Senin, 26 Mei 2014

Hukum Berbicara dengan Menggunakan Ayat-ayat Al-Quran (3)

���� SILSILAH PENGAGUNGAN SYIAR-SYIAR ALLAH:

 HUKUM BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN AYAT-AYAT AL QUR'AN 

��Bagian Ketiga��

�� Kisah tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya "Raudhatul 'Uqala" dan juga Abu Nu'aim dalam kitabnya "Al Hilyah" dan juga terdapat dalam kitab "Jawaahir Al Adab".

�� Keabsahan kisah ini:

. Syaikh Muqbil_rahimahullah menghukumi bahwa kisah ini tidaklah shahih.

. Tidaklah diragukan lagi bahwa kisah ini adalah kisah yang bathil dari berbagai sisi:

��a. Seluruh ulama yang menulis biografi Ibnul Mubarak, tidak satu pun dari mereka menyebutkan kisah Ibnul Mubarak bersama wanita itu.

��b. Terlihat pada kisah tersebut hal yang dibuat-buat pada soal jawabnya.

��c. Tidak adanya pengingkaran dari Ibnul Mubarak terhadap perbuatan wanita tersebut, padahal terkhushus dikalangan para ulama, mereka telah melarang untuk berbicara hanya dengan ayat-ayat Al Qur'an saja.

��d. Keadaan sanadnya lemah sekali. Di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Zakaria Al Ghallaby. Berkata Al Imam Ad Daruquthny tentang perawi ini: "dia tertuduh suka membuat hadits palsu." Berkata Ibnu Hibban tentangnya: "dia meriwayatkan dari perawi yang tidak jelas keadaannya."

�� Bagaimana Hukum Permasalahan ini

. Syaikh Ibnu Baz_rahimahullah, pernah ditanya tentang hukum berbicara dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur'an, misalnya apabila ada seseorang memberikan salam, maka dia menjawab:

{سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ}

"(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." [QS. Yaasin: 58]

Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang wanita dalam kisahnya bersama Ibnul Mubarak.

 Maka Syaikh Bin Baz menjawab:

Sesuatu yang sudah maklum dikalangan para ulama adalah tidak sepantasnya menjadikan Al Qur'an sebagai pengganti kalam manusia. Karena kalam (manusia) punya kedudukan sendiri dan demikian pula Al Qur'an. Paling sedikitnya dari sisi hukum adalah makruh.

Hendaknya dia menjawab salam dengan cara yang wajar, sebagaimana dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya mencontohkannya, mereka ketika memberikan salam: "Assalamu 'alaikum warahmatullah"

[ Majmu' Fatawa Syaikh Bin Baz: 24/383].

. Berkata Syaikh Al 'Utsaimin_rahimahullah dalam kitabnya "Syarah Muqaddimnah At Tafsir hal 144":

 Dari sini, maka kita ketahui kesalahan pujian terhadap wanita yang dijuluki "Wanita berbicara dengan Al Qur'an". Dalam kitab "Jauhar Al Adab" padanya ada seorang wanita yang tidaklah berbicara melainkan dengan Al Qur'an. Katanya, dia sejak 40 tahun tidak berbicara melainkan berbicara dengan Al Qur'an, karena takut akan turun murka Ar Rahman. Saya anggap perbuatan dia adalah suatu kekeliruan, karena dia menginterpretasikan Al Qur'an tidak sesuai dengan apa yang Allah inginkan.

 Berkata Syaikh Al 'Utsaimin dalam kitabnya "Asy Syarhul Mumthi' 6/531":
Para ulama telah berpendapat tentang haramnya menjadikan Al Qur'an sebagai pengganti kalam (manusia). Saya melihat ketika masih masa sekolah, sebuah kisah dalam kitab "Jauhar Al Adab" seorang wanita tidak berbicara melainkan dengan Al Qur'an, maka manusia pun terheran-heran. Dikatakan kepada mereka: bahwa dia tidak berbicara melainkan dengan Al Qur'an semenjak 40 tahun, karena takut akan turun padanya murka Ar Rahman.
Maka kami katakan: wanita itu telah melakukan kekeliruan, karena Al Qur'an tidak boleh dijadikan sebagai pengganti kalam (manusia).

[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 1 Jumadal Ula 1435/ 2 Maret 2014_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah ��]

~~•~~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
�� WA. Thullab Al Fiyusy 

WhatsApp Salafy Lintas Negara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar