Jumat, 09 Juni 2017

BETULKAH MANHAJ AHLUSSUNNAH TIDAK SESUAI DENGAN KONDISI ZAMAN INI?


✋🏻✊🏻🔥🌓 BETULKAH MANHAJ AHLUSSUNNAH TIDAK SESUAI DENGAN KONDISI ZAMAN INI?

✍🏻 asy-Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullahu Ta’ala–

📬 Pertanyaan:  Sebagian manusia menyangka bahwa manhaj ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak layak pada saat ini. Mereka beralasan bahwa dhawabith syar’iyah (ketentuan-ketentuan syariat) yang dipandang oleh ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mungkin untuk diterapkan saat ini?

🔓 Jawaban:  Orang yang memandang bahwa manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak layak di zaman ini, dia adalah orang yang sesat lagi menyesatkan, karena manhaj salafush shalih adalah manhaj yang Allah Ta’ala perintahkan bagi kita untuk mengikutinya hingga hari kiamat. Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

«فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا فعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»

🌱 “Sesungguhnya siapa saja yang hidup di antara kalian, akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Pegangilah dia dan gigitlah erat-erat dengan gigi geraham.”  [1]   Ucapan ini ditujukan kepada umat ini hingga hari kiamat. Hal ini menunjukkan kewajiban berjalan di atas manhaj salaf dan manhaj salaf layak diterapkan di setiap waktu dan tempat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

🌱 “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [Q.S. At-Taubah: 100]

💧 Kata “orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” mencakup umat ini hingga hari kiamat. Wajib bagi umat ini untuk mengikuti manhaj as-Sabiqun al-Awalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Al-Imam Malik bin Anas –rahimahullah– berkata:

لا يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها

💧 “Tidak ada perkara yang memperbaiki umat ini selain perkara yang memperbaiki awal umat ini.”

✋🏻 Siapa saja yang ingin memisahkan umat ini dari syariat mereka dan dari salafush shalih, dia menginginkan kejelekan bagi kaum muslimin, ingin mengubah agama islam, memunculkan bid’ah dan berbagai bentuk penyelisihan syariat. Hal semacam ini wajib untuk ditolak dan diputuskan hujjahnya, serta ditahdzir akan kejelekannya, karena berpegang dengan manhaj salaf dan mengikuti mereka adalah suatu keharusan. Harus berjalan di atas manhaj salaf. Semua ini ada di Kitabullah dan sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam—sebagaimana apa yang kami sebutkan.

👎🏻 Siapa saja yang hendak memutuskan hubungan khalaf (akhir) umat ini dengan salaf (pendahulu)nya, dia adalah perusak di muka bumi ini. Ucapannya wajib ditolak dan dibantah, serta ditahdzir akan  bahayanya. Orang-orang yang makruf dengan ucapan yang jelek ini adalah Syi’ah dan orang-orang yang sejalan dengan mereka dari kalangan penyesat. Mereka tidak diperhitungkan.

———-

📝 Keterangan:

[1] H.R. Ahmad di Musnadnya (4/126-127), Abu Dawud di Sunannya (4/200), at-Tirmidzi di Sunannya (7/319-320) seluruhnya dari shahabat al-‘Irbath bin Sariyah –radhiyallahu anhu–.

📚 Sumber: Irsyad Al-Khillan ilaa Fatawa al-Fauzan, soal: 466 (1/362)

🌎 Kunjungi || http://forumsalafy.net/betulkah-manhaj-ahlussunnah-tidak-sesuai-dengan-kondisi-zaman-ini/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram : http://bit.ly/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Selasa, 06 Juni 2017

Sepuluh Golongan Orang Berkaitan dengan Puasa Bulan Ramadhan (1-5)


┏━ ❁✿❁ ━━━━━━━━━━━━━━┓
       SEPULUH GOLONGAN
ORANG BERKAITAN DENGAN
  PUASA BULAN RAMADHAN
┗━━━━━━━━━━━━━━ ❁✿❁ ━┛

✍🏼 Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله

1️⃣ ORANG MUSLIM, BALIGH BERAKAL SEHAT, MUKIM, MAMPU BERPUASA, SERTA TERBEBAS DARI PENGHALANG-PENGHALANG SAHNYA PUASA

Mereka ini wajib melaksanakan puasa bulan Ramadhan pada waktunya, berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, sunnah dan ijma’.

Adapun Al-Qur’an, firman Allah:

{ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ} [البقرة: ١٨٥]

Artinya: “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al-Baqarah: 185)

Adapun Sunnah, maka hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

«إذا رأيتمُ الهلاَلَ فصُوموا»، متفق عليه.

Artinya: “Apabila kalian melihat hilal (Ramadhan), maka hendaklah kalian berpuasa." (Muttafaq ‘alaih)

Adapun ijma’, maka telah sepakat para ulama tentang wajibnya puasa pada waktunya bagi mereka -mereka itu.

Orang kafir tidak wajib berpuasa, bahkan jika dia berpuasa niscaya tidak sah puasanya disebabkan karena kekafirannya.

Allah berfirman:

{وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ} [التوبة : 54]

Artinya: "Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya." (QS.At-Taubah: 54)

Jika orang kafir masuk Islam dipertengahan bulan Ramadhan, maka dia tidak wajib mengqadha puasa yang telah lewat waktunya. Berdasarkan firman Allah:

{قُل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغْفَرْ لَهُمْ مَّا قَدْ سَلَفَ} [الأنفال: ٣٨].

Artinya: ”Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu..” (QS.Al-Anfal: 38)

Jika dia masuk Islam di tengah hari puasa, maka dia mesti menahan diri (dari pembatal-pembatal puasa), akan tetapi dia tidak wajib mengqadha setengah hari yang telah lewat.

BERSAMBUNG Insya Allah...

┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•

Tag: #10golongan

📚 Sumber : Kitab Majaalis Syahri Ramadhaan, dari Al-Maktabah Asy-Syaamilah ver. Android dengan sedikit/beberapa perubahan.

✍🏼 Alih Bahasa : Al-Ustadz Muhammad Tasyrif Asbi Al-Buthony As-Salafy حفظه الله

➖➖➖
📚 WhatsApp Salafy Kendari
💻 Website Resmi || http://ahlussunnahkendari.com
📮 Channel Telegram || https://telegram.me/salafykendari

┏━ ❁✿❁ ━━━━━━━━━━━━━━┓
       SEPULUH GOLONGAN
ORANG BERKAITAN DENGAN
  PUASA BULAN RAMADHAN
┗━━━━━━━━━━━━━━ ❁✿❁ ━┛

✍🏼 Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله

2️⃣ ANAK YANG MASIH KECIL

Tidak wajib atasnya puasa sampai dia mencapai usia baligh. Berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam:

«رُفِعَ القَلَمُ عن ثلاثةٍ: عن النائم حتى يستيقِظَ وعن الصغير حتى يكْبُرَ وعن المجنونِ حتى يفيقَ»، رواه أحمدُ وأبو داودَ والنسائيُّ وصححه الحاكم.

Artinya: “Diangkat pena dari tiga golongan orang; orang yang tidur sampai terbangun, anak kecil sampai dia besar (baligh), dan orang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa-iy)

Namun jika dia mampu, maka tidak mengapa disuruh untuk berpuasa sebagai latihan dan pembiasaan.

Para salaf dari kalangan shahabat biasanya melatih anak-anaknya berpuasa semenjak kecilnya mereka. Mereka dibawa ke mesjid, dibikinkan mainan untuk mereka dari kapas, maka jika ada diantara mereka yang menangis minta makanan, diberikan kepada mereka mainan tersebut sehingga melupakan mereka dari makanan.

TANDA-TANDA BALIGH

Seorang anak laki-laki diketahui telah mencapai usia baligh apabila telah ada padanya salah satu dari tiga hal:

1️⃣ Keluar mani, baik itu karena mimpi ataukah bukan karena mimpi.

Allah berfirman:

{وَإِذَا بَلَغَ الأَطْفَالُ مِنكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُواْ كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ} [النور: ٥٩].

Artinya: “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin." (QS.An-Nur: 59)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«غُسْلُ الجُمُعةِ واجِبٌ على كلِّ محتلم»، متفق عليه.

Artinya : ”Mandi jum’at itu wajib bagi setiap orang yang telah mendapat mimpi basah (telah baligh)." (Muttafaq ‘alaih)

2️⃣ Tumbuhnya bulu kemaluan

Berdasarkan perkataan ‘Athiyyah Al-Qurazhiyyah radhiyallahu anhu:

«عُرِضْنا على النبيِّ صلى الله عليه وسلّم يومَ قُرَيْظةَ فمن كان محتلماً أو أنبتت عانته قتل ومن لا تُرِكَ»، رواه أحمد والنسائي وهو صحيح.

Artinya: ”Kami dihadapkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hari quraizhah, maka siapa diantara kami yang telah mimpi basah atau telah tumbuh bulu kemaluannya maka dia dibunuh, dan siapa yg belum maka dibiarkan." (HSR. Ahmad dan Nasa-iy)

3️⃣ Jika telah mencapai usia 15 tahun.

Berdasarkan perkataan Ibnu Umar radhiyallahu anhu:

«عُرِضْت على النبيِّ صلى الله عليه وسلّم يوم أحد وأنا ابنُ أربَعَ عَشرَةَ سنةً فلم يُجْزني» (يعني: القتالِ) زاد البيهقيَّ وابنُ حبَانَ في صحيحه بسند صحيح: «ولم يرني بلغت، وعرضت عليه يوم الْخَنْدَقِ وأنا ابنُ خمْسَ عَشْرةَ سنةً فأجازنِي»، زاد البيهقي وابن حبان في صحيحه بسند صحيح: «ورآني بَلغْت» رواه الجماعة.

Artinya: ”Aku dihadapkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika perang Uhud sementara aku masih berusia 14 tahun, maka beliau tidak mengizinkan aku (untuk ikut berperang). Dalam riwayat Baihaqy dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih, ada tambahan: ”Beliau belum melihatku sebagai seorang yang telah baligh”. Dan dihadapkan lagi aku kepada beliau pada perang Khandaq sementara aku berusia 15 tahun, maka beliaupun membolehkan aku (untuk berperang). Dalam riwayat Baihaqy dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih, ada tambahan: “Beliau telah melihatku sebagai seorang yang telah baligh.” (HR. Jama’ah)

Berkata Ibnu Nafi’: "Aku telah mendatangi Umar bin Abdul Aziz ketika beliau menjadi khalifah lalu aku sampaikan kepada beliau hadits tersebut, maka beliaupun berkata: Ini merupakan batasan antara anak kecil dan orang besar, dan beliau menyurati para pekerjanya untuk diberikan upah kepada orang yang telah berusia 15 tahun." (HR. Bukhary)

Anak perempuan dianggap telah mencapai usia baligh jika mereka telah mendapatkan seperti yang didapati oleh anak laki-laki, dan ditambahkan (kepada mereka) tanda yang keempat, yakni jika telah mendapatkan haidh.

Kapan seorang anak perempuan mendapatkan haidh, maka dia sudah baligh dan berlaku baginya beban-beban syariat, sekalipun dia belum mencapai usia 10 tahun.

Apabila seorang anak telah mencapai usia baligh ditengah siang hari ramadhan, maka jika dia dalam keadaan sedang berpuasa, hendaklah dia sempurnakan puasanya, dan jika dia dalam keadaan tidak berpuasa, maka hendaknya dia memuasakan sisa hari tersebut sebab ketika itu dia telah menjadi orang yang wajib berpuasa, namun dia tidak wajib mengqadha (sebagian hari yang tidak dia puasakan, sesab pada waktu masuk waktu imsak dia belum bersatus sebagai orang yang telah wajib berpuasa.

BERSAMBUNG Insya Allah...

┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•

Tag: #10golongan

📚 Sumber : Kitab Majaalis Syahri Ramadhaan, dari Al-Maktabah Asy-Syaamilah ver. Android dengan sedikit/beberapa perubahan.

✍🏼 Alih Bahasa : Al-Ustadz Muhammad Tasyrif Asbi Al-Buthony As-Salafy حفظه الله

➖➖➖
📚 WhatsApp Salafy Kendari
💻 Website Resmi || http://ahlussunnahkendari.com
📮 Channel Telegram || https://telegram.me/salafykendari

┏━ ❁✿❁ ━━━━━━━━━━━━━━┓
       SEPULUH GOLONGAN
ORANG BERKAITAN DENGAN
  PUASA BULAN RAMADHAN
┗━━━━━━━━━━━━━━ ❁✿❁ ━┛

✍🏼 Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله

3️⃣ ORANG GILA (ORANG YANG HILANG AKAL SEHATNYA)

Tidak wajib baginya untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

Berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang telah lewat (tentang tiga golongan orang yang diangkat pena darinya, diantranya adalah “orang gila sampai dia sembuh dari gilanya”. pen.).

Jika dia berpuasa, maka puasanya tidak sah, sebab dia tidak memiliki akal yang dengannya dia dapat mengerti ibadah dan meniatkannya. Sedangkan ibadah tidaklah sah kecuali dengan adanya niat (dilakukakan dalam keadaan sadar).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى…

Artinya: "Sesungguhnya amalan-amalan (yang diganjari itu), hanyalah amalan  yang disertai dengan niat, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan…” (HR. Muslim, dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu)

Jika seseorang gilanya datang-datangan, maka dia wajib berpuasa di waktu sembuhnya dan tidak di waktu gilanya.

Dan jika dia datang gilanya di siang hari (sementara dia berpuasa),  maka puasanya tidak batal, sebagaimana jika seseorang pingsan karena sakit atau lainnya, sebab dia telah berniat puasa dalam keadaan dia berakal dengan niat yang sah. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan akan batalnya, sehingga dia tidak wajib mengqadha hari yang dia gila padanya.

Dan apabila orang yang gila sembuh di siang hari ramadhan, maka dia mesti menahan sisa harinya tersebut, sebab ketika itu dia termasuk orang yang wajib berpuasa, namun dia tidak wajib mengqadha puasa hari itu, sebab dia sama dengan anak kecil yang jika mencapai usia baligh dan sebagaimana  orang kafir jika masuk islam (disiang hari Ramadhan).

BERSAMBUNG Insya Allah...

┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•

Tag: #10golongan

📚 Sumber : Kitab Majaalis Syahri Ramadhaan, dari Al-Maktabah Asy-Syaamilah ver. Android dengan sedikit/beberapa perubahan.

✍🏼 Alih Bahasa : Al-Ustadz Muhammad Tasyrif Asbi Al-Buthony As-Salafy حفظه الله

➖➖➖
📚 WhatsApp Salafy Kendari
💻 Website Resmi || http://ahlussunnahkendari.com
📮 Channel Telegram || https://telegram.me/salafykendari

┏━ ❁✿❁ ━━━━━━━━━━━━━━┓
       SEPULUH GOLONGAN
ORANG BERKAITAN DENGAN
  PUASA BULAN RAMADHAN
┗━━━━━━━━━━━━━━ ❁✿❁ ━┛

✍🏼 Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله

4️⃣ ORANG TUA RENTA YANG TELAH PIKUN

Orang tua renta yang telah pikun, tidak wajib berpuasa dan tidak ada kewajiban baginya untuk membayar fidyah, sebab telah gugur darinya beban syariat. Dia statusnya sudah sama dengan anak kecil yang belum mumayyiz.

Jika dia terkadang mumayyiz terkadang tidak, maka wajib baginya berpuasa disaat mumayyiznya saja.

Demikian halnya shalatnya, maka sama dengan puasa, wajib baginya melaksanakan shalat disaat mumayyiznya saja.

BERSAMBUNG Insya Allah...

┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•

Tag: #10golongan

📚 Sumber : Kitab Majaalis Syahri Ramadhaan, dari Al-Maktabah Asy-Syaamilah ver. Android dengan sedikit/beberapa perubahan.

✍🏼 Alih Bahasa : Al-Ustadz Muhammad Tasyrif Asbi Al-Buthony As-Salafy حفظه الله

➖➖➖
📚 WhatsApp Salafy Kendari
💻 Website Resmi || http://ahlussunnahkendari.com
📮 Channel Telegram || https://telegram.me/salafykendari

┏━ ❁✿❁ ━━━━━━━━━━━━━━┓
       SEPULUH GOLONGAN
ORANG BERKAITAN DENGAN
  PUASA BULAN RAMADHAN
┗━━━━━━━━━━━━━━ ❁✿❁ ━┛

✍🏼 Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله

5️⃣ ORANG YANG TIDAK SANGGUP BERPUASA KARENA KELEMAHAN YANG TIDAK AKAN PERNAH HILANG, SEPERTI ORANG TUA RENTA DAN ORANG SAKIT YANG TIDAK DIHARAPKAN KESEMBUHANNYA, SEPERTI PENYAKIT DIABETES DAN SEMACAMNYA

Orang yang seperti ini tidak wajib berpuasa, sebab dia tidak memilki kesanggupan untuk berpuasa.

Allah telah berfirman:

فَاتَّقُواْ اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ. [التغابن: 16]

Artinya: "Maka bertakwalah kepada Allah sekemampuan kalian." (QS. At-Taghabun: 6)

Dan Allah berfirman:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا. [البقرة: 286]

Artinya: "Allah tidak memberatkan suatu jiwa kecuali sesuai dengan kesanggupannya." (QS.Al-Baqarah: 286)

Sebagai pengganti puasanya, dia wajib memberi makanan kepada satu orang miskin untuk setiap satu hari yang tidak dia puasakan, sebab Allah telah menjadikan pemberian makanan sebagai pengganti dari puasa ketika masih diberikan pilihan untuk berpuasa atau tidak berpuasa pada pertama kali diwajibkannya, oleh karena itu maka pemberian makanan menjadi pengganti dari puasa ketika puasa tidak sanggup dikerjakan.

Cara membayar fidyah adalah dengan memilih salah satu dari dua cara berikut;

1. Makanan diberikan dalam bentuk bahan baku (bahan makanan yang belum dimasak), untuk setiap satu hari yang tidak dipuasakan, seukuran satu mud berupa gandum yang bagus, atau sekitar setengah kilo sepuluh gram (1/2,10 gram), atau

2. Membuat makanan siap saji lalu mengundang orang miskin untuk memakannya, sesuai dengan jumlah hari yang tidak dipuasakan.

Berkata Al-Imam Al-Bukhary  rahimahullah:

“Adapun orang tua renta yang tidak sanggup lagi untuk berpuasa, maka (sebagaimana) Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau memberi makanan (membayar fidyah) setelah beliau tua renta, selama satu atau dua tahun, untuk setiap hari (yang tidak beliau puasakan), beliau memberi makanan kepada orang miskin berupa roti dan daging lalu beliau tidak berpuasa”.

Dan berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai kakek-kakek dan nenek-nenek yang tidak sanggup lagi berpuasa, agar mereka memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang tidak dipuasakan. (Riwayat Bukhary)

BERSAMBUNG Insya Allah...

┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•

Tag: #10golongan

📚 Sumber : Kitab Majaalis Syahri Ramadhaan, dari Al-Maktabah Asy-Syaamilah ver. Android dengan sedikit/beberapa perubahan.

✍🏼 Alih Bahasa : Al-Ustadz Muhammad Tasyrif Asbi Al-Buthony As-Salafy حفظه الله

➖➖➖
📚 WhatsApp Salafy Kendari
💻 Website Resmi || http://ahlussunnahkendari.com
📮 Channel Telegram || https://telegram.me/salafykendari

Lihat juga:
Sepuluh Golongan Orang Berkaitan dengan Puasa Bulan Ramadhan (7 - 10)

NASEHAT MENYENTUH HATI, PENTINGNYA MENJAGA WAKTU DAN MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEADAAN DUNIA

💎(Faedah)💎
🖐 🌏 🕰 NASEHAT MENYENTUH HATI, PENTINGNYA MENJAGA WAKTU DAN MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEADAAN DUNIA

✍🏻 Asy-Syaikh Al-Allaamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

"إن هذه الدنيا كلها تمضي، وكل شيءٍ فيها فإنه عبرة.

✋🏻 ”Sesungguhnya dunia ini semuanya akan berlalu, segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan pelajaran yang berharga.

إن نظرت إلى الشمس تخرج في أول النهار ثم تأفل في آخر النهار وتزول، هكذا وجود الإنسان في الدنيا يخرج ثم يزول.

🌅 Jika engkau melihat matahari keluar di pagi hari, kemudian tenggelam di sore hari, lalu menghilang, demikian juga wujudnya seorang insan di dunia, Ia muncul kedunia kemudian akan sirna.

إن نظرنا إلى القمر كذلك يبدو أول الشهر هلالاً صغيرًا، ثم لا يزال ينمو ويكبر فإذا تكامل؛ بدأ بالنقص حتى عاد كالعرجون القديم.

🌒 Demikian pula jika kita melihat rembulan, ia muncul di awal bulan dalam bentuk bulan sabit kecil, kemudian terus bertambah membesar. Maka jika telah sempurna, iapun mulai mengecil sampai kembali seperti sedia kala.

كذلك إذا نظرنا إلى الشهور تجد الإنسان يتطلع إلى الشهر المقبل تطلع البعيد، فمثلاً يقول: نحن الآن في الشهر الثاني عشر بقي على رمضان ثمانية أشهر فما أبعدها! وإذا به يمر عليها بسرعة، وكأنها ساعة من نهار!

🌕 Demikian juga kalau kita perhatikan bulan demi bulan, engkau dapati seorang insan memandang kalau bulan depan masih lama datangnya. Misalnya ia mengatakan: Kita sekarang ada di bulan dua belas, bulan ramadhan masih delapan bulan lagi, maka alangkah lamanya! Tiba-tiba ia telah melewati ramadhan dengan cepatnya. Tak terasa seolah-olah (kedatangan ramadhan) itu seperti waktu sesaat di siang hari.

هكذا العمر أيضًا -عمر الإنسان- تجده يتطلع إلى الموت تطلعًا بعيدًا ويؤمِّل وإذا بحبل الأمل قد انصرم، وقد فات كل شيء! تجده يحمل غيره على النعش ويواريه في التراب.

✅ Demikian juga umur, umur seorang insan. Engkau dapati ia memandang kamatian itu masih lama datangnya, ia masih memiliki angan-angan, tiba-tiba tali angan-angannya telah terputus. Maka sungguh telah terluput darinya segala sesuatu. Engkau dapati ia telah dipikul orang lain diatas keranda mayat, lalu iapun dikuburkan dalam tanah.

و يفكر: متى يكون هذا شأني؟ متى أصل إلى هذه الحال؟
وإذا به يصل إليها وكأنه لم يلبث إلا عشية أو ضحاها!

💡 Lalu ia berfikir: ”Kapan terjadinya keadaanku ini? Kapan saya sampai pada keadaan ini?”
Dan tiba-tiba ia telah sampai kepada (ajal)nya, seolah-olah tidaklah ia hidup di dunia ini kecuali baru sore tadi atau waktu dhuhanya.

أقول هذا من أجل أن أحمل نفسي وأحمل إخواني على المبادرة باغتنام الوقت، وألا نضيع ساعة ولا لحظة إلا ونحن نعرف حسابنا فيها.

👆 Saya mengatakan ini agar bisa memotivasi saya sendiri dan saudara-saudaraku untuk bersegera memanfaatkan waktu, agar tidak menyia-nyiakan waktu, biarpun sedikit, kecuali dalam keadaan kita mengetahui perhitungan kita padanya.

هل تقربنا إلى الله بشيء؟ هل نحن ما زلنا في مكاننا؟ ماذا يكون شأننا؟ علينا أن نتدارك الأمور قبل فوات الأوان، وما أقرب الآخرة من الدنيا!

⁉️ Apakah kita sudah mendekatkan diri kita kepada Allah dengan suatu ibadah? Dan ataukah kita tetap di tempat- tempat kita? Apa jadinya keadaan kita? Wajib bagi kita bersegera melakukan perkara-perkara yang bermanfaat sebelum hilang kesempatan!

وكان أبو بكر رضي الله عنه يتمثل كثيرًا بقول الشاعر:
وكلنا مصبحٌ في أهله ※ والموت أدنى من شراك نعله

💦 Betapa dekatnya akhirat dari dunia. Dahulu Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sering mempermisalkan (hal ini) dengan ucapan penyair:
”Setiap kita selalu berada didekat keluarganya ※ sementara kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya.”

أسأل الله لي ولكم حسن الخاتمة، وأن يجعل مستقبل أمرنا خيرًا من ماضيه، وأن يعيننا على ذكره وشكره وحسن عبادته

☝️ Saya memohon kepada Allah untuk saya dan kalian husnul khatimah. Semoga Allah menjadikan urusan kita kelak lebih baik dari yang telah berlalu. Semoga Allah menolong kita untuk bisa selalu mengingat-Nya, bersyukur pada-Nya dan memperbagus peribadatan kepada-Nya."

📕 Sumber:
Lihat http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=57530 (http://bit.ly/ForumSalafy) Edited

↪. Turut Menyebarkan >> http://telegram.me/KEUTAMAANILMU
_______________