Kamis, 29 Desember 2016

Sunnah yang hilang; Membuat Masjid di Rumah (Untuk Ibadah Sunnah Nawafil)

🚪Sunnah yang hilang; Membuat Masjid di Rumah (Untuk Ibadah Sunnah Nawafil)

✏ ____________

🌺 DEFINISI

✔ Masjid Rumah: adalah tempat yang dijadikan dan disiapkan oleh pemilik rumah untuk shalat sunnah, nawafil, membaca Al Quran dan dzikir kepada Allah _azza wajalla_.

🌷 HUKUMNYA

✔ Membuat masjid-masjid dirumah-rumah adalah Sunnah Mustahab, bagi para lelaki dan wanita sama batasannya.

🔊 Berkata Ibnu Abidin: disunnahkan bagi para lelaki juga untuk mengkhususkan suatu tempat dari rumahnya guna shalat nafilah."

📜(Hasyiah Ibnu Abidin 2/441).

🌸 DALIL-DALIL DISYARIATKANNYA

1⃣ Masuk dalam keumuman firman Allah ta'ala:

▪ { وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ } يونس ( 87 )

▪ "... dan jadikanlah oleh kalian rumah-rumah kalian itu tempat shalat dan dirikanlah shalat serta berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS Yunus:87).

2⃣ Dan menunjukkan akan hal itu berupa riwayat Imam Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

[▲] "Bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Anshar mengirim pesan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam agar datang guna menggaris sebagai masjid di dalam rumahku yang aku akan shalat padanya, dan itu setelah kebutaanku,  lalu beliau datang dan melakukannya."
📜 (Shahih Ibnu Majah 755).

3⃣ Dan riwayat Imam Bukhari bahwasanya 'Itban bin Malik radhiallahu 'anhu berkata:

[▲] “Wahai Rasulullah, Aku ingin anda mendatangiku lalu mengerjakan shalat di rumahku, yang aku jadikan nantinya sebagai tempat shalat”. Dia berkata: "Berkata padanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Akan saya lakukan in-syaAllah”. Berkata 'itban: "Keesokan harinya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar datang, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta ijin, akupun mengijinkannya,  belum duduk sehingga masuk kedalam rumah kemudian berkata, “Dimana tempat yang kamu sukai untuk diriku shalat di rumahmu? Maka aku (‘Itban) menunjuk ke satu pojok rumah. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan takbir(disitu). Dan kami berdiri berbaris di belakang beliau. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat lalu salam”.
📜 (Al Bukhari (407).

4⃣ Dan masuk dibawah hadits-hadits yang banyak yang terdapat dorongan untuk shalat nafilah/sunnah di rumah,  diantaranya:

ⓐ Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu: bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Atas kalian untuk shalat di rumah-rumah kalian,  karena sebaik-baik shalatnya lelaki itu di rumahnya kecuali shalat wajib/maktubah."

ⓑ Dari Abdullah bin Sa'd radhiallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mana yang lebih utama shalat dirumahku atau shalat di masjid? Beliau menjawab: "Apakah kamu tidak melihat rumahku betapa dekatnya dari masjid,  tentulah aku shalat dirumahku lebih aku sukai daripada aku shalat di Masjid,  kecuali untuk shalat wajib/maktubah."
📜 (Shahih, shahih Abu Daud 205, Shahih ibnu Majah 1378, al Irwa 2/190, shahihutarghib watarhib 439).

✔ Dan sudah dimaklumi bahwa petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan sunnah-sunnah dan tathawu' di rumah kecuali ada halangan, sebagaimana petunjukknya melakukan shalat fardhu di Masjid,  kecuali ada rintangan berupa safar, sakit atau selainnya dari perkara yang menghalanginya kemasjid. 📜 (Zaadul Ma'ad 1/298)

5⃣ Dan menunjukkan atasnya yaitu perbuatan Salaf terhadap ibadah ini dan bahkan terkenal dikalangan mereka:

🍃 Dan sungguh telah berkata Al Hafidz ibnu Hajar dalam Fathulbari menjelaskan pada Bab [Masjid-masjid di rumah-rumah], termasuk shahih:

[▲] "Dahulu termasuk kebiasaan Salaf mereka membuat di rumah-rumah mereka tempat-tempat disiapkan untuk shalat padanya." kalaulah anda merujuk kesemua penjelasan ucapannya, maka itu penting.

✔ Dan telah diriwayatkan dari sekian banyak Salaf bahwasanya mereka menjadikan dirumah-rumah mereka masjid-masjid, yang mereka khususkan untuk dzikir,  shalat nawafil/sunnah dan selain itu,  dan diantara atsar-atsar ini:

ⓐ Hadits riwayat al imam Bukhari dari Aisyah radhiallahu 'anha dalam kisah hijrahnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan shahabatnya ash shidiq Abu Bakar radhiallahu 'anhu ke Madinah dan padanya terdapat ucapan Aisyah berkenaan Abu Bakar ash shidiq yang membangunkan putrinya sebuah masjid dihalaman rumahnya, dan ia shalat didalamnya dan membaca al Qur'an. 📜 (Al Bukhari 3905).

[↑] dan akan hal itu, maka Abu Bakar ash shidiq radhiallahu 'anhu dialah orang pertama yang membangun masjid dirumahnya.

ⓑ Dan berkata Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu:

[▲] "Barangsiapa yang ingin bergembira berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka peliharalah shalat lima waktu saat diserukan untuk menjalankannya.

[↑] Sesungguhnya Allah azza wajalla telah mensyariatkan untuk Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam sunnah-sunnah/ jalan-jalan hidayah, dan shalat lima waktu itu termasuk dari sunnah-sunnah/jalan-jalan hidayah.

☝🏼 Dan saya tidak menghitung salah seorang dari kalian kecuali dia memiliki masjid (masjid rumah) yang dia shalat disitu dirumahnya (shalat Sunnah), jadi jika kalian mengerjakan shalat (lima waktu) di rumah-rumah kalian dan kalian meninggalkan masjid-masjid kalian (masjid umum), pastilah kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian,  dan jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian,  tentulah kalian sesat.

🍃 Dan tidaklah ada dari seorang hamba muslim yang berwudhu lalu memperbagus wudhunya,  kemudian berjalan menuju shalat,  melainkan Allah azza wajalla tetapkan untuknya pada setiap langkahnya yang dia melangkah sebagai kebaikan dan mengangkat dengannya derajat atau menghapus darinya kesalahan,

☝🏼Dan sungguh saya telah menyaksikan kedekatan antara kesalahan, dan sungguh saya telah menyaksikan dan tidaklah orang yang selalunya terbelakang darinya kecuali munafik yang dikenal kenifakannya, dan saya telah melihat seorang lelaki yang dipapah oleh dua orang sehingga dia diberdirikan di shaf."
📜 (Shahih Abu Daud 559, Ibnu Majah 777, An Nasai 849, al Irwa' 488)

✔ Dan ucapan beliau :  "Dan saya tidak menghitung salah seorang dari kalian kecuali dia memiliki masjid (masjid rumah) yang dia shalat (sunnah) disitu dirumahnya.

☝🏼 Hal diatas merupakan dalil yang menunjukkan akan terkenalnya perkara ini dikalangan para Salaf, dan itu dalil atas tersebarnya masjid-masjid di rumah-rumah pada masa Salaf Shalih radhiallahu 'anhum.

ⓒ Dan ini Abdullah bin Ruwahah radhiallahu 'anhu juga membuat masjid di rumahnya, sebagaimana Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan hal itu dalam Al-Mushannaf. Dan dahulu dia jika masuk rumahnya shalat dua rakaat, dan jika keluar shalat dua rakaat, sebagaimana dalam atsar yang telah dishahihkan oleh al Hafidz ibnu Hajar dalam Al-Ishabah.

ⓓ Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf bahwa Abu Majlam radhiallahu 'anhu -sungguh telah dijadikan sebagai masjid dalam rumahnya, dan sering dia shalat di dalamnya dengan istrinya dan anak-anaknya secara berjamaah.

ⓔ Dan Juwairah radhiallahu 'anha-membuat masjid dirumahnya sebagaimana riwayat Imam Muslim dalam shahihnya.

ⓕ Dan Zainab radhiallahu 'anha juga membuat masjid dalam rumahnya sebagaimana diriwayatkan hal itu oleh imam Muslim dalam shahihnya seperti itu.

ⓖ Dan ini Abu Thalhah al-Anshari radhiallahu 'anhu membuat dalam rumahnya masjid,  dan mengirim pesan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar shalat didalamnya.

ⓗ Dan ini Ummu Humaid radhiallahu 'anha memerintahkan untuk dibangunkan baginya masjid ditempat ujung dari rumahnya yang paling gelap, yang dia gunakan untuk shalat didalamnya sampai ia wafat berjumpa Allah azza wajalla.
📜 (Shahihutarghib wa Tarhib 340).

🌷 Dan ini Abdullah bin Salam radhiallahu 'anhu -dulu dia mempunyai masjid dirumahnya, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat didalamnya. 📜 (Al Bukhari 6910).

ⓙ Dan Ibrahim an Nakha'i rahimahullah dahulu dia memiliki masjid dirumahnya juga.

☝🏼Sehingga jelaslah dari itu semua terkenalnya masjid-masjid di rumah-rumah disisi Salaf.

✔ Dan Imam Al Bukhari telah membuat bab dalam shahihnya: [Bab masjid-masjid di rumah-rumah, dan telah shalat Al Bara' bin Azib dalam masjid dirumahnya berjamaah], dan begitu pula Imam Ibnu Majah: [Bab masjid-masjid di rumah-rumah].

🔩 BENTUKNYA

▪ Bisa saja bentuknya masjid rumah -ruangan yang sempurna dari bagian rumah yang dijadikan masjid atau tempat tertentu yang dikhususkan pada salah satu sisi ruangan dari ruangan-ruangan di rumah.

⁉APAKAH BERLAKU HUKUM MASJID UMUM?

[✘] Sekali-kali tidak, tidak ada untuk masjidulbait itu hukum masjid umum, sehingga tidak disunnahkan ketika masuk kepadanya shalat dua rakaat sebagai tahiyatul masjid, dan tidak digunakan untuk i'tikaf, dan boleh berdiam padanya wanita haid dan orang junub, dan boleh masuk orang yang makan bawang putih atau merah, dan boleh menjual jika dijual rumahnya, sehingga meskipun dia jadikan sebidang tanah sebagai tempat khusus untuk shalat dalam rumah,  tidak menjadikannya berubah sebagai wakaf lillah yang terlarang untuk menjualnya.

✔ Namun disukai untuk seorang muslim shalat dua rakaat ketika masuk kedalam rumah dan dua rakaat ketika keluar rumah, berdasar riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Jika kamu akan keluar dari rumahmu, shalatlah dua rakaat yang dapat mencegahmu dari tempat keluar yang jelek, dan jika kamu masuk kerumahmu, shalatlah dua rakaat yang dapat mencegahmu dari tempat masuk yang jelek."
📜 [Ash Shahihah 1323]

✔ Banyak atsar-atsar dan kisah-kisah yang teriwayatkan dari Salaf, yang menumbuhkan sikap kagum karena kuatnya ikhlas mereka dalam hal shalat dan kesungguhannya mereka dalam masjid-masjid di rumah-rumah mereka. dan tampaklah keseriusan mereka dalam dzikir,  beribadah dan tahajud di masjid-masjid rumah-rumah mereka.

👍🏼 Bahkan ini Abu Tsa'labah al Khasyani radhiallahu 'anhu wafat dalam kondisi sujud dalam masjid rumahnya, dan ini menunjukkan dia tidak keluar dari masjid rumahnya kepembaringannya kecuali sebentar, dan begitu pula Muslim bin Yasar bila masuk masjid rumahnya dia shalat hingga tak mendengar perbincangan keluarganya bersamaan bahwasanya mereka beserta dia dalam satu rumah!

🍃 Dan ini Malik al Khas'ami tidaklah tiba separuh malam melainkan dia ada di masjid rumahnya shalat!

☝🏼❗Perhatikanlah wahai pembaca yang mulia! Terhadap segala sesuatu apakah mereka Salaf sangat serius..,

💦 Tatkala akhirat lebih besar dalam cita mereka, jadilah masjidulbait tempat terpenting dalam rumah-rumah mereka, dan dahulu masjidulbait tempat mencari ketenangan aman setelah Baitullah azza wajalla, mereka menetapinya untuk shalat, dzikir dan khusyu'.

⚠⛔ Adapun kita! Sungguh kita telah mengambil dunia setiap yang bisa diambil, sehingga keseriusan kita dalam rumah-rumah kita ialah ruang tidur,  ruang tamu, dapur dan ruang TV❗.

🍃 Mereka khusyu' dan beribadah, sedangkan kita senang-senang dan main-main..!

☝🏼 Dan setiap cawan terhadap apa yang ada didalamnya akan memancarkan...
Marilah kita berjalan meniti jejak Salaf yang mulia dalam bimbingan mereka, adab mereka, dan ibadah mereka. Dan kita buat masjid dalam rumah-rumah kita dan kita menakmurkannya dengan dzikir dan shalat sunnah, dan kita jaga kebersihannya,  keharumannya dan kerapihannya setiap saat.

🌷 DIANTARA PENGARUH BAIK DAN MANFAAT-MANFAATNYA

1⃣ Menguatkan hubungan dengan Allah azza wajalla dengan banyak ibadah dan shalat,  dan dengan menghidupkan sunnah yang ditinggal ini, sehingga dengan kedua hal ini meraih dua pahala dalam satu perbuatan.

2⃣ Pendidikan shalat untuk keluarga, sehingga jadilah masjidulbait sebagai peletak dasar dalam rumah kaum muslimin, mengarahkan mereka kesegala kebaikan dan bagusnya pendidikan, didalamnya ada shalat bersama keluarga, ada pengajaran ilmu agama, hifdzul quran dan sunnah, dan mengingat-ingatnya pada setiap saat..dan ini kondisi untuk menguatkan hubungan rumah tangga, dan menggambarkannya kokoh atas dasar Kitab dan Sunnah, ilmu dan ikhlas.

3⃣ Sebagai pendorong ibadah dan mengingatkannya, sehingga setiap kalinya melihat tempat shalatnya segera ingin sujud, tunduk, dan menangis menghadap Allah.

✍🏻 Penulis
_Pencari bantuan dan kekuatan dari Rabbnya_

📜 Muhamnad Jamil Hamami

🌸 Semoga Allah mengampuninya dan kedua orangtuanya dan kaum muslimin

http://bayenahsalaf.com/vb/archive/index.php/t-1144.html

🇮🇩Mift@h
Kawunganten,  28 Rabi'ul Awal 1438H
        ••┄┄┉┉✽̶•✿❁✿•✽̶┉┉┄┄••

📇 http://tlgrm.me/salafybaturaja

        ••┄┄┉┉✽̶•✿❁✿•✽̶┉┉┄┄••

Rabu, 28 Desember 2016

Di Antara Doa Terpenting


🌹📢 Di Antara Doa Terpenting

📕Rasulullah ﷺ masuk masjid dan baginda mendapati seseorang telah selesai solat, lalu dia berdoa mengatakan:

اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ

يا اللَّهُ الأحدُ الصَّمدُ

الَّذي لم يلِد ولم يولَد

ولم يكن لهُ كُفوًا أحدٌ

أن تغفرَ لي ذنوبي إنَّكَ أنتَ الغفورُ الرَّحيمُ

Ya Allah aku memohon kepadaMu

Ya Allah, al-Ahad (Yang Maha Esa), ash-Shomad (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu)

Al ladzi lam yalid wa lam yulad (Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan)

Wa lam yakun lahu kufuan ahad (Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia)

Untuk Engkau ampuni dosa-dosaku, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

☝🏼Maka Rasulullah ﷺ berkata, "Sungguh dia telah diampuni, sungguh dia telah diampuni, sungguh dia telah diampuni." (Shohih Nasaai 1300)

📜 احرص على هذا الدعاء

▪ دخلَ رسولُ اللَّهِ ﷺ المسجدَ فإذا هوَ برجلٍ
قد قضى صلاتَهُ وهوَ يتشهَّدُ وهوَ يقولُ :

« اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ يا اللَّهُ الأحدُ الصَّمدُ
الَّذي لم يلِد ولم يولَد ولم يكن لهُ كُفوًا أحدٌ
أن تغفرَ لي ذنوبي إنَّكَ أنتَ الغفورُ الرَّحيمُ ».

قالَ ، فقالَ ﷺ :
[ قد غفرَ لهُ ، قد غفرَ له ، قد غفرَ لهُ ]

📚 صحيح النسائي - رقم«1300»

📂 (Faedah ilmiah dari al-Ustadz Usamah Mahri di WhatsApp طريق السلف)

📚 WhatsApp طريق السلف 📚
🌐 www.thoriqussalaf.com
🌐 telegram: http://bit.ly/thoriqussalaf

Senin, 12 Desember 2016

Menjawab Beberapa Tuduhan Dusta Seputar Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab رحمه الله


::
MENJAWAB BEBERAPA TUDUHAN DUSTA SEPUTAR DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB رحمه الله

_Ditulis oleh Syaikh Dr. Ali Bin Yahya Al Haddady حفظه اللّٰه_

1⃣Mereka menuduh Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab rahimahullah bahwa beliau mengaku sebagai Nabi padahal beliau mengatakan :

"Dan aku beriman bahwa Nabi kita Muhammad صلى اللّٰه عليه وسلم adalah penutup para Nabi dan Rasul, dan tidak sah keimanan seorang hamba hingga ia mengimani risalah beliau dan bersaksi dengan Nubuwwah beliau". [Al Majmu' 5/10].

2⃣Mereka menuduh Syaikh berpemikiran Khawarij padahal beliau mengatakan tatkala menjelaskan tentang aqidah beliau :

"Dan aku TIDAKLAH MENGKAFIRKAN seorangpun dari kaum Muslimin dengan sebab dosa dan aku tidaklah mengeluarkannya dari daerah Islam".

3⃣Mereka menuduh Syaikh telah mengkafirkan keumuman kaum Muslimin padahal beliau berkata pada sebagian risalah beliau tatkala beliau menjelaskan kedustaan sebagian musuh-musuh beliau :

"Demikian pula isu dusta yang ia sampaikan kepada orang-orang jahil bahwa Ibnu Abdil Wahhab mengatakan : orang yang tidak masuk dalam ketaatan kepadaku maka ia kafir, maka kita katakan :

_"Maha suci Engkau (Allah) ini merupakan kedustaan yang besar, bahkan kita menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang Allah ketahui dari hati-hati kita bahwa barangsiapa yang mengamalkan tauhid dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya maka ia muslim di waktu kapanpun dan di tempat manapun, sesungguhnya kita mengkafirkan orang-orang yang menyekutukan Allah dalam ibadah SETELAH NAMPAK baginya hujjah tentang batilnya kesyirikan"_ [Al Majmu' 5/11].

👉🏽Dalam penjelasan beliau ini terdapat bantahan terhadap orang-orang yang menduga bahwa terorisme dan takfir adalah BUAH HASIL dari dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab رحمه اللّٰه.

4⃣Mereka menuduh Syaikh mengingkari karomah-karomah para wali-wali Allah padahal Syaikh dalam masalah ini menyatakan :

"Dan aku mengakui adanya karomah-karomah para wali dan mukasyafah yang mereka miliki, namun mereka TIDAKLAH berhak sedikitpun untuk diibadahi dan tidak boleh diminta dari mereka sesuatu yang tidak mampu atasnya melainkan Allah [Al Majmu' 5/10].

5⃣Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Nejd merupakan tempat munculnya TANDUK SYAITHON ditafsirkan oleh mereka bahwa tanduk Syaithon yang dimaksud adalah dakwah Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab رحمه اللّٰه.

👉🏽(Maka kita jawab) bahwa banyak dari para ulama yang menjelaskan bahwa Nejd yang tersebut dalam hadits adalah IRAK bukan wilayah yang dikenal (di Hijaz).

➰Berkata Mahmud Syukry Al Alusy salah seorang ulama terkemuka di Irak :

"Dan tidaklah mengherankan bahwa negeri Irak merupakan sumber setiap ujian dan bencana, dan kaum Muslimin senantiasa ditimpa musibah darinya".

Dan yang menguatkan penafsiran ini adalah apa yang dikatakan oleh Syaikh Hamud At Tuwaijiry رحمه اللّٰه bahwa riwayat-riwayat yang datang tentang munculnya tanduk Syaithon dari Masyriq semuanya datang dari sahabat 'Abdullah Bin Umar dan di sebagian riwayat beliau menegaskan bahwa yang dimaksud dengan Masyriq adalah BUMI IRAK maka runtuhlah dengan ini segala apa yang dipegangi oleh orang-orang mulhid untuk mencela penduduk Jazirah Arab.

•••
📝Sumber : Risalah yang ditulis oleh syaikh 'Ali Bin Yahya Al Haddady حفظه اللّٰه yang  berjudul "Da'iyah 'Ala Minhajin Nubuwwah".

📥Link unduhan risalah : http://www.haddady.com/book/داعية-على-منهاج-النبوة/

@dinulqoyyim

Trik dan Tipu Daya Syi'ah Indonesia


⚓TRIK DAN TIPU DAYA SYI’AH INDONESIA🇮🇩
Oleh : Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf

💡Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Rafidhah (Syi’ah) adalah kelompok yang tidak memiliki andil apa pun selain menghancurkan Islam, memutuskan ikatannya, dan merusak kaidah-kaidahnya.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah)

☀Sejarah telah mencatat bahwa kelompok Syi’ah begitu fanatik kepada Persia yang memusuhi bangsa Arab. Oleh karena itu, sangat besar kebencian mereka kepada sahabat Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu. Sebab di masa kekhalifahannya negara Persia itu ditaklukkan. Bahkan hingga hari ini Syi’ah selalu merayakan hari-hari besar yang merupakan budaya Persia, seperti Norouz atau Nowruz.

⚡Kelompok Syi’ah telah banyak merugikan Islam. Mereka benci luar biasa kepada Ahlus Sunnah. Cukuplah menjadi bukti dan diketahui bahwa tiga ratus ribu jiwa dari kalangan Ahlus Sunnah yang ada di Teheran, ibukota Iran, tidak memiliki satu masjid.

💡Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya penyebab utama fitnah (kejelekan) dan bencana itu adalah Syi’ah dan yang bergabung bersamanya. Mayoritas pedang yang terhunus di dalam (sejarah) Islam adalah dari arah mereka. Kezindiqan (kemunafikan) telah menyelimuti mereka. Kelompok Syi’ah memberikan loyalitas kepada musuh agama ini –musuh agama yang diketahui oleh setiap orang– yaitu Yahudi, Nasrani, dan musyrikin. Mereka malah memusuhi wali-wali Allah ta'ala, orang-orang pilihan yang menganut agama ini dan orang-orang yang bertakwa….
⚡Selain itu, kelompok Syi’ah mempunyai andil besar ketika dahulu orang-orang Nasrani menguasai Baitul Maqdis, hingga akhirnya kaum muslimin dapat meraihnya kembali.” (Minhajus Sunnah)

▶Demi menguatkan eksistensinya di tengah-tengah kaum muslimin, dan agar dianggap sebagai salah satu mazhab yang diterima di dalam Islam, Syi’ah melakukan berbagai makar dan tipu daya. Salah satunya adalah dengan membuka kesempatan bagi para pemuda untuk melanjutkan studinya ke Qum, Iran. Bahkan, Pemerintah Iran menyediakan beasiswa untuk pelajar Indonesia.

🔌Pada 15 april 2005, website nuonline.com memberitakan bahwa Pemerintah Iran menawarkan beasiswa kepada NU. Bahkan telah ada MoU ilegal yang ditandatangani oleh oknum petinggi NU. Namun, alhamdulillah, pada 2011 Dewan Syuriah PBNU membatalkan MoU itu dengan alasan tidak ada izin dari Dewan Syuriah terlebih dahulu.

🔋Selain pemberian beasiswa, ada beberapa trik dan strategi yang dijalankan delam dakwah Syi’ah di Indonesia, antara lain :

📌1. Mengedepankan tema persatuan atau ukhuwah Islamiah
Dalam kajian-kajian, taklim, buku-buku, dan orasi, Syi’ah selalu tidak meninggalkan tema ini.
Haidar Bagir misalnya, salah seorang pentolan Syi’ah, pendiri penerbitan buku Syi’ah (Mizan), menulis tanggapan terhadap orang-orang yang mengkritik Syi’ah di Indonesia, “Orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syi’ah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.” (http://insistnet.com/menagih-janji-kaum-Syiah/, diakses pada tanggal 03 Maret 2014)
Agar perkembangan Syi’ah berjalan mulus, Husein al-Habsyi juga ikut mengampanyekan kerukunan umat. Ketika ditanya seorang mahasiswa di Yogyakarta, Husein pernah mengatakan, “Menjawab pertanyaan saudara ini, saya kira mengkafirkan sesama muslim, bukan saja tidak dibenarkan oleh syariat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam tetapi juga tidak pantas dan tidak menguntungkan, baik di pihak Syi’ah maupun Ahlus Sunnah, bahkan bisa melemahkan keduanya. Siapa diantara kita kaum muslimin –apalagi saudara mahasiswa ini– yang belum mendengar tentang kristenisasi yang galak dan dahsyat seperti sekarang ini. Mereka sebelum ini sudah bersatu dari segala aliran; Katolik, Protestan, Advent ditambah dengan kaum musyikin, Zionis dan Yahudi, mereka semua sudah bersatu, sedangkan kaum Nasrani bergabung dan satu dewan gereja….”
Husein juga mengatakan, “Sedangkan kita –maaf– secara tidak  sadar membantu mereka mengeluarkan saudara-saudara dan generasi kita yang sekarang ini dari umat dan agama Islam. Jadi, mereka akan mudah mangkristenkan kita, sedangkan kita mengkafirkan saudara kita sendiri. Adakah fanatisme yang lebih berat daripada ini? Kita sekarang ini tidak perlu Syi’ah atau Sunnah menjadi bahan gaduh diantara kita, kaum muslimin. Kita perlu Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan al-Hadits diterapkanpada diri kita. Kita memerlukan ukhuwah, memerlukan pengumpulan dana, serta seluruh masyarakat dan organisasi Islam untuk menebus jutaan pemuda muslim yang sekarang di ambang pintu Nasrani untuk dikristenkan.”

💊2. Menampilkan pustaka atau tokoh Syi’ah dengan wajah Sunni
Prof. Dr. Muhammad Baharun menulis, kitab-kitab seperti Muruj al-Dzahabi oleh Ali bin Husein al-Masoudi, Kifayat al-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, dan al-Bayan fi al-Akhbar Shaib al-Zaman oleh Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Yusuf al-Kanji, Syarh Nahj al-Balaghah oleh Ibnu Abi al-Hadid, Syawahid al-Tanzil oleh al-Hakim al-Kaskani, dan Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qanduzi, adalah buku-buku Syi’ah. Pengarangnya mengaku Sunni agar bukunya dapat diakses oleh pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Kerap kali dijumpai, pengikut Syi’ah menolak mengaku sebagai Syi’i. Akan tetapi, terkadang mereka lebih suka disebut pengikut mazhab Ahlu Bait daripada pengikut Syi’ah. Beberapa acara publik terkadang menampilkan tokoh yang tidak memiliki kapasitas, namun diminta untuk berbicara tentang ukhuwah Sunnah –Syi’ah. Hal ini adalah taktik pengelabuan untuk menutupi wajah Syi’ah yang sesungguhnya.

🔩3. Memberikan imej netral dan melakukan pendekatan
Hal ini dilakukan diantaranya melalui pendekatan akhlak, memberi jasa bantuan dana, serta janji-janji kerjasama apabila umat bersedia bergabung dalam institusi tertentu. Kini Syi’ah menggerakkan dunia pendidikan, menyediakan dan menyelenggarakan training-training metode pendidikan. Dengan dukungan aktivis liberal, digulirkan wacana Syi’ah dan Ahlus Sunnah sama-sama, tidak boleh menyalahkan Syi’ah. Wacana yang dikedepankan adalah Syi’ah itu sama-sama muslim. Perbedaan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah sebatas perbedaaan ijtihad politik.
Ketika muncul pro-kontra terkait berdirinya Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah Indonesia pada 17 juli 2011, Jalaludin Rakhmat mengatakan, “Masalah ajaran itu masing-masing, Lakum dinukum wa liya din, bagimu agamamu bagiku agamaku. Ingat menjalin ukhuwah Islamiah adalah perintah Allah ta'ala dalam al-Qur’an.
Dalam kesempatan lain, ia mengatakan, “Bila ada pro, syukurilah. Kalau ada yang kontra, jangan jawab dengan permusuhan, namun dengan amal shalih.“ (http://news.detik.com/read/2011/07/17/172951/1682998/486/1/majelis-sunni-Syiah-dideklarasikan-di-jawa-barat)
    
✏4. Mengampanyekan keterbukaan pemikiran
Suatu hari Jalaluddin Rakhmat pernah ditanya tentang filosofi di balik berdirinya Yayasan Muthahhari, yayasan yang menaungi SMU Plus Muthahhari, Bandung.
Waktu itu ia menjawab, “Yayasan Muthahhari tidak didirikan untuk menyebarkan Syi’ah dan sampai sekarang lembaga ini tidak menyebarkan Syi’ah. Di situ ada SMU. Mereka belajar fikih empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi). Mereka tidak mempelajari fikih Syi’ah secara khusus. Dari Muthahhari juga keluar jurnal al-Hikmah, yang banyak menerjemahkan pikiran-pikiran Syi’ah. Tetapi sekali lagi hanya bersifat pemikiran saja, fikihnya tidak ada. Belakangan al-Hikmah sedikit menampilkan pemikiran-pemikiran kalangan orientalis. Sehingga Yayasan Muthahhari, dengan melihat isi al-Hikmah seperti itu, layaknya disebut sebagai ‘agen zionisme Barat’.
Jadi, mungkin lebih layak Muthahhari ketimbang Paramadina atau Ulumul Qur’an. Jadi, itu yang pertama : Muthahhari tidak didirikan untuk menjadi markas Syi’ah. Lalu, kalau begitu, mengapa diambil nama Muthahhari? Itu karena tiga pertimbangan.
Pertama, Muthahhari itu seorang pemikir Syi’ah yang sangat non-sectarian, yang sangat terbuka. Ia sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni. Ia tidak pernah menyerang Sunni. Ia lebih banyak belajar dari Sunni. Karena itu, kita ambil tokoh Muthahhari sebagai tokoh yang bersikap non-sectarian, terbuka terhadap berbagai pemikiran, bukan karena Syi’ahnya.
Kedua, Muthahhari itu orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional, tetapi setidak-tidaknya cukup well informed tentang khazanah pemikiran Barat. Ia menjembatani dikotomi antara intelektual dan ulama. Kita pilih ia, antara lain karena pertimbangan itu, bukan karena Syi’ah. Karena misi Yayasan Muthahhari yang kedua adalah menjembatani antara intelektual dan ulama. Di Indonesia ini banyak cendekiawan yang menulis tentang Islam, tetapi tidak punya dasar dari tradisi Islam tradisional, sebagaimana juga banyak ulama Islam tradisional yang tidak mempunyai wawasan kemodernan. Muthahhari mencerminkan keduanya.”

🍶5. Mendekati NU dan Muhammadiyah sebagai backing
Di Bandung, dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia itu menolak MUI mengeluarkan fatwa sesat Syi’ah.
Sebuah website Syi’ah pernah memuat berita berikut, “Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Muthi, menolak adanya fatwa sesat terhadap Syi’ah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia termasuk Majelis Ulama Indonesia. Menurut dia, fatwa sesat dari MUI di sejumlah daerah seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan terbukti menjadi alat melegitimasikan kekerasan terhadap pengikut Syi’ah dan memicu konflik horizontal antar umat Islam.’Fatwa dari mana pun harus tidak mengkafirkan dan menyesatkan,’ ujar Muthi kepada Tempo, Kamis 19 desember 2013.
Muthi menanggapi desakan sebagian pihak yang mendesak MUI DIY mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran Syi’ah di Yogyakarta. Pihak tersebut mengklaim telah mencatat 10 organisasi berhaluan Syi’ah di DIY.
Menurut Muthi, fatwa sesat itu berpotensi besar menimbulkan persoalan kabangsaan serius di Indonesia. Lembaga seperti MUI di daerah mana pun sebaiknya tidak lagi mengeluarkan fatwa penyesatan khususnya untuk Syi’ah. Alasannya, hal itu memperbesar konflik antar umat Islam. ‘Umat Islam sudah mengalami banyak situasi sulit dan persoalan, jangan ditambah dengan masalah-masalah seperti ini,’ ujar dia. Dan dia menyarankan MUI Pusat maupun daerah menghindari fatwa semacam pengadil kebenaran atau kesesatan akidah dan keyakinan setiap kelompok umat Islam mana pun.
Sebaliknya dia menambahkan MUI mengambil posisi tegas untuk memediasi perbedaan dan pertentangan pendapat antar organisasi Islam di Indonesia. ‘MUI harus berperan sebagai pemersatu umat Islam,’ ujar Muthi. Muthi tidak sepakat dengan pendapat pihak tersebut mengenai salah satu alasan desakannya, yakni buku terbitan MUI Pusat yang berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia. Menurut dia, buku itu keluar justru sebagai pernyataan sikap MUI Pusat untuk menolak memberikan fatwa penyesatan ke Syi’ah Indonesia. ‘Umat Islam harus bisa memberikan sumbangan konstuktif untuk Indonesia,’ kata dia.
Sikap serupa muncul dari Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta, Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH. Asyhari Abta, menyatakan MUI DIY tidak perlu menggubris permintaan pihak tersebut.
Kiai dari Pesantren Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta ini menganggap fatwa sesat malah bisa memicu konflik antar kelompok berbeda paham agama. “Bisa memperuncing perbedaan dan memicu tabrakan antar kelompok,” ujar dia.
Asyhari mengatakan, sekalipun MUI DIY menemukan ada indikasi penyimpangan upaya maksimal hanya perlu dilakukan dengan dialog dan nasihat. Penyesatan pada ajaran malah bisa mendorong tudingan sesat ke kelompok-kelompok lain. “Sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu  wa Ta’ala,” ujar dia.
.
🔪Segala trik, makar, dan tipudaya Syi’ah ini tentu tidak lepas dari keyakinan para penganut Syi’ah tentang taqiyyah. Mereka meyakini bahwa sembilan puluh persen persoalan agama ini ada dalam taqiyyah. Tidak ada agama bagi siapa yang tidak ber-taqiyyah. Taqiyyah itu dalam segala sesuatu kecuali yang berhubungan dengan minuman anggur dan mengusap dua khuf.

🔨Al-Kulaini dalam Ushulul Kafi –-sebuah kitab hadits milik Syi’ah-- mengutip riwayat dari Abu Abdillah, ia berkata, “Jagalah agama kalian dan halangi diri kalian dengan taqiyyah, karena tidak ada keimanan bagi yang tidak bertaqiyyah.” (Ushul al-Kafi, hlm. 482-483)

⭕Taqiyyah sendiri bermakna mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diyakini dengan tujuan menjaga bahaya yang mengancam diri dan harta atau demi menjaga kemuliaan. (asy-Syi’ah fi al-Mizan, hlm 47)

✖Bahkan, Syi’ah mengakui bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam  melakukan taqiyyah ketika meninggalnya Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafikin. Syi’ah  mengklaim bahwa Rasul shalallahu 'alaihi wasalam datang menyalati jenazahnya, lalu Umar berkata, “Bukankah Allah ta'ala telah melarangmu untuk berdiri di kuburan orang munafik ini ?”
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam  menjawab, “Celaka, kau Umar, apa kamu tahu apa yang aku ucapkan ? Sesungguhnya aku katakan, ‘Ya Allah, nyalakan api di bagian perutnya, penuhilah kuburnya dengan api dan bagian dinding-dindingnya dengan api’.” (Furu’ al-Kafi, Kitabul Jana’iz, hlm 188)

💣❗🔫Lihatlah bagaimana lancangnya dan beraninya Syi’ah melakukan kedustaan atas nama Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam.

⛔Intinya, Syi’ah menganggap bahwa taqiyyah adalah kewajiban, ajaran Syi’ah tidak akan tegak kecuali dengannya. Mereka menjadikan taqiyyah sebagai fondasinya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka mengamalkan taqiyyah terkhusus ketika melalui situasi-situasi yang sulit. Maka dari itu,
⛔⛔Waspadalah selalu dari kelompok Syi’ah, wahai kaum Muslimin !

🔶Bagaimana pun besarnya makar dan tipu daya Syi’ah terhadap Islam, Allah ta'ala akan tetap menjaganya.

🔷Oleh karena itu, hal ini jangan menjadikan kaum muslimin ragu terhadap agamanya. Yakinlah bahwa Allah ta'ala akan menghancurkan, membongkar, dan membalas makar mereka. Allah subhana wa ta'ala berfirman :

✅“ Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya itu.” (al-Anfaal: 30)

✔Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di muka bumi, mereka tidak melakukan perbaikan. Mereka berkata, "Bersumpahlah kamu dengan (nama) Allah, bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh, kita orang yang benar". Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui. (an-Naml: 48-52)
.
Sumber : majalah Asy Syariah Vol. IX/No. 102/1435 H/2014, hlm 22-27
=====*****=====
📶 Publikasi:
📖 WA Salafy Solo
www.salafymedia.com
7 Oktober 2015

✅ Turut serta menyebarkan:
🔎 WA Fadhlul Islam Bandung

Minggu, 11 Desember 2016

Peranan Aqidah Dalam Kehidupan


_______
Peranan Aqidah Dalam Kehidupan

📝Seberapa besar peranan Aqidah dalam Islam?

Sudsh menjadi kesepakatan bersama bahwa diantara cita-cita manusia yang hidup di dunia ini ialah meraih kebahagiaan hidup. Baik dia adalah seorang yang mukmin ataupun yang kafir.

Masing-masing mereka mendambakan dan menginginkan kehidupan yang bahagia.
🔰Kebahagiaan berdasarkan sudut pandang dari masing-masing dua golongan tersebut. Oleh karenanya kita jumpai pula perbedaan cara untuk menggapai dan meraih kehidupan yang bahagia.

Sebagai seorang mukmin tentu kita mengetahui kebahagian yang bagaimana serta apa sebenarnya hakikat dari kebahagiaan itu sendiri.

💐Cita-cita bak sebuah bangunan, diamana pada banguna tentu dan pasti akan ada yang namanya pondasi. Ketika pondasi itu kuat lagi kokoh maka akan benar dan kuat pula banguna yang dibangun diatasnya.

Oleh karenanya kita sebagai seorwng mukmin yang memiliki cita-cita dan harapan yang itu ibarat sebuah bangunan maka musti dan harus kita membangun cita-cita kita diatas pondasi yang kokoh.

Disinilah pentingnya peranan aqidah. Dimana Aqidah sebagai pondasi dari setiap amalan kita. Akan sangat mudah untuk roboh manakala amalan, cita-cita dibangun diatas pondasi yang rapuh.

*Pertanyaannya*:
Seberapa besarkah peranan Aqidah sebagai pondasi amalan hamba?

Pertanyaan ini Terjawab dengan beberapa jawaban berikut ini:

1⃣ Seseorang tidak akan merasa cukup dari aqidah. Bahkan kuat dan lemahnya seseorang itu berdasarkan aqidahnya. Pada dasarnya manusia semua dilahirkan diatas Aqidah yang sama, mereka dilahirkan diatas fitrah untuk beragama dan beribadah kepada Allah. Sehingga mereka-mereka yang masih diatas fitrah dan tidak mencampuri Aqidah serta fitrah mereka dengan kesyirikan dijamin oleh Allah akan mendapatkan keamanan dan mendapatkan petunjuk dari Allah, hal ini sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

82. الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُون

"َOrang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Al-An'am: 82]

Keamanan dan mendapatkan petunjuk merupakan salah satu dari dambaan dan cita-cita seorwng hamba. Maka ini adalah kunci pertama untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya, yaitu:

🔑 *Beriman kepada Allah serta tidak menyekutukan Allah dalam peribadatan.*

2⃣ Dengan Aqidah yang benar, seseorang akan terbebaskan dari perbudakan, peribadatan kepada selain Allah. Dan dia akan terlepas dari sempitnya dunia dan dia akan memandang kepada luasnya akhirat.

🔑Orang yang tidak memahami ini, dia hanya melihat pada dunia saja, sehingga ketika datang ujian dan cobaan orang ini akan merasakan sempitnya dunia, yang mana ini bisa menghilangkan rasa kebahagiaan.

3⃣ Aqidah merupakan fiqih akbar, yang semua orang membutuhkannya.
Tidak ada kehidupan hati, ketenangan kenikmatan kecuali jika seseorang mengetahui siapa Rabbnya, siapa yang dia ibadahi. Jika seseorang telah mengetahui ini semua, maka seluruh tindak-tanduknya hanya untuk Allah semata, tidak untuk selain-Nya. Dan ini akan menumbuhkan *ketenangan* dan *kenikmatan* dalam hati serta kehidupannya.

🔑Sehingga kunci yang berikutnya adalah:

*engkau mengenal siapa Rabbmu, siapa yang engkau ibadahi dan kecintaan siapa yang harus didahulukan serta diutamakan dalam hidupmu.*

4⃣ Dengan Aqidah yang benar, aqidah yang satu maka akan menghasilkan sebuah keamanan, kelanggengan, kebahagian, serta ketentraman. Allah berfirman dalam ayat-Nya:

112. بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

"(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [Al Baqarah: 112]

Dalam ayat lain Allah berfirman:

96. وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِن

َ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi," [Al A'raf: 96]

5⃣ Bahwa dengan Aqidah merupakan sebab munculnya keamanan dimuka bumi dan tegaknya daurah islamiyah, Allah berfirman:

(105). وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُون

"Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang solih," [Al Anbiya: 105]

┄┄┉┉✽̶»̶̥🌼»̶̥✽̶┉┉┄┄
📇 *Jendela Sunnah*

🖥 Website resmi Jendela Sunnah ||
www.jendelasunnah.com
📮Chanel Jendela Sunnah ||
http://bit.ly/penuhduniailmu

Selasa, 06 Desember 2016

Bahaya Sombong


🍃💢 BAHAYA SOMBONG 💢🍃
⚠ Tidak bisa memasukkan seorang muslim langsung ke dalam Jannah.

🔰 Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam; Bahwasanya Beliau pernah bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

”Tidak memasuki Jannah seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar semut kecil.” (📌)

🔻Ternyata ada salah seorang shahabat yang menimpali:
“Sesungguhnya seseorang itu senang jika baju dan sandalnya bagus.”

✅ Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

«إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

”Sesungguhnya Allah itu Maha Indah serta mencintai keindahan, (adapun) Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”

📚 [ HR. Muslim no.91-(147) ]

➖➖➖
📝 Penjelasan Hadits :
〰〰〰
(📌) Hadits ini termasuk jenis hadits yang mengandung ancaman secara umum. Digunakan lafadz seperti itu oleh Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam memang dalam rangka membuat lari orang dari perbuatan tersebut. Jika dibutuhkan penjelasan secara terperinci, maka rincian itu diambil dalil-dalil syariat yang lainnya.

🔘 Kesombongan di dalam hadits ini bisa dipahami dari dua sisi;
1⃣ ( Yang Pertama ) : Sombong dari kebenaran, dan membencinya;
👉 Orang yang seperti ini kafir, kekal di dalam api neraka, serta tidak akan memasuki Jannah sama sekali.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

”Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” [ QS. Muhammad :9 ]

💯 (Pahala-pahala) amalan tidak akan terhapus kecuali dengan kekafiran. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (artinya):

”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
[ QS. Al-Baqoroh :217 ]

2⃣ ( Yang Kedua ) : Kesombongan itu dilakukan kepada makhluk, yaitu sombong dan congkak dihadapan mereka, namun tidak sombong dalam masalah ibadah kepada Allah Ta’ala.

👉 Orang yang seperti ini, tidak akan memasuki Jannah dengan sifat yang sempurna tanpa adzab secara mutlak. Karena dia harus merasakan adzab terlebih dahulu karena sebab dosa sombongnya (di dunia) sebab ia congkak di hadapan makhluk, kemudian setelah suci (dari dosa) barulah ia memasuki Jannah.

📚 [ Lihat Syarah Riyadhus Sholihin 3/541-542 ]

👆 Hal itu karena keumuman dalil tentang keutamaan orang-orang yang bertauhid mendapatkan jaminan masuk Jannah, sebagaimana penjelasan al-Qodhi ‘Iyadh rohimahullah yang dinukil oleh Imam An-Nawawi rohimahullah, dalam Syarah Shohih Muslim ;2/91.

Wallahul Muwaffiq

📝 Dikirim oleh: al Ustadz Abdul Hadi Pekalongan

#fawaidumum
〰〰➰〰〰
🍉 Warisan Salaf menyajikan Artikel dan Fatawa Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah
🍏 Channel kami https://bit.ly/warisansalaf
💻 Situs Resmi http://www.warisansalaf.com

Kamis, 01 Desember 2016

Berbagai Keburukan Demonstrasi

📝 *BERBAGAI KEBURUKAN DEMONSTRASI* 🏳‍🌈

Para Ulama Ahlussunnah pada abad ini telah menjelaskan kepada umat bahwa demonstrasi bukanlah bagian dari Islam. Tata cara ini diambil dari perilaku orang-orang kafir. Di dalamnya mengandung keburukan-keburukan yang banyak. Demonstrasi bukanlah solusi menyampaikan aspirasi secara syar'i.

📕 *Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah* menyatakan:

فإن المظاهرات أمر حادث لم يكن معروفاً في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ولا في عهد الخلفاء الراشدين، ولاعهد الصحابة رضي الله عنهم ثم إن فيه من الفوضى والشغب ما يجعله أمراً ممنوعاً، حيث يحصل فيه تكسير الزجاج والأبواب وغيرها، ويحصل فيه أيضاً اختلاط الرجال بالنساء والشباب بالشيوخ، وما أشبه من المفاسد والمنكرات، وأما مسألة الضغط على الحكومة فهي إن كانت مسلمة فيكفيها واعظاً كتاب الله تعالى وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وهذا خير ما يعرض على المسلم، وإن كانت كافرة فإنها لا تبالي بهؤلاء المتظاهرين وسوف تجاملهم ظاهراً، وهي ما هي عليه من الشر في الباطن، لذلك نرى أن المظاهرات أمر منكر، وأما قولهم إن هذه المظاهرات سلمية، فهي قد تكون سلمية في أول الأمر أو في أول مرة، ثم تكون تخريبية وأنصح الشباب أن يتبعوا سبيل من سلف، فإن الله سبحانه وتعالى أثنى على المهاجرين والأنصار، وأثنى على الذين اتبعوهم بإحسان.

Demonstrasi-demonstrasi adalah perkara baru. Hal ini tidak pernah dikenal di masa Nabi shollallahu alaihi wasallam, para Khulafaur Rasyidin, maupun di masa para Sahabat radhiyallahu anhum. Kemudian, di dalam demonstrasi terdapat kekacauan dan huru-hara sehingga menjadikannya sesuatu yang terlarang. Padanya terdapat pengrusakan terhadap kaca, pintu, dan yang lainnya. Dalam demonstrasi juga bercampur baur antara laki-laki dan wanita, para pemuda dan orang-orang tua, serta terjadi kerusakan-kerusakan maupun kemungkaran-kemungkaran semisalnya. Adapun tentang masalah memberikan tekanan kepada penguasa: Jika penguasa itu muslim, cukup baginya nasihat dari Kitab Allah Taala dan Sunnah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Ini adalah sebaik-baik (nasihat) yang disampaikan kepada seorang muslim. Jika penguasa itu kafir, ia tidak akan peduli dengan para demonstran. Secara lahiriah ia akan berbasa-basi. Namun, dia menyimpan keburukan di dalam batinnya. Oleh karena itu, kami melihat bahwa demonstrasi-demonstrasi adalah perkara yang mungkar. Adapun ucapan mereka bahwa demonstrasi-demonstrasi ini adalah aksi damai, mungkin saja damai di permulaan. Akan tetapi, akan terjadi pengrusakan-pengrusakan. Aku nasihatkan kepada para pemuda untuk mengikuti jalannya para Salaf. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Taala memuji kaum Muhajirin dan Anshar. Dan Allah memuji orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
(http://www.sahab.net/forums/?showtopic=49420).

_Subhaanallah_ , Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin _rahimahullah_ telah lama meninggal dunia, sekitar 15 tahun yang lalu (16 Syawwal 1421 H/11 Januari 2001 M ). Namun, nasihat beliau sangat relevan dengan keadaan yang baru-baru saja terjadi. Demonstrasi bertajuk aksi damai, mungkin saja akan berlaku demikian pada awalnya. Namun, akan berujung pada pengrusakan-pengrusakan.

📙 *Syaikh Abdul Aziz ar-Rojihi hafidzhahullah* menyatakan:

المظاهرات ليست من أعمال المسلمين هذه دخيلة ، ما كان معروف إلا من الدول الغربية الدول الكافرة 

Demonstrasi-demonstrasi bukanlah termasuk perbuatan kaum muslimin. Ini adalah sesuatu yang diimpor. Sebelumnya, demonstrasi tidaklah dikenal kecuali dari negeri-negeri barat, negeri-negeri kafir.
(http://www.sahab.net/forums/?showtopic=49420).

📗 *Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzhahullah* menyatakan:

ديننا ليس دين فوضى، ديننا دين انضباط، دين نظام، ودين سكينة . والمظاهرات ليست من أعمال المسلمين و ماكان المسلمون يعرفونها ودين الإسلام دين هدوء ودين رحمة لا فوضى فيه ولا تشويش ولا إثارة فتن، هذا هو دين الإسلام . والحقوق يتوصل إليها دون هذه الطريقة. بالمطالبة الشرعية، والطرق الشرعية . هذه المظاهرات تحدث فتناً كثيرة، تحدث سفك دماء، وتحدث تخريب أموال، فلا تجوز هذه الأمور

Agama kita bukan agama kekacauan. Agama kita adalah agama yang teratur, tertib, dan tenang. Demonstrasi-demonstrasi bukanlah perbuatan kaum muslimin. Perkara ini tidak dikenal oleh kaum muslimin (sebelumnya). Agama Islam adalah agama yang tenang, kasih sayang; tidak ada kekacauan, kebingungan, ataupun penyebaran fitnah. Ini adalah agama Islam. Hak-hak bisa disampaikan dengan tidak melalui cara ini. Mestinya dengan cara-cara yang syari. Demonstrasi-demonstrasi ini menimbulkan keburukan yang banyak: menumpahkan darah, kerusakan harta, (dsb). Oleh karena itu, tidak boleh dengan perkara-perkara ini (demonstrasi).
(al-Ajwibatul Mufiidah an as-ilatil manaahij al-Jadiidah, jawaban pertanyaan no. 98).
➖➖➖➖➖

📋Selanjutnya berikut ini akan disampaikan kajian beberapa dalil yang menunjukkan keburukan-keburukan demonstrasi. Keburukan itu bisa berupa penyelisihan terhadap tuntunan dan bimbingan Nabi shollallahu alaihi wasallam kepada umatnya, atau juga berupa kerugian duniawi yang terlihat.

*Keburukan-keburukan demonstrasi* di antaranya:

1⃣ *Menyelisihi perintah Nabi untuk menyampaikan nasihat kepada penguasa secara tersembunyi (tidak terang-terangan).*

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ نَصِيحَةٌ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُكَلِّمُهُ بِهَا عَلَانِيَةً، وَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ، وَلْيُخْلِ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَهَا قَبِلَهَا، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barangsiapa yang memiliki nasihat kepada penguasa, janganlah disampaikan dengan terang-terangan. Akan tetapi, peganglah tangannya dan bicarakan berdua dengannya. Jika ia mau menerima, maka akan diterima olehnya. Jika tidak, maka engkau telah menunaikan kewajibanmu terhadapnya.
(H.R. al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Dzhilalul Jannah).

Sahabat Nabi, Usamah bin Zaid, pernah ditanya oleh seseorang, "Tidakkah engkau masuk kepada khalifah Utsman bin Affan dan berbicara kepadanya?"
Usamah bin Zaid menjawab:

أَتَرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ

Apakah engkau menganggap bahwa pembicaraanku dengannya harus aku perdengarkan kepada kalian? Demi Allah, aku telah berbicara berdua dengannya saja.
(H.R. Muslim no. 5305).

Seseorang bertanya kepada Sahabat Nabi, Ibnu Abbas, tentang beramar makruf nahi mungkar terhadap pemimpin (penguasa). Ibnu Abbas menjawab:

فَإِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَفِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ

Jika engkau harus melakukannya, maka lakukanlah dengan penyampaian yang hanya antara engkau dan dia saja yang tahu.
(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya)

Ucapan Ibnu Abbas tersebut  memberikan faedah bahwa intinya adalah nasihat tersampaikan dalam keadaan hanya sang pemberi nasihat dan yang diberi nasihat saja yang tahu. Hal tersebut bisa diwujudkan dengan dialog empat mata atau melalui tulisan.

2⃣ *Meniru tata cara orang-orang kafir.*

Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan dalam fatwa Ulama di atas, bahwa demonstrasi bukanlah bagian dari Islam. Akan tetapi, demonstrasi berasal dari tata cara orang-orang kafir.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian kaum tersebut.
(H.R. Abu Dawud, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albaniy).

Termasuk padanya keyakinan menyampaikan pendapat secara bebas sebagai hak asasi manusia, meskipun harus melanggar rambu-rambu syariat.

3⃣ *Bisa terpancing untuk mencerca dan mencela penguasa muslim.*

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya melarang kita untuk mencerca penguasa muslim:

لَا تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَلَا تَغِشُّوهُمْ، وَلَا تَبْغَضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا؛ فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

Janganlah kalian mencela para pemimpin kalian, jangan menipu mereka, jangan marah kepada mereka, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya sudah dekat.
(H.R. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dengan sanad yang baik (jayyid), dishahihkan al-Albany).

Sahabat Nabi, Anas bin Malik radhiyallahu anhu menyatakan:

كَانَ اْلأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ اْلأُمَرَاءِ

Para pembesar dari Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang kami dari mencela para pemimpin. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid).

Sahabat Nabi, Abud Darda’ radhiyallahu anhu menyatakan:

وإنَّ أوَّل نِفَاقِ الْمَرْءِ طَعْنُهُ عَلَى إِمَامِهِ

Sesungguhnya awal kemunafikan pada seseorang adalah celaannya kepada pemimpinnya.
(Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid dan Ibnu Asakir).

Demikian juga apabila aib tampak pada sesama muslim dan masih ada harapan perbaikan dengan nasehat tersembunyi, maka merupakan adab mulia menutup aib tersebut.

Sementara demonstrasi meruntuhkan adab ini secara masal.

4⃣ *Menghinakan pemimpin muslim, terancam mendapatkan kehinaan dari Allah.*

Suatu hari, ketika seorang penguasa (Ibnu Amir) sedang berkhutbah dengan menggunakan pakaian yang tipis, seseorang yang bernama Abu Bilal mengatakan, "Lihatlah pemimpin kita menggunakan pakaiannya orang fasik!" Kemudian, Abu Bilal ditegur oleh Sahabat Nabi, Abu Bakrah, seraya menyampaikan hadits yang didengarnya dari Nabi shollallahu alaihi wasallam:

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ

Barangsiapa yang menghinakan pemimpin Allah di bumi, Allah akan hinakan dia.
(H.R. at-Tirmidzi no. 2150, dihasankan oleh at-Tirmidzi dan al-Albany).

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ مَشَوْا إِلَى سُلْطَانِ اللهِ لِيَذِلُّوهُ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Tidaklah suatu kaum berjalan menuju pemimpin Allah dengan tujuan untuk menghinakannya, kecuali Allah akan hinakan ia sebelum hari kiamat.
(H.R. al-Bazzar no. 2848 dari Hudzaifah dan diisyaratkan keshahihannya oleh al-Haitsamy dalam Majmauz Zawaaid).

5⃣ *Mengganggu pengguna jalan.*
Semestinya, bagian dari keimanan adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Akan tetapi, justru dengan demonstrasi, jalanan macet atau bahkan dialihkan sehingga mengganggu kaum muslimin yang lain.

...وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

...dan cabang keimanan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.
(H.R. Muslim dari Abu Hurairah).

Alih-alih beroleh cabang iman, laknat muslimin yang dirugikan akibat aksi mereka justru mengancam.
Nabi shollallahu 'alaihi wasallam juga bersabda sebagaimana riwayat athThobaroniy dalam "alKabir" dengan sanad yang hasan:

مَنْ آذَى الْمُسْلِمِيْنَ فِي طُرُقِهِمْ، وَجَبَتْ عَلَيْهِ لَعْنَتُهُمْ
"Barang siapa yang mengganggu kaum muslimin di jalan-jalan mereka, dia pantas memperoleh laknat dari mereka."

Dalam hadits lainnya juga ditetapkan hak-hak pengguna jalan yang akan sulit ditunaikan para demonstran.
Sebagaimana hadits dari Abu Sa'id alKhudriy radhiyallahu 'anhu, Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﺍﻟْﺠُﻠُﻮﺱَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄُّﺮُﻗَﺎﺕِ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ , ﻣَﺎ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﺠَﺎﻟِﺴِﻨَﺎ ﺑُﺪٌّ ﻧَﺘَﺤَﺪَّﺙُ ﻓِﻴﻬَﺎ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺑَﻴْﺘُﻢْ ﺇِﻻ ﺍﻟْﻤَﺠْﻠِﺲَ , ﻓَﺄَﻋْﻄُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖَ ﺣَﻘَّﻪُ، ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ , ﻓَﻤَﺎ ﺣَﻖُّ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻏَﺾُّ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ، ﻭَﻛَﻒُّ ﺍﻷَﺫَﻯ، ﻭَﺭَﺩُّ ﺍﻟﺴَّﻼﻡِ، ﻭَﺍﻷَﻣْﺮُ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ، ﻭَﺍﻟﻨَّﻬْﻲُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ
“Hindarilah duduk-duduk di jalanan!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana kalau kami perlu duduk-duduk di situ membicarakan hal yang memang diperlukan?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, maka berikanlah hak jalanan.” Mereka bertanya, “Apakah haknya?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak memberi gangguan, menjawab salam, menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.”
(HR. alBukhori dan Muslim)

6⃣ *Rawan terjadi kericuhan dan kerusuhan.*
Jika massa pendemo berjumlah banyak, bahkan berasal dari berbagai organisasi, akan sulit dikendalikan. Situasi di lapangan sangat mudah memunculkan kericuhan dan kerusuhan. Rasa capek, lapar, cuaca yang panas, akan membuat kerumunan orang sulit berpikir jernih dan bertindak tenang.

7⃣ *Kerusakan fasilitas umum atau kepemilikan pribadi.*
Tidak jarang demonstrasi menimbulkan kerusakan fasilitas umum dan kerusakan harta pribadi warga yang juga muslim. Lalu, siapakah yang akan bertanggung jawab jika terjadi kerusakan-kerusakan itu? Jika ditengarai kerusakan dilakukan oleh kelompok tertentu yang terlibat demo, koordinatornya akan melempar tanggung jawab dan menganggap bahwa perbuatan itu adalah penyusupan dari pihak luar.

8⃣ *Tertumpahnya darah sesama muslim.*
Bentrokan fisik antardemonstran satu sama lain, atau antardemonstran dengan warga sekitar, atau antardemonstran dengan aparat keamanan; seringkali mengakibatkan tertumpahnya darah kaum muslimin. Baik dalam bentuk luka-luka ataupun bahkan kehilangan nyawa.

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

"Sungguh, hancurnya dunia bagi Allah lebih ringan daripada terbunuhnya seorang muslim." (H.R atTirmidzi dari Abdullah bin 'Amr, dishahihkan al-Albaniy)

9⃣ *Hilangnya keamanan dan terhentinya aktifitas-aktifitas kebaikan.*
Demo yang melibatkan massa dalam jumlah besar, menyebabkan beberapa aktifitas diliburkan, seperti perniagaan, pendidikan, dan semisalnya. Bahkan, sebagian pihak ada yang mengungsi sementara waktu ke tempat yang lebih aman yang tidak dilalui jalur demo.

🔟 *Para wanita berbaur dengan kaum lelaki di jalanan.*
Poin ini seperti yang disebutkan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin di atas.
Secara asal, Allah Azza Wa Jalla memerintahkan para wanita untuk berada di rumah-rumah mereka:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

Dan hendaknya kalian (para wanita) tetap di rumah-rumah kalian.
(Q.S. al-Ahzab: 33)

1⃣1⃣ *Termasuk bentuk khuruj (pembangkangan atau pemberontakan) terhadap penguasa muslim yang dilarang.*
Khuruj kepada penguasa muslim bisa dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan.

1⃣2⃣ *Menyelisihi karakteristik dasar kaum beriman yang secara asal mudah diarahkan dan diatur pada kebaikan.*
Seperti yang diisyaratkan oleh Syaikh Sholih al-Fauzan di atas, bahwa agama Islam pada dasarnya adalah ketenangan, keteraturan, dan ketertiban. Demonstrasi bisa memicu kekacauan-kekacauan itu. Seorang yang beriman, secara asal mudah diarahkan pada kebaikan.

1⃣3⃣ *Menurunkan wibawa orang-orang muslim.*
Perbuatan yang diperlihatkan dalam demonstrasi seperti berteriak-teriak, membawa atribut-atribut yang memancing perhatian, melompat-lompat, dan bersandiwara adalah tindakan-tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh orang yang beradab dan penuh kedewasaan dalam pikiran dan perbuatan. Hal itu mengurangi muru’ah (kewibawaan) seseorang.

1⃣4⃣ *Memecah-belah kaum muslimin dan melemahkan barisan mereka dihadapan para musuhnya.*

1⃣5⃣ *Menyelisihi bimbingan Nabi agar bersabar jika melihat hal yang tidak disukai dilakukan penguasa muslim.* Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, hendaknya ia bersabar. Karena barangsiapa yg keluar (dari ketaatan) kepada penguasa sejengkal, ia meninggal dalam keadaan mati Jahiliyyah.
(H.R. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).

1⃣6⃣ *Di beberapa negara terbukti bahwa diawali dengan demonstrasi, menjadi celah masuknya kekuasaan negeri-negeri kafir ke negara tersebut.*

Poin ini diambil dari sebagian penjelasan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi berdasarkan pengalaman dari kejadian-kejadian yang telah terjadi.

1⃣7⃣ *Menyakiti sesama mukmin.*
Kerap didapati orasi di hadapan masa bermuatan kalimat yang menyakiti pihak-pihak yang dianggap berseberangan atau tidak sepakat dengan pendapat mereka. Apabila pihak-pihak yang disakiti baik dengan ucapan maupun perbuatan adalah sesama mukmin, pelakunya dikategorikan melakukan kebohongan dan dosa yang tidak bisa diremehkan.

Allah ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.
(Q.S. al-Ahzab: 58).

1⃣8⃣ *Mengajarkan pemaksaan kehendak.*

1⃣9⃣ *Memberi ruang kepada politikus culas dan tokoh jahat untuk mengambil simpati masyarakat.*

2⃣0⃣ *Membuka amalan bid'ah yang berkedok agama.*

2⃣1⃣ *Mengesankan bahwa kebenaran sesuai dengan suara mayoritas.* Padahal, kebenaran tidak ditentukan dengan mayoritas, tetapi kebenaran diukur dengan al-Quran dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salaf. Justru kebanyakan manusia berpaling dari kebenaran hakiki.
ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻣُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ
"Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)."
(Yusuf:  106)

2⃣2⃣ *Memalingkan muslimin dari berbagai amalan yang lebih utama.*
Contohnya, bila unjuk rasa dilakukan pada hari Jumat, si-demonstran bisa kehilangan amalan sunnah membaca surat alKahfi, mandi Jumat, berpagi-pagi ke masjid, termasuk juga bekerja mencari rizki Allah sebagai nafkah bagi keluarga. Sungguh benar tengara, tidaklah suatu kebidahan kecuali akan menghapus sunnah yang setara.

Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ﻣَﺎ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻗَﻮْﻡٌ ﺑِﺪْﻋَﺔً ﺇِﻟَّﺎ ﺭُﻓِﻊَ ﻣِﺜْﻠُﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ
Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah, kecuali akan terangkat Sunnah yang semisal dengannya (H.R Ahmad dari Ghudhaif bin al-Haarits, dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid
(baik) dalam Fathul Baari (13/253))

2⃣3⃣ *Membuat buruk sangka kepada aparat pemerintah dan saudaranya yang berseberangan.*
Dugaan pemerintah yang melindungi pelaku penistaan/kejahatan, kelompok yang tidak mendukung perjuangan membela agama, acapkali merebak. Introspeksi menjadi sulit terealisasi. Padahal prasangka dan dugaan tidak bernilai di sisi kebenaran.

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺘَّﺒِﻊُ ﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻇَﻨًّﺎ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻈَّﻦَّ ﻟَﺎ ﻳُﻐْﻨِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺷَﻴْﺌًﺎ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻔْﻌَﻠُﻮﻥَ
"Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun terhadap kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."
(Yunus : 36)

2⃣4⃣ *Membudayakan gaya dakwah pamer (baca: riya' dan sum'ah) dalam menyampaikan nasehat.*

2⃣5⃣ *Penanganan konflik secara represif akan menimbulkan dendam dan efek negatif bagi muslimin minoritas di negeri-negeri lainnya.* Unjuk kekuatan kubu mayoritas terhadap minoritas akan menjadi dalih pembenaran aksi balas dendam terhadap minoritas muslimin di lain tempat.

2⃣6⃣ *Menjerat muslimin dalam dilema* ; apabila tidak diterima aspirasinya, akan membuat musuh semakin besar kepala dan sombong; namun, jika berhasil, para pengusung demo akan tinggi hati dan melupakan sekian banyak keburukan di atas.

2⃣7⃣ *Meninggalkan hadits shahih lagi _muhkam_ , dan beramal dengan hadits lemah atau salah memahaminya, sehingga terjerumus dalam bid'ah pemikiran.*
Yang shahih sebagaimana tuntunan menasehati penguasa yang telah dipaparkan. Sementara yang lemah semisal hadits pengaduan sekian banyak shohabiyyah dalam suatu malam terkait kekerasan sebagian suami mereka kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam.
Sungguh para ulama telah menjelaskannya dan mendudukkan kembali kepada asal yang muhkam dari berbagai hadits shahih, walhamdulillah.

2⃣8⃣ *Terjatuh pada banyak menuntut dan mempertanyakan hak (كثرة السؤال) yang dibenci Allah.*

2⃣9⃣ *Terjatuh pada pemborosan (اضاعة المال) dengan sekian banyak sumberdaya yang dikerahkan* baik transportasi, konsumsi, akomodasi maupun operasional (pamflet, banner, dst.)

3⃣0⃣ *Membuka dan membiarkan pembuatan gambar makhluk bernyawa yang diharamkan syariat.*
Bahkan tak jarang dimuatnya aksi mereka di layar kaca, menjadi tajuk utama berita koran adalah kebanggaan dan parameter keberhasilan bagi mereka. Semakin terpampang dan disiarkan, semakin bersemangat berunjuk rasa

3⃣1⃣ *Menampakkan keangkuhan di jalanan.*
Berjalan dengan pongah dan angkuh adalah keadaan tercela. Allah ta'ala berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi angkuh.
(Q.S. Luqman: 18).

Sejumlah poin yang telah dipaparkan di atas tersebut *bukanlah pembatasan.* Namun *sekedar pengingat* dan nasehat yang kita yakini berpijak dari bimbingan para Ulama bahwa asal demonstrasi dari musuh-musuh Islam. Sementara dipermisalkan kaum kafir, jiwa mereka laksana tanah yang buruk yang tidak akan menumbuhkan kecuali keburukan.
ﻭَﺍﻟْﺒَﻠَﺪُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺐُ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻧَﺒَﺎﺗُﻪُ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻪِ ۖ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﺒُﺚَ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﺇِﻟَّﺎ ﻧَﻜِﺪًﺍ ۚ ﻛَﺬَٰﻟِﻚَ ﻧُﺼَﺮِّﻑُ ﺍﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ
"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tidak akan tumbuh darinya  kecuali sekedar tanaman yang merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur."
(Al-A'rof:58)

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa memberikan petunjuk pada segenap kaum muslimin, diberikan taufiq untuk senantiasa bersyukur dengan nikmat aman, damai, saling menyayangi sesama muslim, dan mengindahkan arahan ulama dan kepemimpinan pemerintahnya.

💡💡📝📝💡💡

WA al I'tishom Probolinggo

Minggu, 27 November 2016

Shalawat-shalawat Bid’ah


➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Shalawat-shalawat Bid’ah*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bagian 1⃣

*Tidak semua shalawat yang dikenal oleh masyarakat merupakan shalawat yang dikenal oleh syariat. Maka sudah semestinya kita mengetahui jenis-jenis shalawat yang tidak ada tuntunannya sama sekali dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini penting mengingat sebagian kaum muslimin banyak mengamalkannya, bahkan melantunkannya melalui nasyid-nasyid.*

_*Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun.*_

*Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat, akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan, bid’ah, ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagainya.*

*Shalawat Nariyah*

*Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin.*

*Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:*

*اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ*

_*“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada  Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang Engkau miliki.”*_

*Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan berkaitan dengan shalawat ini:*

_*Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meski yang diminta itu seorang malaikat yang dekat atau nabi yang diutus.*_

*Telah disebutkan dalam berbagai ayat Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdoa, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah ‘azza wa jalla. Firman Allah ‘azza wa jalla:*

*قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا ٥٦*

_“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya’.” (Al-Isra: 56)_

*Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdoa kepada Al-Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)*

*Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan kesulitan, menghilangkan kesusahan dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:*

*قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعٗا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۚ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ وَبَشِيرٞ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ١٨٨*

_“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)_

*Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:*

*أَجَعَلْتَنِيْ نِدًّا؟ قُلْ: مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ*

_“Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah ? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan) [Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu]_

*Shalawat Badar[1]*

*Lafadz shalawat ini -jika diartikan- sebagai berikut:*

*صَلَاةُ اللهِ سَلَامُ اللهِ عَلَى طَهَ رَسُولِ اللهِ*

*صَلَاةُ اللهِ سَلَامُ اللهِ عَلَى يس حَبِيبِ اللهِ*

*تَوَسَّلْنَا بِبِسْمِ اللهِ وَباْلهَادِي رَسُولِ اللهِ*

*وَكُلِّ مُجَاهِدٍ فِي اللهِ بِأَهْلِ الْبَدْرِ يَا اللهُ*

_Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah_

_Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah_

_Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah_

_Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah._

*Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:*

_*Penyebutan Nabi dengan habibillah, Bertawassul dengan Nabi, Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.*_

_*Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan).*_

_*Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya.*_

*Adapun hadits:*

_*“Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.*_

_*Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan.*_

_*Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:*_

*وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ*

_“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)_

*Demikian pula di antara doa Nabi, “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.”*

*Bertawassul dengan nama Allah subhanahu wa ta’ala seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan.*

*Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya).*

*Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawasul terlarang.*

*Shalawat al-Fatih (Pembuka)*

*Lafadznya adalah sebagai berikut:*

*اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلَقَ*

*وَالْخَاتِم لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ ا اْهلَدِي*

*إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ*

*وَمِقْدَارُهُ عَظِيْمٌ*

_“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.”_

*Berkata At-Tijani tentang shalawat ini –dan dia berdusta dengan perkataannya-, “…Kemudian (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) memerintah aku untuk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku untuk pertama kali bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap zikir, dari setiap doa yang kecil maupun besar, dan dari Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk zikir.”*

*Ini merupakan kekafiran yang nyata karena mengganggap perkataan manusia lebih afdhal daripada firman Allah ‘azza wa jalla. Sungguh merupakan suatu kebodohan apabila seorang yang berakal apalagi dia seorang muslim berkeyakinan seperti perkataan ahli bid’ah yang sangat bodoh ini. (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah, hal. 225 dan Mahabbatur Rasul, hal. 285, Abdur Rauf Muhammad ‘Utsman)*

*Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:*

*خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ*

_“Sebaik-baik kalian adalah yang  mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi dari ‘Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits ’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)_

*Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:*

*مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَا اِهلَ لاَ أَقُوْلُ : } ألم { حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ*

_“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf.” (Shahih, HR.At-Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani Rohimahulloh)_

▪ *Shalawat Seorang Sufi Libanon*

*Ia menyebutkan dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat Lafadznya sebagai berikut:*

*اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ*

_“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qayyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”_

*Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla. Maka, bagaimana mungkin dia (pembuat shalawat) memberikan dua sifat Allah ini kepada salah seorang dari makhluk-Nya, padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:*

*لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١*

_“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)_

▪ *Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)*

*Lafadznya sebagai berikut:*

*اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ*

_“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah.”_

*Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: “Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul, hal. 287-288)*

*Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.*

▪ *Shalawat al-In’am*

*Lafadznya sebagai berikut:*

*اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ*

*وَعَلىَ آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ*

_“Ya Allah berikanlah shalawat, salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarganya, sejumlah kenikmatan Allah dan keutamaan-Nya.”_

*Berkata An-Nabhani menukil dari  Ahmad Ash-Shawi: “Ini adalah shalawat Al-In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu kenikmatan dunia dan akhirat, dan pahalanya tidak terhitung.” (Mahabbatur Rasul, hal. 288)*

_*Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan antar tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki doa, zikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala.*_

_*Ada pula klaim bahwa shalawat itu mempunyai keutamaan bagi yang membacanya yang akan menjadikan mereka dengan cepat mencapai derajat para wali. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjanjikan bagi yang membacanya:*_ *kedekatan dengan beliau, masuk jannah (surga) dan yang lainnya dari sekian propaganda yang tidak bernilai sedikitpun dalam timbangan syariat. Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan kita dengan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.*

_*Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkan kepada kita. Apalagi bila model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya*_

_*Wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ibadah-ibadah yang justru disyariatkan, yang telah Allah subhanahu wa ta’ala jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaan-Nya.*_

*Betapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan tidak mau mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini?*

*Betapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda.*

*Betapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis zikir bid’ah semacam buatan buatan, daripada halaqah (majelis) yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?*

*Laa haula walaa quwwata illaa billah.*

*Selesai.*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Sumber, Asy Syariah Edisi 007 14 Nov 2011, Kajian Utama, Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal al-Bugisi hafizhohulloh*
↘ _*join Telegram:*_
🔵 http://bit.ly/FadhlulIslam
🌍 salafymedia.com
*Publikasi*
📚 *WA Fadhlul Islam Bandung*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖