haq terkadang begitu benderang bagi siapa saja namun terkadang tertutup oleh kabut tebal ragam kebathilan, syahwat dan syubhat. Al haq pun menjadi samar atas kebanyakan pihak bahkan sampai pada tingkat al haq di anggap al bathil dan al bathil diyakini sebagai al haq.

Hal tsb sering kali terjadi manakala muncul fitnah besar lagi dahsyat yg melibatkan pihak2 yg selama ini dikenal sebagai pembawa panji2 sunnah dan pengibar bendera al haq. Jangankan kaum muslimin yg awam,  banyak ahlul haq yg mengalami kebingungan dalam menghadapi situasi yg demikian; apalagi ketika suasana diperkeruh dg adanya fenomena masing2 pihak mengklaim "kembali kepada bimbingan ulama".

Apabila kondisinya sudah sampai pada tingkat ini maka sangat penting bagi yg mendambakan keselamatan untuk mengenali cahaya al haq dg memperhatikan ciri-ciri berikut:

1⃣. *BERBUAH KEBAIKAN BUKAN KEJELEKAN*

Al haq selalu membuahkan kebaikan, baik pada aqidah, manhaj, ibadah, dakwah, muamalah, akhlaq, adab maupun pada perkara2 duniawi. Walaupun pada awalnya membuat "kegaduhan" di tengah2 umat dalam bentuk mengidentifikasi setiap orang, dia diatas al haq ataukah diatas al bathil? namun kemaslahatan dan kebaikannya akan dirasakan langsung oleh siapa saja yg berpegang dengannya, imannya semakin bertambah, aqidahnya semakin kokoh, manhajnya semakin jelas, ibadahnya semakin giat, adab dan muamalahnya semakin bagus, jiwanya pun damai dan tentram diatas sunnah. disisi lain dia akan menjauh dan meninggalkan segenap kejelekan dan penyimpangan.

Kaidah besar yg disepakati seluruh ulama dan fuqoha :

*الدين مبني على جلب المصالح و درء القبائح.*

Ketika ada sebagian pihak memunculkan "kegaduhan" maka bisa dilihat yg dia bawa adalah al haq ataukah al bathil? dr hasilnya.

Kalau yg berpegang dengannya semakin bertambah iman dan taqwanya, semakin kokoh aqidah dan manhajnya, semakin bagus akhlaq dan adabnya, semakin indah muamalah dan interaksinya dan membuahkan maslahat untuk umat maka _insyaallah_ itu adalah al haq.

Namun kalau yg terjadi justru sebaliknya, yg berpegang dengannya menjadi orang yg fanatik, malah banyak syubhat, terjatuh dlm sikap ghuluw, kotor ucapannya, keji tingkah lakunya, berani berdusta dll, maka yakinilah bahwa itu adalah al bathil walaupun yg membawanya adalah orang yg selama ini dikenal ilmunya, sunnahnya, dakwahnya dan akhlaqnya sebab dia sekarang telah mengalami pergeseran manhaj. _نعوذ بالله من الخذلان._

2⃣. *TETAP DIATAS AL HAQ TIDAK BERUBAH WARNA*

Ibnu Abi Syaibah dlm "Al Mushonaf" meriwayatkan dr Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه beliau menegaskan:

*ان الضلالة حق الضلالة ان تعرف اليوم ما كنت تنكره قبل اليوم و ان تنكر اليوم ما كنت تعرفه قبل اليوم و اياكم و التلوّن فإن دين الله واحد*

(Sesungguhnya kesesatan yg sebenarnya adalah engkau menganggap mungkar pada hari ini apa yg sebelumnya engkau yakini sebagai makruf dan engkau yakini makruf pada hari ini apa yg sebelumnya engkau anggap mungkar. Waspadalah kalian dr sikap talawwun! Sebab agama Allah hanya satu).

Ciri pokok lagi mendasar pada al haq adalah _tsabat_ (kokoh, tegar), tdk berubah dg berjalannya masa dan berpindahnya tempat. Apa yg dikatakan makruf dlm syari'at maka dia adalah perkara makruf sepanjang masa dan tempat sampai qiamat. Begitu pula yg dikatakan mungkar dlm islam maka dia adalah  perkara mungkar sampai qiamat.

Ahlul haq dg sifat-sifatnya selamanya dikatakan sebagai ahlul haq kecuali ketika ada individu yg bergeser dan menyimpang, begitu pula ahlul bathil dg atribut-atributnya, selamanya diyakini sebagai ahlul bathil kecuali bila ada individu yg bertaubat.

Cara mudah mengenali al bathil adalah dari sikap talawwun (berubah warna) saat fitnah mendera:

a. Orang yg selama ini diyakini sebagai ahlul fitan, ahlul masyakil bahkan ahlul bid'ah dan selama ini dijauhi dan ditahdzir, sekarang diyakini sebagai _ahlul khoir was sholah_ ahlus sunnah, didekati, dijadikan sahabat, dirangkul kembali bahkan dipuji, padahal blm ada taubat yg nasuha pada org tersebut.

b. Dahulu akhlaqnya baik muamalahnya bagus namun sekarang berani berdusta, arogan dlm muamalah.

Dan yg lainnya dari perubahan warna, dulunya diatas cahaya al haq namun sekarang penuh warna kebathilan.

_Bersambung_

🏕 Jum'at, 5 Robi'ul Awwal 1439H/24 November 2017M
Sumber: 💫WA Thullab Albayyinah💫

Kamis, 23 November 2017

FAEDAH PENTING SEPUTAR KEMBALI KEPADA ULAMA

❗ *FAEDAH PENTING SEPUTAR KEMBALI KEPADA ULAMA:* ❗

✍🏻 Ditulis oleh
Al Ustadz Abu 'Abdillah Muhammad Afifuddin As Sidawy حفظه الله di Grup WA Thullab Albayyinah

📝 Kembali kepada ulama adalah salah satu prinsip mendasar ahlussunnah dalam beragama secara umum dan berdakwah secara khusus.

Akhir-akhir ini prinsip tersebut disuarakan oleh semua pihak, baik ahlussunnah maupun hizbiyyin.

☝ Berikut ini beberapa point penting yang membedakan antara prinsip ahlussunnah dalam bab ini dan prinsip hizbiyyin, semoga bermanfaat dan bisa kita jadikan patokan dalam berprinsip;

*1. Ulama sunnah bukan ulama suu' atau ulama dholaalah.*

Kembali kapada "ulama" yang divonis para ulama sunnah sebagai ulama suu' atau ulama dholalah adalah penyimpangan nyata dan ciri semua orang yang menyimpang.

*2. Ulama sunnah kibar bukan hanya shighor.*

Ada 2 makna terkait dg kibar:

_a. Kibar pada umur dan ilmunya._

Untuk mengetahuinya bukan kita yang menilai namun ada persaksian dari ulama kibar pada masanya.

_b. Shighor yg menukil dari kibar._

Demikian rangkuman penjelasan ulama tentang makna kibar.
Dasarnya adalah  hadits Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما :

البركة مع أكابركم.

dan atsar Ibnu Mas'ud رضي الله عنه :

لا يزال الناس بخير ما اخذوا العلم عن اكابرهم و امنائهم و اذا اخذوا عن اصاغرهم هلكوا

❗Termasuk perkara yang membuat tergelincir adalah kembali atau mengambil dari shighor yang mereka bersendirian di dalamnya tanpa bimbingan kibar atau menukil dari kibar.

*3. Ulama kibar yang spesialis bidangnya.*

Ulama kibar dalam mengetahui suatu bidang ilmu bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar ilmu masing-masing.

Perkara yg disepakati oleh semua ulama pelbagai bidang ilmu adalah kembali kepada ulama spesialis bidang masing-masing tanpa mengurangi rasa hormat kepada ulama yg lain.

Dasarnya adalah hadits:

اذا وسد الامر الى غير اهله فانتظر الساعة.

Diantara kebiasaan hizbiyyin sepanjang masa _(demikian di tegaskan oleh asy syaukany dlm adabut tholab)_ adalah datang kepada ulama bahkan kibar ulama yang kurang memahami keadaan mereka secara detail lalu menampilkan hal-hal indah dan bagus yang ada pada mereka untuk mendapatkan tazkiyyah atau walau sebuah kalimat yg mendukung atau melegalisir apa yang ada pada mereka meskipun bersifat global lalu mereka sebarkan dan dipakai untuk menghantam ahlulhaq was sunnah.

*4. Ulama sunnah kibar spesialis bidangnya di masa kini.*

Satu point ini perlu untuk jadi perhatian sebab yang tahu peristiwa, kejadian dan fitnah di masa kini adalah ulama pada masa ini.
Termasuk sebab penyimpangan adalah tindakan mencomot kalam ulama terdahulu untuk diterapkan pada kasus masa kini tanpa bimbingan ulama masa kini.

*5. Tidak semua masalah kembali kepada ulama.*

Masalah yg terjadi ada 2 macam:

_a. masalah yang sangat jelas dan gamblang hukumnya secara dalil, dapat diketahui oleh thullabul ilmi apalagi ulama, seperti ideologi rofidhoh, ideologi khowarij, dan semisal._

_b. Masalah yang samar atas kebanyakan orang bahkan thullabul ilmi bahkan sebagian ulama._

Masalah inilah yang ditanyakan kepada ulama kibar di atas untuk dapat arahan dan bimbingannya.
Adapun masalah yang pertama bisa ditanyakan juga kepada ulama dalam rangka lebih menenangkan hati.

Termasuk kelucuan sebagian pihak yang  - _afwan_ - ana katakan jahil adalah MENGHARUSKAN kembali kepada ulama dalam SEMUA MASALAH.

*6. Tanya dan minta bimbingan dulu baru bicara dan menjelaskan sesuai bimbingan.*

Ketika terjadi perkara yang rumit atau samar dan harus minta bimbingan ulama kibar maka sikap masing-masing kita adalah diam, menahan diri, tidak bicara, tidak komentar apalagi menuduh dan mengklaim tanpa dasar dan bukti. Minta bimbingan dulu kepada ulama dengan MEMBERIKAN GAMBARAN MASALAH SECARA DETAIL DENGAN JUJUR TANPA REKAYASA DAN TENDENSI, setelah mendapatkan arahan dan bimbingan ulama maka;

_a. sebarkan yang memang diizinkan untuk disebarkan._

_b.simpan perkara-perkara yang diminta untuk disimpan._

👎Termasuk kebiasaan hizbiyyin adalah membangun sebuah kaidah lalu cari pembenaran, akhirnya mereka mengambil apa yang menguntungkan mereka saja.

👍 Ahlussunnah berilmu terlebih dahulu baru membangun sebuah kaidah, sehingga selalu ilmiyyah dan siap mengambil yang menguntungkan mereka atau yang menyalahkan mereka untuk mereka perbaiki.

🏕 Sidayu, Rabu, 3 robi'ul awwal 1439H/22 November 2017M.

Senin, 20 November 2017

FENOMENA ADZAN KETIKA PEMAKAMAN

⚖ FATWA ULAMA ⚖

════════════════════

📢💦🥀 FENOMENA ADZAN KETIKA PEMAKAMAN

✒ asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi rahimahullah

☎ Pertanyaan :
Apa Hukum menyuarakan ADZAN ketika pemakaman mayit ❓

📞 Jawaban :

⚠ Termasuk bid'ah dan tidak ada dalilnya.❗

👉🏼 Yang dituntunkan ketika memasukkan mayit ke kuburan adalah :

[•••Bismillah wa 'ala millati rasulillah -shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam•••]

👋🏼 Kemudian setelah pemakaman mengatakan :

(...Mintalah keteguhan untuk saudara kalian karena dia sekarang sedang ditanya...)

☝🏻 Demikianlah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa alihi wa sallam.

📜 Sumber : As'ilah Syabab Qoryah as-Sa'id

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✒ من فتاوى العلامة مقبل الوادعي :

السؤال
ما حكم الأذان عند دفن الميت ؟

الجواب

يعتبر بدعة ؛ لم يثبت 
والذي ثبت أنه عند إدخال الميت القبر يقال : بسم الله ، وعلى ملة رسول الله - صلى الله عليه وعلى آله وسلم - ، وبعد دفنها يقال : سلوا لأخيكم التثبيت فإنه الآن يُسأل ، هذا هو الذي ورد عن النبي  صلى الله عليه وعلى آله وسلم  .

📜 من شريط : ( أسئلة شباب قرية السعيد )

•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Channel Ⓚ①Ⓣ
https://bit.ly/KajianIslamTemanggung

📻📡 Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

📩. Share >> http://telegram.dog/KEUTAMAANILMU

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Sabtu, 18 November 2017

DUA FAIDAH MEMPERLUAS KATA TATKALA BERDOA


💾 “DUA FAIDAH MEMPERLUAS KATA TATKALA BERDOA”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata di dalam sujudnya:

(( اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ : دِقَّهُ وَجِلَّهُ ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ ))

”Ya Allah Ampunilah dosaku seluruhnya, yang kecil dan besarnya, awal dan akhirnya, yang terang dan tersembunyi.” H.R. Muslim dan Abu Daud.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Di sini sudah ditentukan tempat dari dzikir ini yaitu ketika sujud.

Dan hadits ini ada penjabaran (kata-kata doa) di dalamnya. Dengan mengingat bahwa mungkin bagi Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- untuk berkata “Ya Allah ampunilah aku” saja. Dan bisa pula untuk beliau tidak menyebut “dosa” (dalam doanya) karena memohon ampunan tidak lain pasti terkait dengan dosa.

Namun dalam menjabarkan (kata dalam  doa) terkandung dua hal:

1⃣ Pertama:

Bahwa manusia berada di hadapan Rabbnya ketika sedang berdoa -dan seorang mukmin mencintai Rabbnya- dan memperpanjang berposisi (doa) di hadapan Allah ‘azza wa jalla sangat menunjukkan sifat cinta (kepada-Nya).

2⃣ Kedua:

Bahwa ia merasakan kehadiran dosa-dosanya. Sebab ada dosa yang besar dan kecil, terdahulu dan akan datang. Sehingga perincian (dalam doa memohon ampunan) tidak diragukan lebih kuat efeknya (bagi jiwa) daripada (ucapan doa yang)global.

Dan beranjak dari ini, ia akan lebih khusyuk dalam doanya dan lebih bersih (jiwanya) dalam permohonan (ampunan).

📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa: 1/ 407.

🔖 Faidah dari al-Ustadz Abu Yahya Abdullah al Maydaniy hafizhahullah

•••┈••••○❁📖❁○••••┈•••

📠 Dikutip dari channel @salafybaturaja

🚀 Dipublikasikan oleh:
👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC
👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC

📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang
______________________________

JENIS-JENIS TAWASSUL YANG DISYARIATKAN DAN UPAYA AHLUL BIDA' UNTUK MENGHIDUPKAN BUDAYA JAHILIYYAH KETIKA MEREKA MENAMAKAN KESYIRIKAN DENGAN NAMA TAWASSUL

📖🌘⚠️JENIS-JENIS TAWASSUL YANG DISYARIATKAN DAN UPAYA AHLUL BIDA' UNTUK MENGHIDUPKAN BUDAYA JAHILIYYAH KETIKA MEREKA MENAMAKAN KESYIRIKAN DENGAN NAMA TAWASSUL

🌼Asy Syaikh Al Allamah Muhammad Aman Al Jamy rahimahullah berkata :

"وقد ثبت بالإستقراء أن التوسل يطلق ويستعمل في المعاني التالية :
أولا : طلب الدعاء من الحي الصالح.
ثانيا : التقرب إلى اللّٰه بالإيمان والعمل الصالح والتقوى.
ثالثا : دعاء العبد ربه بالأعمال الصالحة خالصة لله، ودعاؤه بأسمائه الحسنى".

"Telah tetap berdasarkan penelitian (terhadap nash-nash Al Quran dan As Sunnah) bahwa tawassul digunakan dengan beberapa makna berikut :

✔️Yang pertama : Meminta doa dari orang shalih yang masih hidup.

✔️Yang kedua : Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara beriman dan beramal shalih serta bertakwa kepadaNya.

✔️Yang ketiga : Seorang hamba berdoa kepada Rabbnya dengan menyebutkan amalan-amalan shalih yang murni ia tujukan kepada Allah dan berdoa kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya yang husna".

📚Majmu'ur Rasail hal. 101.

⚪️Asy Syaikh Al Allamah Rabi' Bin Hadi Al Madkhaly hafizhahullah berkata :

"Tawassul dengan iman dan amalan yang shalih dan tawassul dengan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya serta perbuatan-perbuatanNya yang mengandung hikmah merupakan jenis-jenis tawassul yang terbesar, dan sungguh Allah telah menyebarkan penyebutan jenis-jenis tawassul tersebut di banyak ayat dalam Al Quran.
Dan jenis-jenis tawassul ini telah dimatikan di dalam benak Ahlul Bida' hingga tawassul tatkala disebutkan tidaklah terpalingkan kecuali kepada amalan-amalan kebatilan dan kesyirikan serta amalan-amalan yang rendah dan hina".

📚Min Shifaatil Abrar hal. 33

🌏Sumber : https://mobile.twitter.com/DrRabeeM/status/854710033908674560/photo/1

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
telegram.me/dinulqoyyim

Senin, 13 November 2017

TIGA UNSUR PENYEMPURNA SUSUNAN KATA TATKALA BERDOA

::

*🚇 TIGA UNSUR PENYEMPURNA SUSUNAN KATA TATKALA BERDOA*

Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:

“Ajarkan kepadaku suatu doa yang aku berdoa dengannya di dalam shalatku.

Rasulullah ﷺ pun bersabda:

“Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

_”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Muttafaqun ‘alaih]._

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin –rahimahullah- berkata:

“Doa ini mengumpulkan konteks yang sempurna dalam berdoa.

✍🏻Sebab doa:

🔘Terkadang menyebut keadaan orang yang berdoa saja

🔘Terkadang hanya menyebut sifat yang dihaturkan kepadanya doa(yaitu Allah)

🔘Kadangkala  dengan menyebut permintaannya saja

🔘Dan terkadang  menyebutkan seluruhnya (yang tersebut di atas).

☝🏻Contoh doa yang di dalamnya hanya mengucapkan permintaan saja yaitu jika kamu katakan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Ya Allah ampunilah aku.

☝🏻Permisalan doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa saja seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- dalam firman Allah Ta’ala:

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ ﴿٢٤﴾

_Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa:  "Duhai Rabb-ku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". [Q.S. Al-Qashash: 24]_

Di sini tidak disebut kecuali keadaan orang yang berdoa saja yang berkonsekuensi meminta kedekatan dan rahmat-Nya.

☝🏻Dan contoh doa yang menyebut keadaan orang yang berdoa dan permintaan, seperti ucapan Nabi Musa –‘alaihissalam- (dalam firman Allah Ta’ala):

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٦﴾

_“Musa berdoa:  "Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Q.S. Al-Qashash: 16]_

*Dan doa yang paling sempurna yang disebut di dalamnya:*
▪ keadaan orang yang berdoa,
▪ yang dipintakan doa kepadanya,
▪ dan permintaan.

☝🏻 Sebagaimana di dalam hadits ini.

Oleh karenanya Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- mengajarkan kepada beliau (Abu Bakr) ucapan yang paling mencakup dalam konteks kalimat dan permintaannya.

*📖 At-Ta’liq ‘alal Muntaqo min Akhbaaril Musthofa, 1/394.*

_________
*Catatan:*

✍🏻اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا،

_”Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang banyak,"_

Ini penyebutan kondisi orang yang berdoa

✍🏻 وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

_"sedangkan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau,"_

Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya

✍🏻 فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، 

_"maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah aku,"_

Ini permintaannya.

✍🏻 إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

_"sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”_

Ini penyebutan sifat yang dipintakan doa kepadanya.

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net

BERANI KARENA TAUHID, TAKUT KARENA SYIRIK

::
🚇 *BERANI KARENA TAUHID, TAKUT KARENA SYIRIK*

*Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:*

“Seorang hamba apabila Allah memberi nikmat atasnya dengan tauhid maka ia akan mempersaksikan bahwa _Laa ilaaha illallah_(tiada yang berhak diibadahi kecuali Allah) dengan ikhlas dari lubuk hatinya

---adapun _ilaah_ maknanya adalah _al-ma’bud_(yang diibadahi), yang berhak untuk mendapat PUNCAK rasa cinta, penghambaan, pengagungan, pemuliaan, rasa takut, dan pengharapan (dari hamba-Nya). Dengan sebab kecintaan kepada Allah maka akan fana(sirna) rasa cinta kepada selain-Nya,tidak akan ada permohonan kepada selain-Nya karena ia berdoa dan bertawakkal kepada-Nya, hilang ketaatan kepada selain-Nya dengan sebab ia menaati-Nya---

(dengannya) Allah anugerahkan rasa manis kepadanya dengan keamanan, kegembiraan, kesenangan, dan kasih sayang kepada makhluk. Serta berjihad fi sabilillah. Dia berjihad dan merahmati. Untuknya kesabaran dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ ﴿١٧﴾

_Dan mereka saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang._ *Q.S. Al-Balad: 17*

◼Dan setiapkali menguat tauhid di hati seorang hamba pasti akan menguat keimanan, rasa tenang, tawakkal, dan keyakinannya (kepada Allah).

◼Adapun halnya rasa takut yang terjadi di hati-hati manusia maka itulah (sebab) syirik yang ada di hati-hati mereka. Allah Ta’ala berfirman:

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ ﴿١٥١﴾

_Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu._ *Q.S. Ali-Imraan : 151.*

Dan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ ﴿٨٠﴾  

_Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku._

Sampai dengan firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

_Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk._ *Q.S. Al-An’aam : 80 – 82.*

Dan di dalam hadits yang shahih:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

_Celakalah budak(yang menghamba kepada)dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak al-khamishah(kain hitam/ merah bermotif –yaitu yang  lebih mementingkan penampilannya daripada ibadah)! Celakalah dan binasa! Jika ia tertusuk duri semoga tidak tercabut!_

Maka siapa yang di hatinya ada rasa kepemimpinan terhadap suatu makhluk maka terkandung penghambaan kepada makhluk tersebut sesuai kadarnya.

Sehingga ketika mereka (musyrikin) menakut-nakuti khalil-Nya(Ibrahim ‘alaihissalam) dengan apa-apa yang mereka sembah dan persekutukan Allah dengannya –suatu kesyirikan besar semisal ibadah- al-Khalil berucap:

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾

_Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah(alasan) kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"_ *Q.S. Al-An’aam: 81.*

Beliau –‘alaihissalam - berkata:

“Jika kalian menaati selain Allah, mengibadahi selain-Nya, dan berbicara tentang agama-Nya dengan sesuatu yang Dia tidak memberikan suatu keterangan MAKA mana di antara dua kelompok ini yang lebih berhak mendapat keamanan(dari murka Allah) jika kamu benar mengetahui?!”

Yaitu: Kalian (berani) melakukan kesyirikan kepada Allah dan tidak takut kepada-Nya sedangkan kalian menakut-nakuti aku ini dengan selain Allah(dari sesembahan kalian); maka siapa yang lebih pantas untuk mendapat keamanan(dari Allah)?

Sampai dengan firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

_Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk._ *Q.S. Al-An’aam : 82.*

Yaitu: mereka adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan ikhlash(dalam ibadahnya).

Oleh karena ini Imam Ahmad berkata kepada sebagian orang:

“Andai kamu membenarkan (tauhidmu) kamu tidak akan pernah takut kepada seorang(makhluk)pun.”

*Majmu’ al-Fatawa : 28/ 35 – 36.*

--------------------------------------------

Catatan:

📌Faidah ini adalah petikan dari surat  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah _rahimahullah_ ditujukan untuk teman dan murid-muridnya sebagai nasihat kepada mereka ketika beliau di penjara di Iskandariyah.

📌Sebagai penjelasan pembahasan bisa di atas bisa merenungi makna Kalamullah dalam surat Al-An’aam ayat 80 – 82 sebagaimana berikut:

وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾ وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨١﴾ الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢﴾

_080. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)?_

_081. Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?"_

_082. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk._

# _muhibbukum fillah_

📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah

••••
📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF]
🌍www.alfawaaid.net

Sabtu, 11 November 2017

BIASANYA ORANG YANG BANYAK BICARA SEDIKIT ILMU DAN RASA TAKUTNYA KEPADA ALLAH

✋🏼📢⚠️‼️ *BIASANYA ORANG YANG BANYAK BICARA SEDIKIT ILMU DAN RASA TAKUTNYA KEPADA ALLAH*

» _Al-Imam Abul Hasan al-Qaththan rahimahullah berkata:_

*أصبت ببصري وأظن أني عوقبت بكثرة كلامي أيام الرحلة.*

_"Saya ditimpa kebutaan, dan saya menduga bahwa saya dihukum akibat saya banyak bicara ketika menuntut ilmu."_

» _*Al-Imam adz-Dzahaby rahimahullah mengomentari perkataan beliau di atas:*_

*صدق والله، فقد كانوا مع حسن القصد وصحة النية غالباً يخافون من الكلام وإظهار المعرفة والفضيلة.*

_"Benar apa yang beliau katakan, demi Allah, sungguh mereka (para ulama) dahulu bersama dengan baiknya tujuan dan niat, seringnya mereka takut bicara dan menampakkan pengetahuan dan keutamaan yang mereka miliki._

*واليوم: يكثرون الكلام مع نقص العلم وسوء القصد، ثم إن الله يفضحهم ويلوح جهلهم وهواهم واضطرابهم فيما علموه!*

_Sedangkan sekarang, manusia banyak bicara dalam keadaan ilmu yang sedikit dan buruknya tujuan, kemudian sesungguhnya Allah akan membongkar kedok mereka dan akan menampakkan kebodohan, hawa nafsu, dan kegoncangan pada perkara-perkara yang mereka ketahui._

*فنسأل الله التوفيق والإخلاص.*

_Maka kita memohon kepada Allah agar dikaruniai taufiq dan keikhlasan."_

📚 *Siyar A'lamin Nubala', jilid 15 hlm. 464-465*

🌍 *Sumber* || Majmu'ah "Marhaban Yaa Thalibal 'Ilmi"

⚪ *WhatsApp Salafy Indonesia*
⏩ *Channel Telegram* || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Selasa, 07 November 2017

Imam Ahli Tafsir Mimpi, Muhammad Bin Sirin rahimahullaah

🌺 *ULAMA SALAF* 🌺

🌹Imam Ahli Tafsir Mimpi🌹

Ibnu Sirin, demikian nama ini sering terdengar telinga kita. Untuk seorang penuntut ilmu, nama ini memang tak lagi asing. Betapa tidak, tabi’in mulia ini telah menjadi seorang imam (panutan) sekaligus bergelar Syaikhul Islam (seorang ulama yang sangat mendalam ilmunya tentang segala bidang ilmu agama). Ayahnya merupakan bekas budak Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, shahabat mulia yang mengabdi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dahulu, ayahnya, Sirin termasuk tahanan Jarjaraya, sebuah wilayah di dekat kota Baghdad. Sejak awal, Anas bin Malik melihat Sirin mempunyai kemampuan dalam perniagaan. Sirin memang ahli dalam membuat periuk sehingga bisa menuai keuntungan cukup besar dari perdagangannya. Di saat itulah, Sirin menginginkan mukatabah karena merasa mempunyai harta yang cukup untuk membebaskan diri dari perbudakan. Mukatabah merupakan salah satu metode untuk membebaskan diri dari perbudakan. Yaitu, seorang budak meminta majikannya untuk dimerdekakan dengan membayar sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan. Si majikan hendaklah mengabulkan permintaan itu jika ia memandang budaknya sanggup melunasi pembayaran dengan harta yang halal. Setelah bebas dari belenggu perbudakan, Sirin pun berkeinginan untuk menikah. Saat itu jatuhlah pilihannya kepada seorang budak wanita milik Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang bernama Shafiyah. Nah, dari kedua pasangan inilah, lahir seorang ulama tabi’in yang sangat terkenal Muhammad bin Sirin.

Muhammad dilahirkan dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Demikian menurut penuturan saudaranya yang bernama Anas bin Sirin. Sementara Anas sendiri dilahirkan setahun setelahnya. Menginjak usia remaja, Muhammad menjumpai shahabat-shahabat Nabi yang mulia seperti Abu Hurairah, ‘Imran bin Hushain, Ibnu Abbas, ‘Adi bin Hatim, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan yang lainnya. Bahkan menurut penuturan Hisyam bin Hasan, Muhammad sempat bertemu dengan tiga puluh shahabat sepanjang hidupnya. Tak pelak, kondisi ini semakin membuatnya antusias untuk menimba ilmu agama dari mereka.

NASIHAT EMAS IBNU SIRIN

Salah satu nasihat emas Muhammad bin Sirin yang sering dinukilkan oleh para ulama adalah ucapan beliau, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Ia juga mengatakan, “Sungguh telah lewat sebuah zaman yang tidak pernah mereka bertanya mengenai sanad[1] sebuah hadits (zaman shahabat Nabi). Namun ketika telah terjadi zaman ujian, mulailah dipertanyakan sanad suatu hadits. Sehingga apabila sanad hadits itu bersumber dari ahli kesesatan, maka haditsnya ditinggalkan.”

PUJIAN ULAMA

Amr bin Dinar rahimahullah pernah mengatakan, “Demi Allah aku belum pernah melihat (keilmuan) seseorang semisal (keilmuan) Thawus.” Mendengar hal itu, Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berujar dan saat itu ia sedang duduk, “Demi Allah, seandainya Amr melihat Muhammad bin Sirin, niscaya kata-kata itu tidak akan terucap darinya.”

Hal senada juga pernah diungkapkan Ibnu Auf, “Belum pernah aku melihat ulama semisal Muhammad bin Sirin.”

Hammad bin Zaid berkata, “Tidak ada seorang pun di Bashrah yang lebih berilmu tentang pengadilan melebihi Ibnu Sirin.”

Ibnu Yunus berkata, “Ibnu Sirin lebih pandai daripada Al-Hasan Al-Bashri dalam berbagai hal.”

Auf Al-A’rabi berkata, “Ibnu Sirin mempunyai pengetahuan yang baik tentang ilmu waris, pengadilan, dan hitungan.”

Muriq Al-Ijli mengatakan, “Belum pernah aku melihat orang yang lebih fakih dalam sifat wara’-nya dan lebih wara’ dalam fikihnya daripada Muhammad bin Sirin.”

Suatu ketika, pernah nama Muhammad bin Sirin disebut-sebut di hadapan Abu Qilabah rahimahullah. Abu Qilabah pun berkata, “Perlakukanlah dia semau kalian. Sungguh kalian akan menjumpainya sebagai orang yang paling kuat wara’-nya dan paling bisa menguasai diri.”

Ibnu Auf mengatakan, “Ada tiga orang yang belum pernah kedua mataku melihatnya: Ibnu Sirin di Irak, Al-Qasim bin Muhammad di Hijaz, dan Raja’ bin Haiwah di Syam. Seolah-olah mereka bertemu dan saling memberikan wasiat.”

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Ibnu Sirin adalah seorang yang fakih, berilmu, wara’, beradab, banyak meriwayatkan hadits, terpercaya, para ulama telah mempersaksikan hal itu dan hafalan beliau bisa dijadikan pegangan argumen.”

Bakar bin Abdullah Al-Muzani berkata, “Barang siapa ingin melihat orang paling wara’ yang pernah kami jumpai, maka hendaknya ia melihat Muhammad bin Sirin.”

Tsabit Al-Bunani berkisah, “Al-Hasan Al-Bashri berusaha untuk menghindar dari kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf. Tatkala putri Al-Hasan meninggal, aku pun segera datang menemuinya dan berharap ia menyuruhku untuk menshalati putrinya. Saat itu Al-Hasan sedang menangis hingga meninggi isakan tangisnya. Kemudian berkata kepadaku, ‘Pergilah kepada Muhammad bin Sirin dan katakanlah kepadanya supaya menshalati putriku.’ Ternyata baru aku ketahui tidak ada yang seorang pun yang semisal dengan Ibnu Sirin.”

Selain dikenal sebagai ulama ahli hadits, ternyata Muhammad juga termasuk ahli ibadah di zamannya. Berikut ini persaksian ulama mengenai hal itu, Ayyub As-Sikhtiyani pernah berkata, “Muhammad selalu berpuasa sehari dan berbuka sehari.”

Abu ‘Awanah berkata, “Aku pernah melihat Muhammad bin Sirin di pasar. Maka tidak ada seorang pun yang melihatnya melainkan sedang berdzikir kepada Allah.”

Kelebihan lainnya yang ada pada diri Ibnu Sirin adalah akhlak mulia yang senantiasa menghiasi kehidupan sehari-harinya. Ibnu Auf menuturkan, “Sesungguhnya jika Muhammad [bin Sirin] berada di sisi ibunya, maka dia sangat melirihkan suaranya. Sehingga orang yang melihatnya akan menyangka bahwa dia sedang sakit.” Ia juga menuturkan bahwa apabila ada orang-orang yang menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Ibnu Sirin, maka ia pun justru menyebutkan hal terbaik dari orang itu yang ia ketahui.

Hisyam bin Hasan berkata, “Muhammad pernah berdagang dan ketika menjumpai sesuatu yang meragukan, maka ia pun meninggalkannya.”

Para pembaca yang budiman, sebagaimana para ulama terdahulu, Ibnu Sirin juga tidak luput dari cobaan yang mendera kesabaran dan keimanannya. Ya, beliau pernah menanggung utang yang sangat banyak dan bahkan sempat dipenjara karena tidak mampu melunasi utangnya tersebut. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa faktor penyebabnya adalah karena ia menumpahkan minyak dalam jumlah yang cukup banyak. Suatu ketika Ibnu Sirin membeli minyak seharga empat puluh ribu dirham dalam beberapa bejana. Namun setelah dilihat ternyata di sebagian bejana tersebut terdapat bangkai seekor tikus. Akhirnya ia membuang minyak yang ada di bejana tersebut karena jika dikembalikan kepada penjualnya tentu akan dijual ke orang lain. Sehingga hal itu mengakibatkan Ibnu Sirin mengalami kerugian yang sangat besar.

Ibnu Sirin sangat membenci para ahli bid’ah. Hal ini terlihat dari berbagai pernyataannya yang sangat keras terhadap ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu. Ibnu Aun berkata, “Muhammad bin Sirin memandang bahwa pengekor hawa nafsu dan ahlul bid’ah adalah orang yang paling cepat keluar dari keislaman. Beliau juga berpendapat bahwa ayat ini turun kepada mereka, yaitu firman-Nya:

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَـٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” [Q.S. Al-An’am: 68]

Diriwayatkan dari Syuaib bin Al-Habhab bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Sirin, “Bagaimana hukum mendengarkan ceramah para pengekor hawa nafsu?” Ia pun dengan tegas menjawab, “Kita tidak boleh mendengarkan pembicaraan mereka dan tidak ada kemuliaan untuk mereka.”

Abdullah bin Muslim Al-Marruzi berkata, “Dahulu aku pernah duduk bersama Ibnu Sirin. Kemudian aku meninggalkannya dan duduk bersama Ibadhiyah (salah satu sekte Khawarij yang dinisbatkan kepada pendirinya yang bernama Abdullah bin Ibadh At-Tamimi). Maka aku bermimpi melihat seolah-olah diriku bersama suatu kaum yang membawa jenazah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun datan menemui Ibnu Sirin dan aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, ‘Kenapa engkau duduk bersama orang-orang yang hendak mengubur ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’”

Salah satu karya tulis Ibnu Sirin yang masih ada hingga saat ini adalah sebuah kitab yang berjudul Tafsirul Ahlam (Tafsir Mimpi). Ibnu Sirin termasuk segelintir ulama yang diberi kelebihan untuk menafsirkan mimpi.

Diriwayatkan dari Hisyam bin Hasan ia berkata, “Ada seseorang bercerita kepada Ibnu Sirin, ia mengatakan, ‘Aku melihat dalam mimpi seolah-olah di tanganku ada sebuah gelas yang terbuat dari kaca dan di dalamnya ada air. Tiba-tiba gelas itu pecah namun airnya masih tetap ada.’ Ibnu Sirin mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah sesungguhnya engkau tidak melihat sesuatu pun.’ Laki-laki itu berkata, ‘Subhanallah! Aku bercerita mimpiku kepadamu namun engkau justru seperti itu.’ Ibnu Sirin pun berkata, ‘Barang siapa berdusta, maka bukan tanggunganku. Tafsirnya adalah istrimu akan melahirkan dan meninggal sementara anaknya tetap hidup.’ Tatkala keluar, laki-laki itu berkata, ‘Demi Allah aku tidak melihat sesuatu pun.’ Hisyam menuturkan, ‘Tidak lama kemudian anaknya lahir dan istrinya meninggal dunia.’”

Ada seseorang mengisahkan kepada Ibnu Sirin perihal mimpi yang pernah dilihat Al-Hajjaj bin Yusuf dalam tidurnya. Dalam mimpinya tersebut, Al-Hajjaj melihat ada dua bidadari turun dari atas langit. Salah satu dari bidadari tersebut mampu didapatkan oleh Al-Hajjaj namun yang lainnya kembali terbang ke atas langit. Ibnu Sirin pun berkata bahwa makna mimpinya tersebut adalah akan ada dua musibah yang telah menanti Al-Hajjaj. Satu musibah akan menimpanya tatkala masih hidup dan musibah yang lain tidak dia jumpai. Sungguh benar apa yang ia tafsirkan. Musibah yang menimpanya adalah pemberontakan Ibnu Asy’ats terhadapnya. Adapun musibah yang tidak ia jumpai adalah musibah Al-Muhallab. Padahal, saat itu kebanyakan orang menganggap bahwa mimpi itu menjadi tanda kebaikan dan kabar gembira untuk Al-Hajjaj. Begitu banyak kisah yang diriwayatkan dari beliau mengenai tafsir mimpinya yang menjadi kenyataan. Jika Ibnu Sirin ditanya tentang tafsir sebuah mimpi, beliau pun berkata, “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dalam kesadaranmu, niscaya apa yang engkau lihat dalam tidurmu tidak akan mencelakakanmu.”

Namun perlu diketahui, penjelasan para ulama mengenai hal ini bahwa mimpi dari selain para nabi tidak boleh dijadikan sebagai landasan hukum untuk menghukumi suatu perkara kecuali setelah ditimbang dengan hukum syariat. Jika diperbolehkan secara syar’i maka bisa diamalkan. Namun jika tidak diperbolehkan maka wajib ditinggalkan. Mimpi hanyalah sebatas memberi kabar gembira atau peringatan jika sesuai dengan tuntunan syariat. Demikianlah Ibnu Sirin, beliau merupakan salah satu dari segelintir ulama tabi’in yang diberi kelebihan dalam menafsirkan mimpi. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Qudwah, edisi 17 vol. 2 1435 H/ 2014 M, rubrik Ulama. Pemateri: Ustadz Abu Hafy Abdullah.

sumber : kajian islam ilmusyari.com