Minggu, 31 Agustus 2014

TUJUAN DOA ADALAH TAQORRUB KEPADA ALLAH DAN TIDAK HANYA TERCAPAINYA PERMINTAAN

TUJUAN DOA ADALAH TAQORRUB KEPADA ALLAH DAN TIDAK HANYA TERCAPAINYA PERMINTAAN
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Faidah Mulia, tidaklah mengamalkannya kecuali sangat sedikit

asy-Syaikh 'Abdurahman as-Sa'di rahimahullah berkata,
✏"Barangsiapa yang tujuan dalam do'anya adalah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan berdoa tersebut, dan agar tercapai/terpenuhi permintaannya, maka itu JAUH LEBIH SEMPURNA, dibandingkan dengan orang yang tidak memaksudkan (dengan doanya tersebut) kecuali tercapainya permintaannya saja, sebagaimana ini kondisi kebanyakan manusia.

Dalam hal seperti ini HENDAKNYA BERLOMBA orang-orang yang mau berlomba. Ini merupakan di antara buah ilmu yang bermanfaat. Sesungguhnya kebodohan itu menghalangi banyak orang dari tujuan-tujuan mulia dan sarana pengantar yang indah

Fatawa asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa'di, hal 43

-------------------------------
WA MIRATSUL ANBIYA INDONESIA

AHLUS SUNNAH HARUS LEBIH SEMANGAT DIBANDINGKAN AHLUL BID'AH

AHLUS SUNNAH HARUS LEBIH SEMANGAT DIBANDINGKAN AHLUL BID'AH

✏ Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Jadi wajib atas para ulama untuk semangat, dan jangan sampai para pengusung kebathilan justru lebih semangat dibandingkan mereka. Bahkan wajib atas mereka untuk lebih semangat dibandingkan para pengusung kebathilan, yaitu dengan cara menampakkan kebenaran dan mendakwahkannya di mana pun mereka berada. Di jalan, di mobil, di pesawat, di angkutan umum, di rumahnya, dan di semua tempat. Hendaknya mereka mengingkari kemungkaran dengan cara terbaik, mengajari dengan cara yang terbaik, dan metode yang baik dan lembut.
(Majmu’ul Fatawa, VI/67)

Sumber artikel:
http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=52880

Alih bahasa: Abu Almass
Ahad, 6 Dzulqa’dah 1435 H

 قــالــ : الإمام الفقيه عبدالعزيز عبدالله ابن باز - رحمه الله -:
(( فالواجب على أهل العلم أن ينشطوا وأن لايكون أهل الباطل أنشط منهم ؛ بل يجب أن يكونوا أنشط من أهل الباطل في إظهار الحق و الدعوة إليه أينما كانوا في الطريق وفي السيارة وفي الطائرة وفي المركبة الفضائية وفي بيته وفي أي مكان ؛ عليهم أن ينكروا المنكر بالتي هي أحسن ويعلموا بالتي هي أحسن بالأسلوب الطيب والرفق واللين ))
ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
مجموع الفتاوى( ج6ص67).

WhatsApp Salafy Indonesia

PERBEDAAN ANTARA AHLUS SUNNAH DENGAN HADDADIYAH

PERBEDAAN ANTARA AHLUS SUNNAH DENGAN HADDADIYAH
--------------------------------

Penanya:
Apakah ucapan Syaikh al Albany: "Amal adalah syarat kesempurnaan iman dan bukanlah syarat sahnya iman" menjadikan beliau sebagai murjiah?

Syaikh Robi' hafizhahullaah menjawab:

Wallaahi, kita tidak mampu mengatakan bahwa beliau adalah seorang murjiah dengan ucapan tersebut. Ucapan ini diambil dari asy Syaikh, namun kita tidak menerimanya. Kita katakan bahwa amal adalah bagian dan rukun iman, bukanlah syarat iman. Inilah yang diucapkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dan ulama yang lain. Aku harap asy Syaikh ruju' dari ucapan ini dan menerangkannya. Baarokallaahufiikum.

Selanjutnya, ya ikhwah. Tidaklah setiap orang yang terjatuh pada suatu kebidahan itu langsung disebut sebagai mubtadi'. Baarokallaahufiikum.

Tidaklah setiap orang yang terjatuh pada suatu kebid'ahan itu langsung kita sebut sebagai mubtadi', ini adalah madzhab-nya kelompok Haddady saja.

Sesungguhnya, kaidah mereka dalam masalah bid'ah adalah tidak ada perbedaan antara Ibnu 'Aroby dengan orang yang menyatakan bahwa amal adalah syarat kesempurnaan iman, tidak ada perbedaan antara kelompok Rofidhoh dengan org yang menyatakan ucapan tersebut.

Sesungguhnya kaidah dalam masalah bid'ah menurut mereka hanya satu. Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara Ibnu Hajar dengan Sayyid Quthb, tidak ada perbedaan antara al Khumainy dengan Ibnu Hajar.

Kalian telah tahu, bahkan mereka mengatakan bahwa Ibnu Hajar lebih berbahaya dari Sayyid Quthb 100 kali lipat, kenapa!? Karena mereka itu sebenarnya adalah Quthbiyyuun (pengikut Sayyid Quthb) yang terselubung.

Mereka hendak mengatakan kepada manusia bahwa orang-orang yang tidak menganggap sesat Ibnu Hajar adalah orang yang jauh lebih berbahaya kebid'ahannya daripada para pengikut Sayyid Quthb. Sayyid Quthb yang mencela para shahabat dan mengkafirkan mereka, mengkafirkan ummat Islam, mengatakan wihdatul wujud, mengatakan aqidah hulul (Rabb bisa menitis ke dalam jasad makhlukNya), mengatakan bahwa al Quran adalah makhluq, mengatakan berbagai kebid'ahan dan kesesatan lainnya. Dan orang-orang yang  mengikuti dan mengkultuskannya telah mengumpulkan kebid'ahan dan kesesatan dari berbagai sisinya.

Penanya:
Fadhilatas Syaikh, manhaj salaf tentang bahwasanya amalan....

Asy Syaikh memotong:
Manhaj Ahlussunnah wal Jamaah adalah tidak setiap orang yang terjatuh dalam suatu kebid'ahan maka disebut sebagai mubtadi'.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Tidaklah setiap orang yang terjatuh dalam suatu kebid'ahan otomatis menjadi mubtadi', karena banyak ulama kholaf maupun salaf yang terjatuh dalam suatu kebid'ahan dengan tanpa sadar, bisa karena hadits dhaif yang mereka gunakan untuk berhujjah, bisa karena mereka memahami nash al Quran dan as Sunnah dengan pemahaman yang keliru, dan bisa juga karena qiyas yang lemah, atau hal-hal lain yg seperti ini".

Maka semisal dengan para ulama ini dalam perkara-perkara yang kecil/tersembunyi, ada sandaran dalam perkara tersebut, dia memandang bahwa pendapatnya sudah sesuai syariat, maka ulama yang seperti ini tidaklah di-mubtadi'-kan.

Akan tetapi, orang yang mengatakan al Quran adalah makhluk, jelas mubtadi', orang yang mengatakan dengan ucapan Qodariyah (sebuah bid'ah yang besar), jelas mubtadi', orang yang mengatakan dengan ucapan Rofidhoh, jelas mubtadi', (dia terjatuh pada) perkara-perkara yang besar.

Adapun pada perkara-perkara yang kecil/tersembunyi, orang yang terjatuh pada perkara tersebut tanpa sadar, padahal yang ia inginkan adalah sunnah, dia meniatkan untuk sunnah dan mendakwahkannya, maka orang ini tidaklah di-mubtadi'-kan, karena banyak ulama yang telah terjatuh dalam sesuatu yang termasuk dalam perkara ini lalu mereka tidaklah di-mubtadi'-kan. Baarokallaahu fiikum. Maka ini adalah pemahaman yang membedakan/memisahkan.

Adapun haddadiyah, tidak seperti itu, siapa saja yang terjatuh pada bid'ah maka ia adalah mubtadi', padahal mereka sendiri juga terjatuh pada bid'ah yang banyak, di antaranya adalah celaan mereka terhadap ahlus sunnah.

Imam Ahmad menamakan orang yang mencela ahlus sunnah sebagai zindiq. Beberapa orang mengatakan: "Sesungguhnya Ibnu Abi Qutailah mencela ahlul hadits, dia mengatakan dengan ucapan yang jelek". Lalu beliau berdiri dengan marah, seraya mengatakan: "Zindiq, zindiq, zindiq". Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Karena Imam Ahmad mengenal siapa yang dia tuju". Beliau mengenal siapa yang dia tuju, baarokallaahufiikum. Dia mencela ahlus sunnah dan memerangi mereka. Ini adalah bid'ah yang paling jelek dan paling jahat. Mereka telah terjatuh pada bid'ah.

Penanya:
Syaikhnaa, sekarang... Iman itu adalah syarat sahnya keimanan ataukah syarat kesempurnaan iman?

Asy Syaikh menjawab:
Amal adalah rukun dari iman, karena istilah "syarat" itu adalah seperti yang dikatakan oleh para ulama ushul dan selain mereka, "Syarat adalah sesuatu yang ada di luar hakekatnya", sedangkan "rukun adalah bagian dari hakekatnya". Maka kita katakan iman adalah ucapan, perbuatan dan keyakinan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiyatan.

Rosulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Iman itu ada 73 hingga 79 cabang, yang paling tingginya adalah
لا إله إلا الله،
dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan"

Para ulama ushul menyerupakan iman seperti pohon. Maknanya, sesuatu yg memiliki bagian pokok dan cabang-cabang atau yang serupa dengan itu, maka dia dimisalkan dengan sebuah pohon. Kemudian sesuatu yang kita namakan dengan syarat dari pohon tersebut adalah sesuatu yang ada diluar pohon, baarokallaahufiikum. Udara dan air menjadi syarat kehidupan bagi pohon, ia tidak bisa hidup tanpa udara, air dan matahari. Ketiga hal tersebut bukanlah bagian dari pohon, meskipun ketiganya harus ada dan termasuk syarat agar pohon ini tumbuh dan tetap hidup. Inilah perbedaan antara syarat dan rukun.

Amalan adalah salah satu rukun dari rukun-rukun iman, ia adalah bagian dari iman dan bukanlah syarat keimanan. Dan ini di antara kesalahan yang sebagian ulama terjatuh di dalamnya.

http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=28&id=498

✏hm
------
Dikirim oleh: Abu Muhammad Hasan -hafizhohullah- tholib di Darul Hadits Fyus -harosahallah-

WA SALAFY LINTAS NEGARA

TIADA YANG BERHAK MENGINGKARI KEMUNGKARAN SELAIN ULAMA?

TIADA YANG BERHAK MENGINGKARI KEMUNGKARAN SELAIN ULAMA

Apakah kaidah ini berlaku secara mutlak?

Syaikhuna Abul ‘Abbas Yasin al-Adeni hafizhahullahu Ta’ala menjawab pertanyaan ini. Beliau berkata,

[FAEDAH ATSAR IBNU MAS’UD]

“Faedah yang bisa diambil dari atsar yang telah lalu (atsar Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhuma). Atsar ini mengandung faedah yang banyak lagi agung, seandainya disendirikan pada suatu juz (buku kecil), niscaya juz ini mencakup beberapa permasalahan. Demikian juga memerhatikan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam. Namun kita akan mengambil sebagian faedah dari atsar ini, terlebih kita terkadang mendengar sebagian manusia yang mengatakan, “Kemungkaran, tidak ada yang berhak mengingkarinya kecuali ulama. kemungkaran hanya diingkari oleh ulama.” Lalu kita mendengar sebagian dari mereka berdalil dengan atsar ini, atsar Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari rahdhiyallahu ‘anhu tidak mendahului Abdullah bin Mas’ud, bahkan dia mendatanginya. Mereka berkata, “Berarti ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa perkara-perkara mungkar, tidak ada yang mengingkarinya selain ulama.”

[RINCIAN KAIDAH: “TIDAK ADA YANG BERHAK MENGINGKARI KEMUNGKARAN KECUALI ULAMA”]

Perkara ini --“Kemungkaran, tidak ada yang berhak mengingkarinya kecuali ulama.”-- tidak benar. Dalil ini (atsar Ibnu Mas’ud) yang mereka jadikan sebagai penguat bagi mereka, namun pada hakekatnya dalil ini menghantam mereka. Kalau kita debat para penganut kaidah ini menggunakan atsar ini saja, niscaya kita dapatkan tiga point yang menunjukkan bahwa atsar ini menggugat dan tidak mendukung mereka. Bagaimana lagi kalau kita memerhatikan kandungan Kitabullah dan  sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam yang berisi dalil yang banyak lagi mencukupi yang menunjukkan bahwa kaidah ini tidak berlaku secara mutlak.

Sebelum kita mengambil tiga bukti, kenyataan, dan point dari atsar ini, kita harus merinci permasalahan ini. Permasalahan "Kemungkaran tidak ada yang berhak mengingkarinya selain ulama." Permasalahan ini tidak bisa dibenarkan maupun disalahkan secara mutlak. Permasalahan kemungkaran tidak ada yang berhak mengingkarinya selain ulama. Bagaimana bisa demikian?

[KEMUNGKARAN ADA DUA: JELAS DAN SAMAR]

Kemungkaran ada dua macam:

Pertama: kemungkaran yang bersifat zhahir, diketahui oleh alim, penuntut ilmu bahkan orang awam yang jahil, dia mengetahui bahwa ini adalah kemungkaran.

Kedua: kemungkaran yang terjadi pada ucapan dan perbuatan yang rumit dan samar. Kemungkaran yang tersembunyi, samar, dan rumit yang butuh untuk direnungi dan ditinjau. Kemungkaran semacam ini hanya dikembalikan kepada ulama. Adapun penuntut ilmu, lebih-lebih orang awam, tidak boleh mendahului ulama. Mereka tidak boleh mendahului ulama dalam hal ini.

Dari mana pembagian semacam ini?
Pembagian ini kita dapati dari ucapan an-Nawawi  rahmatullah ‘alaih pada kitabnya “Raudhatuth Thalibin”. Beliau juga berbicara hal yang serupa dengan ini pada syarahnya terhadap shahih Muslim ketika menjelaskan hadits Abu Sa’id al-Khudri, ”Barang siapa melihat kemungkaran, ingkarilah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, (ingkarilah) dengan lisannya. Jika tidak mampu, (ingkarilah) dengan kalbunya.” Oleh karena ini, an-Nawawi rahmatullahi ‘alaih berkata pada kitabnya Raudhatuth Thalibin, “Perkara-perkara yang wajib dan kemungkaran-kemungkaran yang jelas, kaum awam bisa mengingkarinya karena mereka dalam hal ini adalah ulama (yakni mengerti permasalahan dalam kasus ini).”

Perhatikanlah konsep ini, imam an-Nawawi berkata, “Perkara tersebut diingkari oleh kaum awam dan keumuman manusia karena mereka adalah ulama”. Maksud beliau adalah jika kemungkaran yang zhahir jika dilakukan dan kewajiban yang zhahir jika ditinggalkan. Zhahir, apa maknanya? Yakni perkara yang diketahui oleh alim, penuntut ilmu, dan awam. An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya keumuman manusia dalam perkara ini tergolong pada jajaran ulama.” Apa yang dimaksud dengan ‘ulama’? Maksudnya adalah mereka mengetahui bahwa kewajiban jika ditinggalkan dan kemungkaran jika dilakukan, ini adalah kemungkaran yang harus mereka ingkari. Mereka harus mengingkari kebatilan dan kemungkaran ini. Permasalahan ini bukan terbatas pada ulama. Tidak pula terbatas pada penuntut ilmu.

Beliau (an-Nawawi) berkata, “Adapun perkara yang terkait dengan perbuatan dan ucapan-ucapan yang rumit sulit dipahami,” dia mengatakan, “Perkara ini dikembalikan kepada ulama dan kepada siapa … –perhatikan ungkapan ini— kepada orang yang diberitahu oleh ulama.” Yakni para penuntut ilmu yang dikabari oleh ulama bahwa perkara tersebut adalah mungkar, “maka ingkarilah”. Maka seorang penuntut ilmu (dalam perkara ini) memiliki hak untuk mengingkari kemungkaran berdasarkan berita alim, bahwa ini adalah kemungkaran.

Ini adalah ucapan yang bagus dari perkataan an-Nawawi pada kitabnya Raudhatuth Thalibin. Semestinya ucapan ini dirujuk pada kitab tersebut. Demikian juga diperhatikan ucapan yang serupa dengan itu pada Syarah an-Nawawi terhadap shahih Muslim ketika menjelaskan hadits Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

[KEMUNGKARAN HARUS DIINGKARI]

Tidak diragukan bahwa dalil-dalil yang menunjukkan perkara tersebut banyak lagi mencukupi, bahwa kemungkaran harus diingkari dan penuntut ilmu jika mengetahui bahwa perkara adalah kemungkaran yang zhahir jelas terang, wajib baginya untuk mengingkarinya tanpa harus menunggu untuk bermusyawarah dengan ulama. Suatu contoh, jika seorang sunni ditanya, “Anda wahai sunni yang tinggal di Yaman” atau seorang lelaki mendatangi Anda, bertanya kepada Anda. Dia berkata kepada Anda --dalam rangka bermusyawarah dan minta nasehat--, “Apakah saya menuntut ilmu di sisi asy-Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab al-Wushabi atau di sisi az-Zaindani?” Apa yang Anda katakan? … … Apakah kalian menunggu terlebih dahulu untuk mengembalikan perkara ini kepada ulama kibar ataukah Anda akan mengatakan kepada lelaki tadi, “Jangan mencari ilmu di sisi az-Zaindani, dia seorang ahli bid’ah. Cari ilmu di sisi asy-Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab.” Bukankah demikian? Ini merupakan perkara yang terang, tidak butuh kembali kepada ulama, karena Anda ketika mengatakan bahwa az-Zaindani sesat lagi menyeleweng, pada hakekatnya Anda mengambil faedah ini telah didahului oleh ulama. Anda telah kembali kepada ulama kibar ketika Anda mentahdzir (orang tersebut, pen) karena ulama kibar mengatakan kepada Anda, “Tahdzir (peringatkan umat), tahdzir umat dari ahli bid’ah, dari orang sesat ini yang kami tahdzir.”

[HAK ULAMA MERUMUSKAN MANHAJ]

Jadi, perkara ini jelas lagi gamblang. Namun perkara-perkara aktual (yang terjadi saat ini) dan baru muncul yang belum terjadi sebelumnya, tidak mungkin bagi penuntut ilmu untuk unjuk diri. Perkara-perkara ini harus dikembalikan kepada ulama. Penetapan kaidah, ketentuan-ketentuan, dan sketsa yang terkait dengan manhaj, semua perkara ini tidak dikembalikan kepada penuntut ilmu, tidak dikembalikan kepada kita namun dikembalikan kepada ulama. Seseorang yang ingin merumuskan suatu manhaj bagi ahli sunnah atau menyebutkan ketentuan dan kaidah-kaidah… ini bukanlah tugas seorang penuntut ilmu. Perumusan konsep manhaj dikembalikan kepada ulama.

[SISI PENDALILAN ATSAR IBNU MAS’UD ]

Berarti, kita harus mencermati permasalahan ini. Jika ada seorang yang berkata, “Dari sisi mana kita dapati permasalahan ini pada atsar Ibnu Mas’ud.”

[BUKTI PERTAMA: TIDAK ADA SEORANGPUN YANG MENYALAHKAN TINDAKAN ABU MUSA KETIKA MENDAHULUI IBNU MAS’UD PADA PERKARA YANG JELAS]

Jawabannya:
Ingat bukti yang pertama ini..! Ketika Abu Musa al-Asy’ari menemui Ibnu Mas’ud sementara di sekelilingnya ada sekian manusia dari kalangan tabi'in dan selain mereka yang menimba dan mengambil ilmu dari Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Wahai Abu Abdirrahman (kunyah Ibnu Mas’ud), sesungguhnya tadi saya melihat suatu perkara di masjid yang aku ingkari.” Apa yang dia katakan? Perkara apa… “Perkara yang saya ingkari.” Tidak ada seorang pun yang duduk di situ mengatakan, “Mengapa engkau mendahului Ibnu Mas’ud? Mengapa engkau mengatakan perkara tersebut mungkar?” Tidak ada seorang pun yang mengatakan demikian. Berarti Abu Musa al-Asy’ari melihat perkara yang jelas, namun ketika itu ia hendak mendatangi Ibnu Mas’ud dan memeriksa kembali perkara tersebut. Jadi Abu Musa mendahului Ibnu Mas’ud sementara Ibnu Mas’ud lebih tinggi tingkat keilmuannya daripada Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dan dia seorang fakih (yang memiliki ilmu agama) dan kabir (tokoh shahabat). Sehingga dia mengatakan, “Saya mengingkarinya.” Dia mendahului Ibnu Mas’ud dalam pengingkaran sementara di sekelilingnya ada sekian banyak manusia yang menyaksikan dan mendengar ucapan Abu Musa, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.

[BUKTI KEDUA: HARAPAN IBNU MAS’UD AGAR ABU MUSA MENGINGKARI MEREKA DI SAAT ITU]

Mana bukti dan point yang kedua?
Ibnu Mas’ud berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari dalam rangka mengajarinya, “Apa yang engkau katakan kepada mereka? Apa yang engkau katakan kepada mereka?” seakan-akan Ibnu Mas’ud berkata kepada Abu Musa, “Sungguh diharapkan engkau mengingkari perkara tersebut dan engkau menemui mereka.” Abu Musa berkata, “Aku tidak mengatakan apapun kepada mereka.” Karena Abu Musa membutuhkan tambahan koreksi dan pandangan. Namun pada hakekatnya, dia telah menghukumi bahwa perkara tersebut adalah mungkar.

[BUKTI KETIGA: PERINTAH IBNU MAS'UD AGAR ABU MUSA MENGINGKARI KEMUNGKARAN TERSEBUT DI SAAT ITU]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung amalan-amalan jelek mereka dan engkau jamin mereka agar kebaikan-kebaikan mereka tidak terbengkalai.” Ucapan ini juga suatu pendidikan yang berisi suatu kewajiban bagimu --ya Abu Musa al-Asy’ari--, engkau semestinya menyampaikan perkara ini kepada mereka sebelum engkau sampai kepadaku.

Jadi ini merupakan tiga bukti, point, dan kenyataan yang menunjukkan perkara yang berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian manusia bahwa atsar ini menunjukkan bahwa kemungkaran tidak boleh diingkari oleh penuntut ilmu, namun harus dikembalikan kepada ulama. Engkau telah mengetahui rincian ucapan an-Nawawi rahmatullah ‘alaih dan engkau mengetahui bukti dan point-point tersebut.

Kita memohon kepada Allah agar senantiasa mengajari kita al-Kitab dan as-Sunnah hingga kita berjumpa dengan-Nya di atas jalan al-Kitab dan as-Sunnah. Sesungguhnya Dialah yang mengatur dan menguasai perkara tersebut. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Darul Hadits Fiyusy, 4 Dzul Qa’dah 1435

✏Akhukum Abu Bakar Jombang

WA SALAFY LINTAS NEGARA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

المنكر لا ينكره إلا العلماء
هل هذه القاعدة على إطلاقها؟

قال شيخنا أبو العباس ياسين العدني حفظه الله تعالى:
"وفائدة من هذا الأثر السابق (1) وفيه بل فيه من الفوائد الكثيرة العظيمة التي إن أُفرِدتْ في جُزْءٍ لربما اشتمل هذا الجزء هذه المسائل وكذلك نُظِر في أدلة هذه المسائل من كتاب الله ومن سنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم. لكن نأخذ بعض الفوائد من هذا الأثر, لاسيما ونحن لربما نسمع من بعض الناس الذين يقولون بأن المنكر لا يُنكِره إلا العلماء, المنكر لا ينكره إلا العلماء فقط. ثُم بعد ذلك نسمع من بعضهم يستدلون بهذا الأثر, يستدلون بأثر ابن مسعود. وأن أبا موسى الأشعري رضي الله تعالى عنه لم يتقدم عبدَ الله بن مسعود بل أتى إليه. قالوا إذاً هذا دليل على أن الأمور المنكرة لا ينكرها إلا العلماء.

وهذا الأمر ليس بصحيح. وهذا الدليل الذي جعلوه حجة لهم هو في الحقيقة حجة عليهم, هو حجة عليهم. لو ناقشنا أصحاب هذا القول من هذا الأثر فقط, لوجدنا ثلاث فَقَرات تدل على أن هذا الأثر حجة عليهم لا لهم. فكيف إذا نظر إلى ما في كتاب الله وما في سنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم من الأدلة الكثيرة الوافرة بأن هذه القاعدة ليست على إطلاقها.

وقبل أن نأخد هذه الشواهد والمواقع والمواطن الثلاث من هذا الأثر, لا بد من التفصيل في هذه المسألة. مسألة المنكر, لا ينكره إلا العلماء, هذه المسألة لا تَقبَل الإثبات مطلقا ولا تَقبَل النفي مطلقا. مسألة  أن المنكر لا ينكره إلا العلماء فقط, هذه المسألة لا تُثبَت مطلقا ولا تُنفَى مطلقاً. كيف هذا؟

المنكر على القسمين:
القسم الأول: قسم ظاهر يعرفه العالِم وطالب العلم بل والعامي الجاهل يعرف بأن هذا المنكر.
القسم الثاني من المنكر, المنكر الذي وقع في دقائق وخَفايا الأقوال والأعمال. منكر خفي دقيق لطيف, يحتاج إلى التأمل وإلى النظر. هذا المنكر هو الذي إلى العلماء فقط. ولا يجوز لطلبة العلم,  فضْلاً عن عوام الناس أن يتقدموا فيه العلماء, أن يتقدموا فيه العلماء.

من أين هذا النقسيم؟ هذا النقسيم أخذناه من كلام الإمام النووي رحمة الله تعالى عليه في كتابه "روضة الطالبين"(2). وله كلامٌ نحوُه في شرحه لصحيح مسلم عند شرح حديث أبي سعيد الخدري,"من رأى منكم منكراً, فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسنه, فإن لم يستطع فبقلبه." (3)

فلهذا قال النووي رحمة الله تعالى عليه في روضة الطالبين, قال: "الأمور الواجبة الظاهرة والأمور المنكرة الظاهرة ينكرها عوام الناس لأنهم في ذلك علماء." انظر هذه المقولة, يقول النووي, "ينكره عوام الناس وعامة الناس لأنهم علماء", يعني المنكر الظاهر إذا فُعِل والواجب الظاهر إذا تُرِك. الظاهر, ما معنى الظاهر؟ أي الذي يعرفه العالم وطالب العلم وكذلك العوام. يقول النووي: "فإن عامة الناس يعتبرون في ذلك علماء". أَيْش علماء؟ أي أنهم يعلمون بأن هذا الواجب تُرك وبأن هذا المنكر فُعل, فلا بد أن ينكروه . فلا بد أن ينكروا هذا الباطل وهذا المنكر, ولا يقتصر على العلماء فقط. وكذلك لا يقتصر على طلبة العلم فقط.

قال: "وأما يقع في دقائق الأعمال والأقوال", قال: "وهذا إلى العلماء ولمن "–ركِّز- "ولمن أعلمه العلماء", أي وكذلك طلبة العلم الذين يُخبِرونهم العلماء بأن هذا منكر, فأنكِروه. فلِطالب العلم أَن ينكر هذا المنكر لإخبار العالم له بأن هذا منكر. هذا كلام جميل من كلام النووي رحمة الله عليه في كتابه روضة الطالبين. يُراجَع في هذا الكتاب هذا الكلام, ويُنظَر كذلك كلامٌ نحوُه في شرح النووي لصحيح مسلم عند حديث إبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه.

والأدلة على ذلك لا شك أنها كثيرة ووفيرة في أن المنكر لا بد أن يُنكَر وأن طالب العلم إذا علم بأن هذا المنكر ظاهر بيِّن واضح, وجب أن ينكره ولا ينتظر إلى أن يستشير العلماء. مثلاً إذا سُئِل سُنيٌّ. أنت أيها السني الذي تَعِيْش في اليمن أو جاءك الرجل يسألك. فقال لك - مستشيرا ناصحا - "هل أطلب العلم عند الشيخ محمد بن عبد الوهاب الوصابي أم أطلب العلم عند الزَيْنْداني؟", أيش بتقول –أي ماذا ستقول- مالكم! هل تنتظرون الرجوع إلى الأكابر أم أنكم تقولون لهذا الرجل: "لا تطلب العلم عند الزينداني, هذا مبتدع. اطلب العلم عند الشيخ محمد بن عبد الوهاب." أليس كذلك؟ هذا أمر واضح بين لا يحتاج إلى الرجوع إلى العلماء لإنك حين تقول  بأن الزينداني ضال منحرف, قد أخذت هذه الفائدة مُسبَقاً من العلماء, وأنت رحعت إلى الأكابر حين حذَّرتَ لإن الأكابر يقولون لك: "حذِّر, حذر من المبتدع من الضال الذي نحدِّر منه."

إذاً هذا الأمر واضح بين. لكن النوازل والأمور الُمحدَثة الجديدة, هذا لا يمكن أن يتصدر لها طالب العلم, لا بد أن تُرجَع إلى العلماء. التقعيد والضوابط ورَسْم المناهج, هذه لا تَعُود إلى طالب العلم, لا تعود إلينا إنما تعود إلى العلماء. كون الرجل يريد أن يرسُم منهجاً لأهل السنة أو يذكر ضوابط أو قواعد, هذا ليس إلى طالب العلم, هذا إلى كبار العلماء.

إذاً لا بد أن نتفطن لهذه المسألة. فإذا قال قائل: "فأين نجد هذه المسألة في أثر عبد الله بن مسعود؟"
الجواب: أن أبا موسى الأشعري, احفظ هذا الشاهد الأول, أن أبا موسى الأشعري حين أتى إلى ابن مسعود وحوله مَنْ حوله من التابعين وغيرهم الذين ينهَلون ويأخذون من ابن مسعود, قال أبو موسى الأشعري رضي الله تعالى عنه: "يا أبا عبد الرحمن, إني رأيت في المسجد آنفا أمراً أنكرتُه". أيش قال؟ أمراً أيش.. أنكرتُه. فلم يقُلْ أحد من الجالسين: "لماذا تسبَق ابن مسعود؟ لما تقول هذا المنكر؟" لم يقل أحد. إذاً أبو موسى الأشعري رأى أمراً ظاهراً, لكن يحتاج في ذلك إلى أن يأتي ويتثبت من ابن مسعود. إذاً أبو موسى سبق ابن مسعود وابن مسعود أكبر علماً من أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه, فهو فقيه كبير. فلهذا قال: "أنكرتُه." فسبق وتقدم ابن مسعود بالأنكار وحوْلَه مَنْ حوله ويسمَعه من يسمعه ولم يُنكَر عليه.

أين شاهد الثاني والموضع الثاني؟ قال ابن مسعود لأبي موسى الأشعري معلِّماً له: "ماذا قُلْتَ لهم؟ ماذا قُلْتَ لهم؟". فكأنه يقول له: "عسى أنك قد أنكرتَ وذهبتَ إليهم." فقال: "لم أقل لهم شيئاً." لأن أبا موسى الأشعري يحتاج إلى مزيد التثبت والنظر. وإلا فقد حكَم على هذا الأمر بأنه منكر.

الموضع الثالث أن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه قال لأبي موسى الأشعري, قال له: "أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتهم وضمِنتَ لهم أن لا يضِيع من حسناتٍ." فهذا كذلك تعليم بأن الواجب عليك, "يا أبا موسى الأشعري, بأنك كنتَ لا بد أن تبلِّغهم هذا الأمر قبل أن تصل إليَّ."

إذاً هذه ثلاثة شواهد ومواطن ومواقع تدل على خلاف ما يقوله بعض الناس من أن هذا الأثر يدل على أن المنكر لا ينكره طلبة العلم بل لا بد من الرجوع إلى العلماء. وقد علمتَ التفصيل من كلام النووي رحمة الله تعالى عليه وعلمت هذه الشواهد والمواطن. فنسأله سبحانه وتعالى أن يعلِّمنا الكتاب والسنة حتى نلقاه على ذلك. إنه وليُّ ذلك والقادر عليه. والحمد لله رب العالمين.

المصدر: درس "شرح السنة" للإمام البربهاري رحمه الله تعالى  الذي ألقاه فضيلة الشيخ أبو العباس ياسين العدني حفظه الله تعالى وذلك بدار الحديث بالفيوش حرسها الله في ليلة السبت 4 من ذي القعدة 1435 هـ

فرغه الفقير إلى الله
أبو بكر الجومبانجي الأندونيسي غفر الله له ولوالديه ولجميع المسلمين
الفيوش, 4 -11-1435 هـ

إعادة النظر: قبل الظهر بمكتبة دار الحديث بالفيوش

(1)سنن الدارمي:

أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ، أَنبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْنَا: لَا، بَعْدُ. فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ - وَالْحَمْدُ لِلَّهِ - إِلَّا خَيْرًا. قَالَ: فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ. قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ، وَفِي أَيْدِيهِمْ حصًا، فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً، فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً، وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً، قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتظارَ أَمْرِكَ. قَالَ: «أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ»، ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: «مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟» قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حصًا نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ». قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ: «وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ» قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ "، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ: رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.

(2) روضة الطالبين وعمدة المفتين:
قُلْتُ: الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ فَرْضُ كِفَايَةٍ بِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ، وَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ قَوَاعِدِ الْإِسْلَامِ، وَلَا يَسْقُطُ عَنِ الْمُكَلَّفِ لِكَوْنِهِ يَظُنُّ أَنَّهُ لَا يُفِيدُ، أَوْ يَعْلَمُ بِالْعَادَةِ أَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ كَلَامُهُ، بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ، فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ، وَلَيْسَ الْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ، بَلْ وَاجِبُهُ أَنْ يَقُولَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ) قَالُوا: وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ: أَنْ يَرَى مَكْشُوفَ بَعْضِ عَوْرَتِهِ فِي حَمَّامٍ وَنَحْوَ ذَلِكَ، وَلَا يُشْتَرَطُ فِي الْآمِرِ وَالنَّاهِي كَوْنُهُ مُمْتَثِلًا مَا يَأْمُرُ بِهِ، مُجْتَنِبًا مَا يَنْهَى عَنْهُ، بَلْ عَلَيْهِ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ، وَفِي حَقِّ غَيْرِهِ، فَإِنْ أَخَلَّ بِأَحَدِهِمَا، لَمْ يَجُزِ الْإِخْلَالُ بِالْآخَرِ، وَلَا يَخْتَصُّ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ بِأَصْحَابِ الْوِلَايَاتِ وَالْمَرَاتِبِ، بَلْ ذَلِكَ ثَابَتٌ لِآحَادِ الْمُسْلِمِينَ وَوَاجِبٌ عَلَيْهِمْ، قَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ: وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنَّ غَيْرَ الْوُلَاةِ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ كَانُوا يَأْمُرُونَ الْوُلَاةَ وَيَنْهَوْنَهُمْ مَعَ تَقْرِيرِ الْمُسْلِمِينَ إِيَّاهُمْ وَتَرْكِ تَوْبِيخِهِمْ عَلَى التَّشَاغُلِ بِذَلِكَ بِغَيْرِ وِلَايَةٍ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ قَوْلُ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ» قَالَ أَصْحَابُنَا: وَإِنَّمَا يَأْمُرُ وَيَنْهَى مَنْ كَانَ عَالِمًا بِمَا يَأْمُرُ بِهِ وَيَنْهَى عَنْهُ، وَذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِحَسَبِ الْأَشْيَاءِ، فَإِنْ كَانَ مِنَ الْوَاجِبَاتِ الظَّاهِرَةِ، وَالْمُحَرَّمَاتِ الْمَشْهُورَةِ، كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالزِّنَى وَالْخَمْرِ وَنَحْوِهَا، فَكُلُّ الْمُسْلِمِينَ عُلَمَاءُ بِهَا، وَإِنْ كَانَ مِنْ دَقَائِقِ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ، وَمِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالِاجْتِهَادِ، لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ الِابْتِدَاءُ بِإِنْكَارِهِ، بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ، وَيَلْتَحِقُ بِهِمْ مَنْ أَعْلَمَهُ الْعُلَمَاءُ بِأَنَّ ذَلِكَ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ،... انتهى المراد

(3)شرح النووي لصحيح مسلم:
"... ثُمَّ إِنَّهُ إِنَّمَا يَأْمُرُ وَيَنْهَى مَنْ كَانَ عَالِمًا بِمَا يَأْمُرُ بِهِ وَيَنْهَى عَنْهُ وَذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الشَّيْءِ فَإِنْ كَانَ مِنَ الْوَاجِبَاتِ الظَّاهِرَةِ وَالْمُحَرَّمَاتِ الْمَشْهُورَةِ كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالزِّنَا وَالْخَمْرِ وَنَحْوِهَا فَكُلُّ الْمُسْلِمِينَ عُلَمَاءُ بِهَا وَإِنْ كَانَ مِنْ دَقَائِقِ الْأَفْعَالِ وَالْأَقْوَالِ وَمِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ مَدْخَلٌ فِيهِ وَلَا لَهُمْ إِنْكَارُهُ بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ." انتهى المراد

نص الكلام من المكتبة الشاملة دار الآثار 3,48 ـ 16.2 ج ـ

أبو بكر  الجومبانجي الأندونيسي
غفر الله له ولوالديه ولجميع المسلمين
4 من ذي القعدة 1435 هـ

Hadist yang Berkaitan dengan Wukuf di Arafah dan Mabit di Muzdalifah dan Batasannya

Hadist yang Berkaitan dengan Wukuf di Arafah dan Mabit di Muzdalifah dan Batasannya

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اعْلَمُوا أَنَّ عَرَفَةَ كُلَّهَا مَوْقِفٌ إِلَّا بَطْنَ عُرَنَةَ وَأَنَّ الْمُزْدَلِفَةَ كُلَّهَا مَوْقِفٌ إِلَّا بَطْنَ مُحَسِّرٍ

Ketahuilah, Arafah seluruhnya adalah tempat wukuf, kecuali lembah Uranah. Muzdalifah semuanya adalahvtempat wukuf kecuali lembah Muhassir. [HR. Malik No.772]

Shalat amagrib dan Isya di kerjakan di Muzdalifah dan dijama'

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ صَلَّى بِجَمْعٍ فَجَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ بِإِقَامَةٍ وَقَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ مِثْلَ هَذَا فِي هَذَا الْمَكَانِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ يَحْيَى وَالصَّوَابُ حَدِيثُ سُفْيَانَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي أَيُّوبَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَجَابِرٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنُ عُمَرَ فِي رِوَايَةِ سُفْيَانَ أَصَحُّ مِنْ رِوَايَةِ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ وَحَدِيثُ سُفْيَانَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ حَسَنٌ وَالْعَمَل
ُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لِأَنَّهُ لَا تُصَلَّى صَلَاةُ الْمَغْرِبِ دُونَ جَمْعٍ فَإِذَا أَتَى جَمْعًا وَهُوَ الْمُزْدَلِفَةُ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ وَلَمْ يَتَطَوَّعْ فِيمَا بَيْنَهُمَا وَهُوَ الَّذِي اخْتَارَهُ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَذَهَبَ إِلَيْهِ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ قَالَ سُفْيَانُ وَإِنْ شَاءَ صَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ تَعَشَّى وَوَضَعَ ثِيَابَهُ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ فَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمُزْدَلِفَةِ بِأَذَانٍ وَإِقَامَتَيْنِ يُؤَذِّنُ لِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ وَيُقِيمُ وَيُصَلِّي الْمَغْرِبَ ثُمَّ يُقِيمُ وَيُصَلِّي الْعِشَاءَ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى وَرَوَى إِسْرَائِيلُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَخَالِدٍ ابْنَيْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَحَدِيثُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ هُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ أَيْضًا رَوَاهُ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَأَمَّا أَبُو إِسْحَقَ فَرَوَاهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَخَالِدٍ ابْنَيْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ

Dari Abdullah bin Malik bahwasanya Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma
shalat di Jama' (Muzdalifah) dan beliau menjama' dua shalat dengan satu iqamat, lalu dia berkata; Aku melihat Rasulullah melakukannya di tempat ini.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Isma'il bin Abu Khalid dari Abu Ishaq dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Umar dari Nabi seperti hadits di atas. Muhammad bin Baysyar berkata; Yahya berkata; yang benar adalah hadits Sufyan.

(Abu Isa At Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari Ali, Abu Ayyub, Abdullah bin Mas'ud, Jabir & Usamah bin Zaid. Abu 'Isa berkata; Hadits Ibnu Umar riwayat Sufyan, lebih shohih daripada riwayat Isma'il bin Abu Khalid. Hadits Sufyan merupakan hadits shahih hasan. Diamalkan oleh para ulama karena shalat maghrib tak bisa dilaksanakan kecuali di Jama', jika sudah sampai di sana. Jama' adalah di Muzdalifah. Maka dia menjama' dua shalat dengan satu iqamat dengan tidak melakukan shalat sunnah di antara keduanya. Ini adalah pendapat yg dipilih oleh sebagian ulama, di antaranya Sufyan Ats Tsauri. Sufyan berkata; 'Jika dia mau, boleh shalat maghrib lalu makan malam & istirahat kemudian iqamat & shalat isya'.' Sedangkan sebagian ulama berpendapat; 'Dia menjama' shalat maghrib & isya' di Muzdalifah dengan satu adzan dan dua iqamat. Adzan untuk shalat maghrib lalu iqamat dengan melakukan shalat maghrib. Lalu iqamat dan dilaksanakan shalat isya`. Ini merupakan pendapatnya Syafi'i'. Abu 'Isa berkata; Isra`il meriwayatkan hadits ini dari Abu Ishaq dari Abdullah dan Khalid, keduanya anak Malik dari Ibnu Umar. Hadits Sa'id bin Jubair dari Ibnu Umar merupakan hadits hasan shahih juga. Salamah bin Kuhail meriwayatkannya dari Sa'id bin Jubair. Adapun Abu Ishaq, meriwayatkan hadits ini dari Abdullah & Khalid, anak Malik dari Ibnu Umar. [HR. Tirmidzi No.813]

Meninggalkan Arafah dgn tenang

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَبِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ وَأَبُو نُعَيْمٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْضَعَ فِي وَادِي مُحَسِّرٍ وَزَادَ فِيهِ بِشْرٌ وَأَفَاضَ مِنْ جَمْعٍ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ وَأَمَرَهُمْ بِالسَّكِينَةِ وَزَادَ فِيهِ أَبُو نُعَيْمٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَرْمُوا بِمِثْلِ حَصَى الْخَذْفِ وَقَالَ لَعَلِّي لَا أَرَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ جَابِرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيح ٌ

Dari Jabir radhiyallahu anhu : bahwasanya Nabi shalallahu a'laihi wa salam berhenti di wadi muhassir ,
Dan ditambah oleh Bisr bin Sarii : dan bertolak dari seluruh arah Arafah dengan sakinah (tenang) dan wajib sakinah dan dan memerintahkan mereka untuk sakinah,
Pada tambahan Abu Nu'aim: dan memerintahkan mereka untuk melempar dengan kerikil sebesar kacang merah,
Dan Beliau bersabda :
Mungkin aku tak akan melihat kalian setelah tahun ini.'- (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari Usamah bin Zaid. Abu 'Isa berkata; Hadits Jabir merupakan hadits hasan shahih.
[HR. Tirmidzi No.812].

Boleh meninggalkan Muzdalifah bagi yang mendapatkan udzur di pertengahan malam

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَقَلٍ مِنْ جَمْعٍ بِلَيْلٍ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَأُمِّ حَبِيبَةَ وَأَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ وَالْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَقَلٍ حَدِيثٌ صَحِيحٌ رُوِيَ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ وَرَوَى شُعْبَةُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ مُشَاشٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدَّمَ ضَعَفَةَ أَهْلِهِ مِنْ جَمْعٍ بِلَيْلٍ وَهَذَا حَدِيثٌ خَطَأٌ أَخْطَأَ فِيهِ مُشَاشٌ وَزَادَ فِيهِ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَرَوَى ابْنُ جُرَيْجٍ وَغَيْرُهُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَلَمْ يَذْكُرُوا فِيهِ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَمُشَاشٌ بَصْرِيٌّ رَوَى عَنْهُ شُعْبَةُ

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma:
Rasulullah mengutusku membawa barang perlengkapan orang-orang dari Jama', pada malam hari. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari 'Aisyah, Ummu Habibah, Asma` binti Abu Bakar & Fadl bin Abbas. Abu 'Isa berkata; Hadits Ibnu Abbas merupakan hadits shohih yg diriwayatkan darinya melalui banyak sanad. Syu'bah meriwayatkan hadits ini dari Musyasy dari Atha' dari Ibnu Abbas dari Al Fadl bin Abbas bahwa Nabi memberangkatkan lebih dulu orang-orang yg lemah dari keluarganya dari Jama' pada malam hari. Pada hadits ini terdapat kesalahan yg diperbuat oleh Musyasy dengan menambahkan di dalamnya dari Al Fadl bin Abbas. Ibnu Juraij dan yang lainnya meriwayatkan hadits ini dari Atha' dari Ibnu Abbas, namun mereka tak menyebutkan di dalamnya dari Fadl bin Abbas. Musyasy berasal dari Bashrah & Syu'bah telah meriwayatkan hadits darinya.
[HR. Tirmidzi No.816].

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْمَسْعُودِيِّ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مِقْسَمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدَّمَ ضَعَفَةَ أَهْلِهِ وَقَالَ لَا تَرْمُوا الْجَمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمْ يَرَوْا بَأْسًا أَنْ يَتَقَدَّمَ الضَّعَفَةُ مِنْ الْمُزْدَلِفَةِ بِلَيْلٍ يَصِيرُونَ إِلَى مِنًى و قَالَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ بِحَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ لَا يَرْمُونَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَرَخَّصَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي أَنْ يَرْمُوا بِلَيْلٍ وَالْعَمَلُ عَلَى حَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ لَا يَرْمُونَ وَهُوَ قَوْلُ الثَّوْرِيِّ وَالشَّافِعِيّ
ِ
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma: Bahwasanya Nabi shalallahu a'laihi wa salam bersabda: membolehkan orang-orang yang lemah dari kalangan keluarganya ,
Janganlah kalian melempar jumrah hingga terbit matahari!
Abu 'Isa berkata; Hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan shahih dan diamalkan oleh para ulama. Mereka berpendapat; bolehnya orang-orang yg lemah untuk berangkat lebih dahulu dari Muzdalifah menuju ke Mina. Kebanyakan ulama juga berpegang pada hadits Nabi , bahwa mereka tak boleh melempar jumrah hingga matahari terbit. Namun sebagian ulama membolehkan untuk melempar jumrah pada malam hari. Tapi yg menjadi panduan amal ialah hadits Nabi bahwa mereka tak melempar (kecuali setelah terbit matahari). Ini merupakan pendapat Ats Tsauri & Syafi'i. [HR. Tirmidzi No.817].

Bertolak Dari Muzdalifah Sebelum Matahari Terbit

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مِقْسَمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَاضَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَإِنَّمَا كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَنْتَظِرُونَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ يُفِيضُونَ

Dari ibnu Abbas Radhiallahu anhuma bahwasanya Nabi shalallahu a'laihi wa salam
bertolak (dari Muzdalifah) sebelum terbit matahari. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Umar. Abu 'Isa berkata; Hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan shahih.
Hanyasanya orang Jahiliyah menunggu sampai terbit matahari lalu mereka bertolak (pergi). [HR. Tirmidzi No.819].

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ قَال سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ مَيْمُونٍ يُحَدِّثُ يَقُولُ كُنَّا وُقُوفًا بِجَمْعٍ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا لَا يُفِيضُونَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَكَانُوا يَقُولُونَ أَشْرِقْ ثَبِيرُ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالَفَهُمْ فَأَفَاضَ عُمَرُ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Abi Ishak berkata saya mendengar Amr bin Maimunah menyampaikan hadist dia berkata dahulu kami wukuf.......maka berkata umar bin khattab radhiallahu anhu sesungguhnya
Kaum musyrikin tak berangkat hingga terbit matahari. Mereka berkata; 'Tunggulah (sampai matahari terbit) darimu wahai gunung Tsabir'. Rasulullah menyelisihi mereka'. maka 'Umar lalu berangkat sebelum terbit matahari. Abu 'Isa berkata; Ini merupakan hadits hasan shahih.
[HR. Tirmidzi No.820].

Whatsapp Durus Haji & Umroh