Minggu, 31 Agustus 2014

TIADA YANG BERHAK MENGINGKARI KEMUNGKARAN SELAIN ULAMA?

TIADA YANG BERHAK MENGINGKARI KEMUNGKARAN SELAIN ULAMA

Apakah kaidah ini berlaku secara mutlak?

Syaikhuna Abul ‘Abbas Yasin al-Adeni hafizhahullahu Ta’ala menjawab pertanyaan ini. Beliau berkata,

[FAEDAH ATSAR IBNU MAS’UD]

“Faedah yang bisa diambil dari atsar yang telah lalu (atsar Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhuma). Atsar ini mengandung faedah yang banyak lagi agung, seandainya disendirikan pada suatu juz (buku kecil), niscaya juz ini mencakup beberapa permasalahan. Demikian juga memerhatikan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam. Namun kita akan mengambil sebagian faedah dari atsar ini, terlebih kita terkadang mendengar sebagian manusia yang mengatakan, “Kemungkaran, tidak ada yang berhak mengingkarinya kecuali ulama. kemungkaran hanya diingkari oleh ulama.” Lalu kita mendengar sebagian dari mereka berdalil dengan atsar ini, atsar Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari rahdhiyallahu ‘anhu tidak mendahului Abdullah bin Mas’ud, bahkan dia mendatanginya. Mereka berkata, “Berarti ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa perkara-perkara mungkar, tidak ada yang mengingkarinya selain ulama.”

[RINCIAN KAIDAH: “TIDAK ADA YANG BERHAK MENGINGKARI KEMUNGKARAN KECUALI ULAMA”]

Perkara ini --“Kemungkaran, tidak ada yang berhak mengingkarinya kecuali ulama.”-- tidak benar. Dalil ini (atsar Ibnu Mas’ud) yang mereka jadikan sebagai penguat bagi mereka, namun pada hakekatnya dalil ini menghantam mereka. Kalau kita debat para penganut kaidah ini menggunakan atsar ini saja, niscaya kita dapatkan tiga point yang menunjukkan bahwa atsar ini menggugat dan tidak mendukung mereka. Bagaimana lagi kalau kita memerhatikan kandungan Kitabullah dan  sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam yang berisi dalil yang banyak lagi mencukupi yang menunjukkan bahwa kaidah ini tidak berlaku secara mutlak.

Sebelum kita mengambil tiga bukti, kenyataan, dan point dari atsar ini, kita harus merinci permasalahan ini. Permasalahan "Kemungkaran tidak ada yang berhak mengingkarinya selain ulama." Permasalahan ini tidak bisa dibenarkan maupun disalahkan secara mutlak. Permasalahan kemungkaran tidak ada yang berhak mengingkarinya selain ulama. Bagaimana bisa demikian?

[KEMUNGKARAN ADA DUA: JELAS DAN SAMAR]

Kemungkaran ada dua macam:

Pertama: kemungkaran yang bersifat zhahir, diketahui oleh alim, penuntut ilmu bahkan orang awam yang jahil, dia mengetahui bahwa ini adalah kemungkaran.

Kedua: kemungkaran yang terjadi pada ucapan dan perbuatan yang rumit dan samar. Kemungkaran yang tersembunyi, samar, dan rumit yang butuh untuk direnungi dan ditinjau. Kemungkaran semacam ini hanya dikembalikan kepada ulama. Adapun penuntut ilmu, lebih-lebih orang awam, tidak boleh mendahului ulama. Mereka tidak boleh mendahului ulama dalam hal ini.

Dari mana pembagian semacam ini?
Pembagian ini kita dapati dari ucapan an-Nawawi  rahmatullah ‘alaih pada kitabnya “Raudhatuth Thalibin”. Beliau juga berbicara hal yang serupa dengan ini pada syarahnya terhadap shahih Muslim ketika menjelaskan hadits Abu Sa’id al-Khudri, ”Barang siapa melihat kemungkaran, ingkarilah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, (ingkarilah) dengan lisannya. Jika tidak mampu, (ingkarilah) dengan kalbunya.” Oleh karena ini, an-Nawawi rahmatullahi ‘alaih berkata pada kitabnya Raudhatuth Thalibin, “Perkara-perkara yang wajib dan kemungkaran-kemungkaran yang jelas, kaum awam bisa mengingkarinya karena mereka dalam hal ini adalah ulama (yakni mengerti permasalahan dalam kasus ini).”

Perhatikanlah konsep ini, imam an-Nawawi berkata, “Perkara tersebut diingkari oleh kaum awam dan keumuman manusia karena mereka adalah ulama”. Maksud beliau adalah jika kemungkaran yang zhahir jika dilakukan dan kewajiban yang zhahir jika ditinggalkan. Zhahir, apa maknanya? Yakni perkara yang diketahui oleh alim, penuntut ilmu, dan awam. An-Nawawi berkata, “Sesungguhnya keumuman manusia dalam perkara ini tergolong pada jajaran ulama.” Apa yang dimaksud dengan ‘ulama’? Maksudnya adalah mereka mengetahui bahwa kewajiban jika ditinggalkan dan kemungkaran jika dilakukan, ini adalah kemungkaran yang harus mereka ingkari. Mereka harus mengingkari kebatilan dan kemungkaran ini. Permasalahan ini bukan terbatas pada ulama. Tidak pula terbatas pada penuntut ilmu.

Beliau (an-Nawawi) berkata, “Adapun perkara yang terkait dengan perbuatan dan ucapan-ucapan yang rumit sulit dipahami,” dia mengatakan, “Perkara ini dikembalikan kepada ulama dan kepada siapa … –perhatikan ungkapan ini— kepada orang yang diberitahu oleh ulama.” Yakni para penuntut ilmu yang dikabari oleh ulama bahwa perkara tersebut adalah mungkar, “maka ingkarilah”. Maka seorang penuntut ilmu (dalam perkara ini) memiliki hak untuk mengingkari kemungkaran berdasarkan berita alim, bahwa ini adalah kemungkaran.

Ini adalah ucapan yang bagus dari perkataan an-Nawawi pada kitabnya Raudhatuth Thalibin. Semestinya ucapan ini dirujuk pada kitab tersebut. Demikian juga diperhatikan ucapan yang serupa dengan itu pada Syarah an-Nawawi terhadap shahih Muslim ketika menjelaskan hadits Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

[KEMUNGKARAN HARUS DIINGKARI]

Tidak diragukan bahwa dalil-dalil yang menunjukkan perkara tersebut banyak lagi mencukupi, bahwa kemungkaran harus diingkari dan penuntut ilmu jika mengetahui bahwa perkara adalah kemungkaran yang zhahir jelas terang, wajib baginya untuk mengingkarinya tanpa harus menunggu untuk bermusyawarah dengan ulama. Suatu contoh, jika seorang sunni ditanya, “Anda wahai sunni yang tinggal di Yaman” atau seorang lelaki mendatangi Anda, bertanya kepada Anda. Dia berkata kepada Anda --dalam rangka bermusyawarah dan minta nasehat--, “Apakah saya menuntut ilmu di sisi asy-Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab al-Wushabi atau di sisi az-Zaindani?” Apa yang Anda katakan? … … Apakah kalian menunggu terlebih dahulu untuk mengembalikan perkara ini kepada ulama kibar ataukah Anda akan mengatakan kepada lelaki tadi, “Jangan mencari ilmu di sisi az-Zaindani, dia seorang ahli bid’ah. Cari ilmu di sisi asy-Syaikh Muhammad bin AbdilWahhab.” Bukankah demikian? Ini merupakan perkara yang terang, tidak butuh kembali kepada ulama, karena Anda ketika mengatakan bahwa az-Zaindani sesat lagi menyeleweng, pada hakekatnya Anda mengambil faedah ini telah didahului oleh ulama. Anda telah kembali kepada ulama kibar ketika Anda mentahdzir (orang tersebut, pen) karena ulama kibar mengatakan kepada Anda, “Tahdzir (peringatkan umat), tahdzir umat dari ahli bid’ah, dari orang sesat ini yang kami tahdzir.”

[HAK ULAMA MERUMUSKAN MANHAJ]

Jadi, perkara ini jelas lagi gamblang. Namun perkara-perkara aktual (yang terjadi saat ini) dan baru muncul yang belum terjadi sebelumnya, tidak mungkin bagi penuntut ilmu untuk unjuk diri. Perkara-perkara ini harus dikembalikan kepada ulama. Penetapan kaidah, ketentuan-ketentuan, dan sketsa yang terkait dengan manhaj, semua perkara ini tidak dikembalikan kepada penuntut ilmu, tidak dikembalikan kepada kita namun dikembalikan kepada ulama. Seseorang yang ingin merumuskan suatu manhaj bagi ahli sunnah atau menyebutkan ketentuan dan kaidah-kaidah… ini bukanlah tugas seorang penuntut ilmu. Perumusan konsep manhaj dikembalikan kepada ulama.

[SISI PENDALILAN ATSAR IBNU MAS’UD ]

Berarti, kita harus mencermati permasalahan ini. Jika ada seorang yang berkata, “Dari sisi mana kita dapati permasalahan ini pada atsar Ibnu Mas’ud.”

[BUKTI PERTAMA: TIDAK ADA SEORANGPUN YANG MENYALAHKAN TINDAKAN ABU MUSA KETIKA MENDAHULUI IBNU MAS’UD PADA PERKARA YANG JELAS]

Jawabannya:
Ingat bukti yang pertama ini..! Ketika Abu Musa al-Asy’ari menemui Ibnu Mas’ud sementara di sekelilingnya ada sekian manusia dari kalangan tabi'in dan selain mereka yang menimba dan mengambil ilmu dari Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Wahai Abu Abdirrahman (kunyah Ibnu Mas’ud), sesungguhnya tadi saya melihat suatu perkara di masjid yang aku ingkari.” Apa yang dia katakan? Perkara apa… “Perkara yang saya ingkari.” Tidak ada seorang pun yang duduk di situ mengatakan, “Mengapa engkau mendahului Ibnu Mas’ud? Mengapa engkau mengatakan perkara tersebut mungkar?” Tidak ada seorang pun yang mengatakan demikian. Berarti Abu Musa al-Asy’ari melihat perkara yang jelas, namun ketika itu ia hendak mendatangi Ibnu Mas’ud dan memeriksa kembali perkara tersebut. Jadi Abu Musa mendahului Ibnu Mas’ud sementara Ibnu Mas’ud lebih tinggi tingkat keilmuannya daripada Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dan dia seorang fakih (yang memiliki ilmu agama) dan kabir (tokoh shahabat). Sehingga dia mengatakan, “Saya mengingkarinya.” Dia mendahului Ibnu Mas’ud dalam pengingkaran sementara di sekelilingnya ada sekian banyak manusia yang menyaksikan dan mendengar ucapan Abu Musa, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.

[BUKTI KEDUA: HARAPAN IBNU MAS’UD AGAR ABU MUSA MENGINGKARI MEREKA DI SAAT ITU]

Mana bukti dan point yang kedua?
Ibnu Mas’ud berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari dalam rangka mengajarinya, “Apa yang engkau katakan kepada mereka? Apa yang engkau katakan kepada mereka?” seakan-akan Ibnu Mas’ud berkata kepada Abu Musa, “Sungguh diharapkan engkau mengingkari perkara tersebut dan engkau menemui mereka.” Abu Musa berkata, “Aku tidak mengatakan apapun kepada mereka.” Karena Abu Musa membutuhkan tambahan koreksi dan pandangan. Namun pada hakekatnya, dia telah menghukumi bahwa perkara tersebut adalah mungkar.

[BUKTI KETIGA: PERINTAH IBNU MAS'UD AGAR ABU MUSA MENGINGKARI KEMUNGKARAN TERSEBUT DI SAAT ITU]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari, “Tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung amalan-amalan jelek mereka dan engkau jamin mereka agar kebaikan-kebaikan mereka tidak terbengkalai.” Ucapan ini juga suatu pendidikan yang berisi suatu kewajiban bagimu --ya Abu Musa al-Asy’ari--, engkau semestinya menyampaikan perkara ini kepada mereka sebelum engkau sampai kepadaku.

Jadi ini merupakan tiga bukti, point, dan kenyataan yang menunjukkan perkara yang berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian manusia bahwa atsar ini menunjukkan bahwa kemungkaran tidak boleh diingkari oleh penuntut ilmu, namun harus dikembalikan kepada ulama. Engkau telah mengetahui rincian ucapan an-Nawawi rahmatullah ‘alaih dan engkau mengetahui bukti dan point-point tersebut.

Kita memohon kepada Allah agar senantiasa mengajari kita al-Kitab dan as-Sunnah hingga kita berjumpa dengan-Nya di atas jalan al-Kitab dan as-Sunnah. Sesungguhnya Dialah yang mengatur dan menguasai perkara tersebut. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Darul Hadits Fiyusy, 4 Dzul Qa’dah 1435

✏Akhukum Abu Bakar Jombang

WA SALAFY LINTAS NEGARA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

المنكر لا ينكره إلا العلماء
هل هذه القاعدة على إطلاقها؟

قال شيخنا أبو العباس ياسين العدني حفظه الله تعالى:
"وفائدة من هذا الأثر السابق (1) وفيه بل فيه من الفوائد الكثيرة العظيمة التي إن أُفرِدتْ في جُزْءٍ لربما اشتمل هذا الجزء هذه المسائل وكذلك نُظِر في أدلة هذه المسائل من كتاب الله ومن سنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم. لكن نأخذ بعض الفوائد من هذا الأثر, لاسيما ونحن لربما نسمع من بعض الناس الذين يقولون بأن المنكر لا يُنكِره إلا العلماء, المنكر لا ينكره إلا العلماء فقط. ثُم بعد ذلك نسمع من بعضهم يستدلون بهذا الأثر, يستدلون بأثر ابن مسعود. وأن أبا موسى الأشعري رضي الله تعالى عنه لم يتقدم عبدَ الله بن مسعود بل أتى إليه. قالوا إذاً هذا دليل على أن الأمور المنكرة لا ينكرها إلا العلماء.

وهذا الأمر ليس بصحيح. وهذا الدليل الذي جعلوه حجة لهم هو في الحقيقة حجة عليهم, هو حجة عليهم. لو ناقشنا أصحاب هذا القول من هذا الأثر فقط, لوجدنا ثلاث فَقَرات تدل على أن هذا الأثر حجة عليهم لا لهم. فكيف إذا نظر إلى ما في كتاب الله وما في سنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم من الأدلة الكثيرة الوافرة بأن هذه القاعدة ليست على إطلاقها.

وقبل أن نأخد هذه الشواهد والمواقع والمواطن الثلاث من هذا الأثر, لا بد من التفصيل في هذه المسألة. مسألة المنكر, لا ينكره إلا العلماء, هذه المسألة لا تَقبَل الإثبات مطلقا ولا تَقبَل النفي مطلقا. مسألة  أن المنكر لا ينكره إلا العلماء فقط, هذه المسألة لا تُثبَت مطلقا ولا تُنفَى مطلقاً. كيف هذا؟

المنكر على القسمين:
القسم الأول: قسم ظاهر يعرفه العالِم وطالب العلم بل والعامي الجاهل يعرف بأن هذا المنكر.
القسم الثاني من المنكر, المنكر الذي وقع في دقائق وخَفايا الأقوال والأعمال. منكر خفي دقيق لطيف, يحتاج إلى التأمل وإلى النظر. هذا المنكر هو الذي إلى العلماء فقط. ولا يجوز لطلبة العلم,  فضْلاً عن عوام الناس أن يتقدموا فيه العلماء, أن يتقدموا فيه العلماء.

من أين هذا النقسيم؟ هذا النقسيم أخذناه من كلام الإمام النووي رحمة الله تعالى عليه في كتابه "روضة الطالبين"(2). وله كلامٌ نحوُه في شرحه لصحيح مسلم عند شرح حديث أبي سعيد الخدري,"من رأى منكم منكراً, فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسنه, فإن لم يستطع فبقلبه." (3)

فلهذا قال النووي رحمة الله تعالى عليه في روضة الطالبين, قال: "الأمور الواجبة الظاهرة والأمور المنكرة الظاهرة ينكرها عوام الناس لأنهم في ذلك علماء." انظر هذه المقولة, يقول النووي, "ينكره عوام الناس وعامة الناس لأنهم علماء", يعني المنكر الظاهر إذا فُعِل والواجب الظاهر إذا تُرِك. الظاهر, ما معنى الظاهر؟ أي الذي يعرفه العالم وطالب العلم وكذلك العوام. يقول النووي: "فإن عامة الناس يعتبرون في ذلك علماء". أَيْش علماء؟ أي أنهم يعلمون بأن هذا الواجب تُرك وبأن هذا المنكر فُعل, فلا بد أن ينكروه . فلا بد أن ينكروا هذا الباطل وهذا المنكر, ولا يقتصر على العلماء فقط. وكذلك لا يقتصر على طلبة العلم فقط.

قال: "وأما يقع في دقائق الأعمال والأقوال", قال: "وهذا إلى العلماء ولمن "–ركِّز- "ولمن أعلمه العلماء", أي وكذلك طلبة العلم الذين يُخبِرونهم العلماء بأن هذا منكر, فأنكِروه. فلِطالب العلم أَن ينكر هذا المنكر لإخبار العالم له بأن هذا منكر. هذا كلام جميل من كلام النووي رحمة الله عليه في كتابه روضة الطالبين. يُراجَع في هذا الكتاب هذا الكلام, ويُنظَر كذلك كلامٌ نحوُه في شرح النووي لصحيح مسلم عند حديث إبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه.

والأدلة على ذلك لا شك أنها كثيرة ووفيرة في أن المنكر لا بد أن يُنكَر وأن طالب العلم إذا علم بأن هذا المنكر ظاهر بيِّن واضح, وجب أن ينكره ولا ينتظر إلى أن يستشير العلماء. مثلاً إذا سُئِل سُنيٌّ. أنت أيها السني الذي تَعِيْش في اليمن أو جاءك الرجل يسألك. فقال لك - مستشيرا ناصحا - "هل أطلب العلم عند الشيخ محمد بن عبد الوهاب الوصابي أم أطلب العلم عند الزَيْنْداني؟", أيش بتقول –أي ماذا ستقول- مالكم! هل تنتظرون الرجوع إلى الأكابر أم أنكم تقولون لهذا الرجل: "لا تطلب العلم عند الزينداني, هذا مبتدع. اطلب العلم عند الشيخ محمد بن عبد الوهاب." أليس كذلك؟ هذا أمر واضح بين لا يحتاج إلى الرجوع إلى العلماء لإنك حين تقول  بأن الزينداني ضال منحرف, قد أخذت هذه الفائدة مُسبَقاً من العلماء, وأنت رحعت إلى الأكابر حين حذَّرتَ لإن الأكابر يقولون لك: "حذِّر, حذر من المبتدع من الضال الذي نحدِّر منه."

إذاً هذا الأمر واضح بين. لكن النوازل والأمور الُمحدَثة الجديدة, هذا لا يمكن أن يتصدر لها طالب العلم, لا بد أن تُرجَع إلى العلماء. التقعيد والضوابط ورَسْم المناهج, هذه لا تَعُود إلى طالب العلم, لا تعود إلينا إنما تعود إلى العلماء. كون الرجل يريد أن يرسُم منهجاً لأهل السنة أو يذكر ضوابط أو قواعد, هذا ليس إلى طالب العلم, هذا إلى كبار العلماء.

إذاً لا بد أن نتفطن لهذه المسألة. فإذا قال قائل: "فأين نجد هذه المسألة في أثر عبد الله بن مسعود؟"
الجواب: أن أبا موسى الأشعري, احفظ هذا الشاهد الأول, أن أبا موسى الأشعري حين أتى إلى ابن مسعود وحوله مَنْ حوله من التابعين وغيرهم الذين ينهَلون ويأخذون من ابن مسعود, قال أبو موسى الأشعري رضي الله تعالى عنه: "يا أبا عبد الرحمن, إني رأيت في المسجد آنفا أمراً أنكرتُه". أيش قال؟ أمراً أيش.. أنكرتُه. فلم يقُلْ أحد من الجالسين: "لماذا تسبَق ابن مسعود؟ لما تقول هذا المنكر؟" لم يقل أحد. إذاً أبو موسى الأشعري رأى أمراً ظاهراً, لكن يحتاج في ذلك إلى أن يأتي ويتثبت من ابن مسعود. إذاً أبو موسى سبق ابن مسعود وابن مسعود أكبر علماً من أبي سعيد الخدري رضي الله تعالى عنه, فهو فقيه كبير. فلهذا قال: "أنكرتُه." فسبق وتقدم ابن مسعود بالأنكار وحوْلَه مَنْ حوله ويسمَعه من يسمعه ولم يُنكَر عليه.

أين شاهد الثاني والموضع الثاني؟ قال ابن مسعود لأبي موسى الأشعري معلِّماً له: "ماذا قُلْتَ لهم؟ ماذا قُلْتَ لهم؟". فكأنه يقول له: "عسى أنك قد أنكرتَ وذهبتَ إليهم." فقال: "لم أقل لهم شيئاً." لأن أبا موسى الأشعري يحتاج إلى مزيد التثبت والنظر. وإلا فقد حكَم على هذا الأمر بأنه منكر.

الموضع الثالث أن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه قال لأبي موسى الأشعري, قال له: "أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتهم وضمِنتَ لهم أن لا يضِيع من حسناتٍ." فهذا كذلك تعليم بأن الواجب عليك, "يا أبا موسى الأشعري, بأنك كنتَ لا بد أن تبلِّغهم هذا الأمر قبل أن تصل إليَّ."

إذاً هذه ثلاثة شواهد ومواطن ومواقع تدل على خلاف ما يقوله بعض الناس من أن هذا الأثر يدل على أن المنكر لا ينكره طلبة العلم بل لا بد من الرجوع إلى العلماء. وقد علمتَ التفصيل من كلام النووي رحمة الله تعالى عليه وعلمت هذه الشواهد والمواطن. فنسأله سبحانه وتعالى أن يعلِّمنا الكتاب والسنة حتى نلقاه على ذلك. إنه وليُّ ذلك والقادر عليه. والحمد لله رب العالمين.

المصدر: درس "شرح السنة" للإمام البربهاري رحمه الله تعالى  الذي ألقاه فضيلة الشيخ أبو العباس ياسين العدني حفظه الله تعالى وذلك بدار الحديث بالفيوش حرسها الله في ليلة السبت 4 من ذي القعدة 1435 هـ

فرغه الفقير إلى الله
أبو بكر الجومبانجي الأندونيسي غفر الله له ولوالديه ولجميع المسلمين
الفيوش, 4 -11-1435 هـ

إعادة النظر: قبل الظهر بمكتبة دار الحديث بالفيوش

(1)سنن الدارمي:

أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ، أَنبَأَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْنَا: لَا، بَعْدُ. فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ - وَالْحَمْدُ لِلَّهِ - إِلَّا خَيْرًا. قَالَ: فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ. قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ، وَفِي أَيْدِيهِمْ حصًا، فَيَقُولُ: كَبِّرُوا مِائَةً، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً، فَيَقُولُ: هَلِّلُوا مِائَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً، وَيَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً، قَالَ: فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ: مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتظارَ أَمْرِكَ. قَالَ: «أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ»، ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: «مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟» قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حصًا نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ». قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ: «وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ» قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ "، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ: رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.

(2) روضة الطالبين وعمدة المفتين:
قُلْتُ: الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ فَرْضُ كِفَايَةٍ بِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ، وَهُوَ مِنْ أَعْظَمِ قَوَاعِدِ الْإِسْلَامِ، وَلَا يَسْقُطُ عَنِ الْمُكَلَّفِ لِكَوْنِهِ يَظُنُّ أَنَّهُ لَا يُفِيدُ، أَوْ يَعْلَمُ بِالْعَادَةِ أَنَّهُ لَا يُؤَثِّرُ كَلَامُهُ، بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ، فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ، وَلَيْسَ الْوَاجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ، بَلْ وَاجِبُهُ أَنْ يَقُولَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ) قَالُوا: وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ: أَنْ يَرَى مَكْشُوفَ بَعْضِ عَوْرَتِهِ فِي حَمَّامٍ وَنَحْوَ ذَلِكَ، وَلَا يُشْتَرَطُ فِي الْآمِرِ وَالنَّاهِي كَوْنُهُ مُمْتَثِلًا مَا يَأْمُرُ بِهِ، مُجْتَنِبًا مَا يَنْهَى عَنْهُ، بَلْ عَلَيْهِ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ فِي حَقِّ نَفْسِهِ، وَفِي حَقِّ غَيْرِهِ، فَإِنْ أَخَلَّ بِأَحَدِهِمَا، لَمْ يَجُزِ الْإِخْلَالُ بِالْآخَرِ، وَلَا يَخْتَصُّ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ بِأَصْحَابِ الْوِلَايَاتِ وَالْمَرَاتِبِ، بَلْ ذَلِكَ ثَابَتٌ لِآحَادِ الْمُسْلِمِينَ وَوَاجِبٌ عَلَيْهِمْ، قَالَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ: وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ إِجْمَاعُ الْمُسْلِمِينَ، فَإِنَّ غَيْرَ الْوُلَاةِ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ كَانُوا يَأْمُرُونَ الْوُلَاةَ وَيَنْهَوْنَهُمْ مَعَ تَقْرِيرِ الْمُسْلِمِينَ إِيَّاهُمْ وَتَرْكِ تَوْبِيخِهِمْ عَلَى التَّشَاغُلِ بِذَلِكَ بِغَيْرِ وِلَايَةٍ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ قَوْلُ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ» قَالَ أَصْحَابُنَا: وَإِنَّمَا يَأْمُرُ وَيَنْهَى مَنْ كَانَ عَالِمًا بِمَا يَأْمُرُ بِهِ وَيَنْهَى عَنْهُ، وَذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِحَسَبِ الْأَشْيَاءِ، فَإِنْ كَانَ مِنَ الْوَاجِبَاتِ الظَّاهِرَةِ، وَالْمُحَرَّمَاتِ الْمَشْهُورَةِ، كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالزِّنَى وَالْخَمْرِ وَنَحْوِهَا، فَكُلُّ الْمُسْلِمِينَ عُلَمَاءُ بِهَا، وَإِنْ كَانَ مِنْ دَقَائِقِ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ، وَمِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالِاجْتِهَادِ، لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ الِابْتِدَاءُ بِإِنْكَارِهِ، بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ، وَيَلْتَحِقُ بِهِمْ مَنْ أَعْلَمَهُ الْعُلَمَاءُ بِأَنَّ ذَلِكَ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ،... انتهى المراد

(3)شرح النووي لصحيح مسلم:
"... ثُمَّ إِنَّهُ إِنَّمَا يَأْمُرُ وَيَنْهَى مَنْ كَانَ عَالِمًا بِمَا يَأْمُرُ بِهِ وَيَنْهَى عَنْهُ وَذَلِكَ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الشَّيْءِ فَإِنْ كَانَ مِنَ الْوَاجِبَاتِ الظَّاهِرَةِ وَالْمُحَرَّمَاتِ الْمَشْهُورَةِ كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالزِّنَا وَالْخَمْرِ وَنَحْوِهَا فَكُلُّ الْمُسْلِمِينَ عُلَمَاءُ بِهَا وَإِنْ كَانَ مِنْ دَقَائِقِ الْأَفْعَالِ وَالْأَقْوَالِ وَمِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ مَدْخَلٌ فِيهِ وَلَا لَهُمْ إِنْكَارُهُ بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ." انتهى المراد

نص الكلام من المكتبة الشاملة دار الآثار 3,48 ـ 16.2 ج ـ

أبو بكر  الجومبانجي الأندونيسي
غفر الله له ولوالديه ولجميع المسلمين
4 من ذي القعدة 1435 هـ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar