Senin, 29 Desember 2014

KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR'AN DENGAN SUARA LIRIH

KEUTAMAAN MEMBACA AL QUR'AN DENGAN SUARA LIRIH

____________________
Dari ‘Uqbah bin Amir al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang membaca al-Qur’an dengan mengeraskan suaranya, seperti seseorang yang bersedekah dengan terang-terangan. Dan orang yang membaca al-Qur’an dengan suara yang lirih, seperti seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.”
(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasaai, berkata at-Tirmidzi: hadits ini hasan gharib. Dan dishahihkan oleh al-Imam al-Albani dalam shahih Abu Dawud)

Al-Imam at-Tirmidzi berkata setelah menyebutkan hadits ini, “ Dan makna hadits ini adalah, bahwa seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suara lirih lebih afdhal dibandingkan dengan seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suara keras. Karena sedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih utama menurut ahlul ilmi dibandingkan dengan sedekah dengan cara terang-terangan.

Dan maknanya menurut ahlul ilmi, agar seseorang selamat dari sikap ‘ujub (membanggakan dirinya), karena kekhawatiran adanya sikap ujub pada seseorang yang beramal secara sembunyi-sembunyi tidak sama dengan kekhawatiran adanya sikap ujub darinya ketika beramal secara terang-terangan.

Faidah disampaikan al ustadz Abdulaziz Bantul hafizhahullah

TIS
Via WA Al-Manshuroh

Kamis, 25 Desember 2014

LARANGAN TURUT SERTA BERSAMA ORANG-ORANG KAFIR DALAM HARI RAYA MEREKA

-------------------
LARANGAN TURUT SERTA BERSAMA ORANG-ORANG KAFIR DALAM HARI RAYA MEREKA

-------------------------
Jangan ikut acara Natal dan Tahun Baru !!!
---------------------------

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

"TIDAK BOLEH bagi muslimin untuk menghadiri perayaan-perayaan kaum musyrikin, berdasarkan kesepakatan para 'ulama yang mereka itu benar-benar ahli ilmu. Hal ini telah dinyatakan secara tegas oleh para fuqaha dari kalangan para pengikut madzhab yang empat dalam kitab-kitab mereka. …

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu  bahwa beliau berkata,
"Janganlah kalian masuk kepada kaum musyrikin di tempat-tempat ibadah mereka pada hari 'id (perayaan)  mereka, karena kemurkaan (Allah) saat itu sedang turun kepada mereka."

'Umar juga berkata, "Jauhilah para musuh Allah ketika perayaan perayaan mereka."

Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad jayiid, dari 'Abdullah bin 'Amr bahwa beliau berkata, "Barangsiapa yang melewati negeri orang-orang ajam, kemudian ikut nairuz (perayaan tahun baru Persia) dan pesta besar, serta menyerupai mereka (orang-orang kafir) hingga ia mati dalam kondisi seperti itu, maka pada Hari Kiamat dia AKAN DIKUMPULKAN bersama mereka."

Sumber: Ahkam ahli adz-Dzimmah I/723~724

••••••••••••
WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

--------------------------------






✏Umar Ibnul Khotthob berkata: 

❌“Janganlah kalian masuk bersama musyrikin di gereja-gereja mereka pada hari raya mereka karena kemurkaan Allah turun terhadap mereka” [Sunan al Kubro karya al Baihaqi]

✅Beliau juga berkata: “Jauhilah musuh-musuh Allah dalam acara hari raya mereka.” [Ahkamu Ahli Dzimmah:3/1247]

➰Ibnul Qoyyim mengatakan: Pasal: Hukum Menghadiri Hari Raya Ahlul Kitab.
Sebagaimana tidak boleh bagi ahlul kitab menampakkan hari raya (di negeri muslimin) maka tidak boleh pula bagi muslimin untuk membantu mereka dan atau menghadirinya bersama mereka dengan kesepakatan para ulama, yang mereka adalah ahlinya dalam hal ini. 

Dan telah menegaskan demikian para ahli fikih dari para pengikut imam yang empat dalam kitab-kitab mereka. 

⚫Berkatalah Abul Aosim Hibatullah bin al Hasan bin Manshur  al Thobari ahli fiqih dalam madzhab asy Syafi’i : 

❌Tidak boleh bagi muslimin untuk menghadiri hari raya mereka karena mereka berada dalam kemungkaran dan kedustaan, dan bila orang-orang yang baik berbaur dengan orang-orang yang berbuat mungkar tanpa bentuk pengingkaran terhadap mereka maka mereka seperti orang-orang yang meridhoinya dan memiliki peran terhadapnya maka kami khawatir akan turunnya murka Allah terhadap perkumpulan mereka sehingga kemurkaan itu menimpa mereka semua. Kami berlindung kepada Allah dari kemurkaanNya. [Ahkamu Ahli Azd Dzimmah:3/1245]

⚪Beliau juga mengatakan:
“Adapun ucapan selamat dengan syi’ar-syiar kekafiran yang khusus, maka haram dengan kesepakatan (ulama), seperti memberikan ucapan selamat dengan hari raya mereka dan puasa mereka, semecam mengucapkan ‘Hari raya yang pebuh berkah untukmu’ atau ‘Berbahagialah dengan hari raya ini’ dan sejenisnya. Hal ini bila pengucapnya selamat dari kekafiran maka ini tergolong dari hal yang terlarang, hal itu seperti memberikan ucapan selamat atas sujud mereka terhadap salib, bahkan hal itu lebh besar dosanya di sisi Allah dan lebih Allah benci dari pada memberi ucapan selamat karena minum khomer atau membunuh jiwa, zina dan semisalnya. Banyak dari orang yang tidak memiliki nilai agama terjatuh dalam perbuatan itu dan tidak mengetahui kejelekan apa yang mereka perbuat. Maka barangsiapa yang memberikan ucapan selamat kepada seseorang karena maksiatnya, atau bidahnya atau kekafirannya berarti dia telah mendekat kepada kemurkaan Allah dan kemarahanNya.[Ahkamu ahli dzimmah :1/441]

➰Lebih dari itu seorang ulama besar dari mazhab Hanafi yaitu Abu Hafs al Busti mengatakan. “Barangsiapa yang memberikan hadiah pada hari tersebut –yakni hari rayanya orang kafir- sebutir telur kepada seorang musyrik sebagai pengagungan terhadap hari tersebut maka dia telah kafir terhadap Allah.”
Hukum dari ulama Hanafi ini akan jelas alasannya bila anda membaca keteranga Ibnul Qoyyim di atas. (Qomar suaidi)

**Faidah dari Al Ustadz Qomar Su'aidy Lc حفظه الله

➰WhatsApp Salafy Indonesia


Senin, 22 Desember 2014

PERBEDAAN YANG SANGAT JAUH, ANTARA "WATSIQAH" ASY-SYAIKH MUQBIL AL-WADI'AH dengan "WATSIQAH" MUHAMMAD AL-IMAM -- ( 3 - selesai )

--------

PERBEDAAN YANG SANGAT JAUH, ANTARA "WATSIQAH" ASY-SYAIKH MUQBIL AL-WADI'AH dengan "WATSIQAH" MUHAMMAD AL-IMAM
-- ( 3 - selesai ) --

----------------------

☑ Perbedaan antara kedua "watsiqah" :
▪ Watsiqah Daulah (yang dinisbahkan kepada asy-Syaikh Muqbil)
Watsiqah Hutsiyyin (yang ditandatangani oleh Muhammad al-Imam)

❌ 1⃣ Watsiqoh Hutsiyyiin benar-benar ada dengan pengakuan Sang Penanda-tangan atasnya, dia tetap/kokoh dan tanpa ada pembatalan (pencabutan) dari penanda-tanganan tersebut.

❓ Sedangkan keberadaan Watsiqah Daulah masih perlu diteliti ulang, berdasarkan apa yang telah berlalu penyebutannya.

❌2⃣ Watsiqah Hutsiyin terdapat padanya lebih dari 10 kesalahan, yang terdiri atas :
kesalahan yang bersifat
kekufuran,
kebidahan,
kemaksiatan, atau
perkara mungkar yang asing dan aneh.

❓Sedangkan pada Watsiqah Daulah tidak tampak adanya kesalahan, kecuali satu yaitu "meniadakan untuk membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran", itu pun asy-Syaikh Muqbil bisa diberi udzur dalam permasalahan tersebut, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya.

❌3⃣ Penulis Watsiqah Hutsiyiin adalah orang-orang Hutsiy itu sendiri.

❓ Sedangkan penulis Watsiqah Daulah adalah Daulah (Negara) itu sendiri, tidak samar bagi anda perbedaan antara dua perkara ini.

❌4⃣  Watsiqah Hutsiyiin ditetapkan dalam keadaan Ahlus Sunnah memiliki izzah dan kekuatan di banyak tempat .

❓ Sedangkan Watsiqah Daulah ditetapkan pada waktu orang-orang yang berkepentingan menunjukkan permusuhan yang terang-terangan terhadap Ahlus Sunnah di Yaman, bersamaan dengan itu jumlah Ahlus Sunnah sangat sedikit sekali di berbagai daerah di Yaman. Ahlul Bid'ah tersebar, sedang Sunnah dan Ahlus Sunnah terasingkan.

❌5⃣ Kandungan Watsiqah Hutsiyyiin mengharuskan (mengikat) Ahlus Sunnah di Yaman tanpa terkecuali (untuk tunduk) dengan apa yang tercantum di dalamnya.

❓ Sedangkan kandungan Watsiqah Daulah hanya mengharuskan (mengikat) asy-Syaikh Muqbil saja (untuk tunduk) dengan apa yang tercantum di dalamnya, tanpa mengharuskan (mengikat) Ahlus Sunnah di Yaman yang lain.

❌ 6⃣  Watsiqah Hutsiyyin disahkan antara satu kelompok yang kafir dengan perwakilan Ahlus Sunnah di Yaman.

❓ Sedangkan Watsiqah Daulah disahkan antara beberapa tokoh yang belum jelas ke-Rafidhah-anya ketika itu, dengan asy-Syaikh Muqbil rahimahullah.

❌7⃣ Dalam Watsiqah Hutsiyyin terdapat sikap mengalah yang dilakukan oleh Ahlus Sunah wal Jamaah dalam beberapa masalah Prinsipil dalam agama mereka.

❓ Sedangkan dalam Watsiqah Daulah tidak ada sikap mengalah tersebut, kecuali hanya sikap diam selama jangka waktu tertentu, yang diiringi dengan semakin meningginya kedudukan asy-Syaikh Muqbil, biidznillah, dengan dukungan dari negara. Siapa yang mengenal baik asy-Syaikh Muqbil pasti mengenal jalan beliau.

Dengan penjelasan ini, menjadi jelaslah bagi seorang yang adil (sportif) seberapa jauh kelalaian sebagian ikhwan dalam pola berpikir mereka yang mengantarkan pada sikap ta'ashub. Wallaahul Musta'an.

Dan dari sini, aku mengharap kepada Allah Subhanah agar memberi taufik kepada Syaikh kami al-Imam untuk rujuk dari penanda-tanganan beliau atas Watsiqah Hutsy ini. Dan semoga Allah merizkikan kepada kami kelurusan dan keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan.

Dan akhir seruan kami ini adalah : Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin

✏ Ditulis oleh:
Abu Muhammad al-'Adeny.

✉ SELESAI, alhamdulillah
••••••••
WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PERBEDAAN YANG SANGAT JAUH, ANTARA "WATSIQAH" ASY-SYAIKH MUQBIL AL-WADI'AH dengan "WATSIQAH" MUHAMMAD AL-IMAM (02)

--------

PERBEDAAN YANG SANGAT JAUH, ANTARA "WATSIQAH" ASY-SYAIKH MUQBIL AL-WADI'AH dengan "WATSIQAH" MUHAMMAD AL-IMAM
-- ( 2 ) --
----------------------

Adapun sisi KEBID'AHANNYA :
adanya ucapan : "Shadaqallahu al-'Azhim" (setelah pencantuman ayat al-Qur'an, pen)

Adapun sisi MAKSI'ATnya adalah:
1⃣ Mengharuskan markiz-markiz Ahlus Sunnah seluruhnya untuk terikat juga dengan apa yang telah disahkan dalam "al-Watsiqah" ini.

2⃣ Menolak Syi'ar jihad melawan Rafidhah, dan menegaskan hal itu dalam kondisi dan alasan apapun juga.

3⃣ Menolak Syi'ar Amar Maruf dan Nahi Munkar terhadap Ahlus Sunnah wal Jama'ah di Yaman tanpa terkecuali, dan menegaskan hal tersebut - dengan zhalim dan penuh permusuhan - untuk meninggalkan syariat ini pada setiap ruang (yang melingkupinya) dan pada beragam wasilah perantara.

Adapun dari sisi KESALAHAN-KESALAHAN yang layak diingkari dan aneh adalah:

1⃣ Berusaha menghubungkan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah demi tujuan melanggengkan jiwa saling mencintai dan persaudaraan, bahkan diusahakan terus berkelanjutan.

2⃣ Membantah kelompok manapun yang menentang.
Apakah meskipun yang menentang itu seorang muslim?

3⃣ Penajaman sikap pada siapa saja yang menentang Rafidhah.
Apakah meskipun yang menentang itu adalah negara?

.... bersambung, insya Allah

••••••••
WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Sudah Siapkah ketika Orangtua Kita Berkata Jujur?

Kemarin lalu, saya bertakziah mengunjungi salah seorang kerabat yang sepuh. Umurnya sudah 93 tahun. Beliau adalah veteran perang kemerdekaan, seorang pejuang yang shalih serta pekerja keras. Kebiasaan beliau yang begitu hebat di usia yang memasuki 93 tahun ini, beliau tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid untuk Maghrib, Isya dan Shubuh.

Qadarallah, beliau mulai menua dan tidak mampu bangun dari tempat tidurnya sejak dua bulan lalu. Sekarang beliau hanya terbaring di rumah dengan ditemani anak-anak beliau. Kesadarannya mulai menghilang. Beliau mulai hidup di fase antara dunia nyata dan impian. Sering menggigau dan berkata dalam tidur, kesehariannya dihabiskan dalam kondisi tidur dan kepayahan.

Anak-anak beliau diajari dengan cukup baik oleh sang ayah. Mereka terjaga ibadahnya, berpenghasilan lumayan, dan akrab serta dekat. Ketika sang ayah sakit, mereka pun bergantian menjaganya demi berbakti kepada orangtua.

Namun ada beberapa kisah yang mengiris hati; kejadian jujur dan polos yang terjadi dan saya tuturkan kembali agar kita bisa mengambil ibrah.

Terkisah, suatu hari di malam lebaran, sang ayah dibawa ke rumah sakit karena menderita sesak nafas. Malam itu, sang anak yang kerja di luar kota dan baru saja sampai bersikeras menjaga sang ayah di kamar sendirian. Beliau duduk di bangku sebelah ranjang. Tengah malam, beliau dikejutkan dengan pertanyaan sang ayah,

"Apa kabar, pak Rahman? Mengapa beliau tidak mengunjungi saya yang sedang sakit?" tanya sang ayah dalam igauannya.

Sang anak menjawab, "Pak Rahman sakit juga, Ayah. Beliau tidak mampu bangun dari tidurnya." Dia mengenal Pak Rahman sebagai salah seorang jamaah tetap di masjid.

"Oh...lalu, kamu siapa? Anak Pak Rahman, ya?" tanya ayahnya kembali.

"Bukan, Ayah. Ini saya, Zaid, anak ayah ke tiga."

"Ah, mana mungkin engkau Zaid? Zaid itu sibuk! Saya bayar pun, dia tidak mungkin mau menunggu saya di sini. Dalam pikirannya, kehadirannya cukup digantikan dengan uang," ucap sang ayah masih dalam keadaan setengah sadar.

Sang anak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Air mata menetes dan emosinya terguncang. Zaid sejatinya adalah seorang anak yang begitu peduli dengan orangtua. Sayangnya, beliau kerja di luar kota. Jadi, bila dalam keadaan sakit yang tidak begitu berat, biasanya dia menunda kepulangan dan memilih membantu dengan mengirimkan dana saja kepada ibunya. Paling yang bisa dilakukan adalah menelepon ibu dan ayah serta menanyakan kabarnya. Tidak pernah disangka, keputusannya itu menimbulkan bekas dalam hati sang ayah.

Kali yang lain, sang ayah di tengah malam batuk-batuk hebat. Sang anak berusaha membantu sang ayah dengan mengoleskan minyak angin di dadanya sembari memijit lembut. Namun, dengan segera, tangan sang anak ditepis.

"Ini bukan tangan istriku. Mana istriku?" tanya sang ayah.

"Ini kami, Yah. Anakmu." jawab anak-anak.

"Tangan kalian kasar dan keras. Pindahkan tangan kalian! Mana ibu kalian? Biarkan ibu berada di sampingku. Kalian selesaikan saja kesibukan kalian seperti yang lalu-lalu."

Dua bulan yang lalu, sebelum ayah jatuh sakit, tidak pernah sekalipun ayah mengeluh dan berkata seperti itu. Bila sang anak ditanyakan kapan pulang dan sang anak berkata sibuk dengan pekerjaannya, sang ayah hanya menjawab dengan jawaban yang sama.

"Pulanglah kapan engkau tidak sibuk."

Lalu, beliau melakukan aktivitas seperti biasa lagi. Bekerja, shalat berjamaah, pergi ke pasar, bersepeda. Sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin beliau kesepian, puluhan tahun lamanya. Namun, beliau tidak mau mengakuinya di depan anak-anaknya.

Mungkin beliau butuh hiburan dan canda tawa yang akrab selayak dulu, namun sang anak mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan keluarganya.

Mungkin beliau ingin menggenggam tangan seorang bocah kecil yang dipangkunya dulu, 50-60 tahun lalu sembari dibawa kepasar untuk sekadar dibelikan kerupuk dan kembali pulang dengan senyum lebar karena hadiah kerupuk tersebut. Namun, bocah itu sekarang telah menjelma menjadi seorang pengusaha, guru, karyawan perusahaan; yang seolah tidak pernah merasa senang bila diajak oleh beliau ke pasar selayak dulu. Bocah-bocah yang sering berkata, "Saya sibuk...saya sibuk. Anak saya begini, istri saya begini, pekerjaan saya begini." Lalu berharap sang ayah berkata, "Baiklah, ayah mengerti."

Kemarin siang, saya sempat meneteskan air mata ketika mendengar penuturan dari sang anak. Karena mungkin saya seperti sang anak tersebut; merasa sudah memberi perhatian lebih, sudah menjadi anak yang berbakti, membanggakan orangtua, namun siapa yang menyangka semua rasa itu ternyata tidak sesuai dengan prasangka orangtua kita yang paling jujur.

Maka sudah seharusnya, kita, ya kita ini, yang sudah menikah, berkeluarga, memiliki anak, mampu melihat ayah dan ibu kita bukan sebagai sosok yang hanya butuh dibantu dengan sejumlah uang. Karena bila itu yang kita pikirkan, apa beda ayah dan ibu kita dengan karyawan perusahaan?

Bukan juga sebagai sosok yang hanya butuh diberikan baju baru dan dikunjungi setahun dua kali, karena bila itu yang kita pikirkan, apa bedanya ayah dan ibu kita dengan panitia shalat Idul Fitri dan Idul 'Adha yang kita temui setahun dua kali?

Wahai yang arif, yang budiman, yang penyayang dan begitu lembut hatinya dengan cinta kepada anak-anak dan keluarga, lihat dan pandangilah ibu dan ayahmu di hari tua. Pandangi mereka dengan pandangan kanak-kanak kita. Buang jabatan dan gelar serta pekerjaan kita. Orangtua tidak mencintai kita karena itu semua. Tatapilah mereka kembali dengan tatapan seorang anak yang dulu selalu bertanya dipagi hari, "Ke mana ayah, Bu? Ke mana ibu, Ayah?"

Lalu menangis kencang setiap kali ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.

Wahai yang menangis kencang ketika kecil karena takut ditinggalkan ayah dan ibu, apakah engkau tidak melihat dan peduli dengan tangisan kencang di hati ayah dan ibu kita karena diri telah meninggalkan beliau bertahun-tahun dan hanya berkunjung setahun dua kali?

Sadarlah wahai jiwa-jiwa yang terlupa akan kasih sayang orangtua kita. Karena boleh jadi, ayah dan ibu kita, benar-benar telah menahan kerinduan puluhan tahun kepada sosok jiwa kanak-kanak kita; yang selalu berharap berjumpa dengan beliau tanpa jeda, tanpa alasan sibuk kerja, tanpa alasan tiada waktu karena mengejar prestasi.

Bersiaplah dari sekarang, agar kelak, ketika sang ayah dan ibu berkata jujur tentang kita dalam igauannya, beliau mengakui, kita memang layak menjadi jiwa yang diharapkan kedatangannya kapan pun juga..

*Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua.. 

WhatsApp TIC
(Tholibul Ilmi Cikarang)

↘ Dari
WA SALAFY KRANJY
Via WA Al-Manshuroh

Kamis, 18 Desember 2014

PERBEDAAN YANG SANGAT JAUH, ANTARA "WATSIQAH" ASY-SYAIKH MUQBIL AL-WADI'AH dengan "WATSIQAH" MUHAMMAD AL-IMAM (01)

--------

PERBEDAAN YANG SANGAT JAUH, ANTARA "WATSIQAH" ASY-SYAIKH MUQBIL AL-WADI'AH dengan "WATSIQAH" MUHAMMAD AL-IMAM
----------------------

Bagian Pertama

Banyak pembicaraan seputar Watsiqah yang dinisbahkan kepada asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i hafizhahullah, bahwa beliau telah berdamai dan membuat perjanjian dengan pihak Rafidhah Itsna 'Asyariyah. Ini menjadi pembenaran bagi banyak Ikhwah Salafiyyin untuk mempersamakan antara Watsiqah ini dengan "Watsiqah Hutsiyyin" yang ditandatangani oleh Muhammad al-Imam.
Itu semua akibat dari kebodohan mereka, dan sebagiannya karena menentang, demi membela kebatilan yang telah jelas nyata kesalahannya, yaitu dukungan terhadap "Watsiqah at-Ta'ayush" (Dokumen perjanjian untuk Hidup Damai, = yakni Watsiqah dengan Hutsi, pen)

Maka aku memohon pertolongan kepada Allah, dengan mengharap taufiq-Nya, agar aku bisa menjelaskan perbedaan antara dua Watsiqah tersebut.

Adapun pembicaraan kita tentang watsiqah yang pertama, yaitu "Watsiqoh ad-Daulah", maka dari sisi, apa yang ada di dalamnya, bisa diketahui bahwa watsiqah ini dibuat pada tanggal 30 Syawwal 1402 H - 19 Agustus 1982 M.

☑ Adapun perbedaan yang sangat jauh antara kedua watsiqah tersebut adalah:

Sebagian ikhwan menempatkan ayah dan guru kami asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i rahimahullah berada pada posisi membela poin-poin Watsiqah dengan kelompok Hutsiy.
➡ Maka sungguh ini adalah bentuk kezhaliman dan menyamarkan kebenaran dengan kebatilan.

Berikut kami tunjukkan kepada anda garis besar kesepakatan yang ada dalam kedua watsiqah itu, agar seorang yang adil (sportif) bisa melihat kesalahan sebagian ikhwan dalam menempatkan" watsiqah" ini berada pada posisi membela (membenarkan) "watsiqah hutsiy" (Watsiqah antara Muhammad al-Imam dengan kelompok Hutsy), atau membenarkan terhadap penanda-tanganannya dengan alasan-alasan yang mereka anggap rahasia dan berbahaya, yang tidak layak diketahui kecuali oleh sekelompok tholabatul ilmi saja, tanpa diketahui oleh para ulama.

Garis besar isi "Watsiqah ad-Daulah"  untuk Perdamaian (yang dinisbahkan kepada asy-Syaikh Muqbil) :

1⃣ Berusaha menyatukan shaf dan tidak membesar-besarkan masalah-masalah khilafiyah,

2⃣ Tidak meng-ilzam (mengharuskan) orang/kelompok lain dalam masalah khilafiyah pada pembahasan fiqh yang bersifat ijtihadiyah

3⃣ Menegakkan Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar dengan syarat tidak menggiring kepada kemunkaran yang lebih besar darinya, disertai dengan tidak saling mempertentangkan masalah-masalah khilafiyah

4⃣ Mengambil tindakan-tindakan untuk melawan orang yang menjadikan agama sebagai wasilah untuk tujuan-tujuan tertentu yang tidak disyariatkan.

5⃣ Mengambil tindakan-tindakan dan hukuman untuk melawan orang yang berhubungan dengan pihak-pihak luar negeri yang membelanya melakukan perbuatan ini.

6⃣ Tidak mempertentangkan beberapa pribadi atau madzhab-madzhab, sebagaimana wajib bagi semuanya untuk saling menahan diri dan melupakan apa yang telah berlalu serta meninggalkan hal-hal yang mengantarkan kepada dendam, demi merealisasikan ukhuwwah dalam Islam.

ℹ⏩ Jadi, setelah mempelajari watsiqah ini, tidak ada kesimpulan pada kamiuntuk dikritik, kecuali pada satu perkara, yaitu:
"Tidak saling mempertentangkan kelompok-kelompok yang menyimpang dan para penganutnya, tidak menampakkan pertentangan itu."

✅ Meskipun demikian, mungkin untuk diberi udzur kepada asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, yaitu kondisi beliau yang baru saja keluar meninggalkan Kerajaan Saudi Arabia, maka beliau sangat butuh untuk bisa mendakwahi manusia, membimbing mereka, mengajarkan dan mengenalkan sunnah kepada mereka, hingga terbuka kesempatan yang tepat bagi beliau untuk membantah orang-orang yang menyelisihi sunnah.

Kemudian, sesungguhnya asy-Syaikh Muqbil rahimahullaah mengetahui bahwa mereka tidak akan diam dan tidak akan konsisten dengan perjanjian. Beliau ingin menjadikan Watsiqah tersebut sebagai hujjah bagi beliau di sisi negara untuk menyerang mereka.
Di samping  watsiqah ini TIDAK BERISI SESUATU yang MENYELISIHI PRINSIP-PRINSIP ISLAM sebagaimana yang terkandung dalam watsiqah dengan kelompok Hutsy.
dan Watsiqah itu tidak mengharuskan (tidak mengikat) seorang pun dari Ahlus sunnah wal jamaah di manapun dia (untuk mematuhi isi Watsiqah) kecuali  asy-Syaikh Muqbil saja, rahimahullah.

Adapun pembicaraan tentang kejelekan "Watsiqah Hutsiyyin" (yakni Watsiqah antara Muhammad al-Imam dengan Hutsiyyin) adalah tentang isinya yang mengandung:
kekufuran,
kebidahan,
kemaksiatan, dan
kesalahan yang layak untuk diingkari.

berikut ini penjelasannya:

KEKUFURAN

1⃣ Menyatakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersekutu dengan Rafidhah Itsna 'Asyriyah dalam masalah Rabb, Nabi, agama dan kitab suci.

✅ Padahal telah pasti berita dari imam-imam Rafidhah bahwa mereka tidak mengakui Rabb, Nabi, dan kitab suci kita (Ahlus Sunnah).

2⃣ Bersekutunya Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam kesepakatan bersama Rafidhah untuk melawan musuh mereka.

✅ Padahal Kaum muslimin, terlebih lagi salafiyun, telah mengetahui bagaimana keyakinan Rafidhah yang memusuhi para shahabat dan ulama Islam.

3⃣ Kebebasan berfikir dan berwawasan.
Bagaimana bisa, sedangkan pemikiran mereka (Hutsi/Rafidhah) mengandung cercaan kepada ummahatul mukminiin (istri-istri Nabi), bahkan menuduh Rasulullah dengan kekejian, dan mengkafirkan para shahabat kecuali beberap belas orang saja.

4⃣ Menegaskan persaudaraan antara Ahlus Sunnah wal Jama'ahh dengan Rafidhah, dan itu berdasarkan pernyataan dalam "watsiqah":
".... Kami adalah kaum muslimin seluruhnya ...",
dan pernyataan :
" ... dan berusaha menumbuhkan jiwa persaudaraan dan saling membantu di antara semuanya ...."

.... bersambung, insya Allah

••••••••
WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Rabu, 17 Desember 2014

Hikmah Adanya Perselisihan


⭐ Ensiklopedia Adab

Hikmah Adanya Perselisihan

قوله تعالي ((ً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ.... )) من سورة هود :119

قال العلامة عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله تعالي:

اقتضت حكمته، أنه خلقهم، ليكون منهم السعداء والأشقياء، والمتفقون والمختلفون، والفريق الذين هدى الله, والفريق الذين حقت عليهم الضلالة، ليتبين للعباد، عدله وحكمته، وليظهر ما كمن في الطباع البشرية من الخير والشر، ولتقوم سوق الجهاد والعبادات التي لا تتم ولا تستقيم إلا بالامتحان والابتلاء.

مصدر:

http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=12510

Allah ta'ala berfirman:

"Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang- orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu."
[QS. Hud: 119]

Berkata Al-'Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullahu ta'ala:

"Hikmah Allah ta'ala menetapkan bahwa mereka diciptakan ( senantiasa berselisih)

agar ada dari sebagian dari mereka yang bahagia dan ada yang celaka.

Ada yang bersatu dan ada yang berselisih.

Ada golongan yang Allah ta'ala beri petunjuk dan ada golongan yang tersesat.

Demikian pula agar nampak keadilan dan hikmah-Nya bagi manusia.

Juga supaya nampak apa yang tersembunyi dari tabiat manusia berupa hal yang baik dan yang buruk,

serta tegaknya jihad dan ibadah yang mana keduanya tidak akan sempurna dan istiqamah, kecuali dengan melewati sebuah ujian dan cobaan.

Taisirul Karimir Rahman

أبو زلفي أنس

WhatsApp Al-Ukhuwwah
----------------------
إتباع الستة

♨ Ittiba'us Sunnah

Larangan-Larangan dalam Poligami

Larangan-Larangan dalam Poligami

Berikut ini beberapa larangan dalam poligami,

Pertama: Mengumpulkan dua orang wanita yang bersaudara (kakak beradik)

Tentang hal ini Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ ….. وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan,……. dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara” (an-Nisa’:23)

Dari Ummu Habibah binti Abi Sufyan Radhiyallahu anha berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكَ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِنَّ ذَلِكَ لاَ يَحِلُّ لِي

“Wahai Rasulullah, nikahilah saudariku, putri Abu Sufyan.” Nabi bersabda : “apakah engkau senang dengan hal itu?” Ummu Habibah berkata, “Ya, (agar) aku tidak bersendirian dengan dirimu. Sesungguhnya orang yang paling aku sukai untuk menemaniku dalam berbuat kebaikkan adalah saudariku.” Nabi bersabda : “Sesungguhnya yang demikian itu tidaklah halal bagiku.” (HR. al-Bukhari no 5101 dan Muslim no 3661)

Kedua: Menikahi isteri kelima sebelum selesai iddahnya salah seorang istri yang ditalak

Berkata Ibnul Mundzir rahimahullah: “Para ulama sepakat bahwa kalau seorang suami menalak isterinya dengan talak yang masih berkesempatan rujuk, maka tidak boleh menikahi saudarinya atau menikahi keempat wanita selainnya sampai selesai masa iddah isterinya yang telah dia talak itu.” (Al-Ijma’:41)

Ketiga: Mengumpulkan isteri dengan ‘ammah atau khalahnya

‘Ammah adalah semua perempuan saudari ayahmu secara langsung atau tidak langsung (bibi dari pihak ayah keatas)

Khalah adalah semua perempuan saudari ibumu secara langsung atau tidak (bibi dari pihak ibu keatas)

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata

نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ تُنْكَحَ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا ، أَوْ خَالَتِهَا

“Rasulullah melarang menikahi seorang wanita dengan ammah dan khalahnya.” (HR. al-Bukhari no 5108)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

لاَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلاَ عَلَى خَالَتِهَا

“Tidak boleh mengumpulkan seorang wanita dengan ammah dan khalahnya” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Ibnu Mundzir berkata:

لست أعلم في منع ذلك اختلافا اليوم

“Aku tidak mengetahui adanya khilaf (perselisihan) dalam larangan tersebut pada hari ini” (Fathulbari : 9/185)

Keempat: Menikah/mengabungkan lebih dari empat istri

Tentang hal ini Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :

فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. “ (An Nisa’ : 3)

Berkata al-Imam Bukhari rahimahullah:

“Bab tidak boleh menikah lebih dari empat isteri, berdasarkan firman Allah Subhaanahu wata’aala:

مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ

“…dua, tiga, atau empat” (an-Nisa:3)

Ali bin Husein berkata: “maksunya dua, tiga atau empat, sebgaimana firman Allah:

أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ

“(para malaikat) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (Fathir:1)

Yakni dua atau tiga atau empat. (Fathul Bari’: Jilid 9/159)

Dan dalam hadits, dimana salah seorang sahabat Nabi yang bernama Qais Ibnul Harits rahiyallahu anhu mengatakan : “Aku masuk islam, sedangkan aku mempunyai delapan istri. Lalu aku mendatangi Nabi dan mengatakan kepada beliau tentang hal itu, maka beliau bersabda: “Pilihlah empat diantara mereka.” (HR. Ibnu Majah : 1952, dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah dan Irwa’: 1885)

Wallahu a’lam bish shawwab.

PSSI (Perkumpulan Suami Sayang Istri)

Via WA Al-Manshuroh

LAMPU PUN PADAM

LAMPU PUN PADAM..

⚡⚡Kaget diiringi dengan sedikit kekecewaan bercampur tak karuan. 
Tak jarang, lisan sebagian orang pun tak tertahan. Memuntahkan ketidakpuasan perasaan.

PLN jadi sasaran misuhan.

Aktifitas otomatis terhenti sejenak, senter atau lilin dicari untuk bisa menerangkan keadaan sekitar.

Ketika penerangan ala kadarnya telah terpenuhi, obrolan ringan pun memulai seiring menunggu listrik menyala.

Ikhwatii fillah,............

◾Mungkin itu gambaran umum situasi ketika listrik suatu rumah padam.

Mari sejenak kita bandingkan, bagaimana keadaan salaf ketika mendapati padam penerangan di gelapnya malam.

Al Qasim bin Muhammad bercerita, bahwasanya dahulu aku sering safar bersama Abdullah ibnul Mubarak.

Di benakku terlintas sesuatu tentang beliau.

Pikirku,
"...Dengan sebab apakah orang ini (maksudnya Ibnul Mubarak) bisa mendapat keistimewaan dibanding kami, sehingga dia bisa mencapai derajat kemasyhuran yang sedemikian hebat seperti sekarang...

✨Jika dia shalat, maka sesungguhnya kami pun shalat...

Jika dia puasa, kami pun puasa...

Jika dia berperang, kami pun berperang...

✈Jika dia berhaji, kami pun berhaji...".

Pada suatu hari, ketika di sebagian tengah safar, kami melintasi daerah Syam.

⚫ Ketika itu kondisi sudah malam.

Kami pun istirahat dan berhenti di suatu rumah.

Tuan rumah menyiapkan untuk kami santapan makan malam.

Tiba-tiba lampu padam.

Sebagian dari kami pun bangkit untuk mengambil lampu yang padam tersebut.

Lampu itu kemudian dibawanya sejenak untuk dinyalakan kembali.

Ketika lampu sudah dinyalakan dan didatangkan kepada kami, pandanganku ptn tertuju kepada Ibnul Mubarak.

Tenyata di wajahnya telah mengucur air mata, turun sampai membasahi jenggotnya.

Maka aku pun berkata kepada diriku,
"...Dengan sebab khasyah (rasa takut) inilah dia diistimewakan lebih dibanding kami.. Ketika lampu padam, Ibnul Mubarak di tengah kegelapan teringat akan hari kiamat.."

(Terjemah bebas dari kitab Shifatush Shafwah-Ibnul Jauzi, jil. 2, hal. 330, cet. Darul Hadits 2000).

*~ iNdiC

WA Sedikit Faidah Saja

F.P.S forum pekerja salafiy عمال منتدي السلفية

Via WA Al-Manshuroh

Dengan apa engkau akan menolong agama Allah ini❓Lalu kapan❓

===================
Dengan apa engkau akan menolong agama Allah ini❓

Lalu kapan❓
====================

☝Allah berfirman dalam surat الصف:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻛُﻮﻧُﻮﺍ ﺃَﻧْﺼَﺎﺭَ ﺍﻟَّﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻋِﻴﺴَﻰ
ﺍﺑْﻦُ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻟِﻠْﺤَﻮَﺍﺭِﻳِّﻴﻦَ ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺼَﺎﺭِﻱ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﻪِ ۖﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺤَﻮَﺍﺭِﻳُّﻮﻥَ
ﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻧْﺼَﺎﺭُ ﺍﻟَّﻪِ ۖﻓَﺂﻣَﻨَﺖْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺑَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﻭَﻛَﻔَﺮَﺕْ
ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٌ ۖﻓَﺄَﻳَّﺪْﻧَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺪُﻭِّﻫِﻢْ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤُﻮﺍ ﻇَﺎﻫِﺮِﻳﻦَ
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu
penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa
putra Maryam telah berkata kepada pengikut- pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan
segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan
kekuatan kepada orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.

Rasul juga bersabda
احفظ الله يحفظك

"Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu".

✅ Dengan bentuk apa kita menolong agama Allah?

1. Semangat menegakkan syariat agama ini

2. Semangat mempelajari Alqur'an dan Sunnah

3. Melawan musuh-musuh Allah yang mereka menentang dan membangkang dengan islam

4  Mematahkan dalil-dalil orang yang membela kebatilan dan memberikan peringatan kepada manusia

5  Mengajak kepada kebaikan dan melarang dari tindakan kemungkaran

Para pembaca,,,

Tidak melulu kita harus angkat senjata,,

Tidak harus menunggu ada jihad,,,,

⌚ Waktu itu ada 3: dulu, sekarang dan yang akan datang

Adapun yang dulu telah berlalu dan tak akan kembali lagi

Esok?
siapa yang tau tentang esok? Yang ada hanya harapan dan keinginan saja

Tinggallah yang tersisa waktu sekarang, detik ini,, mulailah kita menolong Agama Allah dengan belajar, dan hal-hal yang tadi kita sebutkan diatas

Lalu apa keuntungan menolong agama allah?

Kemanfaatannya sangatlah besar.
Di akhirat?

☝Ada ampunan dari Allah,
ada syurga yang penuh dengan kenikmatan

Di dunia?

Pertolongan akan datang dari Allah.
dan yang terbesar adalah pertolongan Allah berupa mudahnya seorang hamba kembali dan bertaubat kepada Allah ketika melakukan kemaksiatan

Allah akan bukakan pintu rezeki

Allah akan berikan kemuliaan pada orang yang seperti ini.

Hartamu, jiwamu, badanmu adalah modalnya

Diakhir ayat Allah katakan:

✨''Maka kami berikan
kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.''

______________________

Dikutip dari tafsir As sa'di surat as shof ayat 14

Forum Ilmiyah Karanganyar
----------------------
إتباع السنة

♨ Ittiba'us Sunnah

TIGA GENERASI TERBAIK YANG MENJADI PANUTAN

TIGA GENERASI TERBAIK YANG MENJADI PANUTAN

Ada 3 generasi terbaik yang menjadi panutan bagi kaum muslimin. Tiga generasi itu adalah:

1. Para Sahabat Nabi  : murid Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam.
2. Tabiin : murid para Sahabat Nabi. Satu orang yang termasuk kelompok Tabiin disebut tabi’i.
3. Atbaaut Taabiin : murid para Tabiin. Satu orang yang termasuk kelompok atbaaut Tabiin disebut Tabiut Tabiin.

Sahabat Nabi adalah seorang yang pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Sedangkan Taabi’in adalah orang-orang yang pernah bertemu dengan paling tidak seorang Sahabat Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Para atbaaut Taabiin adalah orang-orang yang pernah bertemu dengan paling tidak satu orang Tabiin dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman.

Tentunya para Tabiin dan atbaut Tabiin yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti para Sahabat Nabi dengan baik. Bukannya orang-orang yang terjerumus dalam kebid’ahan-kebid’ahan dan kesesatan.

✅PERIODE TIGA GENERASI TERSEBUT

Masa Nabi dan para Sahabatnya : sejak Nabi diutus hingga 110 Hijriyah. Sahabat Nabi yang terakhir meninggal dunia adalah Abut Thufail Aamir bin Waatsilah al-Laitsy (wafat 110 Hijriyah).
Masa Taabiin : hingga 181 H (wafatnya Taabiin terakhir: Kholf bin Kholiifah)

قال البلقيني أول التابعين موتا ابو زيد معمر بن زيد قتل بخراسان وقيل بأذربيجان سنة ثلاثين وآخرهم موتا خلف بن خليفة سنة ثمانين ومائة (تدريب الراوي (2-243)

al-Bulqiiniy menyatakan: Tabiin pertama yang meninggal dunia adalah Abu Zaid Ma’mar bin Zaid yang terbunuh di Khurosan, dan ada yang mengatakan: (meninggal) di Azerbaijan pada tahun 30 H. Sedangkan Taabiin yang paling akhir meninggal dunia adalah Kholf bin Kholiifah pada tahun 180 H (Tadriibur roowiy karya as-Suyuthiy (2/234)).

Masa atbaaut Taabi’iin : hingga 220 H.

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany menyatakan:

واتفقوا على أن آخر من كان من أتباع التابعين ممن يقبل قوله من عاش إلى حدود العشرين ومئتين

Para Ulama sepakat bahwa akhir Atbaaut Tabiin yang bisa diterima ucapannya adalah yang masa kehidupannya hingga batasan tahun 220 (Hiriyah)(Fathul Baari karya Ibnu Hajar al-Asqolaany (7/6)).

Catatan: penjelasan di atas hanyalah tentang periode pada tiap generasi dengan menyebutkan akhir kematian orang-orang yang berada di generasi tersebut. Namun, untuk menentukan apakah seseorang yang hidup di masa itu masuk di generasi tertentu, harus dilihat apakah ia pernah bertemu dengan orang pada generasi tertentu.

Sebagai contoh, seorang yang hidup di masa Sahabat Nabi, belum tentu ia adalah Sahabat Nabi, jika sepanjang hidupnya ia belum pernah bertemu dengan Nabi. Seperti Uwais bin ‘Aamir al-Qoroniy yang tidak pernah bertemu dengan Nabi sepanjang hidupnya. Beliau hanya bertemu dengan beberapa Sahabat Nabi, di antaranya Umar bin al-Khotthob. Maka Uwais al-Qoroniy dimasukkan dalam kategori tabiin, sebagaimana Nabi dalam salah satu haditsnya menyatakan bahwa beliau adalah sebaik-baik Tabiin. Beliau dikabarkan hilang saat perang Shiffin ikut bersama pasukan Ali bin Abi Tholib, sekitar tahun 37 Hijriyah. Dari masa kehidupannya, beliau sebenarnya masuk dalam periode kehidupan para Sahabat Nabi, namun karena beliau tidak pernah bertemu dengan Nabi shollalahu alaihi wasallam, maka beliau bukanlah Sahabat Nabi.

✅KEUTAMAAN TIGA GENERASI TERSEBUT

طُوْبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي وَطُوْبَى لِمَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَلِمَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي وَأَمَنَ بِي طُوْبَى لَهُمْ وَحُسْنَ مَآبٍ

Beruntunglah bagi orang melihatku dan beriman kepadaku, dan beruntunglah bagi orang yang melihat orang yang melihatku dan orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku dan beriman kepadaku. Beruntung bagi mereka dan tempat kembali yang baik (H.R atThobarony dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’)

لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَآنِي وَصَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي , وَاللهِ لاَ تَزَالُونَ بِخَيْرٍ , مَا دَامَ فِيكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِي , وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِي

Kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihatku dan menjadi sahabatku. Demi Allah kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihat orang yang melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabatku. Demi Allah, kalian senantiasa dalam kebaikan selama di antara kalian ada orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihatku dan menjadi Sahabat dari Sahabat para Sahabatku (H.R Ibnu Abi Syaibah dan al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan sanadnya hasan dalam Fathul Bari).

يَأْتِي زَمَانٌ يَغْزُو فِئَامٌ مِنَ النَّاسِ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ عَلَيْهِ ثُمَّ يَأْتِي زَمَانٌ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ ثُمَّ يَأْتِي زَمَانٌ فَيُقَالُ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ صَاحِبَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُقَالُ نَعَمْ فَيُفْتَحُ

Akan datang suatu zaman ketika sekelompok manusia berperang. Dikatakan kepada mereka: Apakah ada di antara kalian yang merupakan Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam? Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan kepada mereka. Kemudian datang suatu zaman, yang ditanyakan: Apakah ada yang menjadi Sahabat bagi para Sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam? Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan untuk mereka. Kemudian datang suatu zaman, dikatakan: Apakah ada di antara kalian orang menjadi Sahabat dari Sahabat bagi para Sahabat Nabi. Dikatakan: Ya. Maka diberikan kemenangan kepada mereka (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudry)

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi dan para Sahabatnya) kemudian yang setelahnya (tabiin) kemudian yang setelahnya (Atbaut Tabiin) kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya (orang-orang yang banyak berdusta dan tidak bisa dipercaya) (H.R al-Bukhari dan Muslim)

✅Contoh-contoh Manusia yang Termasuk Tiga Generasi Tersebut

Para Sahabat Nabi seperti: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdillah, Hudzaifah bin al-Yaman, Muadz bin Jabal, Abu Dzar al-Ghiffary, Abud Darda’, Anas bin Malik, Aisyah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq, Abu Hurairah, dan masih banyak lagi yang lain.

Para Tabiin, di antaranya: Uwais al-Qorony, Said bin al-Musayyib, Mujahid, Qotadah, al-Hasan al-Bashri, Abul ‘Aaliyah, Abu Qilabah, Said bin Jubair, dan masih banyak lagi yang lain.

Para atbaut Tabiin, di antaranya: Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsaury, Sufyan bin Uyainah, al-Auza’i, Abdullah bin al-Mubarok (Ibnul Mubarok) dan masih banyak lagi yang lain.

Ketiga generasi inilah sebagai teladan dan panutan bagi umat Islam setelahnya dalam menjalankan Dien ini. Mereka juga disebut sebagai para pendahulu yang sholih atau Salafus Sholih, atau kadang disebut juga dengan para Ulama Salaf. Mengikuti manhaj mereka dalam memahami dan mengamalkan Dien ini berarti mengikuti manhaj Salaf.

Abu Utsman Kharisman

WA alI'tishom - Probolinggo | WIP | 1436
WA Ittiba'us Sunnah

Selasa, 16 Desember 2014

KISAH KESABARAN ULAMA DALAM MENCARI DAN MENYEBARKAN ILMU (4)

KISAH KESABARAN ULAMA DALAM MENCARI DAN MENYEBARKAN ILMU (4)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

BismillahirRahmanirRahim...

Alhamdulillah segala puji bagi Allah -subhanahu wa ta'aalaa- Rabb yang menciptakan bulan dan matahari yang dengan keduanya tarjadilah pergantian siang dan malam dengan ijin Sang penciptanya. Pada detik ini,masih diperkenankannya jantung kita untuk berdetak, dan nafas untuk menghirup udara segar di kehidupan dunia yang fana ini. Maka seorang mukmin hatinya senantiasa bergembira ketika dimudahkan baginnya untuk melakukan berbagai macam bentuk ibadah yang lahir maupun yang batin.

Di akhir perjalanan kisah yang lalu sampailah kita pada suatu ucapan yang dilantunkan oleh Muadz seorang sahabat Nabi-shallallahu 'alaihi wa sallam- yang semoga Allah meridhainya, bahwasanya beliau tidak menginginkan kehidupannya di dunia ini bagaikan orang yang mempunyai sumur kemudian mengalirkan air sumur tersebut ataupun bagaikan orang yang mahir berladang dan bercocok tanam.

Kalau kita cermati wahai saudaraku -semoga Allah menjaga kita semua- tidaklah dengan dua mata pencaharian inilah seseorang bisa dikatakan sebagai konglomerat di waktu itu. Akan tetapi, apakah dunia yang diidam-idamkan oleh para murid Nabi-shallallahi alaihi wa sallam- ?? Maka Muadz pun menuturkan jawaban tersebut di akhir hayatnya, sekaligus sebagai nasehat bagi umat ini, dia mengatakan, ''akan tetapi aku menginginkan kehidupan dunia ini  sebagaimana orang yang menahan dahaga di musim yang amat panas (perumpamaan orang yang rajin puasa) dan juga seperti orang yang bermunajat di tengah malam yang panjang (perumpamaan orang yang rajin shalat malam) ataupun orang yang bedesak-desakan di majelis para Ulama ''.

Wahai saudaraku, lihatlah ... Sungguh cita cita yang sangat agung dan mulia yang tersirat dari kisah ini, tidaklah dunia yang dibanggakan oleh murid-murid Nabi -shallallahu alaihi wa sallam-, akan tetapi ilmu dan amalan shalihlah yang mereka cari, yang di mana dengan dua hal tersebut, bisa membawa dan mengantarkan mereka kepada suatu kebahagiaan dan keridhaan dari Allah ta'aalaa di dunia dan akhirat.

Mari kita lanjutkan kisah kesabaran Ulama-ulama kita.

Berkata Imam ad-Dzahabi dalam kitabnya ''Siyar 'Alam Nubala'', berkata 'Atha seorang Ulama tabi'in : Masuk islamlah Muadz dan umurnya 18 tahun, dan telah menyaksikan baiat 'Aqabah yang ke dua serta hijrah Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-.

Maka lihatlah, berapa hari telah berlalu Muadz tidak mendapatkan manisnya kedekatan bersama Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- dan wahyu yang beliau dengar darinya -shallallahu alaihi wa sallam-. Dan lihatlah, di usia berapa beliau wafat ?!

Berkata al-Hakim dengan sanad yang shahih dari sahabat Anas bin Malik -semoga Allah meridhai beliau- : Muadz meninggal pada usia 28 tahun dan dia pemimpin para ulama sejauh mata memandang. Bahwasanya waktu thalabul ilmi Muadz, tidaklah sampai sepulu tahun,maka dengan waktu yang singkat ini dia memimpin para Ulama...
Dan bagaimana bisa dengan waktu yang sesingkat ini Muadz bisa meraih kedudukan tersebut.

✒Imam Bukhari dan Tirmidzi meriwayatkan dari sahabat Nabi Anas bin Malik -semoga Allah meridhainya- berkata : para pengumpul al-qur'an dizaman Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- empat, semuanya dari kalangan Anshar : Ubai bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.

Dan juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Umar dia berkata, berkata Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- : Ambillah al-qur'an dari empat orang : di antaranya Muadz bin Jabal. Dan juga dari Abu Said al-Khudri berkata, berkata Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- : Muadz bin Jabal orang yang paling berilmu tentang apa-apa yang dihalalkan dan apa-apa yang diharamkan oleh Allah ta'aalaa. Dan juga dari Sahal bin Abi Haitsamah berkata : dahulu orang yang diperkenankan berfatwa di zaman Nabi-shallallahu alaihi wa sallam- tiga orang dari kalangan Muhajirin dan tiga orang dari kalangan Anshar, diantara mereka adalah Muadz bin Jabal. Dan juga dari Ali bin Rabah dia berkata : Umar memberikan pidato kepada manusia di Jabidah seraya berkata : barangsiapa yang menginginkan ''al-fiqh'' (ilmu fiqih) datangilah Muadz. Dan berkata umar : para wanita tidak sanggup lagi melahirlan anak seperti Muadz, kalau seandainya tidak ada Muadz binasalah Umar.

Bagaimana bisa tercapai apa yang sudah dicapai dari tingginya harapan dan cita-cita yang agung kecuali dengan mencari ilmu dan berdesak-deskan didalam menimba ilmu di majelisnya para Ulama.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Wahai saudaraku...
Sudahkah kita jujur dihadapan Allah ta'aalaa selama belajar kita duduk didepan para Ulama.

Sesungguhnya kejuran dan kesungguhanlah yang bisa mengantarkan seseorang meraih keberhasilan dan kesuksesan seorang hamba dalam tholabul ilmi.

✔Dan semoga Allah ta'aalaa menerima amalan-amalan yang telah kita kerjakan selama ini.

.........................
S U M B E R :
Judul Kitab: صور من صبر العلماء على شدائد العلم و التحصيل
Nama Penulis: أبو أنس صلاح الدين محمود السعيد

...........................
✏Alih Bahasa :
Abu Ridha al-Jawi

WA. THULLAB FIYUSY
WA SALAFY LINTAS NEGARA

Minggu, 14 Desember 2014

KISAH KESABARAN ULAMA DALAM MENCARI DAN MENUNTUT ILMU (3)

Bismillah...

KISAH KESABARAN ULAMA DALAM MENCARI DAN MENUNTUT ILMU (3)
¤~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~¤

Alhamdulillah ,dengan karunia Allah ta'aalaa Rabb pemilik langit dan bumi,sampai detik ini kita masih digolongkan sebagai hamba-hamba yang di kehendaki-Nya dengan kebaikan. Di beberapa pertemuan yang lalu, telah kita resapi dan renungi kisah al-Faruq Umar bin al-Khattab dengan tetangganya al-Anshari dalam mencari ilmu. Sungguh, Nampak pada keduanya kesungguhan dan kecemburuan yang tinggi dalam menghadiri Majelis Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- , sehingga merekapun menggilir harinya ,sehari untuk bekerja dan sehari untuk menghadiri Majelis yang mulia tersebut. Tidak berhenti sampai disitu,rasa saling cinta mencintai diantara merekapun nampak, dengan saling berbagi faedah sepulangnya mereka dari Majelis yang mulia tersebut,berupa wahyu yang mereka dengar dari lisan Nabinya -shallallahi a'laihi wa sallam- .
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Subhanallah..,
Betapa mahal dan agungnya ilmu ,yang tidak bisa dibandingakan dengan dunia dan seisinya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wahai Saudaraku -yang semoga kita senantiasa dirahmati Allah ta'aalaa-, Insya Allah pada kesempatan ini mari kita kaji bersama tantang, ''SOSOK MU'ADZ BIN JABAL SEBAGAI PEMIMPIN ULAMA PADA HARI KIAMAT ''.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Diriwayatkan dari Hadits yang di shahihkan dengan banyak jalannya dari Shahabat yang mulia Umar bin al-Khattab -semoga Allah meridhainya- , berkata Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- ,''Bahwasanya Para Ulama ketika mereka menghadap Allah ta'aalaa maka jarak antara Mu'adz dengan mereka (Para Ulama )disisi Allah ta'aalaa sejauh mata memandang ( )''.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dan di riwayatkan pula secara mursal oleh Abu Nu'aim di dalam kitabnya al-Hilya dan Imam at-Tabarani di dalam kitab al-Mu'jam al-Kabir dari Muhamad bin Ka'ab (seorang Tabi'i) berkata Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- , ''Bahwasanya Mu'adz bin jabal memimpin Para Ulama di Hari Kiamat sejauh mata memandang ''.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dan dua Hadits diatas di shahihkan oleh Syeikh al-Albani di dalam kitabnya Shahih al-Jami'. Dan diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal ketika ajal mau menjemput dia mengatakan ,''Ya Allah, Sesungguhnya Engkau tahu bahwasanya aku tidak menginginkan masa hidupku di dunia ini seperti orang yang mengalirkan air atau orang yang menanam,akan tetapi aku menginginkan hidupku didunia ini seperti orang yang bermunajat dimalam yang panjang dan orang yang menahan rasa dahaga disaat panas yang amat,dan juga seperti orang yang berdesak-desakan di Majelis Para Ulama''.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Maka jika engkau ingin mengetahui tinggi dan agungnya cita-cita Mu'adz dalam mencari ilmu, maka perhatikanlah berapa tahun masa dia dalam mencari ilmu,dari awal masa keislamannya sampai datang masa wafatnya.

...........................
Sumber :
Kitab: صور من صبر العلماء على شدائد العلم والتحصيل  ‏
Karya: صلاح الدين محمود السعيد

..............................
✒Penyusun :
Abu Ridha al-Jawi

WA. MAJMU' THULLAB FIYUSY

WA SALAFY LINTAS NEGARA

Faedah Ilmiah dari terjemah tausiyah umum bersama asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi & asy-Syaikh Hani Buraik

Faedah Ilmiah dari terjemah tausiyah umum bersama asy-Syaikh Arafat al-Muhammadi & asy-Syaikh Hani Buraik, oleh al-Ustadz Usamah Mahri:
Johor Bahru, Malaysia
Sabtu, 20 Shafar 1436H / 13 Disember 2014M (Sesi 2)

Tausiyah dari asy-Syaikh Arafat:

1.Supaya kaum muslimin untuk beristiqamah dalam agamanya. Mencontohi para sahabat yang istiqamah di dalam agama secara menyeluruh. Hendaknya kita berdoa kepada Allah agar dianugerahkan istiqamah di atas agama, seperti yang sering dilakukan oleh Rasulullah.

2. Seorang mukmin harus selalu khuatir akan dirinya. Khuatir akan keistiqamahannya. Seorang mukmin harus takut akan kemunafikan.

3. Wajib bagi manusia mengetahui perkara yang buruk, agar dia dapat menghindarnya. Ada beberapa sebab yang menyebabkan manusia itu bisa tersesat, di antaranya:

▪Berpaling dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah.

▪Kerana dia membaca tulisan dan penjelasan orang-orang yang tidak dikenali atau tidak jelas akan aqidah dan manhajnya.

▪Tertipu dengan orang-orang sesat, yang pandai bertutur dengan kaedah-kaedahnya, perkataan-perkataannya, mudah terpesona dengan orang-orang yang tidak jelas aqidah dan manhajnya.

▪Kelemahan dan kemalasan dalam ibadah. Malas dalam solat, baca Al-Qur'an, zikir, dan juga ketaatan kepada Allah yang lainnya.

▪Rusaknya niat. Bila beribadah dia mengharapkan sesuatu, bukan ikhlas kerana Allah. Menginginkan dunia, bukan akhirat.

4. Sebagai saranan, Syaikh menasihatkan agar membaca Kitab Al-I'thisam karya Imam Bukhari, kerana di dalamnya banyak ilmu-ilmu bagi kita untuk istiqamah.

5. Allah menurunkan kebodohan ke atas umat dengan cara mematikan para ulama. Namun sebagai rahmat dari Allah, telah disampaikan oleh Rasulullah bahawa tetapkan ada kelompok manusia yang tidak dikalahkan, akan terus menegakkan kebenaran. Oleh itu, ambillah ilmu dari para ulama kita yang sentiasa membela agama ini.

Tausiyah dari asy-Syaikh Hani:
1. Nasihat untuk thulab di Malaysia agar terus berhubung dengan asatidzah di Indonesia, kerana mereka akan menghubungkan kalian dengan para kibar ulama.

2. Terus rujuk kepada para kibar ulama, kerana mereka adalah pewaris para Nabi, yang akan membimbing kita dan yang paling semangat membela agama Allah dengan membantah segala syubhat yang datang dari ahlul bathil.

3. Jangan kalian goyang dengan celaan-celaan orang-orang yang menyatakan para ulama kibar itu ekstrimis, keras, kasar dan lainnya. Hendaklah kita bersabar, ikuti terus nasihat dan bimbingan para kibar ulama kita.

4. Berhati-hatilah kalian! Berhati-hatilah kalian! Berhati-hatilah kalian! Dari orang-orang yang mengajak kalian meninggalkan para kibar ulama kita. Jangan dengarkan syubhat mereka. Teruskan bersama kibar ulama kita, kerana merekalah orang-orang yang membela agama Allah ini.

WhatsApp طريق السلف
•••••••••••••
WhasApp Miratsul Anbiya Indonesia

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jumat, 12 Desember 2014

KISAH KESABARAN ULAMA DALAM MENCARI DAN MENYEBARKAN ILMU (2)


KISAH KESABARAN ULAMA DALAM MENCARI DAN MENYEBARKAN ILMU (2)
................................................................
Bismillah...

al-Hamdulillah
Wahai saudaraku...
-semoga kita dirahmati Allah ta'aalaa-
telah kita nikmati kisah perjalanan Kalimullah Musa 'alaihissalam di dalam mencari ilmu. Sungguh begitu menakjubkan betapa tabah dan sabarnya beliau didalam mencari ilmu. Maka sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap hambanya Allah subhanahuwata'aalaa abadikan kisah yang mulia ini di dalam al-Qur'an sampai hari kiamat kelak, sebagai pelajaran dan petunjuk bagi hamba-hamba Allah yang beriman begitu juga sebagai  hujjah bagi hamba-hambanya yang lalai.

Maka pada fase berikut ini insya Allah kami sajikan untuk saudaraku kaum muslimin secara umum dan para penuntut ilmu secara khusus, "Kisah bagaimana kesungguhan dan kesabaran al-Faruq Umar bin Khattab-semoga Allah meridhainya -dalam mencari ilmu".

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari didalam kitab sahihnya, dari sahabat yang mulia 'Umar bin Khattab -semoga Allah meridhai-Nya- Beliau mengatakan: ''Dahulu aku dan tetanggaku dari kalangan Anshar(Aus bin khawalli al-Anshari) bekerja di perkebunan Bani Umayyah Ibnu Zaid yang tinggal di 'Awaali (satu tempat di bagian timur kota Madinah). Dan dahulu kami setiap hari bersilih ganti menghadiri majelis Nabi shallallah 'alaihi wasallam, maka ketika datang hari giliranku tidaklah aku pergi dan kembali kecuali membawa faedah-faedah yang aku dengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk aku sampaikan kepada saudaraku dari kalangan Anshar dan begitu pula setelah datang gilirannya Diapun melakukannya seperti apa yang aku lakukan.

Wahai saudaraku...
-semoga kita dirahmati Allah ta'aala-
lihatlah...! Betapa indah dan mulianya dua sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam kesungguhan dan kesabaran mereka untuk menghadiri majelis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam , di mana keduanya saling berta'awun untuk senantiasa menghadiri majelis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berbagi faedah setelah pulangnya mereka dari majelis tersebut.

sumber :
صور من صبر العلماء على شدائد العلم و التحصيل

Wahai saudaraku ...
Tidakkah suatu hal yang menyedihkan jika seseorang dimudahkan oleh Allah subhanahuwata'aalaa untuk bisa bermajelis di hadapan para Ulama kemudian bersantai-antai dan bermalas-malasan dari beristifadah dengannya...?!!!

Ataukah syaithan memalingkannya kepada hal-hal yang utama dari yang paling utama (bertafaqquh dalam mencari ilmu) ...?!!!

Tidak...wahai saudaraku,
Maka bersungguh-sungguhlah dalam mencari ilmu dan senantiasa mintalah pertolongan dan petunjuk kepada Allah subhanahu wata'aalaa.

Semoga Allah ta'aalaa membantu kita semua. Amin...
..............................................................

✒Disusun oleh : Abu Ridha al-Jawi
.....................................................

WA. THULAB FIYUSY
WA SALAFY LINTAS NEGARA

MEMBEBERKAN KEADAAN AHLI BID'AH MERUPAKAN "GHIBAH" DI JALAN ALLAH

------------
MEMBEBERKAN KEADAAN AHLI BID'AH MERUPAKAN "GHIBAH" DI JALAN ALLAH

________________
1. Dari al-A'masy dari Ibrahim, ia berkata: "Tidaklah dianggap GHIBAH seseorang yang membeberkan keadaan (keburukan) AHLI BID'AH."
[al-Lalikai 1/140 no. 276].
     

2. al-Hasan al-Bashri berkata: "Menerangkan keadaan AHLI BID'AH dan orang yang berbuat fasiq terang - terangan bukanlah perbuatan GHIBAH".
   
Dan beliau melanjutkan:
"Bukanlah perbuatan GHIBAH seseorang menceritakan kesalahan ('aib) AHLI BID'AH."
[al-Lalikai no. 279-280].
  

3. al-Fudhail bin 'Iyyadh berkata: "Siapa yang mendatangi AHLI BID'AH, maka tidak ada kehormatan baginya."
[al-Lalikai no. 282].
   

4. Dari Sufyan bin 'Uyainah, ia berkata: "Syu'bah pernah mengatakan: "Kemarilah!!! Kita akan berbuat GHIBAH di jalan Alloh."
[al-Kifayah; 91, dan Syarah 'Ilal at-Tirmidzi, 1/349].

✮✸✯✸✯✸✯✸✯✸✯✸✯✸

5. Dari Abi Zaid  al-Anshari an-Nahwi, ia berkata :
"Syu'bah  mendatangi kami pada waktu turun hujan dan berkata :
"Hari ini tidak ada pelajaran hadits, hari ini adalah hari GHIBAH, marilah kita membicarakan keburukan-keburukan para pembohong itu'."
[ al-Kifayah: 91.]

6. Dari Makki bin Ibrohim ia berkata:
"Syu'bah mendatangi 'Imran bin Hudair dan berkata: "Hai 'Imran, marilah kita GHIBAH sesaat di jalan Allah".
Kemudian mereka menyebut-nyebut kesalahan (kejelekan) para perawi hadits."
[al-Kifayah; 91-92.]

7. Abu Zur'ah ad-Dimasyqi berkata:
"Saya mendengar Abu Mushir ketika ditanya tentang seorang rawi yang keliru dan kacau serta merubah-rubah dalam meriwayatkan hadits,
dia berkata: "Terangkan keadaan orang itu !"
Maka saya bertanya kepada Abu Zur'ah, "Apakah dengan ini anda tidak melakukan ghibah?"
Beliau menjawab, "TIDAK"
[Syarh 'Ilal at-Tirmidzi 1/349]

8. 'Abdullah bin al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
"Abu Turab an-Nakhsyabi datang kepada ayahku,
lalu beliau (al-Imam Ahmad) mulai berkata: Si fulan DHAIF (rawi yang lemah), si Fulan tsiqah (rawi yang terpercaya)."
 
Lalu Abu Turab berkata:
"Wahai Syaikh, janganlah berbuat ghibah terhadap ulama."

Ayahku segera menoleh ke arahnya dan berkata:
"Celakalah kamu ! Ini adalah nasehat, bukan GHIBAH."
[ al-Kifayah; 92 dan Syarh 'Ilal at-Tirmidzi 1/350.]

✮✸✯✸✯✸✯✸✯✸✯✸✯✸

Sumber: Lammu ad- Durri al-Mantsur Min al-Qauli al-Ma'tsur, Abu Abdillah Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 58-60. | Alih Bahasa: Abu Utbah Miqdad hafizhahullaah
________________________
     مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد

WA Forum Berbagi Faidah. Dikutip dari WA Forum Riyadhul Jannah Wonogiri.

Rabu, 10 Desember 2014

Apakah Pelajaran Manhaj Sudah Tidak Perlu Lagi dan Bisa Mengeraskan Hati?

Apakah Pelajaran Manhaj Sudah Tidak Perlu Lagi dan Bisa Mengeraskan Hati?

〰〰〰〰〰〰〰〰

Benarkah Membantah Kebatilan Menyia-nyaiakan Waktu Saja?

(asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)

**************

يقول أحسن الله إليكم، يقول بعضهم أن الرد على أهل الأهواء والبدع مضيعة للوقت وأنه لا ينفع العوام فهل هذا صحيح ؟
العلامة الفوزان: مضيعة للشخص هذا الذي قال هذا الكلام هو الضائع، أما بيان الحق فهو رد إلى الحق والصواب وجمع للأمة على الحق والصواب.

Pertanyaan : Semoga Allah berbuat baik kepada anda, sebagian orang mengatakan bahwa bantahan terhadap ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) ahlul bid’ah menyia-nyiakan waktu dan tidak ada manfaatnya bagi orang-orang awam, apakah perkataan ini benar?

✔ Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjawab :

“Justru orang inilah yang menyia-nyiakan, justru orang yang mengatakan ucapan tersebut, dialah yang tidak ada gunanya. Adapun menjelaskan kebenaran maka itu upaya mengembalikan kepada al-haq dan kepada kebenaran, serta upaya menyatukan umat di atas al-haq dan di atas kebenaran”

""""""""""""""""""""

http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=33025

https://app.box.com/s/hn2oyl59klrmrq69mavn

=====================

Benarkah Membantah Kebatilan itu Mengeraskan Hati?

(asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)

*******************

سئل الشيخ صالح الفوزان – حفظه الله -:” ما رأي سماحتكم فيمن يقول أن كتب الردود تقسي القلوب؟
الجواب: لا ترك الردود هو الذي يقسي القلوب يعني الناس يعيشون على الخطأ وعلى الضلال فتقسو قلوبهم أما إذا بيّن الحق ورد الباطل فهذا مما يلين القلوب بلا شك ”

""""""""""""""""""""""""
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan juga ditanya:

Semoga Allah memberi pahala kepada anda, bagaimana pendapat anda terhadap orang yang mengatakan bahwa kitab-kitab rudud (bantahan terhadap kebatilan) akan mengeraskan hati?

✔ Beliau menjawab:

“Tidak benar. Meninggalkan bantahan itulah justru yang akan mengeraskan hati, karena itu menyebabkan manusia akan hidup di atas kesalahan dan kesesatan sehingga hati mereka akan menjadi keras.

Adapun jika kebenaran dijelaskan dan kebatilan dibantah, maka inilah yang akan melembutkan hati tanpa diragukan lagi.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=127625

〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Benarkan Berbicara Tentang Manhaj Bisa Mengeraskan Hati?

✔(asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali)

السؤال: ما رأيكم يا شيخ في من يقول: كثرة الكلام في المنهج يقسّي القلب؟
الجواب: يعني كثرة الكلام في المنهج وتصحيحه ودراسته يقسّي القلب لكن الدعوة إلى الخرافات والبدع والضلالات وأفكار الخوارج هذه تليّن القلب – ما شاء الله -!!!
الدعوة إلى المنهج؛ دعوة إلى كتاب الله وسنّة الرسول عليه الصلاة والسلام وما احتواه كتاب الله وسنة الرسول من عقائد وعبادات وأعمال ,تصحيح المنهج أمر عظيم لابدّ منه والضلال كثر في هذا المنهج ومهما تكلم الإنسان يعني جهده ضئيل بالنسبة لما يتطلبه الأمر ,الآن لما نتكلم في المنهج هل يبلغ كل المسلمين؟!!
لكن الكلام على طريقة التبليغ وعلى طريقة الإخوان وأهل الضلالات والبدع والخرافات والانحرافات الفكرية والسياسية والاجتماعية والعقائدية هذا ما شاء الله يلين القلوب!!!! هل هذا منطق صحيح؟ هذا منطق سفهاء ضاقوا بالمنهج الإسلامي الحقّ ذرعا ًبارك الله فيك.
الشيخ ربيع بن هادي المدخلي

"""""""""""""""""""""

Pertanyaan : Bagaimana pendapat anda wahai Syaikh terhadap orang yang mengatakan, bahwa banyak berbicara tentang urusan manhaj bisa mengeraskan hati?

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
✔ Jawab : Yakni terlalu banyak berbicara tentang manhaj, meluruskannya, dan mempelajarinya bisa mengeraskan hati sementara ajakan kepada khurafat, bid’ah-bid’ah, kesesatan, dan paham-paham khawarij bisa melembutkan hati??!! Masya Allah!!

Dakwah kepada manhaj adalah dakwah kepada al-Kitab dan Sunnah Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam, serta yang dikandung oleh al-Kitab dan as-Sunnah tersebut berupa aqidah, ibadah, dan amal. Pelurusan manhaj merupakan perkara yang besar, harus dilakukan.

Sementara kesesatan dalam manhaj ini sangat banyak.

Seberapapun seseorang mengerahkan kesungguhannya, maka upaya tersebut masih kecil dibanding kebutuhan yang sangat besar ini. Sekarang, ketika kita menjelaskan tentang manhaj, apakah itu sudah sampai kepada semua kaum muslimin?!

Sementara (mau dikatakan) berbicara tentang thariqah Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, pengusung kesesatan, bid’ah, khurafat, penyimpangan pemikiran, politik, dan aqidah ini bisa melembutkan hati?? Masya allah. Apakah ini ucapan yang benar? Ini ucapannya orang-orang dungu, sempit dadanya dengan manhaj Islamy yang haq.

〰〰〰〰〰〰
http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=73

http://miratsul-anbiya.net/2013/09/30/apakah-pelajaran-manhaj-sudah-tidak-perlu-lagi-dan-bisa-mengeraskan-hati/

WA PECINTA AL-HAQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku Ingin Dia Hidup, Tetapi Dia Justru Ingin Membunuhku

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah berkata:

“Jadi ini kewajiban atas kita terhadap orang yang membantah ketika dia membantah untuk menjelaskan kesalahan dan mengurangi dari terjatuh dalam kesalahan serta menyayangi orang yang salah agar kesalahan tidak diikuti.

Haknya atas kita adalah memuliakan (orang yang membantah –itu) dan tidak mencelanya.

Sekarang di hari-hari ini keadaannya justru terbalik. Bantahan-bantahan tidak lagi laku di pasaran menurut banyak manusia.

Bantahan-bantahan yang benar yang sesuai syariat yang menjelaskan kebenaran dan menunjukkan manusia kepada agama Allah Tabaraka wa Ta’ala justru diperangi.

“Yang mereka (Ahlus Sunnah –pent) lakukan hanya bantahan bantahan bantahan bantahan bantahan…” Demikianlah ungkapan mereka (para penggembos dakwah).

Mereka tidak tahu bahwa dengan bantahan-bantahan ini agama Allah akan terjaga dan demikian juga hamba-hamba Allah.

Jadi agama Allah dijaga dari penyimpangan dan hamba-hamba Allah juga dijaga agar mereka tidak terjatuh pada apa?! Agar mereka tidak terjatuh pada penyimpangan dan agar tidak mengikuti orang-orang yang suka menyimpangkan dan agar mereka tidak terjatuh pada kesalahan serta tidak mengikuti orang-orang yang salah.

Seandainya mereka benar-benar mengetahui hakekat maslahat dan manfaat yang dihasilkan dari bantahan-bantahan itu, niscaya mereka tidak akan mengatakan ucapan semacam ini.

↪ Oleh karena inilah manusia yang paling banyak mendapatkan bagian dalam bab ini (celaan) adalah para ulama.

Oleh karena itulah mereka melaksanakan kewajiban ini dengan sebaik-baiknya. Engkau bisa menjumpai bantahan-bantahan mereka sejak dahulu terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan dan kebathilan serta pengekor hawa nafsu.

Dan kitab-kitab mereka dalam masalah ini telah disusun.

Bahkan akidah Ahlus Sunnah mayoritasnya disusun disebabkan karena munculnya berbagai penyimpangan ahli bid’ah, sehingga mereka pun merasa perlu untuk menjelaskan As-Sunnah dalam bab-bab ini dan semua sikap yang harus diambil serta membantah siapa saja yang menyelisihi mereka.

Jadi, hak orang-orang yang melaksanakan kewajiban membantah yang sesuai syariat itu adalah disikapi dengan penghormatan dan pemuliaan.

Bukan malah mencela mereka. Mereka hakekatnya berbuat baik kepada kita dengan menjaga agama kita dan menjaga keselamatan diri.  kita ini.

Tetapi kita justru berbuat buruk kepada mereka dengan mencela mereka dan melemparkan kesan buruk terhadap mereka serta membuat manusia lari menjauh dari mereka.

Maka –demi Allah– ini merupakan balasan yang buruk. Permisalanmu dengan dia adalah seperti yang dikatakan oleh seseorang: “Aku ingin dia hidup, tetapi dia justru ingin membunuhku.”

Jadi engkau menginginkan agar dia selamat dengan tidak terjatuh pada kesesatan dan penyimpangan, namun dia justru ingin membunuhmu dengan mencelamu di tengah-tengah manusia, melemparkan kesan buruk terhadap dirimu serta membuat manusia lari menjauh darimu dengan mengatakan: “Yang mereka lakukan hanya bantahan saja.” Seakan-akan bantahan-bantahan itu telah menjadi aib dan sesuatu yang tercela.

Kita memohon kepada Allah keselamatan.”

Ditranskrip oleh: Abu Abdirrahman Usamah

15 Rabi’ul Awwal 1435

Sumber.:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=141930

WA PECINTA AL-HAQ

WA Forum Berbagi Faedah

Selasa, 09 Desember 2014

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (2)


Ensiklopedia Fiqih

NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (Bag ke-2)

Melafadzkan Niat dalam Sholat Tidak Pernah Dilakukan Sejak Masa Nabi dan Para Sahabatnya hingga Masa Ahli Fiqh 4 Madzhab

Para Ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa tidak pernah ternukil dari Nabi, para Sahabatnya, maupun Imam 4 madzhab tentang melafadzkan niat dalam sholat. Hal itu beliau sebutkan dalam beberapa kitabnya di antara Majmu’ al-Fataawa (18/263).

Siapakah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sehingga kita bisa mempercayai beliau jika beliau menyatakan bahwa hal itu sama sekali tidak ada dalam hadits maupun atsar Sahabat ataupun pendapat Imam 4 madzhab?

Cukuplah kita nukilkan ucapan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany –seorang Ulama bermadzhab Syafiiyyah- dalam kitabnya atTalkhiisul Habiir ketika membahas hadits: kefakiran adalah kebanggaanku dan dengannya aku berbangga. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany rahimahullah menyatakan:
وَهَذَا الْحَدِيثُ سُئِلَ عَنْهُ الْحَافِظُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ فَقَالَ إنَّهُ كَذِبٌ لَا يُعْرَفُ فِي شَيْءٍ مِنْ كُتُبِ المسلمين المروية
Hadits ini ditanyakan kepada al-Hafidz Ibnu Taimiyah maka beliau berkata sesungguhnya itu adalah dusta, tidak dikenal dalam kitab-kitab riwayat kaum muslimin (atTalkhiisul Habiir (3/241)

Perhatikanlah, bagaimana al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany memberi gelar Ibnu Taimiyyah sebagai al-Hafidz dan menjadikannya sebagai rujukan ketika menyebut suatu kalimat bukanlah sebuah hadits, dan tidak dikenal dalam kitab-kitab riwayat. Artinya, jika Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa itu tidak ada dalam riwayat hadits atau atsar Sahabat, maka ucapan beliau ini bisa dijadikan rujukan.

Kalau kita pikirkan bahwa sejak Nabi dan para Sahabat hingga Imam 4 madzhab tidak pernah ada pelafadzan niat, berarti lebih dari dua abad tidak pernah ada nukilan dari kaum muslimin terdahulu yang mengamalkan pelafadzan niat dalam sholat. Kita ketahui bahwa Imam madzhab fiqh yang terakhir adalah Imam Ahmad yang beliau meninggal di tahun 241 Hijriah.

Itu menunjukkan bahwa pendapat pelafadzan niat itu baru muncul belakangan. Nanti akan dibahas insyaAllah bahwa hal itu bermula dari kesalahpahaman dalam menafsirkan ucapan al-Imam asy-Syafii rahimahullah.

✅Al-Imam asySyafii Tidak Pernah Memerintahkan untuk Melafadzkan Niat dalam Sholat

Anggapan sebagian Ulama yang bermadzhab asy-Syafii bahwa al-Imam asy-Syafii menganjurkan untuk melafadzkan niat dalam sholat dan mengqiyaskannya dengan Talbiyah Haji dan Umrah adalah keliru. Kekeliruan pemahaman ini diperjelas sendiri oleh Ulama Syafiiyyah yang lain, di antaranya al-Imam al-Mawardiy dan al-Imam anNawawy.

Al-Imam al-Mawardiy rahimahullah menyatakan:

وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ - مِنْ أَصْحَابِنَا - : لَا يُجْزِئُهُ حَتَّى يَتَلَفَّظَ بِلِسَانِهِ تَعَلُّقًا بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ قَالَ فِي كِتَابِ " الْمَنَاسِكِ " : وَلَا يَلْزَمُهُ إِذَا أَحْرَمَ بِقَلْبِهِ أَنْ يَذْكُرَهُ بِلِسَانِهِ وَلَيْسَ كَالصَّلَاةِ الَّتِي لَا تَصِحُّ إِلَّا  بِالنُّطْقِ فَتَأَوَّلَ ذَلِكَ عَلَى وُجُوبِ النُّطْقِ فِي النِّيَّةِ ، وَهَذَا فَاسِدٌ ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالتَّكْبِيرِ ، ثُمَّ مِمَّا يُوَضِّحُ فَسَادَ هَذَا الْقَوْلِ حِجَاجًا : أَنَّ النِّيَّةَ مِنْ أَعْمَالِ الْقَلْبِ فَلَمْ تَفْتَقِرْ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الْجَوَارِحِ كَمَا أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَمَّا كَانَتْ مِنْ أَعْمَالِ اللِّسَانِ لَمْ تَفْتَقِرْ إِلَى غَيْرِهِ ، مِنَ الْجَوَارِحِ
Abu Abdillah az-Zubairiy yang termasuk sahabat kami berkata: Tidaklah mencukupi hingga melafadzkan (niat) dengan lisannya. Hal ini dilakukan dengan menggantungkan pada ucapan asySyafii dalam kitab al-Manasik: “Tidaklah mengharuskannya jika berihram dengan hatinya untuk mengucapkan dengan lisannya. Dan tidaklah seperti sholat yang tidaklah sah kecuali dengan mengucapkannya”. Kemudian az-Zubairy menakwilkan ucapan asy-Syafii itu tentang wajibnya mengucapkan niat. Ini adalah kerusakan (pemahaman). Padahal yang dimaksud asySyafii dengan wajib mengucapkan itu adalah takbir (takbiratul ihram). Hal lain yang memperjelas kesalahan pendapat (az-Zubairiy) ini adalah hujjah bahwa niat adalah termasuk perbuatan hati sehingga tidak butuh anggota tubuh yang lain. Sebagaimana bacaan adalah amalan lisan sehingga tidak butuh pada anggota tubuh yang lain (al-Haawiy fi Fiqhisy Syafii (2/92)).

Al-Imam anNawawiy rahimahullah salah seorang Ulama Syafiiyyah yang lain juga menyatakan:
قول ابى عبد الله الزبيري أنه لا يجزئه حتى يجمع بين نية القلب وتلفظ اللسان لان الشافعي رحمه الله قال في الحج إذا نوى حجا أو عمرة أجزأ وان لم يتلفظ وليس كالصلاة لا تصح الا بالنطق قال اصحابنا غلط هذا القائل وليس مراد الشافعي بالنطق في الصلاة هذا بل مراده التكبير: ولو تلفظ بلسانه ولم ينو بقلبه لم تنعقد صلاته بالاجماع فيه: ولو نوى بقلبه صلاة الظهر وجرى علي لسانه صلاة العصر انعقدت صلاة الظهر
Perkataan Abu Abdillah az-Zubairiy bahwasanya tidaklah mencukupi hingga menggabungkan antara niat hati dengan melafadzkan dengan lisan karena asy-Syafii rahimahullah berkata tentang haji: “Jika seseorang meniatkan haji atau Umroh maka itu sudah mencukupi meskipun tidak melafadzkannya. Tidaklah seperti sholat yang tidak sah kecuali dengan mengucapkan”. Sahabat kami menyatakan: Ucapan ini salah. Bukanlah maksud asy-Syafii mengucapkan dalam sholat itu adalah ini (mengucapkan niat), tapi maksudnya adalah takbir. Jika dia melafadzkan dengan lisannya tapi tidak meniatkan dengan hatinya, maka tidak sah sholatnya berdasarkan Ijma’. Jika ia berniat dengan hatinya sholat Dzhuhur sedangkan pada lisannya sholat Ashar, maka yang terjadi adalah sholat Dzhuhur (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).

Hal yang semakin memperjelas bahwa justru al-Imam asy-Syafii rahimahullah menganggap niat adalah amalan hati dan tidak perlu - bahkan tidak mungkin- diucapkan, adalah pernyataan beliau dalam Kitab al-Umm:
وَالنِّيَّةُ لَا تَقُومُ مَقَامَ التَّكْبِيرِ وَلَا تَجْزِيهِ النِّيَّةُ إلَّا أَنْ تَكُونَ مع التَّكْبِير لَا تَتَقَدَّمُ التَّكْبِيرَ وَلَا تَكُونُ بَعْدَهُ
Niat itu tidak bisa menggantikan takbir. Tidak sah niat kecuali dilakukan bersamaan dengan takbir. Tidak mendahului takbir, tidak pula setelah takbir (al-Umm (2/224)).

Dalam redaksi kalimat yang lain, al-Imam asy-Syafii rahimahullah menyatakan:
وإذا أحرم نوى صلاته في حال التكبير لا بعده ولا قبله
Jika takbiratul ihram, meniatkan sholat saat takbir. Bukan setelahnya, bukan pula sebelumnya (disebutkan dalam Mukhtashar, dinukil anNawawy dalam kitab al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab(3/277)).

Dalam redaksi kalimat lain yang dinukil al-Ghozaliy, al-Imam asy-Syafii rahimahullah menyatakan:
ينوى مع التكبير لا قبله ولا بعده
Berniat bersamaan dengan takbir. Tidak sebelumnya tidak juga setelahnya (disebutkan anNawawy dalam al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).

Al-Imam asy-Syafii dalam kalimat di atas menjelaskan bahwa niat semestinya bersamaan dengan takbir. Tidak bisa mendahului takbir dan tidak pula setelahnya. Jadi, niat dalam hati, bersamaan dengan mengucapkan takbir. Bagaimana bisa melafadzkan niat pada saat lisan sibuk dengan bertakbir?!

Namun, al-Imam anNawawy rahimahullah setelah menyebutkan perbedaan pendapat Ulama Syafiiyyah dalam masalah itu cenderung pada pendapat bahwa hal itu (apa yang diucapkan al-Imam asy-Syafii itu) tidaklah wajib. Yang penting niat bergandengan dengan takbir, apakah mendahului takbir atau tidak mendahului takbir, yang penting niat menyertai hingga berakhirnya ucapan takbir (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/277)).

✅Kesalahan Mengqiyaskan Ibadah Sholat dengan Haji

Jika ada yang menyatakan bahwa melafadzkan niat dalam sholat adalah mengqiyaskan dengan mengucapkan talbiyyah dalam ibadah haji dan umroh, maka ini adalah sisi pendalilan qiyas yang tidak pada tempatnya. Qiyas memang adalah salah satu pendalilan dalam Fiqh. Namun, harus terpenuhi kaidah-kaidahnya dengan tepat.

Bagaimana bisa mengqiyaskan sholat dengan haji padahal perintah sholat datang terlebih dahulu sebelum perintah haji? Telah dipahami bahwa perintah sholat diturunkan pada saat Isra’ Mi’raj saat Nabi masih di Makkah dan itu sebelum hijrah ke Madinah (artinya sebelum tahun 1 hijriyah). Sedangkan perintah haji diturunkan pada akhir tahun 9 Hijriah. Nabi shollallahu alaihi wasallam baru bisa berhaji di tahun 10 Hijriah.

Lalu, kalau memang benar melafadzkan niat dalam sholat rujukannya adalah haji, berarti antara tahun 1 sampai 9 Hijriah apakah sholat Nabi dan para Sahabatnya tidak melafadzkan, sedangkan setelah turun perintah haji baru melafadzkan?! Suatu hal yang aneh.

Mestinya kalau mau diqiyaskan, haji diqiyaskan dengan sholat. Bukannya sholat diqiyaskan dengan haji. Karena perintah sholat turun terlebih dahulu dari perintah haji.

✅Keburukan-keburukan yang Timbul Jika Melafadzkan Niat

Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam. Apa yang beliau ajarkan adalah yang terbaik bagi umatnya. Sesuatu hal terkait ibadah yang tidak beliau kerjakan, padahal sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa beliau tanpa ada penghalang, maka meninggalkannya adalah kebaikan.

Maka setiap hal-hal yang diada-adakan dalam ibadah pasti mengandung mudharat. Di antara keburukan-keburukan yang bisa timbul akibat melafadzkan niat adalah:
1⃣Justru menambah was-was.
Jika dikatakan bahwa melafadzkan niat salah satu tujuannya adalah menghilangkan was-was, namun kenyataan yang terjadi adalah menambah was-was. Tidak sedikit orang yang ketika akan sholat, terus menerus mengulang ucapan niat kemudian bertakbir, mengulang niat lagi dan bertakbir lagi saat dirasa kurang mantap antara niat dengan takbirnya.
2⃣Semakin menyulitkan kaum muslimin. Ada orang yang terhalangi untuk mengerjakan sholat tertentu karena beralasan tidak tahu/ tidak hafal niatnya. Karena mereka menghafal setiap sholat ada niatnya sendiri-sendiri. Lebih sulit lagi bagi yang bahasa aslinya bukan berbahasa Arab.
3⃣Mengganggu sekitarnya.

Terdapat kisah yang terjadi di masa Ibnul Qoyyim, disebutkan oleh beliau dalam kitab Ighotsatul Lahaafaan. Bahwa seseorang yang akan sholat ada yang sering was-was. Ia terus mengulang lafadz niat dalam ucapannya sebelum takbir. Ia mengucapkan : Ushollii… Usholli…beberapa kali. Saat akan mengucapkan adaa-an, ia berupaya fasih-fasihkan hingga keliru menjadi terbaca adzaa-an. Sehingga, saat semestinya ia baca: Usholli sholaatan… adaa-an lillah yang artinya aku niat sholat… pada waktunya karena Allah menjadi terbaca: Ushollii sholaatan… adzaa-an lillaah yang artinya: Aku niat sholat… untuk ‘mengganggu/ menyakiti’ Allah.

Spontan, ketika mendengar itu satu orang di sampingnya menghentikan sholatnya dan segera berujar: Engkau tidak cukup hanya mengganggu Allah, bahkan juga Rasul, Malaikat, dan jamaah kaum muslimin (disarikan dari Ighotsatul Lahafaan (1/135)).   
4⃣Sesuatu hal yang percuma dan sia-sia, karena yang dinilai apakah yang di dalam hati. Kalau berbeda antara niat dalam hati dengan ucapan, maka yang ternilai adalah yang di dalam hati, sebagaimana penjelasan al-Imam anNawawiy di atas.
5⃣Terhambat tidak segera mutaabaah (mengikuti gerakan) Imam.

Jika seseorang mengucapkan niat, hal ini memperlambat gerakan takbiratul Ihram yang dilakukannya. Semestinya, saat Imam takbiratul Ihram, makmum bersegera mengikutinya. Saat Imam mengucapkan Allaahu Akbar, makmum segera mengikuti dengan mengucapkan Allaahu Akbar. Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا 
Seseorang dijadikan sebagai Imam untuk diikuti. Jika ia takbir maka bertakbirlah kalian (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Yang sering terjadi, saat Imam sudah bertakbir, makmum masih baru mulai membaca Usholli…Ini mengurangi kesempurnaan mutaba’ah.

Belum lagi jika ia datang saat Imam ruku’, kemudian ia masih mulai dengan usholli..sedangkan Imam hanya ruku’ dengan batas minimal thuma’ninah dan segera bangkit, maka ia telah melewatkan satu rokaat.

Demikian nasehat yang bisa disampaikan dalam tulisan ini. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayahNya kepada segenap kaum muslimin.

Abu Utsman Kharisman
alI'tishom - Probolinggo | WIP | 1436
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
إتباع السنة

♨ ittibaus-sunnah.net

Baca juga:
NASEHAT UNTUK SAUDARA MUSLIM TENTANG MELAFADZKAN NIAT DALAM SHOLAT (1)