Kamis, 25 Januari 2018

Al Awwal dan Al Aakhir ~ Silsilah Kajian MENGENAL AL-ASMA'UL HUSNA

🌷 🌈 ☀️ 2⃣
〰〰〰〰〰
📚 🔍 Silsilah Kajian MENGENAL AL-ASMA'UL HUSNA
〰〰〰〰〰

🔰 Al Awwal dan Al Aakhir 🔰

📝 Di antara Al-Asma`ul Husna (nama-nama Allah yang sangat baik) adalah Al-Awwal (اْلأَوَّلُ) dan Al-Akhir (اْلآخِرُ) sebagaimana termaktub dalam firman Allah berikut ini:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hadid: 3)

Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sekaligus keterangan beliau tentang maknanya, berikut ini:

Suhail mengatakan: “Dahulu Abu Shalih memerintahkan kami apabila seseorang di antara kami hendak tidur agar berbaring di atas sisi kanannya, lalu mengucapkan:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ اْلأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَاْلإِنْجِيْلَ وَالْفُرْقَانَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Allah Rabb sekalian langit dan bumi dan Rabb ‘Arsy yang agung Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al-Qur`an, Aku berlindung dari kejahatan segala sesuatu yang Engkaulah yang menguasai ubun-ubunnya. Ya Allah engkaulah Al-Awwal yang tiada sesuatu sebelum-Mu, dan engkaulah Al-Akhir yang tiada sesuatu setelah-Mu, Engkaulah Yang Zhahir Yang tiada sesuatu di atas-Mu dan engkau Al-Bathin, tiada yang lebih dekat dari-Mu sesuatupun, lunasilah hutang kami dan cukupilah kami dari kefakiran.” Dan Abu Shalih meriwayatkan ini dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (Shahih, HR. Muslim no. 2713)

Makna Al-Awwal adalah Dzat yang tiada sesuatu sebelum-Nya, sehingga nama ini menunjukkan kedahuluan Allah. Dan kedahuluan Allah itu bersifat mutlak bukan kedahuluan yang relatif (nisbi), semacam bila dikatakan: Ini lebih awal dibanding yang setelahnya, dan ada yang lain sebelumnya. Sehingga nama Allah Al-Awwal menunjukkan bahwa segala sesuatu selain-Nya baru ada setelah sebelumnya tiada.

Hal ini menuntut seorang hamba agar memerhatikan keutamaan Rabbnya dalam setiap nikmat, baik berupa nikmat agama ataupun dunia, di mana sebab dan musababnya berasal dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Makna Al-Akhir adalah Dzat yang tiada sesuatu setelah-Nya. Nama Allah subhanahu wa ta'ala ini menunjukkan keabadian-Nya dan kekekalan-Nya. Dan ini menunjukkan bahwa Dia merupakan tujuan dan tempat bergantung yang seluruh makhluk menuju kepada-Nya dengan ibadah, harapan, rasa takut dan seluruh keperluan mereka.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dan janganlah dipahami bahwa ini menunjukkan batas akhir-Nya. Karena ada juga hal-hal yang abadi (lainnya) namun berupa makhluk, seperti al-jannah (surga) dan an-nar (neraka). Atas dasar itu, maka Al-Akhir mengandung makna bahwa Ia meliputi segala sesuatu, tiada kesudahan bagi keakhiran-Nya.

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan: “Perhatikanlah makna-makna yang agung ini yang menunjukkan keesaan Rabb Yang Maha Agung dalam hal kesempurnaan dan liputan-Nya yang mutlak. Baik yang berkaitan dengan liputan waktu, yaitu pada nama-Nya Al-Awwal dan Al-Akhir, maupun yang berkaitan dengan tempat yaitu pada nama-Nya Azh-Zhahir dan Al-Bathin.

Ibnul Qayyim menjelaskan:

Keawalan Allah subhanahu wa ta'ala mendahului keawalan segala sesuatu dan keakhiran-Nya tetap setelah keakhiran segala sesuatu. Sehingga makna keawalan-Nya adalah kedahuluan-Nya atas segala sesuatu, dan makna keakhiran-Nya adalah kekekalan-Nya setelah segala sesuatu… Poros empat nama ini adalah pada makna liputan, yaitu dua liputan, yang berkaitan dengan waktu dan tempat… Maka segala yang mendahului, itu berakhir pada kedahuluan Allah subhanahu wa ta'ala, dan segala yang berakhir maka kembali kepada keakhiran Allah subhanahu wa ta'ala. Sehingga dua nama tersebut meliputi segala sesuatu yang awal dan akhir… Tiada sesuatu yang awal melainkan Allah mendahuluinya dan tiada sesuatu yang akhir melainkan Allah subhanahu wa ta'ala setelahnya. Sehingga Al-Awwal artinya kedahuluan-Nya dan Al-Akhir artinya keabadian-Nya….” (Thariqul Hijratain hal. 27)

📌 Pengaruh nama Al-Awwal dan Al-Akhir

Pengaruh dua nama tersebut pada jiwa seorang hamba sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim: “Maka perhatikanlah buah ibadah dari dua nama ini dan bagaimana keduanya mengharuskan pasrah yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta'ala semata, serta membuahkan rasa butuh yang terus menerus kepada Allah subhanahu wa ta'ala tanpa selain-Nya, dan bahwa semua urusan bermula dari-Nya dan kembali kepada-Nya….” (Thariqul Hijratain, hal. 20)

📌 Sumber Bacaan:

– Shifatullah Al-Waridah fil Kitabi was Sunnah

– Syarh Al-Wasithiyyah, karya Ibnu ‘Utsaimin

– Syarh Al-Wasithiyyah, karya Muhammad Al-Harras

– Syarh An-Nuniyyah, karya Muhammad Al-Harras

– Thariqul Hijratain, karya Ibnul Qayyim

– dll.

✏️ 💺Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc حفظه الله تعالى dan dikutip dari http://asysyariah.com/al-awwal-dan-al-aakhir/

〰〰〰〰〰〰〰
📚 WA Salafy Kendari 📡

KEDUDUKAN HADITS MENGADZANI BAYI SETELAH LAHIR

KEDUDUKAN HADITS MENGADZANI BAYI SETELAH LAHIR

Pertanyaan di group al-I’tishom sebelumnya:

Bagaimana kedudukan hadits mengadzani bayi setelah lahir?

💡Jawaban:

Hadits mengadzani bayi setelah lahir memiliki 3 jalur periwayatan utama.

✅Riwayat jalur pertama:

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ

Dari Ubaidillah bin Abi Rofi’ dari ayahnya beliau berkata: Saya melihat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali ketika dilahirkan Fathimah, dengan (adzan) sholat (H.R Ahmad, atTirmidzi, dan lainnya).

Jalur riwayat ini memiliki perawi bernama ‘Ashim bin Ubaidillah. Dia adalah perawi yang lemah menurut para Ulama. Abu Zur’ah dan Abu Hatim menyatakan dia adalah munkarul hadits. Sufyan bin Uyainah menyatakan: para syaikh menghindari hadits dari ‘Ashim bin Ubaidillah. Namun, Syu’bah bin al-Hajjaj meriwayatkan hadits darinya. Syu’bah bin al-Hajjaj dikenal sebagai seorang yang sangat selektif dalam mengambil periwayatan hadits. Al-Imam Malik heran dengan sikap Syu’bah bin al-Hajjaj yang mengambil periwayatan dari ‘Ashim bin Ubaidillah padahal dia adalah perawi yang lemah. Ibnu Hibban menyatakan bahwa ia lemah karena lemahnya hafalannya sehingga banyak salah. Ibnu ‘Adi menyatakan bahwa ia meski lemah, namun haditsnya ditulis (untuk dicari jalur penguat lainnya, pent). Al-‘Ijliy menyatakan bahwa ia tidak mengapa. Dimaklumi bahwa al-‘Ijliy termasuk Ulama yang bermudah-mudahan dalam penilaian terhadap perawi.

✅Riwayat jalur kedua:

عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

Dari Husain beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang dilahirkan untuknya seorang anak, kemudian dia mengadzani di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri, maka tidak akan memudhorotkannya Ummus Shibyaan (Jin yang mengikutinya atau hembusan angin)(H.R Abu Ya’la)

Di dalam sanad riwayat ini terdapat perawi yang bernama Marwan bin Salim al-Ghiffary yang dinyatakan matruk (ditinggalkan) oleh al-Haytsamiy dalam Majmauz Zawaaid. Ibnu Abi Hatim pernah bertanya kepada ayahnya, Abu Hatim tentang Marwan bin Salim al-Ghiffariy ini. Abu Hatim menyatakan: munkarul hadits jiddan, dhaiful hadits. Maka Ibnu Abi Hatim bertanya: Apakah haditsnya ditinggalkan? Abu Hatim menyatakan : Tidak. Tapi haditsnya ditulis (sebagai pertimbangan jika ada jalur penguat lain, pent)(al-Jarh wat Ta’diil (8/275)).

✅Riwayat jalur ketiga:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ يَوْمَ وُلِدَ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari kelahirannya. Beliau adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri (H.R al-Baihaqiy dalam Syuabul Iman dan beliau menyatakan bahwa sanad hadits ini lemah)

Jalur periwayatan ini memiliki perawi yang bernama Muhammad bin Yunus al-Kudaimiy. Ibnu Hibban menyatakannya sebagai pemalsu hadits. Demikian juga Abu Dawud mengkategorikannya sebagai pendusta. Sedangkan Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa dulunya Muhammad bin Yunus al-Kudaimiy adalah dikenal baik dan haditsnya baik. Tidaklah didapati ada cela darinya kecuali karena ia bersahabat dengan Sulaiman asy-Syaadzakuuniy (Tahdziibut Tahdziib karya al-Hafidz Ibn Hajar (9/476)). Sedangkan Sulaiman asy-Syaadzakuuniy dikenal sebagai pendusta.

📄🔹Ketiga jalur periwayatan di atas masing-masingnya lemah. Namun yang menjadi perbedaan pendapat para Ulama adalah : bisakah ketiga jalur itu saling menguatkan sehingga paling tidak sampai derajat hasan? Syaikh al-Albaniy awalnya menghasankan hadits itu dalam Sunan atTirmidzi, namun setelah beliau mengkaji ulang beliau menilai bahwa riwayat Abu Rofi’ (jalur riwayat pertama) tidak bisa dikuatkan dengan jalur lain karena perawi-perawi yang pendusta. Beliau kemudian melemahkannya dalam Silsilah ad-Dhaifah. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad sepertinya cenderung pada pendapat Syaikh al-Albany yang terakhir ini dalam syarh Sunan Abi Dawud.

Sedangkan sebagian Ulama’ menyatakan bahwa adzan di telinga kanan bayi yang baru lahir bisa diamalkan. Jalur – jalur periwayatan yang ada bisa menguatkan.

Ulama yang berpendapat demikian di antaranya: atTirmidzi, al-Hakim, anNawawiy, Ibnu Qudamah, Ibnul Qoyyim, al-Mubarokfuriy penulis Tuhfatul Ahwadzi, asy-Syaukaaniy dalam Tuhfatudz Dzaakiriin, Syaikh Muhammad bin Ibrohim (mufti Saudi terdahulu), Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz bin ‘Aqiil, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz arRaajihiy. Sepertinya pendapat para Ulama ini adalah pendapat yang rajih, karena memang jalur-jalur periwayatan tersebut bisa menguatkan.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin dalam salah satu fatwanya berpendapat bahwa adzan di telinga bayi adalah sunnah, sedangkan iqomat tidak. Beliau menyatakan:

الأذان عند ولادة المولود سنة وأما الإقامة فحديثها ضعيف فليست بسنة ولكن هذا الأذان يكون أول ما يسمع المولود وأما إذا فات وقت الولادة فهي سنة فات محلها فلا تقضى

Adzan ketika kelahiran anak adalah sunnah sedangkan iqomat haditsnya lemah, bukan sunnah. Akan tetapi adzan ini adalah pertama kali yang didengar oleh anak yang dilahirkan. Adapun jika terlewat waktu kelahirannya, sunnah tersebut tidaklah diqodho’ (diganti di waktu lain) (Fataawa Nuurun Alad Darb (228/9)).

Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

🔸🔸🔷🔶🔹🔹
WA al-I'tishom

Klik Join
⏩ Channel Telegram
https://t.me/Nasehat_islamii

Al-Ahad ~ Silsilah Kajian MENGENAL AL-ASMA'UL HUSNA

🌷 🌈 ☀️ 1⃣
〰〰〰〰〰
📚 🔍 Silsilah Kajian MENGENAL AL-ASMA'UL HUSNA
〰〰〰〰〰

🔰 Al-Ahad 🔰

📝 Salah satu Asma`ul Husna (nama-nama Allah subhanahu wa ta'ala yang sangat baik) adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa). Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa.” (Al-Ikhlas: 1)

Adapun dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, terdapat dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Adapun cercaan anak Adam terhadap-Ku maka ucapannya bahwa Allah telah menjadikan untuk diri-Nya seorang anak, padahal Aku adalah Allah Yang Maha Esa dan yang menjadi tempat bergantung. Aku tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada bagi-Ku tandingan seorangpun.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadits yang lain, dari Buraidah radhiyallahu 'anhu:

“Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seorang berkata; Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah, tiada ilah yang benar kecuali Engkau Yang Maha Esa, dijadikan tempat bergantung oleh hamba-hamba-Nya.” (HR. At-Tirmidzi)

📌 Makna Al-Ahad (Yang Maha Esa) antara lain:

1. Yang tiada yang menyerupainya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Baihaqi.

2. Yang Maha tunggal, seperti dikatakan oleh Ibnul Atsir.

Bisa dilihat dalam buku Shifatullah ‘Azza wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi was Sunnah hal. 42.

Sehingga Al-Ahad adalah yang tiada tandingan bagi-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, dalam Uluhiyyah-Nya, Ketuhanan-Nya, dan dalam Rububiyyah-Nya, serta dalam Asma` dan Sifat-Nya (nama-nama dan sifat-sifat-Nya).

Dia Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.

Dia Maha Tunggal dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia. (Lihat Ma’arijul Qabul, 1/136)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Al-Ahad yakni Yang menyendiri dengan segala kesempurnaan, keagungan, kebesaran, keindahan, pujian, hikmah, rahmah dan selainnya dari sifat-sifat kesempurnaan. Sehingga tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya dalam satu sisi pun dari sisi-sisi yang ada.

Maka Dia Yang Maha Tunggal dalam kehidupan-Nya, sifat qayyumiyah-Nya, ilmu-Nya, kekuatan-Nya, kebesaran-nya, keindahan-Nya, pujian terhadap-Nya, hikmah-Nya, rahmah-Nya, dan sifat-sifat lain. Dia memiliki sifat-sifat itu pada puncak kesempurnaan.” (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, dinukil dalam kitab Syarh Asma` Allah Al-Husna fi Dhau`il Kitab was Sunnah, hal. 167)

Di antara nama Allah subhanahu wa ta'ala juga adalah (Yang Maha Esa). Hal itu berdasarkan dalil dari Al-Quran di antaranya:

إِنَّمَا اللّهُ إِلَـهٌ وَاحِدٌ

“Sesungguhnya Allah adalah Ilah Yang Maha Esa.” (An-Nisa: 171)

لِّمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(Lalu Allah berfirman): ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Ghafir: 16)

Adapun dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam doa-doa dan dzikirnya:

“Tiada Ilah yang benar kecuali Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.”

Al-Baihaqi menyatakan: “Al-Wahid artinya Yang Maha Tunggal atau Esa, yang tetap menyendiri dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dikatakan pula artinya Yang tidak terbagi dalam Dzat-Nya, tidak ada yang menyerupainya dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan ini merupakan sifat yang dengan Dzat-Nya Allah subhanahu wa ta'ala berhak memilikinya.” (Lihat Shifatullah 'Azza Wa Jalla Al-Waridah fil Kitab was Sunnah, hal. 265)

✏️ 💺Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc حفظه الله تعالى dan diikutip dari http://asysyariah.com/al-ahad/

〰〰〰〰〰〰〰
📚 WA Salafy Kendari 📡